
Husein telah selesai memindahkan beberapa barang yang akan dia pindahkan ke rumah yang telah lama dia siapkan untuk istrinya itu.
"Apa masih ada barang yang tertinggal, Dek?" tanya Husein.
"Semua sudah di bawa ke dalam mobil, Mas," jawab Zahra.
"Kalau begitu kita pamit ke yang lain dulu. Sebelum pergi." Ajak Husein kembali melangkah masuk ke dalam rumah setelah menutup bagasi mobilnya.
"Ma, Pa, kami pergi dulu." Pamit Husein.
"Kamu mau langsung ke rumah baru atau masih mau mampir ke tempat lain?" tanya Mama Rina.
"Kami masih mau mampir ke pesantren Ma, setelah itu baru ke rumah. Ada beberapa barang yang harus aku ambil di sana." Jawab Husein.
"Baiklah, kalau begitu nanti sore saja kita ke sana untuk berkunjung." Ujar Papa Zahra. dengan senyum yang mengembang.
"Baik, Pa, kalau gitu kita pamit. Assalamualaikum," pamit Zahra mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan sang Kakak kemudian melenggang pergi menuju mobil dan Hasan hanya mengikuti langkah Zahra.
Keduanya meninggalkan halaman rumah Zahra, dan mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju pesantren seperti yang sudah mereka rencanakan.
"Terima kasih ya, Dek," ucap Husein.
"Terima kasih untuk apa, Mas?" Zahra yang sejak tadi hanya diam menikmati lantunan sholawat dari ponselnya kini mulai memasang telinga dan mematikan lagu yang sedang dia putar.
"Terima kasih karena kamu sudah mau pindah dan ikut tinggal di rumah, Mas," jawab Husein.
"Astaghfirullah Mas, aku kira kenapa? bukankah sudah menjadi kewajiban seorang wanita yang sudah menikah untuk mengikuti langkah suaminya? ke manapun suaminya pergi seorang istri harus ikut bersamanya." Jawaban Zahra benar-benar membuat Husein semakin bersyukur, dia lantas mengusap pelan kepala Zahra yang tertutup rapi oleh kerudung dengan tangan kiri tanpa menoleh karena pandangan Husein masih fokus menatap ke depan.
"Maaf, Mas fokus saja menyetir, jangan seperti ini aku takut," lirih Zahra, meski dia merasa tak enak hati karena sudah berucap kurang enak di dengar dan menyingkirkan tangan Hasan yang masih menempel di kepalanya, tapi Zahra harus melakukannya karena saat ini Husein memang tengah menyetir dan sia harus konsentrasi.
Mendengar peringatan dan mendapat sikap tak seperti biasa Zahra tak membuat Husein tersinggung ataupun sakit hati karena apa yang di katakan Zahra memang benar adanya.
"Assalamualaikum, Umik!" panggil Husein setelah sampai di depan pintu rumah sang Umik.
"Waalaikum salam," sahut Hana yang kebetulan sedang berada di ruang tengah dekat dengan ruang tamu.
"Mas Husein, silahkan masuk!" Hana membuka lebar pintu ruang tamu mempersilahkan Husein dan Zahra untuk masuk ke dalam rumah.
"Umik ke mana Mbak?" tanya Husein seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Umik ada di dapur Mas Husein," jawab Mbak Hana.
"Apa ini Neng Zahra?" sambung Hana.
"Astaghfirullah sampai lupa, Dek, kenalin ini Mbak Hana yang biasa bantuin Umik dan Mbak Hana kenalin ini Zahra istriku," Zahra memang sudah beberapa kali berkunjung sebelum ataupun sesudah menikah tapi dia masih belum sempat berkenalan secara langsung dengan Hana.
"Zahra, Mbak," ucap Zahra mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
"Saya Hana, Neng," sahut Hana hendak mencium punggung tangan Zahra sebagai tanda hormatnya, tapi dengan cepat Zahra menarik tangan agar Hana tak bisa menciumnya, Zahra merasa jika Hana lebih tua darinya dan tidak pantas jia dia yang mencium punggung tangannya.
"Ayo ke dapur!" Husein menarik tangan Zahra berjalan menuju dapur untuk menemui Umik yang terlihat sibuk memasak bersama Desy.
"Assalamualaikum, Umik, Husein dateng." Ucap Husein berjalan mendekat ke arah Umik dan Zahra berjalan di sampingnya mengikuti langkah sang suami mendekat ke arah Umik.
"Waalaikum salam, akhirnya kalian datang juga, Umik susah nungguin sejak tadi," sahut Umik.
