
"Masya Allah, banyak bener yang kamu beli Arum." Ujar Sinta dengan wajah terkejutnya melihat begitu banyak yang di beli oleh Arum.
"Kamu gak tahu aja buat bawa barang sebanyak ini harus butuh perjuangan sekalipun Aku punya uang untuk membayarnya," Arum berkeluh kesah kesah menundukkan kepala, merasa malu bercampur jengkel mengingat apa yang telah terjadi.
"Hah, perjuangan?" tanggap Sinta yang tak mengerti dengan perjuangan yang di maksud oleh Arum.
"Kalau punya uang ngapain pakai perjuangan segala, tinggal ambil terus bayar kan beres." Sahut Fifi.
"Ahhh sudahlah, Aku malas bahas perjuangan itu. Mending kita langsung masak aja!" Arum berdiri berjalan ke arah kardus tempat penyimpanan makanan dan menyimpan beberapa makanan ringan yang baru saja di beli.
"Kita mau masak mie rasa apa?" tanya Arum menghentikan kegiatannya, menoleh ke arah Fifi dan yang lain.
"Kamu bawa yang rasa kari aja!" jawab Fifi.
"Oke," Arum menyelesaikan pekerjaannya menaruh makanan di kardus, kemudian berbalik mendekati Fifi dan yang lain yang sudah menunggunya sejak tadi dengan satu bungkus mie instan di tangannya.
Di tempat yang lain ....
Hasan masih saja diam mematung menatap kepergian Arum yang terlihat begitu emosi, sedang perasaannya semakin campur aduk setelah bersentuhan dengan tangan lembut milik Arum.
"Mas Hasan," panggil Maya membuyarkan lamunan Arum.
"Eh, i~iya kenapa?" tanya Hasan gugup karena masih belum sepenuhnya sadar dari lamunan.
"Terima kasih," ucap Maya dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Hasan yang justru bingung dengan ucapan terima kasih yang di ucapkan Arum.
"Terima Kasih karena sudah membantu saya mengingatkan gadis sombong tadi," jawab Maya yang sekarang terlihat tersenyum penuh kemenangan, karena dia merasa sudah di bela oleh Hasan.
__ADS_1
"Gadis sombong?" Hasan mengulangi kalimat Arum sebagai tanda bahwa dia bingung dengan gadis sombong yang dia maksud.
"Arum, gadis yang berlagak sok kaya dan tak punya sopan santun itu." Maya memperjelas siapa gadis yang dia maksud.
"Arum bukan gadis sombong seperti yang kamu maksud! dan ingat satu hal. Aku tidak membela kamu," Hasan yang mendengar penjelasan maya yang menjelek-jelekkan gadis pujaan hatinya langsung memberitahu dengan tegas jika saat ini dia tidak membela Maya, semua ini hanya salah faham karena niat Hasan hanya ingin tahu apa yang terjadi meski dia memang salah berucap tapi bukan berarti dia akan diam saat gadis yang akan dia jadikan calon istri itu di biarkan mendapat hinaan dari orang lain.
Hasan langsung pergi meninggalkan Maya yang masih diam mematung setelah mendengar perkataan Hasan yang kurang enak di dengar, apalagi Hasan berucap dengan ekspresi wajah marah juga tatapan tajam yang membuat nyali Maya seketika menciut.
'Ini semua gara-gara santri menyebalkan itu, sekarang Arum malah marah dan mungkin membenciku,' gerutu Hasan sambil berjalan menuju rumahnya sendiri.
"Kak!!" panggil Husein yang baru saja keluar dari rumah Umik lewat pintu khusus untuk santri putri.
"Hmm," jawab Hasan acuh tanpa menoleh, dia malah terus saja berjalan tak memperdulikan Husein yang sedang berjalan menghampirinya.
"Isshh, dasar Kakak kulkas. Di panggil bukannya nyahut dan diam nunggu yang manggil ini malah nyanyi ham hem ham hem." Gerutu Husein yang sedikit berlari mendekat ke arah Hasan.
