
"Bsiklah, berikan semua berkas yang harus saya tanda tangani!" titah Hasan meminta berkas yang harus dia tanda tangani.
Dengan cermat dan teliti Hasan memperhatikan setiap ketikan huruf yang ada di dalam berkas yang Sari berikan, saking seriusnya Hasan membaca isi dari berkas itu sampai tidak menyadari kedatangan Arum yang kini berjalan mendekat dengan satu gelas teh hangat dan satu toples biskuit.
"Silahkan di minum." Arum menaruh gelas dan top yang di bawa di atas meja dengan gerakan sedikit kasar tak selembut biasanya membuat Hasan sedikit terkejut, tapi sedetik kemudian keterkejutan yang terlihat di wajah Hasan berubah menjadi sebuah senyuman yang langsung mengembang di wajah Hasan mengingat jika saat ini Arum sedang cemburu karena kedatangan Sari.
"Sayang, sini!" Hasan sengaja mengubah nama panggilannya menjadi Sayang agar Arum bisa meredakan sedikit saja rasa cemburu Arum yang terpancar jelas di wajahnya.
"Ada apa?" bukannya langsung duduk Arum malah bertanya dengan posisi tetap berdiri tak merubahnya sedikitpun.
"Duduklah di sebelahku!" titah Hasan dengan senyum yang di huat semanis mungkin.
Dengan langkah berat dan ekspresi terpaksa Arum berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Hasan.
"Sari!" panggil Hasan.
"Iya, Pak," jawab Sari dengan penuh rasa hormat yang dia tunjukkan.
"Kenalkan dia Arum istriku tercinta dan Arum kenalkan dia Sari sekertaris handal yang biasa menghandel semua pekerjaanku saat aku cuti." Hasan memcoba mengenalkan Sari pada Hasan begitu pula sebaliknya.
"Perkenalkan Bu saya Sari sekertaris Pak Hasan." Sari mengulurkan tangan menandakan sebuah perkenalan.
"Arum," jawab Arum singkat.
"Wah istri Pak Hasan sangat cantik dan baik, pantas saja Pak Hasan bisa cuti berhari-hari demi menghabiskan waktu bersama Bu Arum." Ujar Sari memuji kecantikan dn kebaikan yang terpancar di wajah Arum.
"Terima kasih, tapi saya kurang suka pujian," sahut Arum sedikit ketus sedang Sari hanya bisa tersenyum menanggapi keketusan iatri atasannya itu, Sari sangat memahami dari tatapan Arum padanya jika saat ini Arum sedang merasa cemburu padanya.
__ADS_1
Sari memang sudah lama bekerja sebagai sekertaris di berbagai kantor dan reaksi yang di tunjukkan Arum sudah sangat sering dia dapatkan, jadi tak ada rasa terkejut ataupun sakit hati yang timbul di diri Sari saat melihat sikap Arum juga demikian.
"Abi, aku mau lanjut masak dulu di dapur. dan kamu Sari silahkan habiskan minumnya saya permisi." Pamit Arum melenggang pergi meninggalkan Hasan dan Sari yang masih duduk di tempatnya semula.
"Sari! maafkan sikap istriku jika kurang baik terhadapmu," ujar Hasan yang merasa tak enak hati pada Sari.
"Tidak apa-apa, bapak tenang saja semua yang di lakukan olrh Bu Arum itu pasti atas dasar cinta, harusnya bapak bersyukur memiliki istri seperti Bu Arum yang aku yakini pasti setia dan yang paling penting sangat menyayangi Pak Hasan sampai-sampai dia takut jika Pak Hasan tergoda atau berpaling ke lain hati," Sari mengatakan apa yang dia rasakan dan ketahui tentang Arum yang terlihat cemburu.
"Kamu benar Sari, tapi mau bagaimanapun. aku harus meminta maaf jika sikapnya membuatmu tak nyaman," Hasan tetap meminta maaf pada Sari meski sebenarnya Sari tidak mempermasalahkan apa yang di lakukan oleh Arum.
Arum yang baru saja kembali dari ruang tamu melanjutkan pekerjaannya di dapur memasak dan menyiapkan makanan untuknya dan Hasan.
