
Hasan berjalan meninggalkan Arum yang masih duduk diam di tempat.
"Umik, Arum balik ke kamar dulu." Pamut Arum meraih tangan Umik dan mencium punggung tangannya. Berjalan sendiri melewati asrama yang tampak lengang tak seramai biasanya, karena kebanyakan santri masih mengaji.
Dari kejauhan nampak Husein tengah mengajar kitab kuning, terlihat Desy dan Sinta juga ikut mendengarkan dan sesekali menulis. Karena penasaran Arum berjalan mendekat.
"Arum, sini!" panggil Desy lirih.
Arum yang mendengar panggilan Desy langsung berjalan mendekat, dan duduk tepat di sampingnya.
"Kalian lagi ngaji apa?" bisik Arum.
"Ini namanya kitab fiqih, menjelaskan tentang halal, haram, suci, najis dan tentang mana yang boleh dan gak boleh di lakukan." Kelas Desy.
"Apa Aku boleh gabung?" tanya Arum sedikit taku.
Arum yang melihat santri yang bergabung mengaji di sana terlihat Santri yang sudah pintar, jadi dia merasa sedikit takut untuk bergabung.
"Boleh, Ayo pindah ke sana!" Desy menunjuk tempat paling belakang di dalam mushollah, awalnya Desy duduk di teras mushollah bersama santri lain sedangkan Sinta berada di barisan paling depan mendengarkan penjelasan Husein dengan begitu khusuknya.
Husein yang sejak tadi melihat gerak gerik Arum hanya diam dan sesekali melirik ke arahnya, membiarkan gadis itu ikut pelajaran meski waktunya sudah hampir habis.
"Jadi kalian harus ingat, menyembelih hewan tanpa menyebut nama Allah itu hukumnya Haram, dan semua hewan yang hidup di dua alam itu juga haram hukumnya." Jelas Husein.
"Sampai di sini kalian sudah faham? atau ada yang perlu di pertanyakan?" ucap Husein sebelum mengakhiri acara ngaji hari ini.
"Ka~ emm maksud saya Mas Husein apa saya boleh bertanya?" ucap Arum
"Silahkan!" Husein yang memperhatikan Arum mempersilahkan gadis itu untuk bertanya
"Kata Mas Husein hewan yang di sembelih tanpa menyebut nama Allah itu haram. Bagaimana dengan daging yang di jual di super market apakah hukumnya haram atau tidak? sedangkan kita tidak tahu apakah daging itu cara penyembelihannya menyebut nama Allah atau tidak?" tanya Arum.
Husein tersenyum tipis mendengar pertanyaan Arum, sungguh dia gadis yang pintar dan aktif.
"Kalau kita ke super market dan hendak membeli daging yang prosesnya melalui penyembelihan, maka kita harus melihat dulu label yang ada di kemasan. Apakah di kemasan itu ada label halal dari MUI atau tidak? jika ada berarti daging itu pasti halal. Dan jika tidak lebih baik kita cari yang ada label dari MUI." Ucap Husein menjawab pertanyaan dari Arum.
"Sampai sini apa sudah jelas?" tanya Husein.
__ADS_1
"Sudah Mas Husein," jawab sebagian santri yang ikut pengajian.
"Baiklah, saya tutup pertemuan hari ini semoga ilmu yang saya sampaikan tadi dapat bermanfaat untuk kalian. Akhirul kalam wassalamualaikun." Husein menutup kitab yang sejak tadi berada di bangku tepat di hadapannya. Berdiri dan beranjak pergi meninggalkan mushollah.
Semua santri mulai meninggalkan mushollah satu persatu.
"Desy, habis ini kita mau ngaji apalagi?" tanya Arum.
"Setelah ini kita siap-siap sholat jamaah isya' dulu, habis itu baru belajar bersama." Desy menjelaskan kegiatan yang ada di pesantren.
Arum yang mendengar penjelasan Desy hanya bisa manggut-manggut tanda telah mengerti.
"Ayo balik ke kamar!" ajak Sinta yang baru saja datang mendekat.
"Ngapain ke kamar?" tanya Arum polos.
