Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
The Dawn 34 : Lembah Rafinha V


__ADS_3

Gelombang kejut dan angin yang kencang tercipta saat Nagato dan Gore bertukar serangan. Kemampuan Nagato kali ini berbeda dengan empat tahun yang lalu. Sekarang Nagato juga telah memiliki seorang teman, dan yang paling menarik dari serangan yang dilepaskan Nagato adalah setiap jurus yang kurang lebih menyerupai milik Litha.


Gore yang tidak kesulitan menahan setiap tebasan pedang Nagato sedikit kebingungan karena melihat Nagato merencanakan sesuatu. Namun setelah melakukan pertukaran serangan, akhirnya Gore sadar jika Nagato belum mengeluarkan segenap kekuatannya.


Gore menarik napas panjang sebelum menyemburkan api dari mulutnya, Nagato yang berada didepannya segera memblokir semburan api tersebut dengan bilah Pedang Kusanagi.


Saat Nagato dapat menangkis serangannya, Gore kembali sesuatu yang mengejutkan. Dengan api yang melapisi tangannya, Gore melancarkan serangan beruntun yang berapi-api.


Nagato melakukan hal yang kurang lebih sama dengan Gore karena tebasan pedang yang berapi-api itu berbenturan dengan pukulan tangan Gore.


Hawa panas sangat terasa saat Nagato dan Gore terus melakukan pertukaran serangan. Nagato tidak hanya cepat dalam memainkan pedangnya, tapi dipenuhi kekuatan yang pasti.


“Bagaimana? Apakah kau mengerti jika aku melakukan semua percobaan ini selama puluhan tahun?” Seringai senyum Gore penuh akan rasa bangga. Sementara Nagato sama sekali tidak peduli dengan semua yang diucapkan Gore.


Karena menyadari Gore memiliki kemampuan Air Suci Buatan, Nagato tidak bisa terus-terusan memanipulasi aura tubuhnya menjadi api.


Pedang Raiden yang tersarung rapi dipinggangnya Nagato tarik. Kali ini Nagato menggunakan dua pedang sebagai senjatanya, samar-samar Nagato merasakan aura yang tidak asing saat kilatan petir memenuhi pori-pori tubuhnya.


Gore yang merasakan keanehan pada Nagato segera melepaskan Tenkai yang lebih besar dari sebelumnya. Aura yang keluar dari tubuh Gore terasa lebih mencekam.


Nagato yang sedang menyesuaikan aura tubuhnya dan kekuatan baru dari Roh Dewa Petir merasakan sensasi yang berbeda dari tubuhnya. Terlebih saat petir melapisi Pedang Raiden.


Saat Gore mempersingkat jarak, Nagato tidak segan melepaskan aura tubuhnya yang berwarna ungu. Dalam sekejap Nagato menghilang dari pandangan Gore dan berdiri didepan pemimpin Sekte Pemuja Iblis tersebut.


“Petir? Bagaimana mungkin?!” Gore tersentak kaget saat melihat Nagato bergerak secepat kilat dan melepaskan tebasan yang dilapisi api dan petir.


Dengan kedua tangan yang dilapisi api dan aura tubuhnya, Gore menahan dua tebasan dari Pedang Kusanagi dan Pedang Raiden. Serangan yang dilepaskan Nagato berbeda dari biasanya karena api dan petir menyelubungi tubuh Nagato.

__ADS_1


“Darimana kau mendapatkan kekuatan ini?” Gore bertanya pada Nagato. Karena bagaimanapun ini adalah hal yang sangat langka, tentu saja perubahan yang terjadi pada Nagato sangat menarik perhatiannya.


Setiap Gore berbicara ataupun bertanya padanya, Nagato hanya diam dan terus melancarkan serangannya. Walaupun masih dalam proses adaptasi menggunakan kemampuan barunya, Nagato sama sekali terlihat tidak kesulitan untuk mengontrol aura berwarna ungu.


Saat Nagato mengayunkan pedangnya dengan penuh tenaga, dua tebasan yang membentuk kepala harimau melesat cepat ke arah Gore.


Dua tebasan itu memang mematikan, namun Gore dapat menahannya dengan kemampuan Manusia Hewan Buas. Saat melihat kemampuan Gore yang berulang kali menghempaskan serangannya, Nagato mendecakkan lidahnya kesal.


“Apa kau tidak menyadari jika kemampuanmu yang seperti itu terlihat menjijikkan...” Nagato berkata dengan tenang dan membuat Gore tertawa.


“Jijik? Sepertinya mulutmu ini tidak pernah diajarkan sopan santun ya?” Gore menjawab sengit sambil mengarahkan pukulan tangan yang dilapisi aura berwarna hitam kepada Nagato.


Nagato melakukan konsentrasi secara penuh dan memblokir pukulan Gore dengan Pedang Kusanagi, lalu dengan permainan pedangnya yang lihai Nagato memotong tangan Gore menggunakan Pedang Raiden.


Walau tangan kanannya telah terpotong, Gore masih dapat bergerak lincah dan melancarkan satu pukulan yang cepat dan bertenaga. Pertukaran serangan dalam waktu singkat Gore kembali membuat Nagato terdesak.


