
Tangan Husein terus saja berjalan-jalan menuju tempat-tempat yang akan menjadi favoritenya, pelan tapi pasti Husein mulai mendekat menangkup manisnya bibir merah merekah milik sang istri, menjelajah di dalamnya, mengabsen setiap isi di dalam sana. Awalnya Zahra hanya bisa diam dan menerima perlakuan Husein tapi lama kelamaan dia terlena dan mengikuti permainan yang di buat Husein, meski dengan gerakan kaku tapi perlahan Zahra mulai membalas cium***n dan lum***tan yang di lakukan oleh Husein hingga suara indah lenguhan dari bibir Zahra terdengar.
Zahra benar-benar di buat tidak sadar oleh Husein, kini Zahra merasa sedang terbang di atas awan karena tangan Husein mulai bermain di atas gunung gembar yang terlihat begitu putih mulus dengan puncak berwarna merah muda yang memiliki tonjolan cukup besar.
entah sejak kapan piyama itu terlepas, Zahra sudah tidak peduli dengan apapun dia hanya merasa jika ada sesuatu yang ada di dalam dirinya meminta Husein melakukan lebih dari apa yang di lakukan sekarang, Husein tersenyum lebar melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Zahra, dia semakin bersemangat bermain di atas gunung kembar yang menonjol di depan matanya.
'Ternyata punya istriku besar dan menggoda, aku bersyukur karenanya' batin Husein menatap ujung gunung yang terlihat melambai-lambai untuk di cicipi.
"Mmmmm," gumam Husein.
"Ahh, Mas Husein," lolos sudah suara merdu Zahra terdengar indah membuat semangat Husein semakin membara tatkala Husein bermain di ujung gunung dengan bibir dan lidahnya.
"Kamu sungguh membuatku kecanduan Sayang, ukurannya begitu pas untuk di nikmati," bisik Husein dengan tangan yang masih bermain di puncak gunung.
"Lanjutkan, Mas!" sahut Zahra dengan mata tertutup, sungguh akal sehatnya kini telah hilang berganti sebuah hasrat yang menuntut untuk di puaskan. Sedang Husein yang mendengar ucapan Zahra langsung melakukannya tanpa banyak mengulur waktu, Husein kembali bermain memberi begitu banyak tanda merah di atas kulit yang terlihat putih mulus tanpa cacat itu.
"Ahh, sakit Mas," keluh Zahra saat dia merasakan sesuatu memaksa menerobos masuk ke dalam gua yang dia jaga dan tak ada yang masuk bahkan melihat sebelumnya.
Husein yang mendengar Zahra mengeluh langsung membungkam mulut Zahra dengan sentuhan lembut agar dia tak lagi mengeluh, sedang si junior masih saja berusaha mendorong masuk menerobos pagar yang sejak dulu menghalangi jalan. Hingga satu hentakan keras membuat si junior berhasil berada di dalam gua.
__ADS_1
"Mmmmm," suara jeritan Zahra yang tertahan oleh Husein sedikit terdengar.
"Hah, sakit, perih Mas," keluh Zahra melepaskan diri dan sedikit menjauh dari Husein hingga membuat sang junior terpaksa keluar dari dalam gua yang tiba-tiba menjauh.
"Kenapa, Dek?" tanya Husein heran melihat sang istri kini menjauh dan melepaskan diri darinya.
"Maaf, Mas, sakit dan perih, apa kita bisa lanjutkan besok?" lirih Zahra dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Husein mengerutkan dahi bingung melihat reaksi Zahra yang terasa begitu aneh, apakah sesakit itu hingga istrinya menangis, apa semua gadis seperti itu saat melewati malam pertamanya.
"Apa benar-benar sakit?" tanya Husein sambil memperhatikan wajah Zahra yang kini nampak sendu dengan sedikit air mata yang masih menetes di sana. Dan Zahra yang mendengar pertanyaan sang suami hanya mampu menganggukkan kepala, sebenarnya dia tidak ingin melakukan apa yang di lakukannya sekarang, hanya saja Zahra yang dasarnya tak bisa menahan rasa sakit tak lagi mampu menahan rasa sakit dan perih yang kini dia rasakan. Meski dengan pasti dia tahu jika suaminya belum sampai puncak.
"Mas," lirih Zahra sembari memegang tangan Husein yang hendak turun dari ranjang.
"Ada apa, Dek?" tanya Husein berusaha berbicara selembut mungkin dan mencoba memahami keadaan Zahra sambil menahan sedikit rasa jengkel karena hasratnya yang belum tuntas.
"Maaf," ucap Zahra sambil menundukkan kepala menandakan jika dirinya begitu menyesal karena tak bisa membantu Husein menuntaskan apa yang seharusnya di tuntaskan.
"Sudah, tidak apa-apa, aku ngerti kok." Husein berusaha menampakkan senyumannya seraya mencium kening Zahra mencoba memberitahukan jika Husein bisa menerima apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas," ucap Zahra dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Hm, lebih baik kamu istirahat saja, siapkan diri untuk perjalanan besok. Jangan fikirkan aku! lagi pula masih ada banyak waktu untuk menyelesaikannya nanti," tutur Husein seraya mengedipkan mata membuat Zahra tertunduk malu karenanya.
Setelah melihat sang istri kembali berbaring Husein berjalan menuju kamar mandi menuntaskan apa yang belum tuntas.
'Ini semua demi cinta, aku harus main solo, tapi tak apa yang penting besok aku bisa bermain sepuasnya setelah membuka paksa pagar gua itu,' batin Husein setelah semuanya tuntas.
Kini Husein mulai membersihkan diri menyiram tubuhnya dengan air dingin membersihkan segala hal kotor yang ada di tubuhnya.
"Astaghfirullah," ucap Husein terkejut sesaat setelah keluar dari dalam kamar mandi, bagaimana tidak terkejut saat dia keluar dari kamar mandi terlihat penampakan yang cukup menggoda iman, Zahra terlihat tertidur lelap dengan selimut yang merosot sampai perut dan saat ini Zahra sedang tak memakai sehelai benangpun untuk menutupi tubuhnya.
"Godaan apa lagi ini?" lirih Husein yang kini mulai merasakan sesuatu yang mulai menegang kembali di bawah sana.
"Sabar Junior, besok kamu bisa main di gua sepuasnya, sekarang kamu harus sabar dan tahan dulu." Ujar Husein mengusap pelan dadanya mencoba meluaskan rasa sabar yang ada dalam dirinya.
Dengan langkah pasti Husein berjalan mendekat ke arah Zahra. Menaikkan ke atas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya sampai menutupi leher Zahra kemudian berjalan pelan menuju sofa berukuran cukup besar yang ada di ujung ruangan yang biasa di gunakan untuk menonton televisi oleh Zahra.
"Sepertinya aku harus todur di sini malam ini, jika tidak aku tak akan bisa tidur karena terus terbayang oleh Zahra," gumam Husein melenggang pergi menuju sofa setelah membawa satu bantal untuk dia pakai tidur.
__ADS_1
Malam penuh kenikmatan dan penyiksaan yang di lalu Husein kini tengah berlangsung, indahnya malam pertama yang sering dia dengar tak terjadi padanya, tapi meski begitu Husein tetap bersyukur dan bahagia karena sudah mendapatkan gadis sebaik Zahra, dia begitu bahagia karena menjadi yang pertama menyentuh apa yang ada dalam diri Zahra.