
Setelah 14 hari kepergian Kakek Hyogoro, membuat Nagato dan Litha berkembang pesat karena mereka berdua berlatih dengan Kera Hitam dan Raja Hewan Buas Gorila Peniru.
Bahkan tiga hari yang lalu, Nagato berhasil membuat Kera Putih tunduk padanya. Kini dia mempunyai teman berlatih baru yang membuatnya semakin kuat seiring berjalanannya waktu.
Selesai sarapan pagi bersama Litha, mereka berdua duduk di teras rumah bersama dan menikmati suara kicauan burung - burung di sekitar Hutan Cakrawyuha.
Nagato melihat ada Kera Putih yang tergesa - gesa datang menghampiri dirinya, kemudian Kera Putih itu terlihat begitu pucat dan berkali - kali mencoba memberitahu Nagato jika dia bertemu dengan penyusup.
Nagato mengangguk pelan sambil mencoba mengartikan perkataan Kera Putih tersebut.
"Dia bertemu orang? Mungkin itu Kakek Hyogoro... tetapi lebih baik aku waspada, kali ini aku tidak akan membuat kesalahan yang sama..." gumam Nagato kemudian dia membawa pedangnya dan pergi bersama Kera Putih. Litha mengikuti Nagato dan dia juga membawa pedangnya.
Kera Putih menuntun Nagato dan Litha menuju lapisan hutan ke dua puluh dua, mengingat ketika Litha tertusuk pedang penyusup, Nagato tidak tenang karena dia tidak ingin kembali melihat orang yang dia sayangi terluka karena seseorang.
Kera Putih berhenti dia memberi tanda pada Nagato dan Litha untuk diam.
"Siapa dua orang itu?" batin Nagato melihat dua orang pria yang berbadan besar.
"Nagato..." gumam Litha lirih, karena dia merasa kedua orang tersebut adalah penyusup.
"Litha, mereka berdua penyusup... aku bisa merasakan jika mereka memiliki hawa haus darah yang cukup kuat..." ucap Nagato memperingatkan Litha agar tetap waspada.
Litha menelan ludah dan menatap tajam kedua orang tersebut.
Sosok pria berbadan besar yang memiliki rambut putih menatap ke arah hutan, tempat Nagato dan Litha sedang mengamati mereka.
"Demet, sepertinya kita tidak perlu mencari anak Pandu itu..." ucap pria berbadan besar yang memiliki rambut putih, berbicara kepada temannya yang berambut hitam keriting dan berwajah muram.
__ADS_1
"Iya, aku bisa merasakan keberadaan tiga ekor tikus sedang mengamati kita berdua, Devon." balas pria yang bernama Demet menatap ke arah hutan.
Nagato dan Litha terkejut bahkan Kera Putih terdiam, kemudian Nagato menyuruh Kera Putih memanggil yang lainnya untuk segera datang.
"Litha, yang kita lawan ini adalah seorang pembunuh bayaran, dia mengetahui identitasku, kemungkinan mereka berdua pembunuh suruhan Black Madia." Nagato berkeringat dingin meningat seorang pria yang bernama Black Madia, detak jantungnya berdetak tidak beraturan bahkan wajah Nagato terlihat pucat.
Litha memegang tangan Nagato untuk menenangkannya, kemudian dia tersenyum lembut padanya.
"Nagato, bukankah kau berjanji akan melindungiku..." Litha tersenyum manis pada Nagato.
Nagato terdiam mendengar perkataan Litha bahkan melihat senyuman indah yang menyungging di wajah Litha membuatnya ingin menjaga senyuman itu.
"Apapun yang terjadi aku akan melindungimu..." balas Nagato menyentuh pipi Litha dan menatapnya penuh makna.
Nagato mengatur nafasnya agar tetap stabil, kemudian dia berdiri dan berjalan mendekati kedua pria yang bernama Demet dan Devon tersebut.
"Kalian mengetahui tempat ini dari siapa?" tanya Nagato dengan nada yang seperti memerintah pada mereka berdua.
