
Setelah pertandingan antara Nagato melawan Kujo. Suasana di Arena Lingkaran Harimau mulai stabil. Pendekar muda yang datang terlambat mulai bertanding. Sudah beberapa pertandingan yang telah terlewati.
Di lapangan Arena Lingkaran Harimau sekarang terlihat perwakilan dari Klan Akatsuki dan Klan Iwata yang akan bertanding.
"Umm ... Baiklah. Pertandingan antara Akatsuki Tora melawan Iwata Suno. Di mulai!" Mujin mundur beberapa langkah ke belakang untuk mengamati pertandingan antara Akatsuki Tora melawan Iwata Suno.
Dua pendekar yang datang terlambat itu saling mengamati pergerakan lawannya cukup lama. Tidak berapa lama Tora menyerang Suno terlebih dengan menyemburkan api dari mulutnya.
Untuk menahan semburan api yang keluar dari mulut Tora yang melesat cepat ke arahnya, Suno membuat tembok pelindung dari tanah. Benturan api dan tanah membuat penonton berdecak kagum.
Terlihat tembok pelindung dari tanah yang merupakan teknik dari Klan Iwata hancur, namun masih melindungi tubuh Suno karena tidak hancur sepenuhnya.
"Api milik Tora terlalu panas. Menyebalkan." Suno mengeluh melihat Tora yang bersiap kembali melancarkan serangan semburan apinya.
Puluhan api berbentuk bola-bola kecil keluar dari mulut Tora. Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Tora membuat Suno bersusah payah menghindari puluhan api berbentuk bola-bola kecil yang menyerangnya.
Lagi-lagi Suno kembali membuat tembok pelindung yang terbuat dari tanah. Terlihat pertandingan kali ini penyerang kuat melawan pertahanan kokoh sedang bertarung sengit di bawah sana. Sudah berkali-kali Suno menahan serangan dari Tora. Begitu juga dengan sebaliknya, Tora selalu gagal mengenai Suno.
Setelah di paksa dalam posisi bertahan terus menerus, lama kelamaan tenaga dalam Suno terkuras habis. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Tora yang berniat memaksa pertandingan menjadi pertarungan jarak dekat.
Suno menggertakkan giginya melihat Tora yang sudah mendekat, kemudian mereka berdua saling beradu pukulan. Sikutan, tendangan, kuncian dan bantingan mereka gunakan dalam pertarungan jarak dekat. Namun sangat terlihat jika Tora lebih unggul dari Suno dalam pertarungan jarak dekat.
Tora menendang perut Suno ketika lawannya itu terlihat kelelahan, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada. Tora memusatkan aura tubuhnya yang berwarna merah pada tangan kanannya, kemudian dia memukul Suno hingga musuhnya itu terpental ke belakang.
Mujin menghentikan pertandingan. Kemudian dia batuk pelan sebelum mengumumkan pemenang dari pertandingan kali ini.
"Pemenangnya! Akatsuki Tora dari Klan Akatsuki!" Penonton bergemuruh. Kemudian Mujin langsung mengumumkan pertandingan selanjutnya. Waktu yang semakin berlalu membuat Mujin ingin memanfaatkan waktu yang ada sebisa mungkin agar babak penyisihan bisa berkurang menjadi 32 peserta selama 2 hari.
Terlihat matahari semakin terik. Mujin menarik napas panjang sebelum mengumumkan pertandingan selanjutnya.
"Selanjutnya. Pertandingan antara Agata Kizawa melawan Kuromachi Muro!" Mujin batuk pelan sejenak. Kemudian dia melanjutkan perkataannya. "Dua nama yang kupanggil, silahkan maju ke depan!"
Agata Kizawa yang merupakan perwakilan dari Klan Agata berdiri dari bangku penonton.
"Jangan sampai lengah, Kizawa," ucap Izawa yang sedang duduk dengan tenang mengamati pertandingan sedari tadi. Dia tidak bergabung bersama sepuluh pendekar muda jenius. Terlihat di bangku penonton khusus sepuluh pendekar muda jenius hanya diisi pendekar muda yang berasal dari kubu barat saja.
"Aku mengerti." Kizawa mengangguk pelan sambil berjalan menuju lapangan.
