
Selang beberapa menit setelah Nagato dan Gyuki berbincang, tenaga medis membawa tubuh Kakugo dengan tandu menuju ruang perawatan yang ada di Arena Lingkaran Harimau.
Setelah Nagato duduk di bangku penonton tempat Klan Fuyumi menonton, pertanyaan beruntun dari empat gadis membuat Nagato menggaruk kepalanya dan menghela napas panjang.
"Naga apa yang kamu bicarakan dengan lawanmu itu?" Iris pertama yang bertanya pada Nagato tepat setelah pemuda itu duduk.
"Nagato apa yang kamu bicarakan dengan paman wasit itu?" Hika bertanya setelah Iris. Gadis kembar manis itu menatap Nagato yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Sepertinya Kakugo tidak dalam kondisi yang baik. Apa kamu merasakan kejanggalan saat bertarung melawannya, Nagato?" Litha bertanya pada Nagato sambil menutup mulutnya, gadis manis itu memperhatikan luka lebam yang ada di sekujur tubuh Kakugo. Tidak berapa lama dia membatin dan bertanya pada dirinya sendiri, "Bukankah dia murid dari Perguruan Api Abadi? Kenapa dia memiliki luka lebam seperti itu?"
Nagato menyandarkan tubuhnya pada bangku penonton, tidak berapa lama giliran Tika yang bertanya.
"Kamu hebat bisa mengontrol emosimu, pertandingan tadi menurutku kamu bisa memenangkannya tanpa menarik pedangmu. Kenapa kau lebih memilih menggunakan pedangmu itu, Nagato?" Tika melirik Nagato sembari memperhatikan raut wajah Nagato.
"Kakugo sedang sakit, dia tidak bisa melawanku dengan kondisi terbaiknya maupun kekuatan penuhnya," ujar Nagato pada keempat gadis yang bertanya padanya.
"Sebaiknya kalian tidak perlu tahu tentang hal tadi." Nagato membatin sambil menghela napas panjang.
Di bangku sebelah terlihat Shirayuki berkata dengan pelan pada Emi.
"Apa ibu menyadari sesuatu?" Shirayuki melirik Emi yang memperhatikan gerak-gerik Nagato dan Gyuki ketika berbicara.
"Sepertinya Akaramizarawa Gyuki berbicara sesuatu yang penting pada Nagato. Dan Gyuki membuatku ingat dengan seseorang. Musuh yang melukai Hika mempunyai kondisi mental yang berbeda dari anak biasanya. Luka lebam yang ada di sekujur tubuhnya adalah bekas luka siksaan akibat pukulan tangan maupun kayu. Yang menjadi perhatianku adalah luka bakar di perutnya..." Emi melirik Shirayuki sesaat, kemudian berkata, "Kau juga menyadarinya, bukan?" Shirayuki hanya mengangguk pelan.
Selang beberapa menit kemudian, Gyuki langsung beralih ke pertandingan selanjutnya. Pria itu langsung memanggil dua nama yang akan bertanding di pertandingan kedua babak 32 besar.
"Selanjutnya pertandingan kedua babak 32 besar, antara Kitakaze Yuri melawan Reina Riekho! Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Gyuki memanggil nama peserta selanjutnya yang akan bertanding.
Yuri terlihat dalam kondisi terbaiknya, dia satu-satunya perwakilan dari Klan Kitakaze yang masuk dalam sepuluh pendekar muda jenius. Gadis yang dulunya memiliki penampilan seperti anak laki-laki itu sekarang sudah menjadi gadis cantik yang mampu memikat lawan jenisnya.
Lawan Yuri di babak 32 besar adalah perwakilan dari Air Terjun Kebenaran. Sebelum berjalan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau terlihat Chiaki dan Chaika memberi semangat kepada Yuri.
"Kak Yuri semangat!" Chiaki memberi ucapan semangat kepada Yuri.
__ADS_1
"Kak Yuri semangat..." Chaika memberi ucapan semangat kepada Yuri dengan suara yang lirih.
Yuri hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya pada kedua gadis kembar itu, tidak berapa lama dia melihat Kenji yang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.
"Kenapa Kenji yang membalas lambaian tanganku?" Yuri membatin keheranan melihat Kenji yang membalas lambaian tangannya.
Setelah sampai di lapangan Arena Lingkaran Harimau, Yuri berdiri menunggu kedatangan Reina Riekho. Tidak butuh waktu lama bagi Yuri menunggu.
"Suatu kehormatan bagiku melawan Kakak Yuri yang termasuk dalam sepuluh pendekar muda jenius. Mohon bimbingannya, Kakak Yuri." Reina Riekho mengulurkan tangannya pada Yuri.
"Tidak usah terlalu formal, lagipula itu hanyalah sebuah julukan yang tidak jelas. Entah siapa yang memberi julukan seperti itu, tetapi bagiku itu tidak ada gunanya. Tidak ada orang jenius yang mengaku sebagai jenius, benar bukan?" Yuki tersenyum tipis menatap Reina dan berkata, "Hanya orang bodoh yang menyebut dirinya sendiri sebagai orang jenius."
Reina terdiam setelah mendengar perkataan Yuri. Menurut Reina perkataan Yuri benar apa adanya, kompetisi Turnamen Harimau Kai semakin lama semakin berubah ketika Sepuluh Tetua Kai yang memegang kendali sepenuhnya.
