
"Imbalan apa maksunya, Bi?" tanya Umik bingung dengan imbalan yang di minta oleh Abi Ilzham.
"Aku ingin jatahku di tambah nanti malam," jawab Abi Ilzham.
"Baiklah, khusus untuk nanti malam Aku akan memberikan jatah semau Abi, bagaimana? apa Abi setuju?" tanya Arum.
"Baik, Abi setuju," keduanya akhirnya menemukan kesepakatan yang sungguh membuat siapapun geleng kepala, meski usia mereka sudah beranjak tua , tapi kelakuan mereka masih saja sama seperti dulu.
Umik dan Abi Ilzham akhirnya berjalan menuju ruang tamu untuk menemui tamu jauh yang sebenarnya pernah menjadi musuh bebuyutan bagi Abi Ilzham.
"Fia!" panggil Umik dengan senyum bahagia yang tampak di wajahnya.
"Uqi! bagaimana kabarmu? lama gak ketemu, makin cantik aja," sahut Bunda Fia, keduanya saling berpeluk sekilas kemudian duduk berdampingan, sangat kontras dengan apa yang terjadi pada Rifki dan Ilzham, keduanya hanya menyapa biasa kemudian duduk berhadapan tanpa ada yang berbicara, suasana canggung sangat terlihat di antara keduanya.
"Assalamualaikum," ucap Hasan yang baru saja kembali dari pondok putera untuk mengatur acara nanti malam dan mengajar mengaji setelah sholat subuh.
"Waalaikum salam," sahut semua orang yang ada di dalam ruang tamu.
"Abi!" panggil Arum yang langsung berdiri menyambut sang suami agar ikut duduk di sampingnya.
Saat ini semua terasa begitu indah karena semua keluarga telah berkumpul, terkadang terdengar canda dan tawa yang terdengar begitu indah di telinga, acara tiga bulanan kehamilan Arum benar-benar memiliki makna tersendiri bagi Arum dan keluarga yang lain.
~
"Desy!" suara seorang laki-laki terdengar mengusik Desy yang sedang asyik berjalan sendiri menuju sekolahnya.
Hari ini dia terpaksa berangkat sendiri karena kesiangan, kemarin malam Desy tidur terlalu malam karena membantu Umik dan Arum mempersiapkan acara tiga bulan calon bayi Arum, untung saja Desy sedang kedatangan tamu bulanan jadi dia bisa tidur sedikit lebih lama dari biasanya. Dan Shinta berangkat lebih dulu karena harus piket di kelas. Kebetulan hari ini adalah jadwal dia untuk piket.
__ADS_1
"Siapa?" gumam Desy saat menghentikan langkah dan menoleh ke sumber suara.
'Sepertinya aku pernah bertemu dengannya,' batin Desy sambil terus memperhatikan laki-laki yang kini berdiri tak jauh darinya.
'Astaghfirullah, aku baru ingat. Dia Reyhan, orang yang ngirim kotak hadiah untukku.' Desy hanya bisa membatin tanpa bisa mengeluarkan suara, di benaknya muncul berjuta pertanyaan yang entah apa jawabannya.
"Assalamualaikum my sunshine," sapa Reyhan dengan senyum sumringah penuh cinta yang terpancar di wajahnya.
'Waalaikum salam,' Desy hanya membalas ucapan salamnya dalam hati.
"Kenapa diam? bukankah mengucapkan salam itu wajib bagi semua umat islam tanpa terkecuali?" sambung Reyhan yang tak mendapat respon dari Desy.
"Menjawab salam itu hukumnya akan berubah jika di ucapkan oleh lawan jenis yang bukan muhrim dan hanya berdua saja." Desy membantah ucapan Reyhan, bukannya marah ataupun jengkel Reyhan malah tersenyum bangga menatap gadis yang menurutnya memang tepat untuknya.
"Jika seperti itu, apa kamu bersedia menjadi muhrimku? Ibu dari anak-anakku dan teman yang akan terus mendampingiku baik senang maupun susah?" Reyhan tersenyum penuh cinta menanyakan hal yang sukses membuat Desy bingung juga terkejut dalam waktu bersamaan.
"Maaf, aku tidak mengerti dengan maksud ucapanmu?" ujar Desy sambil mengernyitkan dahi bingung.