"Aku melihat foto anak Pandu adalah bocah ingusan yang pengecut, tetapi anak ini memiliki tatapan pembunuh sama seperti kita... mungkin kita salah tempat, Demet." jawab Devon menatap Nagato dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
"Devon, kita tidak mungkin salah tempat, bukankah orang yang memberikan lokasi pada kita sudah pernah datang ke hutan ini... tetapi aku tidak menyangka melihat Hutan Cakrawyuha, tempat ini memang di luar nalar..." jelas Demet sambil memandang Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda.
"Hutan yang sangat mengerikan, apa anak ini tersesat di hutan. Demet, lebih baik kita jadikan anak ini sebagai pembunuh bayaran sama seperti kita... dia memiliki tatapan yang sudah melihat neraka sama seperti kita." ucap Devon menatap tatapan dingin Nagato.
Demet mengerutkan dahinya,"Devon, apa kau tertarik dengan bocah ini... kalau aku sih tidak peduli... hanya saja kita sudah dibayar oleh Black Madia dan orang gila itu... bagaimanapun kita harus membunuh anak ini." Demet menegur Devon yang tertarik pada Nagato.
Demet dan Devon adalah pembunuh bayaran yang sudah menggeluti dunia bawah selama puluhan tahun, mereka sudah membunuh ratusan orang. Dan, kini mereka berdua disuruh Black Madia dan Pemimpin Sekte Pemuja Iblis untuk membunuh Nagato.
__ADS_1
Nagato berdecak kesal karena pertanyaannya dihiraukan oleh mereka berdua.
"Sepertinya kalian baru bisa menjawab pertanyaanku dengan kekerasan..." ujar Nagato memegang pedangnya dan menodongkan pedangnya ke arah Demet dan Devon.
Demet dan Devon tertawa terbahak - bahak mendengar perkataan Nagato, kemudiam Demet mengeluarkan dua pedangnya, karena pria itu adalah pengguna dua pedang.
"Demet, lihat, bocah ini memang cocok menjadi penerus kita." ucap Devon menunjuk Nagato dengan jari telunjuknya.
"Jangan bercanda, aku akan menguliti wajah tampannya itu..." jawab Demet menatap dingin Nagato.
Nagato merapatkan giginya dan berdecak kesal karena dirinya terus ditertawakan oleh mereka berdua.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Nagato menghirup udara disekelilingnya dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya. Kemudian dia mencoba untuk tetap tenang, karena akhir - akhir dia juga berlatih keras dengan Kera Hitam, Kera Putih dan Raja Hewan Buas Gorila Peniru.
Nagato mengeluarkan aura intimidasinya dan mengubah aura emasnya menjadi api yang mengelilingi tubuhnya.
"Aku akan membuat kalian mengatakan semua yang kalian ketahui!" Nagato tersenyum tipis sambil kedua kakinya melakukan kuda - kuda yang terlihat lembut, sehingga Demet dan Devon tidak sadar jika Nagato telah mengambil ancang - ancang untuk menyerang mereka berdua.
"Lintasan Jingga!" hati Nagato sambil mengayunkan pedangnya mengincar badan Demet. Dalam sekejap dia sudah berada didepan Demet dan Devon.
Mata Demet melebar karena dia tidak menyangka Nagato sudah mengambil ancang - ancang dengan kuda - kuda lembutnya.
"Anak ini sangat berbakat, tipuan gerakannya menjadi senjata mematikannya..." gumam Demet melihat Nagato yang menebaskan pedangnya ke arahnya.
Demet mencoba menahan tebasan lintasan api Nagato, walau reaksinya cepat tetapi tubuhnya tidak dapat mengikuti reaksinya, sehingga badannya tergores tebasan pedang api padat Nagato.
Demet tersenyum lebar melihat dadanya bersimbah darah, kemudian dia membalikkan badannya dan menatap dingin Nagato yang dibelakangnya.
__ADS_1
"Luar biasa... kau membuat jantungku berdetak kencang." ujar Demet sambil tersenyum lebar melihat Nagato.
"Walau aku seorang pembunuh, tetapi aku cukup tertarik untuk bertarung denganmu... sebagai sesama pendekar pedang, kita akan berbicara lewat sayatan." tambah Demet menatap dingin Nagato, kali ini aura tubuhnya terlihat begitu tenang dan dia memainkan kedua pedangnya sambil berjalan mendekati Nagato.