
Senja di langit terlihat begitu indah, memancarkan cahaya jingga ke sebagian bumi, rumah Ummah termasuk daerah pegunungan menambah indahnya pemandangan.
Arum tengah berdiri menatap langit senja di sore hari, di temani segelas coklat panas dan satu jaket tebal yang menempel indah di tubuhnya. Tatapan Arum lurus ke atas cahaya jingga yang di pancarkan menambah keindahan suasana pegunungan.
"Menikmati senja dengan seorang kekasih akan terasa jauh lebih sempurna dari pada seorang diri." Suara seorang laki-laki yang sudah sangat di kenal oleh telinga Arum terdengar mendekat.
"Kak Hu~" sahutan Arum terhenti setelah dia sadar jika saat ini dia bukan lagi Arum yang dulu.
"Maksudku Husein, kenapa kamu bisa ada di sini, Dek?" Arum menambahi kata Dek di akhir kalimat demi menegaskan statusnya saat ini.
"Aku melihat senja yang memancar di sore hari, dan halaman belakang ini adalah tempat paling tepat untuk menikmati keindahannya, Kamu sendiri ngapain di sini? Kakakku di mana?" Husein menjawab sekaligus memberi pertanyaan pada Arum.
"Kak Ha~, emm maksudku Abi sedang meeting dadakan dengan beberapa cliennya secara online." Jawab Arum sedikit gugup saat berbicara dengan Husein.
Husein yang melihat kegugupan Arum hanya tersenyum simpul, sedang Arum merasa gugup karena tak enak hati juga takut jika sang suami akan marah jika dia hanya berdua saja dengan Husein yang pernah menyatakan cinta padanya dan dengan terang-terangan menyuruh Arum untuk memilih di antara mereka.
"Sudah, jangan gugup atau takut seperti ity! lagi pula Kak Hasan gak bakal marah kok lihat kita duduk di sini," ucap Husein.
'Kenapa dia tahu kalau aku takut Kak Hasan marah?' batin Arum mulai berkomentar merasa heran dengan ucapan Husein yang memang benar adanya.
Arum hanya bisa duduk diam tanpa menyahuti ucapan Husein, suasana senja yang tadi terasa begitu indah berubah menjadi suasana tegang.
"Bagaimana kabarmu Kak Arum?" tanya Husein mencoba mencairkan suasana, sejak acara pernikahan itu Husein sangat jarang bertemu dengan Arum, awalnya dia ingin menghindar hingga akhirnya dia bertemu dengan Zahra dan membuatnya sedikit lupa tentang Arum.
"Alhamdulillah aku baik," jawab Arum cukup singkat tanpa ada niat untuk balik bertanya tentang kabar Husein.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia sekarang?" pertanyaan yang terasa begitu aneh di telinga Arum, tapi mau bagaimanapun Arum harus tetap menjawabnya.
"Alhamdulillah aku bahagia, Dek," kini Arum memanggil Husein dengan sebutan Dek agar dia sadar sedang berbicara dengan siapa saat ini.
"Syukurlah, karena aku juga bahagia melihatmu dan Kakakku bahagia," sahut Husein seraya menatap lurus ke arah langit menikmati senja yang terlihat semakin memudar dan berganti gelap.
Arum hanya mengerutkan dahi mendengar sahutan Husein, yang terasa aneh di telinganya tanpa mau membalas ucapannya.
"Kamu lagi ngapain, Dek?" Hasan bertanya sambil menepuk bahu sang adek pelan.
"Ini Kak, aku lagi nemenin Kakak Ipar, kasihan sejak tadi sendirian di sini." Jawab Husein enteng, sedang Hasan yang mendengar jawaban Husein hanya tersenyum dan mulai duduk di antara keduanya.
"Kamu ngapain sendirian di sini Syei'?" tanya Hasan seraya menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan tempat duduk Arum dan mulai merangkul bahu Arum.
"Aku hanya menikmati senja di sini Kak," jawab Arum dengan hati yang di selimuti rasa heran, Hasan yang biasanya cemburuan kini terlihat biasa saja saat melihat Arum dan Husein duduk berdua menikmati senja.
