Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kak Kutub


__ADS_3

Arum yang mendengar penjelasan Sinta langsung ikut bergabung untuk bersih-bersih bersama santri yang lain.


"Arum," panggil Desy.


"Iya Desy, ada apa?" tanya Arum setelah selesai membersihkan seluruh sudut kamar, kini Arum dan yang lain sedang duduk bersandar di sudut kamar bersandarkan loker.


"Kamu kemari kemana? Aku cariin kok gak ada." Tanya Desy, sejak kemarin Desy memang mencari Arum karena besok rencananya Anggik, Sinta dan Desy berencana akan memasak mie instan bersama dan memakannya pun bersama-sama. Hari jum'at adalah hari bebas bagi para santri dan ketiga teman Arum berencana akan masak mie bersama.


"Aku ada kepentingan Desy, makanya sejak kemarin Aku gak ada di pesantren." Arum hanya menjelaskan inti tanpa memberi penjelasan secara detail.


"Kepentingan, kamu pulang ke rumah? apa ada masalah?" Desy masih saja kepo karena merasa tak mendapatkan jawaban secara detail Desy kembali bertanya.


"Tak ada masalah Aku hanya rindu suasana di luar pesantren," jawab Arum berkelit. Bagi Arum menceritakan kejadian sebenarnya bukanlah pilihan yang tepat karena akan terjadi kehebohan bahkan memungkinkan rasa benci atau iri yang akan timbul di hati sebagian santri.


"Enak ya jadi kamu," ucap Sinta.


"Kok enak? emangnya kamu lihat dari mana jadi Aku enak?" tanya Arum mengernyitkan dahi bingung mendengar ucapan Sinta.


"Enaklah, kamu bisa izin keluar kapanpun sat kamu merasa bosan di dalam pesantren. Tapi kalau kita boro-boro izin dengan alasan bosan izin untuk beli buku paket aja susahnya minta ampun." Sinta menjelaskan alasan dia.


"Kok bisa gitu?" tanya Arum yang bingung.


"Kau tahu Arum, peraturan yang ada di pesantren ini begitu ketat apalagi soal izin keluar atau pulang dari pesantren masya allah sulitnya udah kayak nyari jodoh yang di idamkan." Desy yang hanya diam menyimak percakapan Arum dan Sinta akhirnya ikut berkomentar.


"Benarkah? Aku gak tahu aturan itu. Kalau tahu Aku juga gak bakal izin keluar." Sahut Arum dengan ekspresi wajah sendu.


"Kok bisa gitu? bukannya pulang sementara dari pesantren adalah hal yang paling menyenangkan?" tanya Sinta yang merasa heran dengan apa yang di ucapkan Arum.


"Aku tidak mau ada yang salah faham atau benci padaku hanya karena sikap Umik dan Abi berbeda jika mengahadapiku dan santri lain." Arum kembali memberi penjelasan tentang apa yang di rasakannya.

__ADS_1


"Kalau kamu berfikir seperti itu maka jangan cerita ke siapapun tentang kepergianmu kemarin. Cukup kita yang tahu." Desy kembali memberi nasehat.


"Baiklah Desy, Aku akan menuruti semua yang kamu katakan. Dan akan ada banyak hal yang akan Aku tanyakan jika masalah itu mencakup atau menyangkut pesantren." Ujar Arum tersenyum kecut ke arah keduanya.


"Sudahlah, jangan bahas yang gak jelas. Mending kita bahas acara masakan dan makan bareng kita besok." sela Sinta yang mulai merasa tak enak dengan topik yang sedang mereka bahas.


"Oh iya, gimana acara besok? Aku gak tahu bagaimana caranya jadi bisakah kalian jelaskan," pinta Arum dengan wajah memelas.


"Udah gak usah pasang wajah melas gitu! kagak bakal ada perubahan apalagi pembatalan!" tegas Desy.


"Baiklah, besok ajak Aku! jemput Aku di rumah ndalem setelah itu kita masak dan makan bersama." Ucap Arum.


"Setuju!" celetuk Sinta.


