
"Malam ini begitu indah, cahaya dari bulan purnama yang menyinari kota ini juga bersinar terang, sangat cocok untuk membebaskan jiwa yang bersedih."
Shirayuki tersenyum tipis dan menutup setengah wajahnya dengan kipas, ia tampak cantik dan anggun di tengah - tengah pertempuran.
"Senior Hana, mari kita bereskan semua ini dengan cepat." sahut Shirayuki sambil tetap bersikap tenang.
"Seperti biasa, kau selalu terlihat begitu indah dan anggun Putri Salju!" ucap Hana sambil memandang Shirayuki disampingnya.
"Tetapi berada disampingmu, membuatku kedinginan!" Hana menambahkan.
"Oh, maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan." Shirayuki tersenyum hangat kepada Hana, kemudian hawa dingin perlahan mulai hilang secara perlahan ketika Shirayuki tidak menggunakan tenaga dalamnya karena melepaskan aura didalam tubuhnya secara berlebihan, walau masih sedikit terasa dingin karena angin malam yang berhembus dan melanda Kota Yasai.
Ketika para manusia buas yang dibekukan oleh Shirayuki hancur menjadi serpihan es berbentuk kotak kecil - kecil, muncul manusia buas setinggi tujuh meter yang tak lain adalah X 1, dia hendak menyerang Oichi dan Ichiba yang berada disamping Shirayuki.
"Ichiba, Oichi menghindar!" Teriak Shirayuki karena terkejut melihat kehadiran manusia buas X 1 yang datang kearah mereka dengan cepat.
Mendengar Shirayuki mengkhawatirkan mereka berdua, baik Ichiba maupun Oichi sekuat tenaga berusaha menghindari pukulan tangan X 1, namun langkah kaki mereka terlambat menghindar karena tangan manusia buas X 1 sudah tepat berada didepan Ichiba dan Oichi.
"Tidak! Bagaimana dia bisa secepat ini?" batin Ichiba, matanya melebar dan wajahnya pucat.
__ADS_1
"Makhluk ini besar namun bagaimana dia bisa bergerak secepat itu." batin Oichi sambil memandang pukulan tangan manusia buas X 1 kemudian dia memejamkan matanya terlihat pasrah.
"Sirih." batin Azai sambil mengolah pernafasannya dia melangkah dengan cepat ke arah Ichiba dan Oichi.
"Harimau Menanti : Pemangsa Kehidupan." Azai meneriakan jurusnya sambil menebas tangan kanan manusia buas X 1 yang hendak memukul Ichiba dan Oichi.
Tangan manusia buas X 1 tertebas oleh tebasan pedang Azai kemudian Oichi membuka matanya dan dia terkejut melihat seorang pemuda yang menyelamatkan hidupnya, gadis itu tersenyum lebar melihat kegagahan Azai yang menebas tangan manusia buas X 1.
"Apa kalian baik - baik saja?" ucap Azai sambil melihat Ichiba dan Oichi.
"Terima kasih, aku baik - baik saja." Jawab Ichiba dengan singkat.
"Aduh, aku kenapa sih? Kok aneh ya?" batin Oichi sambil mengalihkan pandangannya dari Azai, wajahnya memerah dan terlihat malu untuk menatap Azai.
"Baiklah." ucap Azai sambil mengamati situasi yang terjadi, kemudian tatapan matanya mengarah kepada para pendekar dari Klan Kitakaze dan dirinya memahami situasi yang dialami kelompok pendekar itu.
"Haah? Setelah mereka bersikap tidak sopan terhadapku dan Nagato, kini mereka membuatku merasa lebih kesal!"
Azai bergumam pelan sambil menyipitkan matanya menatap Reto dan yang lainnya.
__ADS_1
"Percuma jika kau menjadi seorang pendekar jika tidak bisa percaya pada diri sendiri bahkan tidak bisa mengambil tindakan yang menurutmu mana yang benar dan salah!" ucap Azai mengutip perkataan Pandu sambil memandang pendekar Klan Kitakaze, ucapannya terdengar ditelinga Reto dan beberapa pendekar dari Klan Kitakaze, sehingga mereka semua menoleh ke arah Azai.
Mendengar perkataan Azai, seorang pendekar dari Klan Kitakaze yang bernama Miake membulatkan tekadnya dan melawan manusia buas, karena dirinya merasa malu jika tetap diam ketika mendengar jeritan suara manusia buas yang terdengar begitu menyayat hatinya.
Miake maju menyerang manusia buas bersama dengan pendekar dari Klan Misuzawa dan Klan Fuyumi.
Kakek Hyogoro yang dari tadi mengeluarkan tenaga dalam untuk mengintimidasi puluhan manusia buas kini terlihat kesal melihat sikap Reto dan pendekar Klan Kitakaze.
"Jika kalian tidak memiliki tekad untuk melindungi penduduk kota ini maka lebih baik kalian ikut mengungsi bersama para penduduk kota yang lain!" Kakek Hyogoro menatap tajam Reto, suaranya meninggi dan terdengar sedikit marah.
"Kalian hanya menghalangi saja! Ragu? Bimbang? Bunuh perasaan itu dan bertindaklah layaknya seorang pendekar sejati jangan menjadi seorang pendekar yang setengah - setengah!" Kakek Hyogoro menambahkan.
"Jaga mulutmu! Apa kau berniat menghina Klan Kitakaze!" Teriak Reto pada Kakek Hyogoro.
"Huuuh!" Kakek Hyogoro menghela nafas panjang.
"Percuma! Seseorang yang hanya pandai berbicara, hanya bisa bertarung dengan mulut!" Kakek Hyogoro mengalihkan pandangannya dari Reto dan melangkah dengan cepat untuk membunuh manusia buas yang menghancurkan bangunan di hadapan mereka.
"Jika kau ingin membuktikan bahwa pemikiranmu itu benar maka buktikanlah dengan tindakanmu dan jangan bertindak seperti seorang pengecut tua, Senior!" Sahut Shirayuki sambil menatap tajam Reto dengan tatapan dinginnya, setelah itu dia memimpin pendekar dari Klan Fuyumi untuk maju menyerang manusia buas.
__ADS_1
Keraguan yang menghampiri hati mereka mulai memudar secara perlahan dan pertempuran akan terus berlanjut.