Sementara itu di bangku penonton Klan Kuromachi terjadi masalah, banyak pendekar dari kubu barat yang kalah. Bahkan sekarang Klan Kuromachi hanya menaruh harapan mereka kepada Kurose.
"Muro. Jangan permalukan Klan Kuromachi lebih dari ini. Lima perwakilan Klan Fuyumi telah menang dua kali. Kau tahu maksudku, kan?!" Nezusaki menatap tajam Muro.
"Aku mengerti. Ketua." Muro terlihat tidak ada keraguan di dalam ucapannya. Namun tubuhnya bergetar melihat tatapan mata Nezusaki yang terlihat sangat marah.
"Hati-hati Muro. Bagaimana pun bocah itu mirip dengan Izawa. Kau harus bisa mengalahkannya. Kita tidak butuh orang lemah di klan!" Kurose terlihat sangat angkuh sama seperti Nezusaki. Ayah dan anak yang memiliki watak yang sama. Namun keduanya memiliki ambisi besar yang berbeda.
"Y-Ya." Muro menjawab perkataan Kurose dengan ragu-ragu.
"Sana pergi," suruh Kurose sambil menatap sinis Muro.
Jantung Muro berdetak karena ketakutan. Dengan langkah kaki yang terburu-buru dia menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Sesampainya di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau dengan cepat Muro berdiri di depan Mujin. Tidak berapa lama Kizawa baru sampai sambil matanya menatap memperhatikan Muro.
"Aku harus bisa lolos agar bisa menjadi seperti Kak Izawa." Kizawa membatin sambil mengepalkan tangannya.
"Baiklah. Dengan ini, pertandingan antara Agata Kizawa melawan Kuromachi Muro ... di mulai!" Setelah aba-aba dari Mujin terdengar. Dengan cepat Kizawa menyerang Muro yang terlihat ragu-ragu.
Kizawa memukul Muro dengan aura tubuhnya yang berwarna jingga. Pukulan tangan Kizawa mampu mengeluarkan api dari ujung kepalan tangannya, hanya saja ketika Muro menahannya, tiba-tiba terjadi ledakan yang membuat Muro terlempar ke belakang.
Penonton berdecak kagum melihat pertarungan Kizawa. Di sisi lain, mata Muro melebar karena dia tidak menyangka akan terkena serangan yang telah dia tahan.
"Aku harus menghindari pukulan tangannya..." Muro menggumam pelan sambil menatap tajam Kizawa yang masih berdiri dengan gagahnya di tengah lapangan.
Muro melepaskan aura tubuhnya yang berwarna ungu pada Kizawa. Kemudian dia berlari dengan cepat ke arah Hizawa sambil mencari cara untuk mengalahkan lawannya itu.
Tangan kanan Muro mengambil sesuatu dari balik jubahnya, tidak berapa lama dia melemparkan dengan cepat puluhan pisau hitam ke arah Kizawa.
Serangan mendadak Muro disadari oleh Kizawa yang telah mengantisipasi serangan Muro. Bahkan sejak awal sebelum di mulainya pertandingan, Kizawa telah terus mengamati gerak-gerik Muro.
Menurut Kizawa saat ini, lawannya itu terlihat seperti terbebani. Entah apa yang terjadi pada Muro dan tentunya Kizawa tidak mengetahui hal itu. Hanya satu yang Kizawa ketahui, raut wajah dan gerakan Muro terlihat sangat tergesa-gesa.
Muro terlihat sangat ingin menang apapun yang terjadi, dan itu membuat Kizawa bisa tetap tenang dan fokus kepada lawannya itu.
Tangan Kizawa juga mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Setelah pisau hitam Muro semakin dekat dengannya, Kizawa menangkis semua pisau itu dengan pisau kecil di tangannya.
Kedua tangannya memegang pisau kecil yang berapi-api. Kemudian dia membalas serangan Muro dengan menebaskan pisau kecilnya dari kejauhan.
Terlihat di udara jika api berbentuk sabit terbang melesat cepat ke arah Muro. Tidak berhenti sampai di situ, kini Kizawa berlari mendekati Muro dan terus mengayunkan pisau kecilnya dari kejauhan.
