
Pagi ini Husein sudah bersiap untuk menemui Hasan sang Kakak, setelah rencana matang yang di bicarakannya dengan Umik juga Abi semalam. kini Husein bersiap untuk memberitahukan niatnya pada Hasan.
"Umik, Husein pergi dulu ya." Pamit Husein seraya mencium punggung tangan Umik dan melenggang pergi menuju halaman untuk bergegas pergi ke rumah Hasa.
"Ifan, kita ke rumah Kak Hasan ya!" totah Husein yang kini memilih duduk di bangku belakang, pagi ini dia merasa begitu lelah setelah mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat dia tinggal karena memberi tes pada Zahra, semalam Husein juga berunding tentang rencananya meminang Zahra dengan Abi dan Umiknya.
Jadi pagi ini Husein merasa membutuhkan istirahat sebentar sebelum bertemu dengan Hasan sang Kakak.
"Fan!" panggil Husein.
"Iya Mas Husein, ada yang bisa saya bantu?" Ifan yang belum menjalankan mobil menoleh ke belakang melihat sang bos yang pagi ini terlihat begitu lelah, biasanya Husein lebih suka duduk di depan dan sedikit mengobrol dengan Ifan, tapi kali ini Husein langsung masuk ke mobil bagian belakang dan merebahkan dirinya di sana.
"Tolong ambilkan bantal di jok depan!" pinta Husein.
Husein memang memiliki kebiasaan membawa bantal beludru yang tak terlalu tebal di dalam mobil, biasanya Hasan menggunakan bantal itu untuk bersandar atau tidur di mobil.
"Ini Mas," Ifan memberikan bantal yang di maksud oleh Husein dan benar saja setelah mendapat bantal yang dia mau, Husein langsung memejamkan mata tanpa memperdulikan apapun lagi.
'Mungkin Mas Husein benar-benar lelah,' batin Ifan yang langsung melajukan mobilnya dengan pelan, Ifan yang mengerti jika saat ini sang Bos sedang membutuhkan istirahat sengaja membawa mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata, tujuannya hanya satu, agar Husein bisa tidur nyenyak dan lebih lama.
Perjalanan menuju rumah Hasan kali ini terasa begitu lama bagi Ifan, tapi hal itu berbeda dengan Husein yang tertidur nyenyak di jok bagian belakang. Hingga mobil sudah sampai di depan gerbang mension yang di tempati oleh Hasan, Husein masih saja tertidur dan dilema sang supir pun di mulai.
'Aku harus bagaimana? apa Aku harus membangunkan Mas Husein atau membiarkannya tertidur?' batin Ifan yang merasa begitu bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
Cukup lama mobil Husein terparkir di depan gerbang Mension membuat seorang satpam yang berjaga curiga.
__ADS_1
"Waduh ada pak satpam pula, Aku harus keluar dan memberi penjelasan sebelum dia mendekat dan mengetuk kaca pintu." Lirih Ifan sembari keluar dari dalam mobil menghampiri satpam yang terua berjalan mendekat ke arahnya.
"Maaf Pak, kenapa mobilnya parkir di depan gerbang? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam itu.
"Itu Pak, saya asisten Pribadi Mas Hasan, Adik dari cucu menantu yang punya mension ini. Sebenarnya kami datang untuj berkunjung tapu bos saya tertidur pulas di jok belakang, jadi saya memutuskan menunggunya bangun untuk masuk ke dalam." Ifan memberi penjelasan pada satpam tersebut, tapi ekspresi sang satpam justru terlihat ragu membuat Ifan memutar otak agar satpam itu percaya.
"Jika Bapak kurang yakin dengan penjelasan saya, bapak boleh tanya pada Mas Hasan kalau perlu bapak foto saja mobil yangkami gunakan. Aku yakin Mas Hasan pasti mengenali mobil Adiknya sendiri." Ifan yang mengerti keraguan satpam itu kembali memberi solusi agar Satpam itu percaya.
"Baiklah saya akan laporkan dulu ke Pak Hasan." Satpam itu berjalan sedikit mendekat memfoto mobil yang terparkir lengkap dengan gambar plat nomernya.
