Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Acara resepsi


__ADS_3

Semakin sore tamu yang datang semakin banyak membuat Arum yang sejak tadi berdiri mulai merasakan kram di kakinya.


"Abi, kakiku sakit," keluh Arum yang sebenarnya sejak tadi ingin duduk tapi tamu yang datang semakin banyak.


"Sabar Syei'! sebentar lagi kita turun untuk istirahat," jawab Hasan.


Arum hanya bisa diam tanpa berucap lagi setelah mendengar perkataan Hasan, dan kembali menampakkan senyum di hadapan para tamu meski kakinya masih terasa sakit.


"Sebentar lagi kita akan turun untuk istirahat," tutur Hasan saat melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul enam sore.


"Kakiku sakit Bi," Arum kembali mengeluh karena kakinya kini mulai terasa kram.


"Baiklah, ayo istirahat!" ajak Hasan yang akhirnya menyerah karena tak tega melihat Arum yang terus mengeluh kakinya sakit.


Arum yang mendengar ajakan Hasan merasa begitu bahagia karena dia bisa mengistirahatkan kakinya yang terasa sakit.


"Ahhh leganya," ujar Arum yang merasa lega setelah bisa meluruskan kakinya.


"Apa mau aku pijitin?" tawar Hasan.


"Jangan Bi, aku cuma butuh selojoran seperti ini saja," tolak Arum yang tak ingin menyusahkan Hasan.


"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu." Pamit Hasan.


"Abi mau ke mana?" tanya Arum yang merasa bingung dengan sikap Hasan, bukankah tujuan mereka ke kamar untuk istirahat kenapa sekarang dia malah mau pergi.


"Aku mau ke masjid Syei'." Jawab Hasan.


"Oh," Arum hanya membulatkan mulut menanggapi jawaban Hasan dan kembali memejamkan mata menikmati rasa sakit yang mulai memudar di kakinya.


Sedang di sisi lain Husein terlihat berbunga-bunga setelah melihat sang kekasih datang ke tempat pesta.


"Husein, woi!!" panggil Huda saat melihat Husein terdiam mematung menatap ke satu arah.


"Apa?" jawab Husein tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kamu lihat apa sih?" tanya Huda dengan suara pelan sambil mengikuti arah pandang Husein.


"Apa dia gadis yang kamu maksud?" tanya Huda yang merasa curiga dengan pandangan Husein yang tak beralih sedikitpun dari arah pandangnya saat ini.


"Hemm," jawab Husein singkat.


"Wah kamu pinter juga milih pasangan," puji Huda.


"Pinter gimana maksudnya Kak?" Husein yang sejak tadi menatap ke arah Arum kini beralih menatap ke arah Huda.


"Cantik dan sepertinya dia termasuk orang yang taat ke agama, kamu beruntung jika bisa mendapatkan dia," Huda kembali memuji pilihan Husein.


"Dia milikku Kak!" tegas Husein yang membuat Huda tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Aku tahu, lagi pula aku sudah punya seseorang yang akan aku jadikan teman hidupku." Jawaban Huda semakin membuat Husein terkejut.


"Siapa Kak?" Husein yang mendengar pengakuan Huda jika dia sudah punya seseorang yang di sukai langsung merapatkan tempat duduknya mendekat ke arah Huda.


"Rahasia," jawab Huda yang enggan untuk menceritakan siapa yang sekarang menjadi incarannya.


"Kenapa harus pakai rahasia segala sih Kak," keluh Husein dengan wajah yang memelas karena merasa jika Huda tak adil.


"Belum waktunya kamu tahu, nanti jika sudah waktunya tiba kamu akan tahu sendiri," Huda masih saja enggan untuk menceritakan siapa yang kini mengisi hidupnya.


"Kamu curang Kak, aku aja udah kasih tahu siapa kekasihku saat ini tapi kamu malah main rahasia-rahasiaan," Husein yang merasa jika Huda tak adil langsung pergi meninggalkan Huda menghampiri Zahra yang sedang menikmati makanan yang sudah di sediakan bersama keluarganya.


"Kak Husein," lirih Zahra yang masih di dengar oleh Zein yang duduk di sampingnya.


"Husein! kemana aja loe?" sapa Zein yang melihat Husein sang sahabat baru saja datang menghampirinya.