Puluhan api berbentuk sabit yang terbang ke arah Muro membuat penonton merasa tidak sia-sia menonton pertandingan ini. Semakin siang, banyak penonton biasa mulai pulang. Kebanyakan penonton yang pulang adalah penduduk kota Ibu Kota Daifuzen.
"Cukup sulit menahan serangannya." Kizawa membatin kesal melihat dirinya yang terdesak. Perkataan Nezusaki dan Kurose membuatnya merasa harus memenangkan pertandingan ini.
Muro melempar puluhan pisau kecil yang telah di lapisi aura tubuhnya berwarna ungu ke arah serangan yang dilancarkan Kizawa.
Namun hal yang tak pernah Muro duga adalah serangan sabit api dari Kizawa yang tiba-tiba semakin membesar. Tidak banyak orang yang tahu kecuali pendekar-pendekar dari Klan Agata tentang kekuatan mereka. Kebanyakan di Klan Agata masing-masing pendekar memiliki kekuatan dua elemen sejak lahir. Namun seiring berjalannya waktu, pendekar yang bisa mempunyai dua elemen di Klan Agata masih bisa dihitung dengan jari.
__ADS_1
Dua elemen milik Kizawa adalah angin dan api. Dengan menggabungkan angin dan api dalam serangannya, maka api akan semakin membesar jika ada lawan yang berusaha menahannya.
Kesempatan untuk mengalahkan Muro tidak disia-siakan oleh Kizawa.
"Hembusan Angin Satu Arah."
Mulut Kizawa mengeluarkan angin yang berhembus satu arah tertuju pada sabit api serangannya.
Muro merapatkan giginya karena sudah tidak memiliki celah untuk menghindar. Kini dia memusatkan aura tubuhnya agar melindungi seluruh tubuhnya. Bagaimanapun juga Muro ingin meminimalisir luka pada pertandingan.
Aura tubuh Muro yang berwarna ungu langsung berbenturan dengan api yang membara membakar tubuhnya. Tidak berapa lama, asap mulai menutupi semuanya. Mujin menatap tajam ke arah Muro yang berada di dalam asap.
Beberapa menit kemudian asap mulai menghilang. Terlihat di sana Muro telah terkapar di tanah. Tubuhnya mengalami luka yang tidak terlalu parah, hanya saja aura tubuh Muro terkuras habis demi menahan serangan Kizawa.
Tidak berapa lama Mujin mengangkat tangannya dan menunjuk Kizawa sebagai pemenangnya.
"Pemenangnya ... Agata Kizawa!" Mujin berteriak sambil melihat wajah santai Kizawa. Setelah itu dia memberi isyarat pada tim medis agar segera memberi perawatan pada Muro.
Kizawa melihat Muro sesaat sebelum kembali ke bangku penonton tempat Klan Agata menonton dari tribun.
"Selamat Kizawa." Izawa dengan wajah santainya memberi ucapan selamat pada Kizawa.
"Ya," jawab Kizawa singkat.
"Tahun ini babak 32 besar akan sengit. Setidaknya harus ada sang kuda hitam yang mengalahkan tiga pendekar muda tak bermahkota." Agata Kata menatap Izawa dan Kizawa yang duduk dengan tenang.
"Ketiga orang itu yang selalu memenangkan kompetisi ini. Dua orang bergantian menjadi juara dua dan tiga. Namun juara satu hanya orang itu yang selalu merasakannya selama 5 tahun ini..." Izawa memejamkan matanya mengingat kegagalannya untuk menjuarai Turnamen Harimau Kai. Dia sendiri tidak terlalu peduli dengan julukan sepuluh pendekar muda jenius. Karena dari kesepuluh orang itu tidak ada yang pernah menang melawan tiga pendekar muda tak bermahkota.
Dua pendekar muda yang kini mendapatkan julukan sepuluh pendekar muda jenius yang paling baru adalah Hiragi dan anak dari Satra yang bernama Satha.
"Tahun ini cukup menarik. Ketua Kata." Izawa melirik Kata yang sedang duduk di sampingnya.
"Ya, sepertinya Kekaisaran Kai akan berubah. Namun firasatku dari kemarin tidak enak semenjak ada penyusup dari Kekaisaran Rakuza yang hendak membunuh Putri Es itu." Agata Kata membalas ucapan Izawa.
