
Zahra hanya terdiam tanpa memberi respon apapun, bukan karena tak menerima pinangan Husein hanya saja Zahra bingung untuk merangkai kata yang tepat untuk di ungkapkan.
"Zahra," Husein kembali memanggil Zahra karena dia hanya diam tanpa suara.
"Iya," satu kata yang sejak tadi di tunggu kini mulai terddengar.
"Iya bagaimana maksudnya?" Husein kembali bertanya meminta penjelasan Zahra.
"Iya, aku setuju Kak," ujar Zahra mempertegas jawabannya.
"Alhamdulillah," spontan Husein dengan bibir yang melengkung menunjukkan rasa bahagianya karena pinangannya sudah di terima oleh Zahra.
"Kalau begitu lusa saya akan ke rumah Mama untuk membahas hari pernikahan kita," sambung Husein.
"Baiklah Mama akan mempersiapkan segalanya," sahut Mama Rina dengan senyum yang mengembang.
"Loe bakal jadi Adek gue, jadi inget panggil gue Kakak!" titah Zein.
"Diem loe!" sahut Husein.
"Pa, Ma, aku permisi dulu mau menemui tamu yang lain." Pamit Husein yang di tanggapi dengan anggukan oleh keduanya.
Pesta terus berjalan hingga malam tiba, satu persatu para tamu undangan telah kembalu pulang, kini tiba waktunya untuk sang pengantin baru untuk beristirahat dan menghabiskan waktu bersama.
"Syei'!" panggil Hasan mengetuk pintu kamar mandi sambil berdiri di depannya.
"Sebentar Bi," sahut Arum dari dalam kamar mandi.
Arum sedang menikmati air hangatnya dan berendam di dalamnya, rasa hangat yang menjalar di tubuhnya memberi sensasi tersendiri bagi Arum yang ingin menghilangkan rasa penatnya.
Jika Arum sedang menikmati mandi air hangatnya Hasan justru sedang kelimpungan menahan keinginannya untuk buang hajat, sungguh keadaan yang jauh berbeda dengan keadaan yang terjadi di dalam kamar mandi.
"Arum! apa masih lama?" suara Hasan kembali terdengar.
"Sebentar Bi," sahut Arum tanpa ada niat untuk beranjak dari tempatnya tidur.
'Arum ngapain sih? kenapa lama banget mandinya?' batin Hasan mulai menggerutu.
Hasan yang sudah tidak tahan untuk membuang hajat mencoba membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk atau memberitahu Arum terlebih dahulu.
'Ceklek'
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi samar-samar terdengar, tapi Arum yang tengah asyik berendam tak lagi menghiraukan suara pintu yang perlahan terbuka.
"Arum tidak dengar," lirih Hasan yang hanya bisa di dengar oleh telinganya sendiri.
Sebuah senyum kebahagiaan terlihat di wajah Hasan, melihat sang istri menutup mata sambil menenggelamkan diri di bak mandi membuat ide jail Hasan muncul seketika. Niat awal ingin menggoda Arum buang hajat kini berubah ingin menjahili Arum.
'Dari tadi aku nahan hajat bukannya cepet-cepet malah asyik berendam di sini,' batin Hasan setengah geram dengan tingkah sang istri yang masih saja belum menyadari kehadiran Hasan di sampingnya.
Mengingat hajat yang tadi menjadi niat utamanya Hasan mengendap-endap menuju ruangan khusus untuk buang hajat yang ada di dalam kamar mandi tapi berbeda ruangan.
"Leganya," ujar Hasan setelah hajatnya tuntas.
Dengan langkah pelan dan hati-hati Hasan mendekati Arum yang masih saja memejamkan mata, entah dia berendam atau ketiduran hingga tak menyadari kehadiran Hasan di sampingnya.
'Grep'
Hasan langsung memeluk Arum dari belakang setelah berada di dekatnya.
"Abi!" keluh Arum yang mendapat serangan mendadak dari Hasan langsung terkejut dan bingung.
"Dari tadi aku panggilin malah enak-enakan di sini kamu Syei'," ucap Hasan membuat Arum bingung karena dia tak bisa melakukan apa-apa selain diam di tempat.