"Ambil jarak." Gyuki langsung memberi perintah pada Yuri dan Reina agar menjaga jarak, kedua gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang untuk berdiri di garis yang telah ditentukan.
"Kenapa tadi aku berkata seperti seorang senior. Sepertinya ini akibat karena terlalu sering memanjakan Chiaki dan Chaika." Yuri membatin lirih penuh rasa malu di dalam hatinya.
Gyuki menatap Yuri dan Reina sesaat, kemudian dia memberi aba-aba pertandingan.
"Pertandingan kedua babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Kitakaze Yuri melawan Reina Reikho dimulai!" Gyuki lompat ke belakang dan mengamati pergerakan Yuri dan Reina yang masih saling mengamati satu sama lain.
Yuri diam-diam mengalirkan tenaga dalamnya pada pisau tangannya, setelah itu dia melancarkan serangan pembuka dari jarak jauh. Sebuah pisau angin melesat cepat ke arah Reina.
"Guru Mio telah mengajari teknik ini." Reina membatin lirih dalam hatinya, setelah itu dia kembali membatin, "Dinding Pertahanan Air."
Sebuah dinding air muncul dari tanah, pisau angin yang melesat cepat ke arah Reina bertabrakan dengan dinding pertahanan air.
Yuri tersenyum tipis, kemudian gadis itu menarik pedangnya yang tersarung rapi di pinggangnya. Yuri sendiri telah belajar seni pedang selama beberapa tahun ke belakang, mengingat Kekaisaran Kai identik dengan sosok pendekar pedang membuat Yuri memilih untuk mempejari seni berpedang.
Reina meremas tangannya membuat dinding pertahanan air menjadi hancur, setelah hancur, Reina memanipulasi dinding pertahanan air menjadi sebuah tombak yang seluruhnya terbuat dari air mengarah pada Yuri.
"Tombak Air."
__ADS_1
Reina mengarahkan tombak air yang cukup besar itu ke arah Yuri. Penonton berdecak kagum dengan kemampuan Reina. Sementara mereka belum melihat kemampuan Yuri yang sebenarnya.
Yuri menggunakan langkah angin untuk berlari, tangannya menebaskan pedangnya dari jauh ketika tombak air melesat cepat ke arahnya. Gadis itu juga mengolah pernapasan, dadanya tidak mengembung seperti Ninjin dan yang lainnya, Yuri sudah mahir mengontrol aura maupun melatih pernapasannya.
"Hembusan Angin Dalam Sayatan."
Yuri menebaskan pedangnya untuk menahan serangan tombak air Reina. Benturan terjadi di udara antara angin dan air, cipratan air terlempar ke arah tribun penonton. Senyuman mengembang di wajah Yuri ketika melihat serangannya bersama serangan Reina bertabrakan.
"Hembusan Angin Tak Kasat Mata."
Mulut Yuri menghembuskan sebuah pusaran angin berwarna hijau muda yang melurus ke arah Reina. Gadis itu mengikuti serangan yang dia lesatkan pada Reina dari belakang.
Untuk melawan serangan tersebut, Reina mengaliri pedangnya dengan tenaga dalam, kemudian dia melepaskan aura tubuhnya yang berwarna biru muda.
"Burung Kenari Kembar."
Reina menggunakan jurus pedang yang dia ciptakan sendiri, tebasan pedangnya dia ayunkan untuk menahan serangan pusaran angin berwarna hijau muda milik Yuri.
Benturan terjadi ketika Reina mampu menangkis pusaran angin berwarna hijau muda yang dilesatkan oleh Yuri dan mengarahkannya ke arah udara.
Di atas terjadi ledakan benturan air dan angin, pusaran angin berwarna hijau yang dililit burung kenari berwarna biru muda meledak di udara. Penonton berdecak kagum melihatnya, mereka semua disuguhkan pertandingan yang sangat menarik.
Suara pedang berbenturan menggema di Arena Lingkaran Harimau ketika Yuri dan Reina saling bertukar serangan di bawah sana, dari tribun terlihat jelas jika kedua gadis itu berpindah-pindah tempat, tepat setelah mereka bertukar serangan.
Yuri mengaliri pedangnya dengan tenaga dalam dan aura tubuhnya yang berwarna hijau muda. Pedangnya kini bercahaya terang berwarna hijau muda.
Reina melakukan hal yang sama dengan Yuri. Mereka berdua bertukar serangan kembali, suara pedang yang berbenturan maupun adu kecepatan dalam mengayunkan pedang membuat Yuri dan Reina bertarung dengan sengit.
Pertarungan sengit itu membuat debu menutupi tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau ketika Yuri dan Reina saling menebaskan pedangnya yang bercahaya. Benturan yang membuat angin berhembus kencang itu adalah penyebab dari muncul debu tersebut.
Debu mulai menghalangi penonton yang di atas tribun karena tidak bisa melihat pertarungan Yuri dan Reina di dalam kumpulan debu.
Tidak berapa lama ledakan terjadi bersamaan dengan pusaran angin bercampur air yang terlihat di atas udara, namun tubuh kedua gadis itu tak terlihat akibat debu yang menutupi tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.
__ADS_1