"Tapi kita belum pernah kenal sebelumnya, lagi pula aku tak bisa sembarangan menerima seseorang dalam hidupku karena sebuah kehidupan itu butuh proses sama halnya dengan sebuah hubungan, sedang kita tidak saling kenal, maaf," Desy memcoba menolak dengan nada halus ajakan Reyhan.
"Jika begitu bagaimana kalau kita kenalan sekarang?" usul Reyhan.
"Maaf, saya harus segera masuk ke kelas sebelum terlambat." Desy tak ingin berlama-lama berada di hadapan laki-laki yang tak mengerti jika sia sudah menolaknya.
"Tunggu sebentar!" pinta Reyhan yang kini dengan sengaja berjalan cepat menghalangi jalan Desy.
"Maaf, bisakah anda pergi? dan jangan ganggu jalan saya!" Desy mulai menampakkan wajah tegasnya agar Reyhan mau pergi dan tak menghalanginya.
__ADS_1
"Bisa, tapi jawab dulu pertanyaanku!" jawab Reyhan mempertahankan posisinya.
Desy yang melihat Reyhan yang keras kepala seperti di hadapannya hanya bisa menghembuskan nafas kasar, menahan segala amarah yang mulai timbul di hatinya, sekilas Desy melirik jam tangan yang melingkar indah di tangannya, jika dia tak menuruti apa yang di minta oleh Reyhan maka dia akan benar-benar terlambat.
'Baiklah, hanya sebuah pertanyaan, aku akan meladeninya.' batin Desy.
"Katakan! apa yang ingin anda tanyakan?" sarkas Desy dengan nada sedikit ketus dia berucap.
"Jawab pertanyaan yang pernah aku ajukan padamu!" titah Reyhan dengan wajah penuh harap, sunggub Reyhan tak merasa tersinggung sedikitpun meski Desy berkata dengan nada ketus.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Desy sambil mengerutkan dahi bingung, dia benar-benar bingung karena dia lupa jika Reyhan memang pernah memberikan kotak pada Desy dan di dalamnya ada pertanyaan yang belum Desy jawab.
"Pertanyaan yang aku tulis dalam sebuah surat yang aku kirimkan bersama hadiahnya," Reyhan mencoba mengingatkan Desy yang terlihat bingung, dan Rehyan yang melihat kebingungan Desy langsung mengingatkan kotak yang pernah dia berikan.
"Oh, pertanyaan itu, maaf aku sudah punya seseorang yang aku cinta, jadi anda tidak punya kesempatan untuk mendekat." Jawab Desy setegas yang dia bisa sambil berharap Reyhan bisa menerima dan tak mengganggunya lagi.
"Apa kamu sudah bertunangan?" Reyhan bertanya dengan ekspresi wajah berbalut kecewa.
"Sudah," jawab Desy asal agar urusannya cepat selesai.
"Mana buktinya jika kamu sudah bertunangan?" pinta Reyhan yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa gadis yang selama ini dia cinta dan ingin di jadikan teman hidupnya sudah memiliki tambatan hati, bahkan sudah bertunangan.
Desy sejenak terdiam hingga dia ingat dengan cincin cantik pemberian dari sang Ibu yang kini melingkar indah di jari manisnya.
"Ini buktinya." Desy menunjukkan cincin bermata berlian di jari manisnya ke hadapan Reyhan agar dia berhenti mengganggunya.
"Baiklah, untuk kali ini aku mengalah, tapu sebelum janur kuning melengkung aku masih punya kesempatan untuk merebutmu darinya," ucap Reyhan kemudian melenggang pergi meninggalkan Desy yang masih setia berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"Huft," Desy menghembuskan nafas kasar, merasa begitu lega setelah melihat Reyhan pergi dan dia bisa segera masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan niatnya bersekolah, Desy tak lagi mau ambil pusing dengan ucapan ataupun kehadiran Reyhan, yang terpenting saat ini dia bisa masuk ke dalam kelas tanpa ada yang menghalanginya lagi.
"Untung ada cincin dari Ibu ini, jika tidak mungkin saat ini aku masih berdebat dengan Reyhan," gumam Desy sambil mengelus dan mencium sekilas cincin yang melingkar di jarinya.