"Umik," lirih Zahra mencium punggung tangan sang mertua.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Umik seraya merangkul bahu Zahra.
"Alhamdulillah baik, Umik," jawab Zahra.
"Alhamdulillah sudah Umik," jawab Husein.
"Umik sudah menyiapkan makan untuk kalian, kalau begitu makanannya di bawa saja biar nanti bisa di makan di sana," ujar Umik.
Sebelumnya Umim sempat menentang rencana Husein untuk pindah ke rumah barunya, sebenarnya Umik ingin Husein tinggal bersama dengannya di rumah. Berharap semua puteranya bisa berada di dekatnya saat masa-masa tuanya seperti sekarang. Tapi dwngan lembut dan tegas Husein menolak juga memberika alasan jika dia dan Zahra ingin mandiri tak bergantung pada oramg tua membuat umik tak berkutik.
"Umik, Husein dan Zahra ke kamar dulu ya. Ada beberapa barang yang harus Husein bawa." Pamit Husein sebelum sang Umik berbicara panjang kali lebar dan merayu Zahra untuk tinggal di pesantren.
"Baiklah, Umik juga mau menyiapkan makanan untuk kalian di sana nanti." Sahut Umik.
"Mbak Desy!" panggil Umik setelah Husein dan Zahra pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya.
"Iya, Umik," jawab Desy berjalan mendekat ke arah Umik.
"Tolong beritahu Hasan kalau Husein sudah tiba, dan suruh dia siap-siap sebentar lagi kita akan mengantar Husein pindahan!" titah Umik.
"Baik, Umik," Desy melangkah pergi meninggalkan dapur menuju rumah Hasan setelah menyahuti ucapan sang Umik.
__ADS_1
"Mas Hasan!" panggil Desy saat melihat Hasan duduk di teras rumahnya menatap serius laptop yang tengah dia pangku.
"Iya, ada apa?" sahut Hasan mengalihkan pandangannya melihat Desy yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
"Umik menyuruhku memberitahukan Mas Hasan kalau Mas Husein sudah datang dan beliau juga menyuruh Mas Hasan siap-siap untuk mengantarnya pindahan." Jelas Desy.
"Terima kasih sudah di kasih tahu Mbak," ucap Hasan.
"Kalau begitu saya permisi." Pamit Desy melenggang pergi meninggalkan Hasan yang masih setia duduk dan kembali fokus menatap laptop. Hasan harus menyelesaikan laporannya besok pada Abi Ilzham dan pekerjaannya sekarang tinggal sedikit dan Hasan memutuskan untuk menyelesaikannya lebih dulu kemudian pergi bersiap mengantar Husein.
"Abi!" suara Arum mengusik Hasan yang sedang fokus mengetik deretan angka yang ada di laptopnya.
"Syei', kamu sudah bangun?" sahut Hasan, jika perintah Umik tadi bisa sedikit di tunda maka kehadiran Arum tak bisa di abaikan.
"Aku dengar Desy tadi bilang kalau kita harus siap-siap. Kenapa Abi masih anteng di situ?" tanya Arum merasa heran dengan sikap sanh suami.
"Abi cuma mau nyelesaiin laporan buat besok yang tinggal sedikit," jawab Hasan.
"Kalau begitu aku siap-siap dulu, Abi juga jangan lama-lama! cepet kerjain terus nyusul ke dalam buat siap-siap!" pinta Arum seraya pergi meninggalkan Hasan yang kembali fokus menatap layar laptopnya.
Arum menata rapi semua barang yang tadi di beli, menata semuanya ke dalam kardus yang dia temukan tertata rapi di samping lemari, Arum merasa begitu bersemangat ingin segera melihat rumah baru sang adik ipar, dia hanya menyisahkan beberapa barang yang memang benar-benar dia perlukan dan membungkus sisanya.
ada tujuh kardus penuh barang yang akan dia bawa dan berikan pada Husein dan Zahra, mulai dari kebutuhan dapur, kamar mandi hingga kebutuhan lainnya termasuk pengharum ruangan yang juga ikut di beli olehnya.
-
-
-
-
-
-
Yang nungguin ceritanya Desy mohon bersabar ya, author pasti bakal buat nanti.
salam manis untuk pembacaku yang ter segalanya, terima kasih masih setia di ceritaku ini, dan author berharap kalian mau mendukung karya ini dengan cara memberi vote dan like.
__ADS_1
lope2 sekebon untuk kalian 😘😘😘😘😗😗😍