"Apa sih Dek? ribut amat." Hasan yang memang mendengar gerutuan sang adik ikut menggerutu.
"Kemana?" tanya Hasan yang masih terus berjalan meski sedang berbicara dengan Husein membuat Husein ikut berjalan mensejajarkan langkah Hasan.
"Kita kumpul sama temen kuliah dulu," jawab Husein.
"Siapa?" tanya Hasan yang memang sudah lupa dengan teman-teman kuliah yang di maksud Husein karena sejak lulus Hasan sama sekali tidak pernah bertemu dengan teman yang di maksud dengan Hasan.
Selain karena sibuk, Hasan memang pribadi yang tertutup. Jadi dia lebih suka berdiam diri di rumah atau masjid dari pada harus kumpul-kumpul tak jelas seperti yang biasa di lakukan oleh Husein.
"Wahh parah kau Kak, sama teman sendiri di lupain," ucap Husein yang merasa heran dengan Kakak laki-laki satu-satunya ini.
"Kalau gak mau ngasih tahu ya sudah gak apa-apa, mending kamu balik aja ke rumah Umik. Aku mau tidur." Ujar Hasan yang masih menunjukkan sikap acuhnya.
__ADS_1
Ceklek ....
Hasan yang sudah sampai di depan pintu rumah langsung membuka dan berniat langsung menutupnya, karena hatinya saat ini sedang campur aduk dan tak berniat untuk ikut Husein berkumpul dengan sahabat lamanya itu.
Hasan memang pribadi pendiam dan suka seenaknya sendiri, bahkan tak jarang sikapnya itu di salah artikan menjadi sombong. karena bukan cuma irit bicara, Hasan juga sangat cuek pada semua hal kecuali jika hal itu menarik perhatiannya dia akan berubah seratus delapan puluh derajat.
"Jangan gitulah Kak, kalau Kakak gak mau ikut gak apa-apa tapi Aku mau minta satu hal dari Kakak. Apa boleh?" pinta hasan yang kini berdiri di depan pintu yang akan di tutup oleh Hasan mereka saling berhadapan.
"Masuklah!" sekeras dan sedingin Hasan dia tetaplah seorang Kakak, dia tak akan pernah tega mengabaikan keinginan Husein adik kembarnya itu.
"Kamu mau apa?" tanya Hasan to the point saat sudah berada di ruang tamu.
Saat ini Hasan dan Husein duduk di ruang tamu dan saling berhadapan.
"Kak, Aku mau undang teman-temanku ke sini buat barbeqiuan. Apa boleh?" Husein yang sudah hafal sifat Kakaknya langsung mengatakan permintaannya tanpa basa basi.
"Kamu mau ngadain acaranya di mana Dek?" tanya Hasan yang sebenarnya mulai merasa tak nyaman, karena permintaan adiknya ini pasti akan menyulitkan dirinya.
"Di rumah Kakak," jawab Husein dengan wajah imut yang di buat-buat dan sikapnya ini membuat Hasan merasa enek.
"Jangan pasang wajah seperti itu! Kakak enek lihatnya," ucap Hasan yang langsung menampakkan ekspresi enek di hadapan Husein.
"Ishhh kau ini sungguh menyebalkan Kak, wajah imut begini di bilang enek. Aku bilangin Umik tahu rasa kamu Kak!" Husein mengubah ekspresi yang tadinya di buat seimut mungkin kini malah cemberut.
"Berkumpullah sama temanmu, asal kau harus bersihkan sisa makanan yang akan kau buat nanti." Meski terkesan dingin dan kurang suka Hasan tetap memberi izin Husein untuk berkumpul dengan teman-temannya di rumahnya.
"Benarkah?" sahut Husein dengan mata berbinar.
"Iya," jawab Hasan singkat, dia berdiri meninggalkan Husein yang masih ke girangan karena telah mendapat izin dari Hasan menggunakan rumahnya untuk dia gunakan kumpul bareng Zein dan Bastian.
__ADS_1
'Besok alamat akan terjadi kekacauan di rumah ini,' batin Hasan berjalan menjauh menuju kamarnya.