Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ketika Mantan Kembali Bertemu


__ADS_3

Rumah Umik begitu ramai setelah kedatangan Bunda Fia, dua sahabat yang bertemu dan melepas rindu.


"Uqi, Aku pamit pulang dulu ya," ujar Bunda Fia


"Kok buru-buru banget si Fi, entar aja pulangnya." Uqi mencoba menahan Fia agar tak cepat pergi.


"Aku belum ke rumah Mama Uqi, tadi dari bandara langsung ke sini." Jawab Bunda Fia.


Akhirnya Uqi menyerah untuk menahan Bunda Fia agar lebih lama berada di pesantren, meski sebenarnya Uqi masih sangat ingin Bunda Fia tidak pulang dulu tapi dia tak berdaya untuk menahannya lebih lama.


Drama rindu antara kedua orang yang saling bersahabat sudah lama kini telah berakhir, dengan langkah pasti Bunda Fia mengajak sang puteri keluar dari pesantren untuk menemui orang tuanya yaitu Nenek dan Kakek Arum.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang saat ini terlihat tak terlalu ramai.


"Bunda," panggil Arum mengalihkan pandangan Bunda Fia yang sedang asyik melamun menatap jalanan seraya mengenang masa lalu, masa lalu yang di penuhi tangis juga tawa.


"Iya Sayang, ada apa?" sahut Bunda Gia kembali mengalihkan pandangannya menatap Arum sang puteri kesayangan.


"Ma, kita beli kue brownis kesukaan nenek dulu ya. Beliau pasti senang kalau kita bawakan brownis." Arum mengutarakan apa yang ada di benaknya.


"Kamu benar Sayang, kalau begitu kita mampir ke tokoh kue langganan oma dulu ya." Sahut Bunda Fia yang menyetujui usulan sang puteri.


"Pak, kita mampir ke tokoh kue biasanya dulu ya!" titah Bunda Fia pada sang sopir.


"Baik, Nyonya," sahut sang sopir yang membuat senyum indah tercetak di wajah Ibu dan anak yang kini duduk di jok bagian belakang mobil.


Mobil berhenti tepat di depan tokoh kue yang terlihat sederhana tapi lumayan ramai dengan pembeli.

__ADS_1


"Sudah lama ya Bunda kita gak ke sini," celetuk Arum yang merasa begitu rindu dengan tanah kelahirannya itu.


"Iya Sayang, terakhir ke sini pas kamu masih kelas satu SMP." Jawab Bunda Fia sembari menatap lurus ke arah tokoh kue yang terasa sudah lama tak dia kunjungi.


Keduanya berjalan masuk ke dalam tokoh dengan langkah pasti penuh semangat, tapi langkahnya terhenti saat Bunda Fia tak sengaja melihat seseorang yang paling ingin dia hindari di dunia ini.


Fia terdiam membeku menatap lurus pada seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengannya, seorang laki-laki yang berdiri tepat tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia sedang memilih kue brownis bersama seorang wanita berhijab yang terlihat begitu cantik dengan senyum dan suaranya yang terdengar lembut memanggil Sayang pada laki-laki itu.


"Bunda, are you okey?" Arum mengguncang pundak sang Bunda yang terlihat melamun menatap lurus ke depan.


"Eh, i~ya Sayang," sahut Bunda Fia merespon panggil lan sang puteri yang sudah mengguncang bahunya menyadarkan Bunda Fia dari lamunan yang bercampur keterkejutan dalam dirinya.


Bunda Fia harus mengakui jika perasaan yang dia miliki tak mudah untuk di hilangkan sepenuhnya, meski kini dia sudah menyayangi Rifki yang kini telah sah menjadi suaminya, tapi remahan-remahan kecil sisa dari perasaan yang pernah tumbuh tak mudah untuk di hilangkan, meski sudah lama tersapu oleh cinta lain yang menggantikan posisinya.


