
Huda di sambut dengan begitu heboh oleh kedua orang tua Arif, dengan berbagai makanan juga kedatangan para tetangga yang sengaja di undang, sepertinya Nenek dan Kakek Huda sedang mengadakan acara syukuran atas kedatangan sang cucu.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sampai jug, Nak, ayo masuk!" sambut Nenek Huda dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Huda yang mengerti jika saat ini keluarganya begitu merindukan kebersamaan bersamanya akhirnya memilih untuk menghabiskan waktu bersama mereka selama seharian.
Ada banyak hal yang di tanyakan dan di ceritakan Huda, semuanya terdengar begitu menarik dan menyenangkan hingga Imah membuka obrolan serius tentang rencana Huda kedepannya.
"Setelah ini apa rencanamu, Nak?" tanya Imah di sela-sela obrolan.
"Yang pasti aku ingin segera meresmikan Desy, Bu," jawab Huda spontan tanpa banyak berfikir lagi, wajahnya tampak tegas dan penuh keyakinan.
"Apa kamu sudah siap jadi seorang suami?" sahut Nenek Huda saat mendengar sang cucu yang ingin segera menikah dengan Desy.
"Insya allah siap, Nek," jawab Huda mantap.
"Baiklah, sekarang katakan! kapan kamu akan menggelar acara pernikahan itu?" Ayah Arif yang sejak tadi hanya diam menyimak kini mulai berkomentar.
"Ayahmu benar, kamu harus punya rencana matang juga diskusi dulu dengan keluarga Desy sebelum membuat keputusan." Kakek Huda juga berkomentar.
"Aku akan datang menemui Desy besok saat dia wisuda dan akan membicarakan tentang rencana pernikahan beserta resepsinya sepulang wisuda." Ungkap Huda yang membuat seluruh keluarganya terkejut sekaligus bahagia.
"Ibu hanya bisa mendo'akan semoga kalian bahagia, dan apa yang kamu rencanakan lancar sampai hari H," Imah hanya bisa mendo'akan Huda, karena dia sangat tahu sifat sang anak yang tidak terlalu suka di campuri urusannya, Huda adalah pribadi mandiri yang akan melakukan semua hal sendiri dan akan meminta bantuan saat dia merasa memang perlu bantuan dan tak mampu menyelesaikannya sendiri.
__ADS_1
Jarum jam terus berputar ke kanan meninggalkan setiap kejadian dan memberi harapan baru untuk setiap makhluk yang ada di bumi. Begitu juga dengan mentari yang kini mulai kembali ke peraduannya, berganti dengan bulan dan bintang yang kini beralih menghiasi malam.
"Wajah Desy kenapa jadi terbayang-bayang terus di wajahku?" lirih Huda yang kini duduk di atas tempat tidur king size yang ada di kamarnya.
Perlahan Huda bangkit dan duduk di tepi jendel, menatap langit yang terlihat begitu cerah berhiaskan bulan dan bintang, wajah Desy masih saja terus terbayang dengan senyum yang mengembang.
"Besok aku akan mengungkapkan semuanya, akan aku beritahukan tentang pertunangan juga rencana pernikahan yang sudah aku susun," gumam Huda sambil menatap satu buket mawar merah yang memiliki harum begitu menyengat, dan satu kotak gelang lucu bergantung bintang kecil di bawahnya.
Mata Huda tak sengaja melirik jam dinding yang cukup besar di atas kasur. Ternyata saat ini sudah jam dua dini hari, tanpa banyak berfikir lagi Huda menutup gorden jendela di kamarnya kemudian menyimpan kembali dua benda yang akan dia berikan pada Desy besok. Huda memaksakan diri untuk tidur demi terlihat fresh esok hari.
'Aku harus tidur!' batin Huda memerintahkan dirinya sendiri.
~
Rona kebahagiaan terlihat jelas di wajah para santri, karena nanti sore mereka bisa kembali ke rumah untuk menghabiskan waktu libur, tapu rona bahagia bercampur sedih juga terlihat di wajah para wisudawan dan wisudawati, inilah saat terakhir mereka berada di pesantren yang beberapa tahun ini mereka tinggali, meninggalkan teman, sahabat juga semua kenangan yang telah terukir di sana, memulai kehidupan baru di luar dan mengamalkan setiap ilmu yang telah mereka pelajari.
"Desy!" lirih Shinta saat melihat Desy mengemas sisa barang yang akan dia bawa pulang.
"Iya, kenapa Shinta?" sahut Desy bingung melihat wajah Shinta yang sendu dan air mata mulai menggenang di sana.
"Desy!! hiks ... hiks ... hiks ...." Shinta langsung berhambur ke pelukan Desy dan menangis sejadi-jadinya di sana.
__ADS_1
"Kamu kenapa Shinta?" Desy semakin bingung melihat sikap Shinta.
"Apa kamu gak sedih? sebentar lagi kita akan berpisah," jawab Shinta.
"Aku sedih Shinta, tapi mau bagaimana lagi? inilah kehidupan, di mana ada pertemuan maka di situlah perpisahan pasti terjadi, susah jangan nangis! nanti make up mu luntur dan kamu gak cantik lagi, katanya mau cari cowok ganteng buat pasangan hidup," ujar Desy mencoba menenangkan sang sahabat.
"Kamu bener juga, sini aku pinjam!" mendengar penuturan Desy, Shinta langsung melepas pelukannya dan menyahut satu kaca berukuran sedang untuk melihat riasannya luntur atau tidak, sedang Desy hanya bisa tersenyum lucu melihat tingkah Shinta.
Desy juga merasa sedih karena sebentar lagi dia tak akan bisa bertemu dengan Shinta seperti saat berada di pesantren, dan dia juga tidak bisa lagi tinggal di penjara suci yang penuh dengan ketenangan, tapi Desy tak lagi bisa tinggal di sini, karena hidupharus terus maju dan Desy harus mengamalkan apapun yang telah dia pelajari.
"Sudah, jangan ngaca mulu! entar pecah tu kaca," cicit Desy mengambil alih kaca yang tadi di pegang Shinta.
"Dasar pelit kau, aku kan cuma mau ngaca," keluh Shinta.
"Bukan pelit, kalau kacanya kamu pakai aku gak selesai-selesai berkemas," Desy memberitahukan alasan dirinya mengambil alih kaca dari tangan Shinta.
"Baiklah, aku mengerti, lebih baik kamu bereskan saja sisa barangnya! setelah itu ayo ikut aku!" ajak Shinta.
"Kemana?" tanya Desy bingung.
"Khusus untuk saat ini, aku akan mentraktirmu, dan kamu bebas makan apapun biar aku yang bayar," ujar Shinta membuat Desy berbinar karena senang.
__ADS_1
"Ini yang paling aku suka, ayo!" Desy menyimpan tas yang sudah terisi penuh dengan barang-barang yang akan dia bawa pulang kemudian berdiri meraih tangan Shinta mengajaknya keluar dari kamar menuju stand makanan yang ada di halaman pesantren.
Setiap acara wisuda akan ada bazar berbagai macam makanan dari setiap lembaga yang ada di pesantren, setiap lembaga menjual beberapa menu makanan ringan dan berat untuk di jual, dan para osis bertugas menjaganya.