
Langit cerah menyinari bumi memberi kehangatan bagi setiap insan yang berada di bawahnya, hangatnya mentari tak mampu menghangatkan hati Desy yang tengah gundah memikirkan siapa gadis yang Huda pilih. Apa yang Desy rasakan berbanding terbalik dengan Huda yang tengah di landa rindu pada sang gadis pujaan hatinya.
"Kenapa sejak semalam aku terus saja kefikiran Desy ya?" gumam Huda menatap langit terik di australia, sejak semalam dia tak bisa berhenti memikirkan Desy, sampai saat ini Huda tetap tak bisa fokus mengerjakan tugas yang seharusnua sudah dia selesaikan sejak semalam.
"Bodoh amat, aku gak peduli kalaupun Hasan tahu tentang hubunganku dan Desy, yang penting aku bisa lihat wajahnya atau mendengar suaranya dan memastikan jika dia baik-baik saja," ujar Huda beranjak pergi mendekat ke arah nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya dan meninggalkan tumpukan buku di atas meja.
Tut ... tut ... tut ....
Suara nada telfon tersambung tapi masih belum ada yang menjawab hingga nada sambung terakhir barulah suara Hasan terdengar.
"Assalamualaikum," Huda langsung mengucapkan salam saat sambungan telfon dari sebrang terangkat.
"Waalaikum salam," jawab Hasan.
"Tumben banget kamu telfon Kak, gimana kabarmu? apa semua baik-baik saja?" sambung Hasan sambil mengajukan beberapa pertanyaan pada Huda, dia merasa begitu heran mendapat telfon dari Huda, pasalnya selama ini Huda jarang sekali menghubungi Hasan dan memberi kabar tentang keadaannya di sana.
"Kabarku baik, semuanya juga baik-baik aja, tapi aku boleh minta tolong gak sama kamu?" tanya Huda.
Sebenarnya masih ada rasa ragu di hati Huda untuk mengatakan semua yang telah terjadi dan apa yang di rasakan Huda saat ini, tapi rasa rindu yang sudah menggunung tak lagi bisa di bendung oleh Huda, dab mau tidak mau Huda tetap harus menceritaksn segalanya jika dia ingin melihat Desy.
"Kak Huda mau minta tolong apa?" Hasan menjadi bingung mendengar pertanyaan Huda, dan dia kembali bertanya.
__ADS_1
"Apa Desy sedang di rumahmu?" tanya Huda langsung pada topik yang ingin dia bicarakan bersama Hasan sang Kakak sepupu.
"Kenapa tiba-tiba tanya Desy? apa kak Huda ada sesuatu sama dia?" Hasan kembali bertanya, pasalnya dia merasa aneh jika Huda menelfonnya hanya karena ingin bertanya tentang Desy, meski Hasan tahu jika keduanya pernah dekat, tapi Hasan masih belum tahu jika Huda sudah mengingat Desy untuk dia jadikan teman hidup setelah selesai kuliah nanti.
"Sebenarnya Desy itu calon istriku," jujur Huda.
"Apa??? calon istri? kak Huda jangan bercanda! jelasin padaku apa maksud dari calon istri?" Hasan begitu terkejut mendengar penuturan Huda yang mengatakan jika Desy adalah calon istrinya.
"Aku akan ceritakan semuanya. Tapi Kamu harus merahasiakan ini dari siapapun termasuk Desy!" Huda mewanti-wanti sebelum dirinya mulai memceritakan segalanya pada Hasan.
"Astaghfirullah, jangan berfikir jelek mulu padaku, Kak! aku akan merahasiakannya jika kamu meminta itu," ujar Hasan.
"Tadi calon istri, dan sekarang Kak Huda memberi kabar kalau sudah bertunangan dengannya , kenapa bisa kakak gak ngasih tahu kabar sepenting ini padaku?" protes Hasan merasa sedikit jengkel dengan kejujuran yang di ungkapkan oleh Huda sang kakak sepupu.