"Arum Sayang, kita ke kamar naruh kitab dan siap-siap buat ikut jamaah sholat isya'." Sinta yang gemas mendengar pertanyaan Arum langsung mendekat dan mencubit pelan pipi Arum, padahal jika di lihat dari segi umur Arum lebih tua dari mereka karena saat ini Arum sudah lulus sekolah sedang mereka masih kelas dua SMA. Tapi karena saat ini Arum berstatus santri baru dan mereka santri lama, maka mereka menganggap Arum seumuran. Di tambah lagi dengan sikap polos Arum membuat dia semakin terlihat muda.
"Oh gitu," sahut Arum dan tak marah meski pipinya harus jadi korban kegemesan temannya.
"Sudah jangan tanya jawab mulu! mending langsung ke kamar." Desy berdiri hendak berjalan meninggalkan mushollah, namun gerakannya terhenti oleh suara Sinta.
"Kenapa lagi Sin?" tanya Desy yang mendengar suara Sinta.
"Arum Al-qur'an itu mau kamu bawa ke mana?" tanya Sinta.
"Ke kamar, memangnya kenapa?" tanya Arum yang merasa heran dengan pertanyaan Sinta.
"Di sini ada aturan tidak boleh membawa Al-qur'an ke kamar, jadi tinggalkan saja di mushollah!" tutur Sinta.
"Di taruh di mana?" Arum yang masih bingung kembali bertanya.
"Itu ada rak khusus penyimpanan Al-qur'an, taruh saja di sana!" ucap Sinta menunjuk ke arah rak lemari lumayan besar yang ada di pojok mushollah.
"Kamu ini Sin, ngasih tahu setengah-setengah. Arum mana faham," Desy yang memperhatikan interaksi keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sini Aku tunjukin tempatnya!" Desy menarik tangan Arum untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
"Ini rak khusus asrama D, dan kamu bisa menyimpan Al-qur'an milikmu di sini kotak khusus untuk kamar D2." Desy menunjukkan sebuah tempat yang bertuliskan kamar D2 di sisi kiri.
"Maaf Aku lupa ngasih tahu soal itu," ujar Sinta tersenyum lucu mengingat tingkahnya.
"Sudah, ayo ke kamar!" ajak Desy.
Arum dan kedua temannya berjalan beriringan menuju kamar menaruh kitab kemudian beralih menuju tempat wudhu'.
"Arum mau ikut atau tetap di sini?" tanya Desy.
Saat ini Arum tengah duduk sendiri di depan loker sedang anggota kamar yang lain sudah keluar kamar mengikuti kegiatan belajar bersama.
"Bolehkah?" tanya Arum yang sedikit ragu untuk ikut bersama Desy karena dia tahu pasti kalau Desy akan pergi belajar bersama teman sekelasnya.
"Bolehlah, ayo!" Desy kembali menarik tangan Arum mengajaknya untuk bergabung bersama teman-temannya yang lain.
"Hay Desy," sapa salah satu temannya.
"Hay Anggik," sahut Desy.
"Dia siapa?" tanya Anggik yang memang baru melihat keberadaan Arum.
"Kenalin, ini Arum anggota kamarku yang baru." Desy memperkenalkan Arum pada Anggik.
"Hay kenalin Aku Arum," Arum mengulurkan tangan ke arah Anggik memperkenalkan diri.
"Aku Anggik, salam kenal ya." Anggik meraih uluran tangan Arum.
Setelah berkenalan ketiganya ikut bergabung belajar bersama, awalnya biasa saja sampai Arum membuat semua yang ada di sana terkejut. Pasalnya Arum bisa menjawab soal yang menurut mereka sulit dan tak terpecahkan.
"Arum, sebenarnya kamu kelas berapa sih?" tanya Anggik yang penasaran dengan Arum.
"Aku sudah lulus," jawab Arum.
Saat ini Desy memang sedang belajar pelajaran umum bersama.
"Pantas saja kamu lebih mengerti dari kita." Sahut Desy.
__ADS_1
"Kamu lulusan sekolah mana?" Anggik kembali bertanya.
"Balga senior high school," jawab Arum. Dan jawaban Arum sontak membuat semua yang mendengar melongo di buatnya.