Disisi lain Nekoya dan Panda juga telah melebihi batas kemampuan mereka. Kedua manusia hewan ini terus bertarung tanpa henti. Melihat perjuangan teman-temannya membuat Nagato tidak ragu lagi menggunakan kekuatan dari Dewa Kematian Shinigami.


Nagato menggores telapak tangannya menggunakan Pedang Kusanagi sebelum tubuhnya dipenuhi tanda berwarna hitam. Tanda berwarna hitam ini memenuhi badannya dan secara perlahan bayangan tengkorak berwarna hitam muncul ditubuh Nagato sebelum semuanya menjadi nyata.


Gore yang melihat kemampuan Nagato melebar matanya, “Kemampuan ini...” Gore tidak dapat berkata apapun. Terlebih saat aura berwarna hitam pekat muncul disekitar tengkorak itu.


Hanya dalam waktu yang singkat, Nagato menggerakkan tengkorak itu untuk menyerang Gore. Sebuah ayunan pedang membelah tanah dan menghancurkan bebatuan.


“Bagaimana dia menggunakan kemampuan yang sama seperti perempuan itu?” Gore bertanya dalam diri sendiri saat melihat kemampuan Nagato.


Nagato sama sekali tidak mempedulikan ekspresi raut wajah Gore, yang sekarang menjadi perhatiannya adalah cara untuk membunuh Gore.

__ADS_1


“Apa kau telah lupa dengan semua perbuatanmu?! Litha! Kakek Hyo! Mereka berdua menderita karena dirimu!” Nagato menghunuskan pedangnya pada jantung Gore. Namun lagi-lagi Gore masih dapat bangkit, setelah berulang kali melihat pertarungan keempat petinggi Sekte Pemuja Iblis, Nagato menyadari sesuatu.


“Jadi kau juga yang membuat Kak Serlin seperti itu...” Nagato menatap mayat seorang pria yang kembali bangkit berdiri.


“Sejak awal Serlin itu telah mati, dan gadis yang kupungut itu mendiami tubuh perempuan bernama Serlin. Apa kau tahu, semuanya itu karena Senjata Kuno? Benar-benar hebat bukan?”


Nagato menatap dingin Gore. Jika dirinya sama seperti empat tahun yang lalu, maka sudah pasti Nagato terpancing akan perkataan Gore. Tetapi sekarang Nagato telah berubah, dia menyadari jika sekarang dirinya mempunyai orang-orang yang menganggapnya sebagai seorang teman.


Saat Nagato dan Gore terus melakukan pertukaran serangan, Nagato menghentikan langkahnya dan lebih memilih menyelamatkan Laura dan Kashima. Bahkan Chibi yang berusaha melindungi kedua gadis itu tergeletak hampir kehilangan nyawanya.


Gore menyeringai melihat sisi lemah Nagato, “Ikatan pertemanan membuatmu menjadi lemah, Kagutsuchi...”


Nagato melihat wajah Laura yang berlumuran darah begitu juga dengan Kashima, “Kau tidak berhak mengatur caraku untuk hidup. Dan satu hal lagi, aku tidak akan segan membunuhmu beribu-ribu kali walau kau bisa bangkit dari kematian!”


Gore tertawa karena melihat sendiri bagaimana sifat Nagato. Saat Gore hendak menyerang Laura dan Kashima untuk melemahkan Nagato, pemuda berambut biru datang membunuh penjaga penjara manusia yang telah melukai Laura dan Kashima.


“Aku tidak menyangka kalian benar-benar menyerang kelompok ini...” Pemuda berambut biru ini berkata pada Nagato yang sedang membangunkan Laura dan Kashima.


“Kau...” Nagato mengingat pemuda berambut ini. Namun yang paling mengejutkan adalah ekspresi wajah Gore saat melihat pemuda berambut biru membunuh penjaga penjara manusia.


“Yuyutsu!” Gore mengepalkan tangannya sebelum tubuhnya dipenuhi api yang membara disertai angin yang kencang, “Bocah pengecut sepertimu berani menentangku! Dan kenapa kau berlagak seperti seorang pemberani?!”


Nagato mengetahui jika pemuda berambut biru yang bernama Yuyutsu dan Gore memiliki hubungan. Namun sekarang yang menjadi prioritasnya adalah keselamatan Laura dan Kashima.


“Laura, Shinden, cepat berdiri. Aku akan menyelamatkan Sonjo.” Nagato menatap Sonjo yang tergeletak ditanah karena terkena tusukan telak dari pisau aura milik Wang Zhi.


Kashima memegang tangan Nagato, gadis ini menjelaskan pada Nagato jika orang yang telah melukai dirinya ataupun Laura adalah seorang perempuan yang dapat memanipulasi aura tubuhnya menjadi batu.

__ADS_1


“Nagato, aku tidak bisa melarikan diri ataupun bersembunyi. Aku yang akan mengalahkannya!” Ucap Kashima penuh percaya diri.


__ADS_2