"Zein," sahut Husein berjalan semakin mendekat ke arah Zein dan keluarganya berada.


Husein berjalan mendekat dan meraih tangan kedua orang tua Zahra kemudian menciumnya.


"Khem," Zein yang melihat tingkah Husein berdehem untuk menggodanya.


"Kamu kenapa Zein?" tanya Mama Rina.


"Gak apa-apa Ma, cuma tenggorokanku gatel aja," jawab Zein.


"Duduk Kak!" ucap Zahra mempersilahkan Husein agar duduk di sebelahnya.


"Enggak Kak, lagi malas makan," jawab Zahra santai.


"Jangan sampai telat makan, gak baik untuk kesehatan," Husein mencoba memberi perhatian pada Zahra.


"Hadech caper banget sih loe Sein," celetuk Zein.


"Zein! gak boleh begitu," Mama Rina yang sejak tadi duduk tenang kini berkomentar.


"Maaf Ma," ujar Zein dengan wajah yang di buat penuh penyesalan.


"Lain kali jangan seperti itu!" Mama Rina mengingatkan Zein.


"Baik Ma," sahut Zein.


"Rina!" sapa Umik yang baru saja melihat puteranya duduk anteng di samping seorang gadis yang terlihat begitu cantik dan anggun.


"Umik," sahut Rina berdiri menghampiri Umik yang tadi memanggilnya kemudian beralih meraih tangan Umik hendak menciumnya, tapi Umik yang mengerti jika saat ini sang Putera tengah menyukai putri Rina menolaknya dengan halus.


"Apa kamu sudah dari tadi datang?" tanya Umik dengan nada lembutnya.


"Tidak, saya baru saja sampai Umik," jawab Rina.

__ADS_1


"Putrimu cantik sekali Rina," celetuk Umik.


"Alhamdulillah Umik," jawab Rina.


"Bagaimana dengan rencana pernikahan anak kita?" tanya Umik langsung pada intinya.


"Kalau kami terserah Umik saja," ucap Rina yang merasa sungkan dengan ucapan Umik.


"Kalau bulan depan bagaimana?" tanya Umik sambil melirik ke arah Husein yang sedang menunduk.


"Kalau saya terserah Umik saja, bagaimana baiknya." Jawab Mama Rina dengan senyum yang mengembang.


"Rina, lusa aku ingin bertamu ke rumahmu apa kamu mau menerimaku sebagai tamumu?" tanya Umik.


"Tentu saja Umik, kami bahkan sangat senang jika Umik mau ke rumah. Benar Kan Pa?" timpal Rina yang melempar pertanyaan ke arah sang suami yang sejak tadi hanya diam tanpa berkomentar.


"Saya pribadi juga merasa sangat terhormat jika Umik datang ke gubuk kami." Jawab Suami Rina.


"Jangan merendah, Nak!" ucap Umik.


"Umik, silahkan duduk!" Rina mengambil kursi di sebelahnya agar Umik bisa duduk di sampingnya.


"Sudah tidak usah, Umik masih harus menyapa tamu yang lain, silahkan menikmati pestanya!" pamit Umik meninggalkan Rina dan keluarganya beserta Husein yang masih aga di sana.


"Husein!" panggil Mama Rina.


"Iya, Ma," sahut Husein yang sudah lama terbiasa memanggil Mama pada Rina.


"Apa yang di bicarakan Umik itu benar?" Mama Rina mulai menginterogasi Husein yang sejak tadi hanya diam menunduk.


"Benar Ma, apa Mama setuju dengan usulan Umik?" Husein menjawab pertanyaan Mama Rina dengan pertanyaan juga.


"Mama akan setuju jika Zahra juga setuju Nak, karena yang akan menjalani kehidupan itu Zahra bukan Mama," jawab Rina tegas.


"Zahra apa kamu mau menikah denganku bulan depan dan menjadikanku imam dalam hidupmu juga menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?" Husein kembali bertanya pada Zahra dengan tegas dan penuh keyakinan di hadapan keluarga Arum.


-


-


-


-


-


Kakak-kakak maaf ya bab yang tadi salah, author khilaf, author juga minta doanya supaya author tidak khilaf lagi.


terima kasih banyak sudah mengingatkan author receh ini.

__ADS_1


lope lope untuk kalian semua, terus dukung author dan ingatkan author selalu saat author punya salah.


__ADS_2