Kizawa melirik Izawa dan Kata yang sedang berbicara.
"Fuyumi Iris..." Izawa bergumam pelan.
"Namun yang paling menarik adalah laki-laki yang bernama Fuyumi Nagato. Dia tidak takut melawan Tetua Kai. Jujur aku kagum padanya." Izawa menambahkan sambil melihat Nagato yang sedang duduk sendirian, karena di bangku kiri dan kanannya kosong.
"Klan Fuyumi selalu menghasilkan generasi muda yang menjanjikan. Dua klan yang teratas bagaikan api dan es yang tidak pernah menyatu. Dahulu Kagutsuchi dan Fuyumi selalu merajai Turnamen Harimau Kai." Agata Kata berbicara tentang masa lalu pada Izawa dan Kizawa.
"Semenjak tragedi itu. Semua berubah, hanya dalam kurun waktu tidak sampai 5 tahun-" Ucapan Agata Kata tertahan. Kemudian dia memejamkan matanya. "Pendekar muda dari kubu barat meningkat pesat baik jumlah maupun kemampuan mereka. Bahkan Sepuluh Tetua Kai hanya bisa di tempati orang-orang yang membuat Satra tertarik saja." Agata Kata menambahkan.
"Kagutsuchi..." Izawa bergumam pelan merespon cerita Kata. Sementara itu Kizawa hanya diam dan mendengarkan.
"Baiklah. Kita bisa beralih ke pertandingan selanjutnya. Misuzawa Hanabi dan Mangetsu Yugo." Mujin berbicara dengan santai namun suaranya terdengar keras.
"Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Mujin menambahkan sambil berkata dengan lantang.
Misuzawa Hanabi berdiri dari bangku penonton. Kemudian gadis berambut hitam kemerah mudaan itu memberi hormat pada Hana, Tsubomi dan Kafun.
"Hanabi. Jangan terlalu terobsesi dengan kakakmu." Hana memberi nasihat ringan pada Hanabi.
"Iya Ibu Hana." Hanabi tersenyum tipis kemudian berjalan menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Rambut Hana kian memutih. Dia melihat anak keduanya yang sudah berumur 12 tahun itu. Hanabi seumuran dengan Nagato. Berbeda dengan Matsuri yang pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, Hanabi justru harus kehilangan ayahnya ketika masih berada di dalam kandungan.
Tujuan Hanabi adalah menjadi seperti kakaknya yang bernama Matsuri. Dia bertekad untuk membuat Kekaisaran Kai ke arah yang lebih baik dengan menjadi seorang jendral sama seperti kakaknya.
Hanabi bisa di bilang cukup pendiam. Parasnya cantik dengan rambutnya yang berwarna hitam kemerah mudaan. Dia memiliki kedua bola mata yang indah.
Lawan dari Hanabi kali ini adalah laki-laki dari Klan Mangetsu. Sosok pendekar muda yang berwajah garang dengan parasnya yang lumayan tampan.
Di tempat para pendekar dari Klan Mangetsu menonton terlihat Yugo sedang berbicara dengan Tatara.
"Lawan yang cukup merepotkanmu, Yugo," ucap Tatara kepada Yugo yang masih duduk.
"Apa maksudmu?" Yugo mengkerutkan alisnya mendengar ucapan Tatara. Mengingat dirinya yang telah mengikuti kompetisi ini sekali. Sekarang kedua kalinya Yugo mengikuti Turnamen Harimau Kai di umurnya yang ke 13 tahun ini.
"Maksudku. Aku mungkin akan kesulitan jika harus bertarung melawan seorang perempuan." Tatara tersenyum tipis sambil melirik Yugo.
"Aku tidak akan kesulitan dan aku tidak akan segan-segan untuk bertarung dengan serius," tegas Yugo sambil berdiri. "Walaupun dia seorang perempuan," tambahnya.
"Dia telah berlatih dengan keras untuk menjadi seorang pendekar. Setiap pendekar pasti telah melewati tahap-tahap latihan yang membuat mereka bisa mengikuti kompetisi ini." Yugo berbicara pada Tatara sebelum meninggalkan seniornya di Klan Mangetsu itu.
Sesampainya di tengah lapangan Turnamen Harimau Kai. Yugo menghela napas panjang sambil menatap Hanabi yang diam.
