
Keduanya merasa puas jalan-jalan dan berbelanja juga membeli makanan yang mereka inginkan, sungguh Arum merasa dia telah mendapatkan kembali kebebasannya setelah berbulan-bulan terkurung di penjara suci yang memberinya banyak pengalaman.
"Ahh, senangnya bisa jalan-jalan setelah beberapa bulan terkurung di pesantren," ucap Arum merebahkan diri di atas sofa kamarnya.
"Kakak pernah jadi santri?" tanya Zahra dengan ekspresi penasaran mendengar ucapan Arum.
"Iya, tapi aku jadi santri hanya sebentar," jawab Arum tanpa merubah posisinya yang terlihat begitu enjoy bersandar di sofa.
"Bagaimana rasanya jadi santri Kak?" Zahra kembali bertanya, pasalnya dia sama sekali belum pernah jadi santri sebelumnya.
"Kamu gak pernah jadi santri?" kini giliran Arum yang merasa heran dengan pengakuan Zahra.
Seorang gadis berhijab yang begitu taat beribadah dan terlihat Alim dan mengerti tentang hukum islam justru belum pernah menjadi santri di sebuah pesantren.
"Gak pernah Kak, aku hanya sekolah umum, dan tak pernah masuk pesantren untuk menimbah ilmu di sana." Zahra mencoba meyakinkan Arum dengan apa yang di ucapkannya.
"Tapi kamu kok bisa bersikap dan memiliki sifat seperti seorang santri?" Arum mengutarakan apa yang membuatnya heran.
"Kak Arum heran ya lihat aku berbeda dengan teman-temanku yang ada di luar sana?" Zahra tersenyum melihat ekspresi wajah heran Arum yang terpampang jelas di wajahnya.
"Banget, kamu kok bisa se alim itu tanpa menjadi santri?" Arum semakin heran dan penasaran dengan alasan yang akan di berikan oleh Zahra.
"Kak untuk menjadi orang yang mengerti dan taat ke agama kita tidak harus menjadi santri, ada banyak tempat lain yang bisa kita jadikan tempat untuk menimba ilmu, dan aku bisa mengerti juga taat pada agama karena ajaran dari Mama, dia mengajarkan segala yang dia pelajari sewaktu jado santri padaku, jadi sedikit banyak aku mengerti tentang agama dari Mama," Zahra menjelaskan dari mana dia bisa menjadi gadis seperti sekarang.
"Wahhh Mama kamu hebat ya Zahra, dia bisa mengamalkan apa yang dia pelajari dan mengajarkannya padamu," ucap Arum memuji Mama Zahra.
"Mama kak Arum juga hebat kok Kak," sahut Zahra.
"Kok bisa gitu?" tanya Arum kembali di buat heran oleh ucapan Zahra.
"Iya, Mama Kak Arum hebat bisa melindungi putrinya dari pergaulan bebas yang ada di luar negeri, aku yakin kehidupan di Australia lebih banyak ujian imannya dari pada di sini, di sana ada banyak orang dari berbagai negara yang datang dan tinggal di sana, otomatis pergaulan di sana jauh lebih bebas dan Mama Kak Arum berhasil menjaga Kakak dari pergaulan bebas itu, dan menjadikan Kakak gadis berakhlaqul karimah." Zahra menjelaskan kenapa dirinya memuji orang tua Arum.
"Kamu bener juga sih, jadi orang tua kita adalah orang tua hebat yang berhasil mendidik putri-putrinya," ujar Arum.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu mengusik kedua wanita yang sedang asyik mengobrol, membuat keduanya terdiam dan terpaksa mengakhiri obrolannya.
"Aku tinggal buka pintu sebentar ya." Pamit Arum berjalan ke arah pintu untuk membuka dan melihat siapa yang datang.
"Okey Kak," jawab Zahra.
