
Nagato menghindari setiap gigitan mulut Buaya Darat, dengan kecepatan langkah kakinya, dia selama ini selalu melatih kecepatan tendangan kakinya dan staminanya. Sehingga Nagato bisa dengan santainya menghindari setiap serangan Buaya Darat tanpa kesulitan sedikitpun.
"Aku belum pernah melihat buaya terbakar, lebih baik aku mencobanya..." ucap Nagato memegang mulut Buaya Darat dan menahannya dengan kedua tangannya.
"Sial! Mulut kadal sialan ini bau busuk sekali..." umpat Nagato ketika menahan mulut Buaya Darat, tanpa menunggu lebih lama dia melempar Buaya Darat tersebut ke arah Lebah Racun yang mengelilingi dirinya dan Litha.
Buaya Darat itu terlempar ke atas dengan cepat, kemudian jatuh ke tanah menabrak tubuh geombolan Buaya Darat yang lainnya.
Nagato mundur dan menghampiri Litha yang bertarung melawan Lebah Racun.
"Litha, Hewan Buas yang terakhir kita lawan adalah Kera Hitam, coba kau lihat sekumpulan kera sialan itu, mereka sedang mengamati gerakan dan teknik kita..." bisik Nagato pelan, punggung mereka berdua saling bersentuhan dan mereka berdua saling melindungi satu sama lain.
"Heeh... jadi kau ingin bertarung melawan tiruanmu, setelah pasukan Kera Hitam itu meniru teknikmu..." balas Litha sambil tertawa kecil melihat Nagato yang sedang begitu panas dan semangat bertarung.
"Aku menyukai perempuan yang cepat mengerti dengan jalan pikiranku..." jelas Nagato dengan wajah datarnya yang dingin, dia mengatakan hal yang membuat Litha terdiam seribu bahasa.
"A-Aku... aku telah mengenalmu selama 5 tahun, dan didalam pikiranmu itu hanyalah berlatih, berlatih dan berlatih..." balas Litha cemberut dan kedua mata bulatnya melihat Nagato.
"Litha... kau mempunyai mimpi untuk berpetualang keliling dunia dan menemukan paus terbang impianmu, jika saat itu tiba, aku ingin mendampingi perjalananmu itu..." terang Nagato dengan wajah datarnya dia menatap Litha penuh makna.
"Aku belum cukup kuat untuk melindungimu, bahkan kau selalu saja menyelamatkanku, sesekali biarkan aku yang menjagamu..." tambah Nagato menatap Litha dan dia merasa bersalah, setiap mengingat bekas luka diperut Litha.
Litha terharu mendengar perkataan Nagato, ketika dia mengingat beberapa tahun ke belakang, saat itu Litha menceritakan impiannya itu kepada anak - anak kecil yang sebaya dengannya di Kota Roshima, tetapi mereka hanya menertawakan impian Litha. Karena paus terbang dan kura - kura raksasa itu tidak ada di dunia ini kata mereka.
"Hmph... jangan berkata hal yang memalukan, ketika kau tidak memakai baju..." balas Litha mengembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya kesamping. Tetapi perasaan Litha saat ini sangat bahagia, bahkan dia tersenyum manis mengingat perkataan Nagato.
Nagato terdiam, karena dia juga baru sadar jika bajunya telah dia lepas.
"Sial, memalukan sekali..." umpat Nagato
__ADS_1
dalam hati.
Buaya Darat mengamuk melihat salah satu kawanannya telah mati. Gerombolan Buaya Darat menyerang Nagato dan Litha dengan mulut dan ekornya.
Salah satu Buaya Darat mengibaskan ekornya menyerang Nagato, dengan cepat Nagato menahan sabetan ekor Buaya Darat.
Sabetan ekor Buaya Darat itu membuat Nagato terlempar beberapa langkah ke belakang.
"Menarik, ternyata kadal sialan ini lebih kuat dari perkiraanku..." gumam Nagato menatap dingin Buaya Darat yang membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang.
Litha menyerang Buaya Darat yang lain dengan pedangnya, dia mengayunkan pedangnya dengan gesit, setiap langkahnya berisi dan penuh seni, bahkan dia terlihat seperti menari.
Pedang Litha dan ekor Buaya Darat, saling berbenturan satu sama lain. Keduanya tidak ada yang mau mengalah baik Litha maupun Buaya Darat.
"Sirih." hati Litha menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya. Kemudian dia kembali mengayunkan pedangnya dengan cepat dan gesit.
Tebasan pedangnya mampu memotong ekor Buaya Darat, sehingga puluhan Buaya Darat yang menyerangnya mengerang kesakitan.