Cukup lama Ifan berdiri di depan gerbang bersama dengan Pak Satpam yang masih setia menunggu pesannya di balas.
"Bagaimana? apa Pak Hasan mengizinkan?" tanya Ifan yang melihat satpam itu masih menatap layar ponselnya dengan serius.
"Sudah Pak, maaf atas ketidak nyamanannya," sahut satpam itu penuh hormat.
"Bapak mau kembali ke mobil atau kita tunggu di pos saja?" tawar Satpam yang mengerti jika menunggu orang tidur si dalam mobil pasti terasa jenuh.
"Apa boleh saya ikut ke pos?" Ifan yang tak ingin merepotkan satpam bertanya lebih dulu sebelum menyetujui tawarannya.
"Bolehlah Pak, mari silahkan!" jawabnya sembari berjalan mendahului Ifan memberi isyarat agar Ifan mengikuti langkahnya.
Jika di luar mension Husein sedang tertidur dengan nyenyaknya, maka hal berbeda terjadi di dalam mension.
"Telfon dari siapa Bi?" tanya Arum saat melihat suaminya baru selesai melakukan obrolan lewat ponsel.
__ADS_1
"Ini dari satpam depan," jawab Hasan menunjukkan log panggilan dalam ponselnya.
"Satpam telfon Abi ada apa? apa ada masalah?" Arum mulai merasa kepo dengan segala hal yang berhubungan dengan Hasan.
"Tidak ada masalah Sayangku, tadi Pak satpam di depan telfon hanya memberitahu kalau Husein datang berkunjung," Hasan menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang sedang terjadi.
"Kamu tenang saja, Abi tidak punya kontaknya Cindy ataupun wanita lain. Abi cuma punya kontak kamu dan Umik. Sisanya Abi serahkan pada Dika asisten pribadi Abi." Hasan berbicara sambil terus berjalan mendekat ke arah Arum.
'Grepp'
Hasan yang merasa gemas dengan sikap Arum langsung memeluknya tanpa permisi, dan Arum yang mendapat pelukan dadakan hanya tersenyum. Entah mengapa Arum selalu saja tak bisa menolak apapun yang di lakukan oleh Hasan.
"Syei'!" lirih Hasan tepat di samping telinga Arum membuat sang empu merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Ishh jangan gini Bi!" Arum merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya langsung berusaha memberontak melepaskan diri dari pelukan Hasan.
"Kenapa? kamu gak suka di peluk sama suamimu?" tanya Hasan.
"Bukan begitu, Aku engap Bi," jawab Arum asal berharap Hasan segera melepaskan pelukannya.
"Abi kamu bilang Kak Husein datang, kenapa Abi masih ada di sini?" Arum merasa aneh dengan sikap Hasan yang tak langsung menemui Husein tapi malah tetap berada di kamar dan memeluk Arum.
"Husein masih tidur di mobil, nanti kalau udah bangun baru Aku temuin. Tapi kamu harus ingat satu hal Syei'! kamu itu sekarang istriku jadi jangan panggil Husein dengan sebutan Kakak! cukup panggil Husein saja seperti Aku manggil dia." Ujar Hasan.
Hasan kurang menyukai panggilan Arum pada Husein. Entah mengapa hatinya sedikit tercubit mendengar Arum memanggil Husein dengan sebutan Kakak. Pasalnya terkadang Hasan juga di panggil Kakak oleh Arum saat banyak orang.
__ADS_1
"Iya, Arum akan mengingatnya Bi," jawab Arum pasrah tanpa berdebat, entah mengapa akhir-akhir ini Arum merasa begitu malas untuk berdebat dengan Hasan, dia lebih memilih mengalah dari pada berdebat. Padahal sebelum menikah Arum adalah gadis yang memiliki kebiasaan berdebat dalam setiap hal dengan semua orang yanh dia kenal.
Arum tak pernah suka di atur dan dia juga lebih suka mempertahankan apa yang menurutnya benar dari pada mengikuti apa yang irang katakan.