Arum dan Zahra begitu cepat akrab, kini keduanya sudah seperti kakak beradik yang sudah lama bersama meski sebenarnya mereka baru saja bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
"Abi, Husein! kalian sudah pulang?" spontan Arum saat melihat Hasan dan Husein sudah berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum, Syei'," ucap Hasan bermaksud mengingatkan Arum yang seharusnya mengucapkan salam saat pertama kali melihat keduanya.
"Waalaikum salam," sahut Arum dengan senyum manis yang terlihat di wajahnya.
"Kak Arum, apa Zahra ada di dalam?" celetuk Husein sebelum masuk ke dalam kamar.
"Tidak apa-apa Kak, makasih sudah nemenin Zahra," ujar Husein.
"Istri kamu itu orangnya asyik jadi alu senang menghabiskan waktu bersamanya dan kamu gak perlu berterima kasih karenanya," tutur Arum sambil membantu sang suami melepas jas dan mengambil tas kerja.
"Kamu temui istrimu! aku tinggal ke kamar sebentar." Titah Hasan.
"Siap Kak," jawab Husein.
Kamar yang di sewa keduanya memiliki satu ruang tamu dan ruang tidur yang terpisah, jadi mereka tidak akan repot jika Husein dan Zahra datang berkunjung.
"Bagaimana jalan-jalannya?" tanya Hasan saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Menyenangkan Bi, kalau Abi bagaimana pekerjaannya, lancar?" Arum kembali bertanya seraya mengambil satu setel baju dari lemari dan membawakannya untuk Hasan.
"Alhamdulillah lancar Syei', dan semuanya selesai dalam satu hari, karena Husein juga ikut membantu." Jawab Hasan mengambil alih baju yang di bawa oleh Hasan.
__ADS_1
"Aku tinggal ke luar dulu ya Bi, mau nyiapin makan. Abi mandi saja dulu! setelah itu lita makan bersama," Ujar Arum dan Hasan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Arum langsung berjalan keluar dari kamar setelah mendapat anggukan dari Hasan, melenggang pergi meninggalkan Hasan yang kini membersihkan diri di kamar mandi.
"Khem," Arum berdehem menyadarkan dua sejoli yang terlihat sedang bermesraan, Zahra tengah mengusap keringat yang masih saja terlihat di dahi Husein meski kini keduanya berada di ruangan ber AC.
"Eh, Kak Arum," spontan Husein tersenyum kikuk karena kepergok sedang bermesraan dengan Zahra.
"Udah mesra-mesraannya nanti aja di lanjut!" celoteh Arum berjalan mendekat dan duduk tepat di hadapan Zahra.
"Apa itu Kak?" tanya Husein saat melihat Arum mengambil satu kantong plastik berwarna hitam dan meletakkannya di atas meja.
"Ini makanan, tadi aku dan Zahra bungkusin nasi kucing untuk kita makan bareng." jawab Arum.
"Kak Arum beli berapa porsi?" tanya Husein.
"Kamu tenang aja kita tadi beli enam bungkus, jadi gak bakal kurang," jawab Arum.
"Wahh ini baru mantep Kak," celetuk Husein dengan ekspresi berbinar.
"Apa yang mantep, Dek?" sela Hasan yang baru saja keluar dari kamar berjalan menghampiri Husein dan yang lain. Dia duduk di samping Arum.
"Ini Kak Arum bawa nasi kucing buat kita makan Kak." jawab Husein dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kebetulan sekali aku juga laper, kamu emang istri yang paling pengertian," ujar Hasan mengusap lembut kepala Arum yang masih tertutup kerudung.
"Ishh ini yang beli juga bukan aku aja, tapi juga Zahra, iya kan, Dek?" Arum menoleh ke arah Zahra dan tersenyum manis padanya.
"Terima kasih, Dek," Husein juga melakukan hal sama seperti yang di lakukan oleh Hasan.
"Sama-sama, Mas," sahut Zahra.
Kedua pasangan sejoli itu sedang menikmati nasi kucing bersama, sesekali terdengar suara tawa yang terdengar di sela-sela kegiatan mereka saat menghabiskan makanan.
__ADS_1