"Eh tunggu! kalau kami jemput kamu di ndalem itu artinya kamu gak tidur di sini donk?" sambung Sinta setelah mencerna ucapan Arum.


"Harusnya Aku yang tanya kenapa kamu gak tidur di kamar ini saja?" tanya Sinta.


"Umik menyuruhku untuk tidur di kamar Kak Syafa beberapa hari ke depan," jawab Arum jujur.


"Kok bisa gitu?" Sinta masih belum puas mendengar jawaban Arum dan kembali bertanya.


"Entahlah, Aku gak ngerti. Yang Aku tahu jika Umik memang menyuruhku apa boleh buat? Aku hanya bisa mengikuti keinginan Umik." Arum tak bisa memberi alasan apapun karena apa yang di katakan Arum saat ini adalah kebenaran.


"Udah-udah, kamu tanya mulu sudah kayak wartawan pengejar berita aja." Sela Desy yang hanya diam memperhatikan tanya jawab yang di lakukan Arum dan Sinta.


Sedang di tempat yang berbeda ....


Hasan baru saja pulang setelah seharian bekerja, Hasan terburu-buru berjalan masuk ke dalam rumah dengan harapan bisa segera bertemu dengan Sang Umik.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Umik!" panggil Hasan yang kini melangkah masuk kedalam rumah dengan mata yang masih lirik sana sini mencari keberadaan Sag umik yang sepertinya sedang tidak ada di rumah.


"Kak kutub cari Umik?" suara Husein tiba-tiba mengejutkan Hasan yang masih fokus melirik kanan dan kiri.


"Iya, Umik ke mana?" Hasan yang sejak tadi mencari mencari Umik kini membuka dompet yang tadi.


"Apa sebelumnya Umik pamit ke kamu Huseinn? atau ada yang rusak dengan ponselmu? hingga tidak ngabari Aku." Sambung Hasan.


"Tidak Kak, baik itu Umik atau pun Abi yang Aku tahu mereka pergi sebentar, ayo ikut Aku mampir ke kamar. sambil nunggui Umik dan Abi." Usul Husein, mengajak sang Kakak untuk ikut bersamanya.


"Boleh juga, ayo!" Hasan berjalan lebih dulu menuju kamar Husein yang jarang sekali di tempati. Husein lebih suka tidur di pondok putra berkumpul dengan kawan-kawannya.


"Tumben kamu di rumah?" tanya Huseinn yang sedikit aneh melihat suasana yang ada.


"gak apa-apa cuma pengen aja ada di kamar." jawab Husein santai dan terus berjalan mendekati kasih dan mengambil satu bantal untuk dia ganti baju.


Hening sesaat semua larut dalam fikirannya sendiri, hingga suara deheman Husein terdengar lumayan keras,Husein yang memang sering bergaul lebih banyak tak bisa mengimbangi sifat Hasan saat marah dan mode diam, karena sekeras apapun Hasan mencoba mengajaknya berkomunikasi kecuali sang kakak.


Benar saja apa yang di katakan oleh Hasan jika Umik dan Abah haya pergi sebebntar, kini keduanya sedang berjalan menuju ruang keluarga, melangkah berjalan berdua bersampingan.


"Assalamualaikum, Umik." Ucap Hasan berjalan mendekat seraya mencium punggung tangannya kemudian ikut duduk tak jauh darinya.


"Waalaikum salam," sahut ke duanya.


"Oh ya Nak, katanya kamu ingin ngomong sama Umik, sekarang bicaralah! Umik akan dengarkan." titah Umik setelah mengingat apa yang sudah di sepakati olehnya dan Arum hanya bisa diam tanpa berkomentar.


"Kakak mau ngomong apa?" tanya Husein yang mulai greget melihat keadaan yang terjadi.


"Soal itu nanti saja Umik," ucap Hasan yang tadi begitu menggebu-gebu ingin bicara pada Umik, tapi ketika ingin berbicara niatnyapun di urungkan karena ada Husein yang masih belum beranjak sejengkal saja dari sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2