"Maaf Bi, Arum sedang menikmati air hangat di sini," sahut Arum yang masih belum menyadari jika dirinya tak memakai apapun untuk menutupi tubuhnya.
"Abi!" jerit Aeum sembari memercikkan air ke arah Hadan yang terus saja menatapnya.
"Issh jangan di siram Syei'! baju Abi jadi basah karenamu." Keluh Hasan.
"Keluarlah Bi! aku mau bilas dulu." Pinta Arum sambil menenggelamkan kembali badannya ke dalam bak mandiyang tertutup oleh busa.
Hasan yang mendengar permintaan Arum tak mau menghiraukannya malah membuka satu persatu baju yang dia pakai hingga tersisa boxernya saja, dengan langkah pelan tapi pasti Hasan terus saja berjalan semakin mendekat dan ikut masuk ke dalam bak mandi yang Arum gunakan.
"Abi!" Arum sedikit berteriak melihat Hasan yang sudah duduk manis di hadapannya, reflek membuat Arum langsung menekuk lututnya menutupi bagian terpenting dalam dirinya.
"Kenapa? apa ada yang salah?" tanya Hasan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, dia justru tersenyum penuh arti ke arah Arum.
"Abi mau ngapain?" tanya Arum dengan wajah penuh kewaspadaan.
"Kalau suami dan istri berada dalam kamar mandi dan berada di satu bak mandi yang sama, menurutmu setelah itu apa yang akan terjadi?" Hasan justru semakin gencar menggoda Arum yang terlihat malu dengan pipi yang mulai memerah.
"Jangan malu Syei'! bukankah kita sudah pernah melakukannya, dan Aku sudah tahu setiap lekuk bagian yang ada di tubuhmu itu," ujar Hasan sembari menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Arum yang mendengar ucapan Hasan hanya bisa tertunduk malu melihat tanggapan Hasan yang semakin gencar mendekatinya.
Pelan tapi pasti Hasan melancarkan aksinya semakin mendekatkan diri ke arah Arum yang terlihat lebih tenang dan tak sewaspada sebelumnya, Hasan mulai menjelajahi bagian favoritnya yang ada di diri Arum, meneguk manisnya madu dan menikmati keindahan dua bukit kembar yang terpampang indah di depan mata.
Hasan terus menjelajah turun ke bawah mencari gua berbukit yang di penuhi rerumputan yang terlihat indah dan menggiurkan.
"Abi, ah~" bait-bait indah terdengar keluar dari bibir Arum yang sedang melayang jauh entah ke mana menuju tempat terindah.
Menikmati surga dunia yang tak pernah ada tandingannya, surga yang sering di eluh-eluhkan oleh hampir semua umat manusia.
"Syei'!" suara Hasan terdengar serak penuh gairah berkabut.
"Aku mencintaimu Syei'," sambung Hasan saat hentakan terakhir terjadi.
Hentakan sebagai puncak dari segala kenikmatan yang keduanya rasakan.
'Cup'
"Terima kasih istriku Sayang," ujar Hasan sambil mengecup penuh sayang kening Arum kemudian berdiri melenggang pergi menuju shower tempat membilas tanpa sehelai benangpun.
Arum yang masih belum terbiasa dengan pemandangan yang dia lihat hanya bisa menutup matanya agar tak melihat pemandangan yang sebenarnya sudah halal baginya.
"Sudah jangan di tutupi! lagi pula semua yang ada di depanmu ini sudah halal dan sah untukmu." Hasan kembali berucap tanpa rasa canggung atau malu.
"Apa Abi gak malu gak pakai baju seperti itu di depanku?" tanya Arum.
"Kenapa harus malu Syei'? bukankah kita sudah menjadi satu, lagi pula aku bukan orang lain yang perlu menutupi segalanya, aku suamimu Syei'" jawab Hasan yang bertekad aka membuat Arum terbiasa dengan penampilan dirinya saat ini.
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Kakak-kakak maaf ya tadi saya buat kesalahan dan terima kasih atas dukungan kalian.
lope2 sekebon untuk kalian