"Kamu kenapa Syei? sakit? atau kamu kedinginan? kalau dingin lebih baik kita masuk saja dulu." Ujar Hasan dengan rentetan pertanyaan membuat Arum bingung harus menjawabnya apa.
"Kenapa Abi tidak marah?" Arum yang sudah tak tahan akhirnya bertanya.
"Marah kenapa?" bukannya langsung menjawab Hasan malah balik bertanya.
"Ya marah karena aku duduk berdua bersama Hasan, biasanya Kak Hasan akan marah kalau aku duduk berdua dengan seorang laki-laki?" Arum menjelaskan alasannya kenapa Hasan harus marah.
"Ha hahaha, Kamu masih saja sama Kak, apa Kakak tampanku ini masih suka cemburu?" bukannya menjawab dengan serius pertanyaan yang muncul dari bibir Arum denhan ekspresi wajah khawatir bercampur heran di wajah Arum, Husein justru tertawa mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Arum.
__ADS_1
"Diem kamu, Dek!" sarkas Hasan.
"Syei' dengar ya!" titah Hasan seraya mengubah pisisi duduknya. Kini dia duduk menghadap ke arah Arum yang terlihat masih bingung dengan tawa Husein yang terlihat begitu lepas.
"Iya, Abi," sahut Arum yang kini juga menghadap ke arah Hasan dan menatapnya lekat.
"Aku tidak mungkin cemburu dengan Husein yang notabennya adik kandungku juga kembaranku sendiri, sekalipun aku tahu dia pernah punya perasaan padamu tapi aku yakin Husein tidak akan merebutmu dariku, aku mengenal Husein jauh lebih baik dari siapapun termasuk orang tuaku sendiri, kita sudah saling mengenal dan bersama bahkan sebelum kita di lahirkan, apalagi sekarang Husein sudah punya gadis yang dia cintai menggantikan posisimu di hatinya, jadi tak ada alasan untukku cemburu padanya." Hasan menjelaskan alasan dia yang tidak akan cemburu ataupun berburuk sangka pada Hasan.
Sedangkan Arum yang mendengar penjelasan Hasan hanya bisa diam dan mencerna setiap kata yang terdengar di telinganya.
"Kamu jangan bingung ataupun heran Kak Arum, sekalipun kami sering berselisih faham tapi kami tetap satu dan menjaga hubungan persaudaraan ini dengan baik," sahut Husein mencoba menghilangkan kebingungan yang kini tampak di wajah Husein.
"Sudahlah, jangan bahas yang bikin suasana indah ini jadi buruk! lebih baik kita bahas bagaimana hubunganmu dengan Zahra? calon adik iparku," Hasan yang tak ingin melihat istrinya bingung dan heran lagi mengubah topik pembicaraan agar suasana kembali tenang.
"Alhamdulillah Kak, semuanya lancar dan bulan depan aku akan menyusul kalian." Jawab Husein dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Obrolan yang awalnya membuat Arum bingung jyga khawatir kini menjadi lebih santai, ketiganya terlihat begitu akrab dan tak sedikitpun tersirat kebencian ataupun rasa benci di tatapan mereka.
"Aku masuk dulu, Dek!" pamit Hasan ketika hari sudah gelap dan suara adzan berkumandang, meski termasuk daerah pegunungan tapu rumah Ummah dekat dengan masjid yang mereka bangun tak jaub dari rumah.
"Abi mau ke masjid atau sholat di rumah?" tanya Arum.
Hasan biasanya akan ke masjid saat sholat maghrib di pesantren, tapi kali ini Hasan ingin sholat berdua dengan istrinya, hawa dingin yang terasa membuatnya tak ingin berada jauh dari Arum sang istri yang kini menguasai hatinya.
"Abi sholat di rumah saja. Kamu jadi makmumnya," hawaban Hasan membuat senyum terukir di bibir Arum, dia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang di rasakan oleh Hasan.
__ADS_1