Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sepucuk Surat Untuk Huda


__ADS_3

Desy melangkah beriringan bersama Shinta menuju kamarnya untuk menyembunyikan semua barang yang bisa menimbulkan masalah, kemudian mengambil satu buku pelajaran yang jarang sekali di pakai karena lebih sering praktek dari pada menulis.


Satu persatu kata dia rangkai demi mengungkapkan perasaan yang kini mulai memenuhi hatinya, meski sebenarnya hatinya tak yakin jika Huda akan senang menerima surat darinya, tapi Desy tetap menulis hingga coretan tinta itu di rasa cukup. Desy membiarkan kertas yang dia tulis masih berada di dalam buku olahraga agar tak ada yang menemukannya nanti saat pemeriksaan di mulai.


"Gimana? udah beres?" tanya Shinta yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan satu kantong plastik berisi makanan ringan.


"Udah, semua barang aman terkendali, kita tinggal santai aja," jawab Desy.


"Aku bawa makanan, kamu mau?" Shinta menawarkan makanan ringan yang dia bawa.


"Boleh juga," jawab Desy berjalan mendekat ke arah Shinta dan mengambil beberapa makanan yang dia bawa.


"Eh, aku juga punya beberapa makanan di kardus, tunggu bentar biar aku ambilkan." Ujar Desy sambil mengambil camilan yang di kirim Huda.


"Gila ya, sekarang makanan kamu mahal-mahal," seru Shinta saat melihat dua camilan berukuran cukup besar yang Shinta tahu dengan pasti jika makanan itu membeli di alfa***rt.


"Itu di beliin Mas Huda, Shinta, kalau kirimanku sendiri mana ada makanan yang kayak gini," jawab Desy.


Sejak pertama masuk pesantren Desy tak pernah mendapat kiriman makanan ringan seperti sekarang, biasanya dia hanya di bawakan nasi dan lauk, camilan yang biasa yang di bawakan juga cemilan murah yang ada di tokoh-tokoh kecil di rumahnya.


"Aku jadi bayangin sekaya apa ya Mas Huda itu?" Shinta berucap sambil menerawang ke atas langit membayangkan sesuatu yang tak seharusnya di bayangkan.


"Sudahlah, tidak usah di bayangin! percuma gak ada gunanya juga," sela Desy.


Keduanya tertawa menyadari tingkah konyol yang tak seharusnya mereka lakukan, membayangkan dan membahas sesuatu yang tak seharusnya mereka bahas.


Sore telah berlalu berganti malam yang penuh ketegangan terlihat beberapa santri yang tengah berhadapan dengan para seksi keamanan dan sebagian berhadapan dengan seksi kebersihan. Hal itu berbeda dengan Desy dan Shinta yang sudah aman dengan barang-barang yang mereka punya, karena mereka sudah menyembunyikan barang pembawa masalah itu di tempat yang aman.


Malam jum'at mungkin terasa angker bagi sebagian orang dan terasa indah bagi mereka yang memiliki pasangan, tapi bagi para santri malam jum'at adalah malam penuh kegembiraan, malam di mana mereka bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman dan yang paling menyenangkan mereka bisa menonton televisi bersama.


"Bagaimana suratnya? apa kamu sudah menulisnya dengan benar?" bisik Shinta pada Desy, kini keduanya sedang menonton televisi bersama di aula dengan berbagai macam makanan yang tergeletak tepat di depan mereka duduk.


"Sudah, kamu tenang saja, semuanya sudah beres tinggal ngasih ke Erwin aja besok." Jawab Desy meyakinkan Shinta.

__ADS_1


"Bagus, ahh aku jadi iri, rasanya pengen juga punya pasangan yang bisa di ajak surat-suratan, berasa kayak ada di zaman dulu," lirih Shinta.


"Sudah jangan bahas surat mulu! mending fokus lihat sinetronnya. Kalau enggak kamu habisin aja camilannya!" ucap Desy sebelum Shinta membicarakan hal yang lain, dia mencegah Shinta agar kembali fokus pada apa yang mereka lihat.


Malam semakin larut acara nonton bersamapun telah usai, kini tiba waktunya untuk mengistirahatkan badan menuju alam mimpi yang penuh keindahan meski hanya sementara.