"Kalian masih ingat dengan peraturannya?" Mujin melirik Hanabi setelah itu dia melirik Yugo.
"Ya,"jawab Yugo singkat. Sedangkan Hanabi hanya mengangguk pelan.
"Ambil jarak!" Mujin menyuruh Hanabi dan Yugo mengambil jarak. Setelah kedua peserta itu telah berdiri dalam jarak yang telah di tentukan, Mujin langsung memberi aba-aba.
"Mulai!"
Angin berhembus meniup dedaunan. Tepat setelah beberapa dedaunan jatuh menyentuh tanah, Hanabi dan Yugo maju menyerang secara bersamaan.
__ADS_1
Hanabi memukul Yugo dengan pukulan tangannya yang bercahaya berwarna merah muda itu. Sementara itu Yugo juga menciptakan sebuah pedang dari air untuk menahan pukulan tangan Hanabi.
Dalam sekejap pedang air Yugo mencair. Kemudian dia mengambil jarak dari Hanabi.
"Dia menggunakan tangan kosong..." Yugo bergumam pelan sambil mengamati pergerakan Hanabi.
Pertandingan kali ini sangat tenang, tidak berapa lama Hanabi melepaskan aura tubuhnya yang berwarna merah muda. Tiba-tiba muncul daun-daun sakura yang berjatuhan.
Daun-daun sakura itu memutari Hanabi. Selang beberapa detik kemudian, Hanabi menciptakan sebuah pohon sakura dengan tenaga dalamnya. Walau terlihat nyata namun itu hanyalah sebuah ilusi.
"Sakura Dalam Ilusi."
Hanabi mengucapkan nama jurusnya dalam hatinya. Pandangan matanya menatap Yugo yang terkejut.
Dedaunan jatuh dengan pelan dari pohon sakura ilusi ciptaan Hanabi. Dengan lincahnya Hanabi menyerang Yugo secara bertubi-tubi. Pukulannya terasa sangat halus, namun bagi Yugo yang terkena pukulan Hanabi hanya bisa meringis kesakitan.
Yugo menghindari serangan yang dilancarkan Hanabi menggunakan pedang air yang dia ciptakan dari tenaga dalamnya.
Hanabi dengan cekatan memukul pedang-pedang air yang diciptakan Yugo. Bentrokan antara Yugo dan Hanabi membuat penonton terdiam karena berdecak kagum. Langkah dan gerakan Hanabi sangat lembut. Setiap gadis muda itu memukul, di udara terlihat daun-daun sakura yang berjatuhan.
"Tapak Sembilan Pohon Sakura Berguguran."
Penonton kembali di buat berdecak kagum oleh Hanabi yang terus melayangkan pukulan dan tendangan pada Yugo. Kini gadis muda itu yang menguasai jalannya pertandingan, beberapa pukulan Hanabi berhasil mendarat di tubuh Yugo.
"Kenapa? Kenapa dia bisa melewati pertahanan air ku dengan mudah? Kenapa dia bisa menghancurkan pedang air ku dengan mudah?" Yugo membatin melihat pukulan Hanabi yang terus mendarat di perutnya. Tidak berapa lama tubuhnya terlempar jauh ke belakang.
"Kehalusan Sakura Bersemi."
Hanabi memukul Yugo dari kejauhan, terlihat sebuah pukulan tangan besar dari daun-daun sakura membentuk kepalan tangan. Penonton berdecak kagum melihat hal tersebut.
"Penjara Air Besar."
Yugo mengeluarkan aura tubuhnya dan tenaga dalamnya secara bersamaan, kemudian dia membentuk sebuah penjara air untuk menahan serangan dari Hanabi.
Benturan terjadi tepat di depan mata Yugo. Kepalanya terbentur dinding Arena Lingkaran Harimau sementara bagian wajahnya melihat jelas pukulan tangan daun-daun sakura dari Hanabi.
"Argh! Sial!" Yugo berteriak melepaskan seluruh aura tubuhnya untuk menahan serangan Hanabi.
"Hiu Air Haus Darah."
Yugo menggunakan aura tubuhnya dan tenaga dalamnya untuk menciptakan dua ekor ikan hiu yang berenang di udara. Kini aura dan tenaga dalamnya terkuras habis, tidak dia sangka akan terdesak seperti ini.
