Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Hasan Sakit


__ADS_3

Langkah Arum terasa begitu cepat hingga Mbak Hana yang mencoba menyeimbangkan langkahnya tak bisa, selain karena Arum memang sedang panik langkah Arum memang jauh lebih lebar karena tinggi mereka yang berbeda.


"Neng Arum!" lirih Mbak Hana sambil memberi isyarat agar Arum sejenak menghentikan langkahnya.


"Ada apa Mbak Hana?" Arum yang mendengar Mbak Hana memanggilnya langsung menghentikan langkah lebar dan cepatnya.


"Jangan cepat-cepat larinya Neng, saya gak bisa menyusul." Ujar Hana yang sukses membuat Arum tersenyum.


"Mbak Hana nanti nyusul aja, Kak Hasan di kamarnya Kan?" bukannya menuruti ucapan Hana, Arum malah berniat meninggalkannya.


"Iya, Neng," jawab Hana.


"Aku duluan Mbak." Pamit Arum yang langsung berlari meninggalkan Desy yang masih terdiam di tempat melihat tingkah Arum.


Entah mengapa mendengar keadaan Hasan yang katanya sakit Arum langsung ingin bertemu dengannya. Tak ada yang dia fikirkan lagi selain segera bertemu denganHasan dan melihat keadaannya.


'Ceklek'


Arum masuk ke dalam kamar tanpa sepatah katapun, pandangannya langsung tertuju pada Hasan yang tergeletak lemah di atas kasur, saat ini Hasan sedang berbaring dengan mata tertutup menikmati setiap sendi yang terasa nyeri, tak ada yang bisa Hasan lakukan selain berobat dan menikmati setiap pelebur dosa yang di berikan untuknya, Hasan yang mengerti jika setiap rasa sakit yang dia rasakan dapat melebur dosa-dosa kecil yang pernah dia lakukan baik secara sengaja atau tidak tapi Hasan tetap ikhlas mendapatkannya.


"Abi!," lirih Arum.


Panggilan Arum seketika berubah saat berada di dekat Hasan, dan Arum akan tetap memanggil Kak Hasan selama dia bersama dengan sahabatnya, bukan karena Arum malu tapi Arum masih belum siap untuk mengumbar pernikahannya.


Hasan yang baru saja terlelap tak merespon panggilan Arum, dia hanya diam tanpa bergerak membuat Arum yang panik sejak datang semakin panik.


"Abi, tidak apa-apa? tunjukkan mana yang sakit!" cicit Arum berjalan mendekat ke arah Hasan, meski tak mendapat respon Arum tetap saja berbicara.


"Abi," lirihnya seraya duduk di samping Hasan dan perlahan memegang dahi Hasan yangterasa begitu panas.


"Abi demam," lirihnya lagi, tanpa menunggu respon dari Hasan Arum langsung berjalan keluar menuju dapur. Mengambil air dan mencari kompres yang akan dia gunakan untuk mengkompres Hasan.

__ADS_1


"Neng Arum cari apa?" tanya Hana yang baru sampai.


Hana baru saja sampai di rumah Hasan, melihat pintu depan terbuka Hana langsung masuk karena dia tahu jika Arum pasto sudah ada di dalam dan lupa menutup pintu, Hana yang merasa sudah lega karena Arum pasti sudah ada di samping Hasan berniat pergi ke dapur untuk membuat bubur. Tapi niatnya urung di lakukan saat melihat Arum kebingungan sedang mencari sesuatu yang entah apa itu.


"Mbak Hana tahu gak letak kain buat ngompres?" tanya Arum.


"Oh, sebentar biar saya ambilkan." Hana berjalan menuju lemari penyimpanan barang dan ternyata kompres yang sejak tadi di cari-cari oleh Arum berada di sana.


"Masya allah ternyata ada di sini, dari tadi aku muter-muter nyarii. Pantas saja gak ketemu." ujar Arum mengambil alih kompres yang sudah ada di tangannya.


Hana hanya tersenyum melihat sikap dan kepanikan Arum, dia merasa begitu bahagia sekalipun bukan dia yang di cemaskan oleh Arum, Hana merasa jika Arum benar-benar gadis yang tepat untuk Hasan.


Hana memang cuma seorang Haddam, tapi dia sudah mengasuh Hasan dan Husein sejak mereka masih kecil, secara bergantian Hana mengajari keduanya cara untuk berjalan dan berceloteh. Jadi rasa sayang itu tumbuh dengan sendirinya.