Cahaya pagi mulai terlihat, meski remang-remang tapi tak menyurutkan semangat para santri untuk memulai kegiatan. Seperti biasa kerja bakti selalu di lakukan oleh para santri untuk membersihkan lingkungan pesantren. Dan Desy masih melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menyuci baju di mesin cuci dan membantu santri lain membersihkan halaman.


"Mbak Desy!" panggil salah satu santri yang mendapat tugas membersihkan halaman.


"Iya, ada apa?" sahut Desy menghentikan sejenak pekerjaannya menyapu.


"Ini ada titipan dari Reyhan," santri itu memberikan satu kantong plastik ke arah Desy.


"Oh, iya terima kasih," Desy yang sudah jengah terus menolak pemberian Reyhan akhirnya menerimanya sebelum menjadi pusat perhatian jika dia menolaknya.


"Ngomong-ngomong, Kak Reyhan itu siapanya Mbak Desy ya? kok ngasih bungkusan segala, bukankah Mbak Desy sudah punya calon?" tanya santri itu.


"Oh, dia teman SMA Mbak, kemarin aku titip sesuatu sama dia makanya sekarang dia kasih bungkusan ini," jawab Desy asal.


"Enggaklah Mbak, mana berani aku pacaran di pesantren," ujar Desy.


"Kalau gitu aku pergi dulu ya Mbak. Mau lanjut bantuin yang lain." pamit Sang santri melenggang pergi meninggalkan Desy yang kini sedang bernafas lega karena dapat menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh Santri itu dengan mulus tanpa membuatnya curiga.


Setelah menerima bungkusan yang entah isinya apa itu Desy kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Non Desy!" panggil Erwin saat melihat Desy sedang sibuk memindahkan cucian ke keranjang setelah di masukkan ke mesin pengering pakaian.


"Eh Erwin, tunggu sebentar! aku selesaiin ini dulu." Sahut Desy, sambil melanjutkan kembali pekerjaan yang sudah hampir selesai.


Erwin hanya menuruti permintaan Desy tanpa protes, meski sebenarnya saat ini dirinya sedang terburu-buru karena ada hal yang harus dia selesaikan.


"Erwin!" kini giliran Desy memanggil Erwin yang terlihat sedang melamun.

__ADS_1


"Iya, Nona," sahut Erwin.


"Jika aku menitipkan surat untuk Mas Huda padamu, apa bisa?" tanya Desy dengan ekspresi ragu.


"Tentu saja bisa Nona, titipkan saja padaku, nanti akan aku berikan pada Tuan Huda," jawab Erwin dengan ekspresi penuh semangat.


"Tunggu sebentar! aku ambil dulu suratnya." Desy kembali berjalan masuk ke dalam pesantren meninggalkan Erwin yang masih berdiri di tempatnya.


Erwin sangat senang mendengar Desy akan mengirimkan surat untuk Huda, pasalnya jika Huda bahagia maka dia akan mendapat bonus tak terduga darinya. Erwin berjalan menuju mobil mengambil dua kardus berukuran cukup besar dan menaruhnya di teras depan kamar yang dulu pernah di gunakan Huda.


"Erwin, ini suratnya." Desy memberikan sepucuk surat yang sudah tersimpan rapi di dalam amplop berwarna biru langit.


"Ini kiriman dari Tuan Huda untuk keperluan Nona Desy selama sebulan di pesantren." Erwin memberikan dua kardus yang cukup berat pada Desy.


"Di taruh situ saja! biar nanti aku sendiri yang membawanya masuk." Jawab Desy.


"Dan ini sarapan untuk Nona Desy." Erwin juga mengambilkan satu kantong plastik yang Desy tahu dengan pasti jika isinya adalah makanan.


"Terima kasih ya," ujar Desy.


"Sudah tugas saya Non, jadi tidak perlu sungkan! jika ada sesuatu yang Nona Desy inginkan tinggal bilang saja. Nanti saya yang akan bawakan untuk Nona," jawaban yang sama selalu terdengar setiap kali Desy berterima kasih pada Erwin.


-


-


-


-


-


Kakak2 kalau ada cerita yang gk nyambung atau salah author minta sarannya ya, soalnya author masih banyak kesalahan.

__ADS_1


kritik dan saran kalian aku tunggu 😍😍😍😘😘


__ADS_2