"Bunda lihat apa?" tanya Arum yang saat ini mengerutkan dahi bingung menatap ke arah yang sama.


"Tidak Sayang, Bunda kok tiba-tiba pengen pakai cadar ini ya." Bunda Fia mencari alasan untuk menutupi dirinya agar tak terlihat oleh Arif.


"Loh kok tumben Bunda pakai cadar? apa gak semakin panas?" ujar Arum yang melihat sikap aneh sang Mama.


Bunda Fia memang sengaja selalu membawa cadar si tasnya dan Arum tak pernah tahu alasannya.


"Tidak apa-apa, Bunda hanya pengen aja pakai cadar biar kelihatan kayak syarifah," jawaban yang membuat Arum terkekeh geli, sungguh Bundanya hari ini terlihatbegitu berbeda.


"Bunda ada-ada saja," cicit Arum dengan kekehan yang terdengar lucu.


Keduanya kini berjalan mendekat ke arah laki-laki yang tadi sempat menghentikan langkahnya, keduanya berhenti tepat di samping laki-laki pembuat onar di hati Fia.

__ADS_1


Sejenak laki-laki itu terlihat siam mematung setelah mencium aroma parfum yang begitu familier di hidungnya, parfum yang selalu tercium dan membuatnya selalu tersenyum bahagia ketika sudah mencium aromanya.


Aroma parfum seseorang yang pernah menjadi wanita paling spesial dan paling dia inginkan di dunia ini, perlahan tapi pasti laki-laki itu menoleh dan melirik siapa pemiliknya.


'Seperti parfum yang biasa di pakai oleh Fia,' batin sang laki-laki setelah Fia berjalan mendekat.


Sejenak dia terdiam mengingat apa yang dulu pernah terjadi, hingga suara Imah sang istri mengejutkannya.


"Mas, bagaimana kalau yang ini saja?" tawar Imah, menunjuk ke arah kue brownis yang terlihat begitu menggiurkan dengan hiasan cokelat di atasnya.


"Bagus Sayang, kita pilih yang ini saja." Sahut laki-laki itu sambil menunjuk ke arah kue di sampingnya.


"Bunda yang ini bagus ya." Ujar Arum menunjukkan kue yang berada tepat di samping laki-laki itu.


"Iya Sayang, kita beli yang itu saja." Suara Fia terdengar jelas di telinga laki-laki yang sedang menggoyahkan hatinya.


'Fia,' batin Arif.


Iya, laki-laki itu adalah Fia mantan kekasih yang dulu begitu di cintainya, tapi takdir tak lagi berpihak padanya dan mereka harus berpisah meski hati mereka masih saling memiliki rasa.


Arif yang mendengar suara Fia langsung menoleh dan melihat perubahan yang terjadi pada mantan kekasihnya, Fia yang dulu tak pernah berhijab kini terlihat begitu tertutup dan bahkan sangat tertutup dengan cadar yang bertengger indah menutupi sebagian wajahnya.


'Apa Aku tidak salah dengar? itu suara Fia. Tapi apa mungkin dia bisa berubah seperti itu?' batin Arif begitu bimbang setelah mendengar suara sang mantan, dia bimbang bukan karena cinta yang dulu pernah ada kini kembali tumbuh.


Tapi Arif begitu bimbang dengan wanita yang ada di sampingnya saat ini, apa benar dia Fia? atau hanya suaranya yang mirip.


"Mas, ayo pulang!" ajak Imah setelah selesai membayar kue yang tadi dia pilih.

__ADS_1


"Ayo Sayang!" Arif menggenggam tangan Imah keluar dari tokoh dengan satu kotak kue yang sudah dia bayar, sedang Fia dan Arum masih sibuk membayar kue pilihan mereka.


Sungguh pertemuan yang tak terduga, pertemuan yang sebenarnya sangat di hindari oleh Fia. Tapi mau bagaimana lagi takdir tak bisa di ubah begitu saja karena apa yang tertulis pasti akan terjadi.


__ADS_2