Nagato melirik Litha yang terlihat begitu indah ketika memainkan permainan pedangnya, tanpa basa - basi lagi Nagato memukul puluhan Buaya Darat dengan tangan yang telah dilapisi tenaga dalam dan kobaran api miliknya.
Beberapa Buaya Darat mati dalam sekejap karena perutnya berlubang, ketika Nagato hendak menghabisi Buaya Darat yang tersisa, entah mengapa dirinya merasa kasihan melihat Buaya Darat yang berlari masuk kedalam lapisan hutan enam puluh satu.
"Jika kuhabisi mereka semua, maka kadal sialan ini akan punah, sungguh merepotkan..." guman Nagato yang membiarkan puluhan Buaya Darat melarikan diri.
Litha tertawa cekikikan mendengar Nagato menggumam pelan, dia menepuk pundak Nagato berkali - kali.
"Nagato... aku tidak menyangka kamu akan berkata seperti itu." kata Litha sambil tertawa kecil dia berusaha untuk menutup wajahnya karena Nagato menoleh melihatnya.
"Serigala Bertanduk Merah juga telah melarikan diri, jadi yang tersisa..." gumam Nagato melirik Lebah Racun dan Kera Hitam yang terlihat begitu waspada terhadap mereka berdua.
__ADS_1
Nagato menghiraukan candaan Litha dan menyerang kerumunan Lebah Racun yang berterbangan diatas sana. Kemudian dia mengolah pernafasannya sambil menatap dingin Lebah Racun.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Nagato memejamkan matanya dan memusatkan tenaga dalamnya dipijakan kakinya.
"Merah Menyala!" hati Nagato dengan tangan yang mengayunkan pedangnya, dia dalam sekejap dapat memotong sayap - sayap Lebah Racun yang berterbangan, sehingga kerumunan Lebah Racun terjatuh kebawah.
Nagato menghabisi Lebah Racun yang terjatuh sebelum mereka mengeluarkan cairan racun dari sengatannya.
Ayunan pedangnya menghabisi puluhan Lebah Racun dalam sekejap, dengan ketenangannya itu Nagato berniat menyerang kembali Lebah Racun yang berterbangan di atas, tetapi Kera Hitam yang dari tadi diam mengamati pertarungan tersebut, mulai membantu Lebah Racun melawan Nagato dan Litha.
"Mereka bekerja sama..." batin Nagato melihat Kera Hitam dan Lebah Racun saling melindungi satu sama lain, kemudian dia mendekat pada Litha karena dia ingin melindungi perempuan tersebut.
"Nagato, aku baru pertama kali melihat ada Hewan Buas yang bekerja sama..." ucap Litha yang berdiri disamping Nagato.
"Inilah keunikan Hutan Cakrawyuha." balas Nagato tersenyum tipis menatap kerumunan Lebah Racun dan Kera Hitam.
"Nagato, aku akan melindungimu..." canda Litha melirik Nagato yang terlihat begitu fokus dan tenang, dengan wajah datarnya yang dingin, Nagato menatap kerumunan Lebah Racun dan Kera Hitam.
Nagato tersenyum dan menyentuh dahi Litha dengan jarinya.
"Aku tidak butuh perlindunganmu... lagipula pukulanmu itu tidak pernah membuatku merasakan sakit sedikitpun." ejek Nagato sambil matanya memandang dahi Litha dan kedua matanya yang bulat dan terlihat indah itu.
"Jangan meremehkanku, Nagato!" sergah Litha memukul perut Nagato.
"Sudah kubilang, pukulanmu itu tidak terasa sakit." terang Nagato dengan tangannya yang memegang tangan kiri Litha.
"Tetap berada didekatku, agar aku bisa melindungimu..." tambah Nagato kemudian dia melepaskan tangannya yang memegang tangan Litha.
Matanya menatap dingin kerumanan Lebah Racun dan Kera Hitam kembali, dengan tangannya yang menyentuh pedangnya dia berniat menggunakan beberapa teknik barunya.
__ADS_1
Kera hitam dan Lebah Racun mulai menyerang secara bersamaan, Lebah Racun juga mulai menyerang dengan sengatnya yang beracun mengeluarkan carian merah, Nagato dan Litha menghindari cairan racun merah yang melesat cepat jatuh ke bawah.
"Litha tetap berada didekatku, aku akan memperlihatkan teknik baruku padamu." ucap Nagato sambil terus menghindari serangan cairan racun merah dari Lebah Racun. Sedangkan Litha yang mendengar perkataan Nagato menjadi penasaran dengan teknik baru miliknya.