"Maaf, aku sengaja merahasiakannya, bahkan Desy sendiri tak tahu jika dia sudah bertunangan denganku," tutur Huda yang semakin membuat Hasan bingung juga tak mengerti dengan jalan fikiran sang Adik sepupu itu.
"Maksud kamu bagaimana Kak Huda? kalau Desy tidak tahu jika dia sudah bertunangan denganmu terus bagaimana hubungan kalian berjalan, satu lagi apa kamu gak takut Desy berpaling menemukan tambatan hati lain selama kamu berada di Australia? sejarah Desy termasuk gadis yang cukup menarik karena kelembutan, kesopanan dan kecantikannya," ucap Hasan semakin membuat perasaan Huda tak karuan, dia yang tadi hanya rindu kini bertambah dengan rasa khawatir yang muncul karena mendengar ucapan Hasan.
"Tapi aku yakin kalau Desy sudah mencintaiku dan tidak akan berpaling selama aku masih ada di sini," Huda berusaha meyakinkan sang adik sepupu juga meyakinkan dirinya sendiri jika Desy pasti akan tetap setia menunggunya seperti yang pernah dia katakan sebelum pergi.
"Apa alasanmu bisa seyakin itu, Kak?" Hasan sengaja membuat sang Kakak sepupu sedikit khawatir dan bingung sebagai balasan karena dia sudah merahasiakan hal yang penting darinya.
__ADS_1
"Aku sudah menyuruhnya untuk menungguku hingga aku kembali!" jawab Huda dengan nada penuh percaya diri.
"Apa kakak juga meyakinkan dia tentang perasaanmu dan untuk apa dia menunggumu?" pertanyaan yang kembali di ajukan oleh Hasan membuat Huda diam seribu bahasa, karena apa yang di katakan olrh Hasan memang benar adanya, Huda memang menyuruh Desy untuk menunggunya tapi Huda tak menjelaskan untuk apa dia harus menunggu Huda.
"Belum," lirih Huda.
"Posisimu masih belum kuat, Kak, Desy bisa saja berpaling ke lain hati," ujar Hasan membuat Huda semakin kalut karenanya.
"Terus aku harus bagaimana Kak?" tanya Huda dengan ekspresi khawatir yang terlihat jelas di wajahnya saat ini.
Ekspresi Huda berbanding terbalik dengan Hasan yang justru tersenyum membayangkan ekspresi wajah Huda saat ini.
"Jangan khawatir biar aku yang membereskannya, Kak." Ujar Hasan dengan senyum yang semakin melebar.
"Kamu mau melakukan apa?" tanya Huda.
"Buat Desy mengerti jika dirimu juga memiliki perasaan yang sama, beritahu saja jika kamu telah mengikatnya dan bertunangan, beritahu semua yang sudah kakak lakukan untuknya, karena itu lebih baik dari pada kamu merahasiakan semuanya, kakak tidak akan dapat apapun dengan merahasiakan semuanya dari Desy, bahkan kakak bisa saja kehilangan dia saat kakak jauh darinya, ingat Kak Huda! hati seorang gadis bisa saja berpaling ke lain hati jika orang yang di cintainya tak merespon perasaannya, apa lagi jika ada laki-laki lain yang datang mengisi hari-harinya, aku bisa pastikan seratus persen gadis itu akan pergi meninggalkan orang yang di cintai dan memilih dia yang sudah pasti mencintainya," panjang lebar Hasan menjelaskan apa yang akan terjadi jika Huda terus-terusan menyembunyikan perasaan dan statusnya.
"Tapi aku tak ingin Desy tahu jika kita sudah bertunangan, aku ingin memberinya kejutan nanti." Huda memberitahukan alasan dirinya merahasiakan statusnya.
"Jika kakak memang ingin merahasiakan status yang sudah jelas tidak apa-apa, tapi kamu harus terus memberikan perhatian dan meyakinkannya jika kamu punya rasa yang sama agar di tak mudah berpaling dan yakin untuk tetap menunggumu meski kakak tak berada di dekatnya." Hasan memberi solusi pada Huda yang kini mulai berfikir untuk mengikuti apa yang sudah di jelaskan oleh Hasan.
__ADS_1