Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kedatangan Arif Dan Imah


__ADS_3

"Assalamualaikum, permisi, Mas Hasan!" panggil seorang santriwan dari luar rumah.


"Waalaikum salam," sahit Hasan seraya membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Hasan saat melihat seorang santriwan berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah panik.


"Mas Hasan, salah satu anggota kamar saya ada yang sakit, awalnya biasa saja tapi sekarang panasnya semakin tinggi, sedang orang tuanya berada di luar kota besok baru bisa jenguk dan membawanya ke rumah sakit," Sang santriwan menjelaskan apa yang terjadi.


"Apa kalian sudah membawanya ke klinik?" Hasan mencoba tenang dan bertanya pada santriwan yang datang.


"Sudah, Mas Hasan, tiga hari yang lalu sudah saya bawa ke klinik tapi bukannya turun panasnya semakin parah," jawabnya.


"Kalau begitu kita bawa ke rumah sakit saja. Aku tunggu di halaman dan kamu bawa anaknya ke halaman! kita pakai mobilku untuk ke sana." Titah Hasan.


Sang santriwan dan Hasan segera pergi meninggalkan rumah Hasan menuju pondok putera dan Haan menyiapkan mobil yang dia pakai. Sedang Arum menikmati bubur ayam buatan Hasan yang terasa begitu nikmat.


~


Tok ... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu mengusik Umik yang sedang sibuk mengoreksi hasil ulangan para santri yang di laksanakan kemarin.


"Siapa ya, kok tumben amat ketuk pintu?" lirih Umik, biasanya jika ada tamu akan ada santriwan atau santriwati yang akan memberitahunya dan jarang sekali mereka mengetuk pintu seperti yang di lakukan oleh tamu saat ini.


"Tunggu!" ucap Umik berjalan menuju ruang tamu meninggalkan beberapa lembar ulangan yang tengah dia koreksi.


"Siap~" suara Umik terpotong saat melihat tamu yang kini berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, aku kira siapa? tumben ketuk pintu Kak? biasanya masuk lewat pintu samping," tanya Umik.


Tamu yang membuat Umik heran ternyata Kakaknya sendiri, Arif dan Imah datang berkunjung, biasanya jika mereka datang Imah akan langsung masuk ke pondok putri untuk menemui santri yang lewat dan langsung masuk lewat pintu khusus wali santri kemudian membukakan pintu untuk Arif tanpa harus mengutuknya seperti sekarang.


"Gak tahu tuh Kakak kamu katanya lagi gak pengen masuk ke pondok putri," jawab Arif melangkah masuk bersama sang istri saat Umik sudah membuka lebar pintu rumahnya.


"Kakak tumben gak pengen ke pondok Putr?" kini Umik melempar pertanyaan pada Imah yang kini jadi kakak iparnya.


"Gak tahu Dek, lagi males aja," jawab Imah.


"Ilzham ke mana Dek? kok sepi?" tanya Arif saat melihat suasana rumah begitu sepi seperti tak berpenghuni.


"Suamiku lagi ada kerjaan di luar kota Kak, besok baru pulang," jawab Umik.


"Kalian ini masih saja sibuk, padahal sudah ada Hasan dan Husein kenapa Ilzham harus berangkat sendiri? harusnya salah satu dari puteramu yang mewakilkannya, lagi pula sekarang sudah waktunya kalian istirahat nikmati hari tua, soal bisnis dan pesantren serahkan saja pada kedua puteramu!" tutur Arif.


"Sebenarnya urusan bisnis dan pesantren sudah beralih ke Hasan dan Husein mengurus hotel juga restauran, tapi karena Arum sedang hamil dan butuh perhatian ekstra maka aku menyuruh Abi Ilzham untuk kembali mengambil alih urusan bisnis dan pesantren yang di pegang Hasan supaya kehamilan Arum baik-baik saja sampai lahiran nanti," Umik menjelaskan alasan Ilzham yang pergi ke luar kota untuk mengurusi bisnis di sana.