"Neng Arum kenapa?" tanya Hana yang melihat Arum merengut sambil menggoreng tempe.
"Gak ada apa-apa, cuma lagi males aja," jawab Arum asal.
"Sudahlah Mbak, aku lagi males lebih baik sekarang kamu lanjutin gorengnya. Aku mau balik ke kamar dulu." Arum menyerahkan sepatula yang tadi dia pegang kemudian melenggang pergi meninggalkan Hana yang kebingungan melihat sikap Arum yang tiba-tiba berubah.
'Dasar laki-laki gak peka, gak bisa apa cari sekertaris cowok aja atau kalau enggak cari sekertaris yang lebih tua sedikit, kenapa harus pakai sekertaris muda dengan baju lengket kayak gitu,' gerutu Arum dalam hati sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Entah mengapa Arum tiba-tiba sangat cemburuan jika melihat Hasan berdekatan denga. gadis lain selain dirinya. Padahal sebelumnya dia masih ragu dan kurang peduli pada Hasan.
Arum yang merasa jengkel kini merebahkan diri di atas kasur empuknya sambil berusaha meredakan emosinya yang meletup-meletup.
"Syei'!" suara lembut Hasan menyapu telinga Arum yang sedikit terlelap di atas ranjang yang nyaman, sungguh keadaan berbeda yang dia rasakan saat berada di dalam pesantren.
"Hmmm," sahut Arum yang sebenarnya belum tertidur pulas.
__ADS_1
"Kita makan yuk!" ajak Hasan dengan nada lembut selembut sutera.
"Males Bi," jawab Arum singkat tanpa membuka mata ataupun mengubah posisinya yang saat ini membelakangi Hasan.
"Syei', kamu boleh marah sama Abi tapi jangan pernah sakiti dirimu sendiri karenanya, meski Abi sangat bahagia melihat kamu cemburu sama Abi tapu tetap saja Abi tidak suka jika kamu menghukum ragamu karenanya." Hasan masih berusaha merayu Arum agar mau bangun dan makan bersamanya.
Tanpa ada sahutan Arum langsung menyingkap selimutnya bangkit dari tidur dan berdiri tepat di samping Hasan yang masih setia duduk di ujung tempat tidur.
"Siapa juga yang cemburu? aku cuma kurang suka aja sama penampilannya bukan cemburu." Tegas Arum kemudian berjalan menjauh keluar kamar menuju meja makan untuk menyantap tempe goreng yang di padukan dengan sambal pedas favoritnya.
"Baiklah, nyonya besarku tidak cemburu, ayo makan!" jawab Hasan yang langsung merangkul tangan Arum dan mengajaknya pergi menuju ruang makan yang ada di dapur.
"Abi, jangan di tarik-tarik!" rengek Arum yang merasa terganggu dengan sikap Jasan yang merangkul bahu Arum dengan erat.
"Habis Abi gemez sama istri Abi yang satu ini, rasanya sayang kalau di bawa keluar selain ada keperluan mendesak." Celetuk Hasan yang membuat Arum malas untuk menanggapinya.
"Abi tidak usah menggombal tidak akan mempan padaku," sahut Arum kemudian melepas rangkulan tangan Hasan yang ada di bahunya dan berjalan cepat menuju dapur.
"Kamu makin cantik kalau kayak gini Syei'," ucap Hasan yang semakin bersemangat untuk menggoda Arum.
"Abi mau makan yang mana?" Arum tak menjawab gombalan yang di lontarkan Hasan malah menawarinya makanan.
"Kalau makan kamu aja gimana?" sungguh jawaban yang tak bisa di terima oleh Arum.
"Abi Aku serius, kenapa Abi jawabnya bercanda gitu sih?" keluh Arum yang merasa lelah dengan ucapan Hasan.
"Lauk apa saja terpenting kamu yang ngambilin." Akhirnya Jasan menjawab pertanyaannya dengan benar.
__ADS_1
Arum yang mendengar jawaban Hasan langsung mengambilkan beberapa ikan yang tadi dia masak kemudian ikut makan bersama dengan tenang.