Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Memberi Kabar Pada Bunda Fia


__ADS_3

"Abi," rengek Arum.


"Apa Syei'?" sahut Hasan mengalihkan pandangannya ke arah Arum yang masih berbalut selimut tebal.


"Nanti sebelum cek ke dokter, anterin aku beli gethuk ya." Pinta Arum dengan ekspresi wajah memohon yang sukses membuat Hasan tak tega untuk menolaknya.


"Beli di mana gethuk Syei'?" tanya Hasan yang merasa jarang sekali menemukan penjual gethuk.


"Entahlah Bi, aku tiba-tiba pengen makan gethuk yang di kasih parutan kelapa plus cairan gula merah dan di cetak bulat panjang di susun jadi satu dan di potong kotak-kotak, emm rasanya pasti enak Bi," Arum mengatakannya dengan mata berbinar penuh harapan.


"Bagaimana kalau kita buat sendiri saja Syei'?" tawar Hasan, entah mengapa di dalam otaknya hanya ide itu yang muncul padahal sebenarnya ide yang dia cetuskan bukanlah ide yang bagus.


"Wah boleh juga Bi, tolong Abi buatkan ya," pinta Arum.


"Mbak Hana sepertinya sangat jago membuat gethuk Syei', dari pada gagal apa gak lebih baik Mbak Hana saja yang membuatkan?" bujuk Hasan.


"Ngomong aja kalau Abi gak mau buatin Arum gethuk!" sarkas Arum dengan wajah yang cemberut.


'Astaghfirullah salah ngomong aku,' batin Hasan.


"Baiklah, Abi akan buatin kamu gethuk sekarang." Hasan tak ingin bumil yang ada di hadapannya ini marah ataupun ngambek langsung berjalan keluar dari kamar menuju dapur dan melihat apa masih ada bahan yang bisa dia gunakan untuk membuat gethuk.

__ADS_1


"Mas Hasan cari apa?" tanya Hana yang sejak tadi melihat Hasan kelimpungan seperti mencari barang.


"Arum minta di buatin gethuk Mbak, dan aku bingung bahan juga cara buatnya gimana?" Hasan menjawab pertanyaan Hana dengan bertanya kembali, pasalnya sebelum ini Hasan sama sekali belum pernah membuat gethuk, dia selalu membelinya dari warung langganannya.


"Oh, Mas Hasan mau buat gethuk, kenapa gak langsung beli saja ke warung langganan kita?" usul Hana.


Mendengar usulan Hana membuat Hasan tergoda ingin membelinya tanpa harus repot-repot membuatnya sendiri. Hasan hanya perlu membuat gula merah cair sebagai pelengkap yang entah bagaimana rasanya nanti, gula merah cair di makan bersama dengan gethuk, karena biasanya gula merah cair itu dim makan bersama sengan lupis.


"Usulan Mbak Hana boleh juga, kalau gitu tolong pesenin! biar aku buat gula merah cairnya." Ucap Hasan yang cukup membuat Hana sedikit terkejut.


"Untuk apa gula cair Mas Hasan?" tanya Hana yang bingung dengan ucapan Hasan.


"Arum minta makan getuk yang di kasih kelapa juga gula merah cair di atasnya," Jasan menjelaskan permintaan aneh sang istri, tapi anehnya Hana yang mendengar itu tidak merasa terkejut atau lain sebagainya, dia malah tampak biasa saja.


"hm," sahut Hasan singkat dan membiarkan Hana pergi tanpa menoleh ke arahnya lagi Hasan kembali meneruskan pekerjaannya. Sedangkan Arum yang kini menjadi ratu dalam rumah yang bisa meminta apapun pada Hasan hanya duduk diam menatap langit, mengingat setiap kejadian yang telah terjadi hingga dia baru menyadari jika dirinya belum memberi tahu sang Ayah dan Bunda yang berada di negara sebrang.


"Bunda, astaghfirullah aku lupa belum ngasih tahu Bunda kalau aku sedang hamil dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek," lirih Arum.


Dengan langkah cepat Arum berjalan menuju nakas karena saat ini dia tengah duduk anteng di atas kursi yang menghadap ke jendela.


Tut ... tut ... tut ....

__ADS_1


Suara sambungan telfon terdengar dari sebrang, tapi cukup lama tak ada yang mengangkatnya hingga suara sambungan terakhir barulah terdengar suara merdu sang Bunda.


"Assalamualaikum, bagaimana kabarmu, Nak?" pertanyaan pertama yang selalu di lontarkan oleh Bunda Fia saat Arum menelfonnya.


"Alhamdulillah, kabar ku baik Bunda, kabar Bunda sendiri bagaimana?" kini giliran Arum yang menanyakan kabar sang Bunda.


"Alhamdulillah Bunda juga baik, Nak, kamu sudah lama tidak menelfon Bunda, katanya mau liburan ke sini, tapi kok gak berangkat-berangkat?" tanya Bunda Fia yang sebenarnya begitu merindukan sang putri.


"Maaf Bunda, kemarin-kemarin Arum memang berencana mau ke sana untuk liburan sekalian menemui Ayah dan Bunda, sebenarnya aku kangen sama kalian juga Kakak, tapi suamiku tiba-tiba harus ke jogja untuk menyelesaikan cabang baru yang ada di sana, jadi kemarin aku ikut sekalian liburan bersama Hasan ke jogja dan merubah seluruh rencana yang di buat," Arum menjelaskan alasan kenapa dirinya tidak jadi ke rumahnya yang ada di Australia.


"Sudah tidak apa-apa yang penting kamu sehat dan selalu bahagia Bunda sudah senang, Nak," ujar sang Bunda.


Sejak dulu kebahagiaan dan ke senangan Arum memang jadi prioritas utama sang Bunda, meski Arum tumbuh menjadi gadis yang mandiri tapi Sang Bunda selalu berusaha membuatnya tersenyum dalam keadaan apapun.


"Bagaimana kabar keluargamu yang lain di sana?" Bunda kembali bertanya membuat Arum yang ingin menceritakan tentang kehamilannya urung dan lebih memilih menjawab setiap pertanyaan yang Bunda Fia ajukan.


"Semua keluarga di sini baik Bunda alhamdulillah, Bunda sebenarnya ada hal lain yang ingin aku beritahu pada Bunda," Arum yang sejak tadi mencari kesempatan untuk memberitahukan kabar gembira pada sang Bunda kini mulai mengatakannya.


"Ada apa, Nak? apa ada sesuatu tang terjadi?" sergah Bunda Fia yang terdengar mulai khawatir, meski saat ini Arum tak bisa melihat ekspresi wajah sang Bunda, tapi dia tahu dengan pasti jika saat ini Bundanya tengah khawatir.


"Ini kabar gembira, jadi Bunda tidak perlu khawatir ataupun takut karena Mas Hasan sudah menjagaku dengan sangat baik, jadi Bunda tenang saja," Arum meyakinkan sang Bunda jika dirinya baik-baik saja dan sang Bunda tidak perlu khawatir karenanya.

__ADS_1


"Syukurlah jika memang begitu, kamu punya kabar apa, Nak?" Bunda Fia kini bertanya dengan hati yang di penuhi rasa penasaran.


"Aku sedang hamil Bunda, dan sebentar lagi Bunda akan jadi seorang Nenek," jawab Arum yang membuat Bunda Fia begitu bahagia karenanya.


__ADS_2