"Iya, Kak, dia hamil baru tiga minggu," Umik menegaskan apa yang tadi dia ucapkan.


"Wahhh alamat repot tu Hasan, mesti ekstra sabar dan siap siaga," lirih Arif sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa Mas Arif bisa bilang begitu?" mendengar ucapan sang suami Imah reflek menoleh ke arahnya sambil menodong Arif dengan pertanyaan.


'Mampus kau Arif, pakai acara keceplosan segala,' batin Arif yang menyadari jika dia salah berbicara.


"Gak apa-apa, kalau hamilkan biasanya beda, ada beberapa permintaan aneh yang harus di penuhi oleh Hasan di tambah orang hamil kadang emosinya naik turun harus lebih sabar menghadapinya," jawab Arif dengan nada pelan penuh kehati-hatian.

__ADS_1


"Permintaan aneh itu juga bukan ibunya yang mau tapi perasaan ingin meminta itu muncul dengan sendirinya tanpa bisa di tahan, kalau saja kalian para laki-laki tahu bagaimana rasanya, bisa di pastikan kalian tidak akan pernah mengeluh ataupun bilang kita para Ibu hamil bersikap aneh." Imah memang selalu sensitif jika di singgung tentang betapa anehnya sikap dan permintaan orang hamil karena dulu saat dia hamil Huda memang banyak berubah dan merasakan keanehan yang tidak bisa dia kontrol.


Mendengar ucapan Imah membuat Arif diam seribu bahasa, dia selalu kalah jika berbicara tentang kehamilan, bukan karena dia takut melawan, hanya saja Arif merasa jika seorang wanita akan selalu benar saat hamil dan berjuang untuk melahirkan seorang anak. Masih sangat segar di ingatan Arif betapa besar perjuangan sang istri saat melahirkan anak-anaknya karena itulah Arif tak pernah membantah Imah tentang kehamilan.


"Kok jadi diem-dieman gini? Kakak mau minum apa?" tawar Umik mencoba mencairkan suasana saat suasana ruang tamu yang tadinya santai jadi tegang.


"Apa saja, yang penting dingin. haus aku, Dek," jawab Arif yang mengerti jika sang Adik ingin mencairkan suasana yangtina-tiba berubah jadi tegang.


"Tunggu sebentar!" titah Umik berdiri berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga di mana Hana sedang membersihkan ruang keluarga.


"Mbak Hana!" panggil Umik.


"Iya, Umik," sahut Hana sejenak menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan perhatian yang sejak tasi tertuju pada sela-sela kecil di meja yang sedang dia bersihkan.


"Tolong buatkan tiga jus jeruk dingin ya! antar ke ruang tengah!" pinta Umik.


"Baik, Umik," jawab Hana meninggalkan meja yang baru selesai dia bersihkan setengahnya.


Umik berjalan kembali menemui Kakak dan Kakak iparnya yang terlihat saling diam tanpa bicara.


"Eh Kakak tumben ke sini berdua?" tanya Umik memecahkan keheningan.


"Kakak iparmu ini minta di antar ke sini, katanya pengen ketemu dan lihat calon menantunya," jawab Arif.


"Oh, maksud Kakak Desy?" tanya Umik memperjelas jawaban Arif.


"Iya, Dek, aku pengen tahu bagaimana calon mantuku? apa dia benar-bebar baik, bagaimana sikapnya dan yang lain, intinya aku pengen lihat dia dari dekat dengan waktu yang cukup lama," Jawab Imah menjelaskan apa tujuannya datang.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Kak Imah menginap saja? lagi pula aku juga sendirian di sini," usul Umik yang langsung di bantah olrh Arif.


"Tidak boleh, Kakak iparmu hanya boleh di sini sampai sore dan nanti habis maghrib aku akan menjemputnya." Seloroh Arif seolah tak rela jika Imah menginap di rumah Umik meski hanya semalam.


__ADS_2