"Terima kasih Mbak Hana," ucap Arum.


"Sama-sama Neng," sahut Hana yang langsung melanjutkan pekerjaannya setelah Arum pergi.


Arum berjalan dengan satu baskom berisi air dan kain khusus untuk mengkompres. Tanpa menunggu Hasan bangun Arum langsung menempelkan kain kompresan yang sudah dia bawa.


"Syei'!" lirih Hasan seraya memegang tangan Arum yang masih menempel di dahi Hasan bersama dengan kain kompresnya.


"Iya, Bi," sahut Arum.


"Mana yang sakit? tunjukkan ke aku!" seloroh Arum dengan ekspresi wajah cemasnya.


Bukannya menjawab Hasan malah tersenyum melihat ekspresi wajah Arum.


"Abi! di tanya bukannya jawab malah senyum-senyum gak jelas." Gerutu Arum uang sedikit jengkel dengan respon yang di berikan oleh Hasan.


"Aku sedang bahagia Syei'," jujur Hasan.

__ADS_1


"Sakit kok bahagia sih Bi? jangan aneh-aneh! di mana-mana orang sakit itu gak ada yang bahagia," sahut Arum dengan ekspresi wajah mulai kesal.


"Aku bahagia bukan karena sakit yang sekarang aku rasain Syei'," ujar Hasan.


"Kalau bukan karena sakit, Abi bahagia karena apa?" tanya Arum yang semakin penasaran dengan ucapan sang suami.


"Abi bahagia karena kamu," jawab Hasan dengan senyum yang mengembang dan tatapan lekat ke arah wajah Arum.


"Karena Aku, memangnya apa yang sudah Aku lakuin sampai Abi bisa tersenyum seperti itu meski saat ini Abi sedang sakit?" Arum masih saja belum mengerti dengan kebahagiaan yang Hasan rasakan.


"Kehadiran dan perhatianmu sudah cukup membuat Aku bahagia Syei', keadaanku seolah langsung membaik saat kamu datang." Hasan mengatakan apa yang dia rasakan.


"Dasar raja gombal, sakit aja masih bisa ngegombal," celetuk Arum yang merasa jika suaminya ini benar-benar raja gombal.


"Aku tidak bermaksud menggombal Syei', Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini, tetaplah di sampingku agar rasa sakit ini segera pergi!" Hadan memang berkata jujur, jika saat ini dia merasa lebih baik setelah kedatangan Arum.


Entah bucin atau bagaimana Hasan tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, yang dia tahu hanya satu, dia selalu merasa bahagia dan jauh lebih baik dari sebelumnya selama ada Arum di sampingnya. Cinta itu memang buta dan bisa merubah orang secepat cinta itu hadir.


"Abi sudah makan?" Arum yang tak ingin terus mendengar kata-kata manis yang dia anggap sebagai gombalan mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dan Hasan yang mendapat pertanyaan hanya bisa menggeleng tanpa bersuara, pandangannya tak pernah lepas dari Arum yang selalu terlihat sempurna di matanya.


"Aku pergi dulu sebentar." Pamit Arum berdiri hendak pergi meninggalkan Hasan.


"Jangan ke mana-mana!" larang Hasan memegang erat tangan Arum agar istri kesayangannya itu tidak pergi.


"Aku mau buatin bubur buat kamu Bi." Jelas Arum berharap Hasan bisa mengizinkannya pergi agar Hasan bisa segera makan.


"Biar Mbak Hana yang membuatnya." Ujar Hasan tanpa bisa di bantah, tadi sebelum Hana pergi memanggil Arum. Hasan sudah menyuruhnya untuk membuat bubur setelah memanggil Arum dan Hasan juga memerintahkan Hana agar mengantar bubur itu ke kamar.


"Baiklah kalau begitu aku pergi sebentar mau bilang ke Mbak Hana biar di buatkan bubur." Ujar Arum yang tidak tabu jika Hasan sudah menyuruh Hana sebelumnya.

__ADS_1


"Sudah, dia sudah tahu, duduk dan temani aku saja dan jangan ke mana-mana!" titah Hasan tanpa bisa di bantah lagi.


Hasan yang sedang sakit sangat mirip dengan balita yang tak ingin berada jauh dari mamanya, sungguh sikap yang jauh berbeda dari Hasan yang Arum kenal sebelumnya.


__ADS_2