Untuk sesaat, Yugo ingin memulihkan aura dan tenaga dalamnya. Walau sedikit, dia berharap bisa memenangkan pertandingan ini.
"Tidak kusangka aku akan terdesak seperti ini! Boleh juga kau, gadis membosankan." Yugo bergumam pelan menatap Hanabi yang sedang berlari menjauh. Gadis muda itu menghindari serangan dua ikan hiu yang mengejarnya.
Hanabi berlari memutari lapangan, sesekali dia melihat pohon sakura ilusi yang berada di tengah lapangan.
"Pedang Sakura."
Hanabi bergumam pelan, suaranya sangat lembut. Sebuah pedang yang dia ciptakan dengan aura tubuhnya dan tenaga dalamnya sekarang berada di tangannya. Sementara itu, pohon sakura ilusi yang ada di tengah lapangan mulai menghilang.
"Aku harus mengalahkannya dalam waktu 3 menit..." Hanabi menggumam pelan sambil mempercepat langkah kakinya berlari ke arah Yugo.
Penonton kembali dibuat berdecak kagum oleh Hanabi. Sedangkan di bangku penonton Klan Misuzawa terlihat Hana yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Hanabi terlalu terobsesi dengan Matsuri," gumam Hana lirih. Pandangan matanya terus melihat Hanabi yang terlihat sangat serius bertarung di bawah sana.
Mata Yugo melebar melihat Hanabi yang berlari ke arahnya. Kini dengan sekuat tenaganya, Yugo mencoba berdiri. Telapak tangannya membuka, dia memaksa melebihi batas kekuatannya untuk menciptakan pedang air dengan tenaga dalamnya.
"Tebasan Air Deras."
Yugo menebaskan pedangnya pada Hanabi yang juga menebaskan pedang sakuranya. Benturan antara pedang air Yugo dan pedang sakura Hanabi menggema. Cipratan air dan daun-daun sakura yang berguguran membuat mata penonton kagum.
Permainan pedang Hanabi ternyata sangat mahir, tidak pandai bela diri tangan kosong saja, ternyata Hanabi sangat mahir dalam ilmu berpedang.
Hanabi mengayunkan pedangnya tanpa henti menyerang Yugo. Setiap tebasannya sangat dalam membuat Yugo tidak bisa mengimbangi permainan pedang Hanabi.
"Teknik Pedang Sakura Pertama : Penantian Musim Semi."
Hanabi menghilang dari pandangan Yugo. Kini gadis itu sudah berada di belakang Yugo setelah selesai menebaskan pedangnya. Perlahan pedang sakura yang digenggam Hanabi menghilang.
Yugo melebar matanya melihat kecepatan Hanabi yang tidak mampu diikutinya. Perlahan tubuh Yugo ambruk ke depan, namun dia masih berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya.
Aura tubuh dan tenaga dalam Yugo terkuras habis. Sang wasit yang sedari diam memperhatikan jalannya pertandingan mulai mengangkat tangannya, kemudian Mujin menatap Hanabi.
"Pemenangnya Misuzawa Hanabi dari Klan Misuzawa!" Mujin telah mengambil keputusan untuk memberhentikan pertandingan. Raut wajah sedih terlihat di wajah Yugo.
Keringat memenuhi wajah manis Hanabi. Rambutnya terurai menutup wajahnya, gadis itu terlihat sangat cantik di tengah-tengah lapangan yang terik itu.
Tanpa menunggu lebih lama, Hanabi berjalan kembali menuju bangku penonton Klan Misuzawa. Tepukan tangan dari penonton dihiraukan oleh Hanabi.
Sementara itu Yugo masih frustasi tidak menyangka akan kalah secepat ini. Kemudian dia berjalan dengan wajah sedih, kepalanya menunduk.
Babak penyisihan untuk mencapai 32 besar hari ini akan berakhir. Mujin merasa dia hanya akan memainkan beberapa pertandingan lagi. Langit sudah menjelang sore, dengan cepat Mujin membuka kertas yang dia simpan untuk melihat pertandingan selanjutnya.
___
__ADS_1
IG : pena_bulu_merah