Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 263 — Tak Terduga


__ADS_3

Nagato dan Bravo sama-sama melesat ke depan. Keduanya bertukar serangan. Pukulan Bravo benar-benar kuat dan berisi. Bilah pedang Nagato yang tajam bahkan tidak mampu menggores lengannya.


“Kekuatanmu?” Bravo menatap tajam Nagato dan terus melancarkan pukulannya, “Keluarkan kekuatanmu! Anak muda!”


Nagato mengayunkan pedangnya lebih cepat. Seketika tebasan pedangnya menebas dada Bravo hingga bersimbah darah. Kecepatan ayunan pedang Nagato sulit untuk diikuti. Aura hitam pekat menyebar dengan cepat. Nagato tidak dapat mengontrol kebenciannya sendiri. Sekarang Nagato hampir memasuki tahap Kutukan Kuno Dewa Kematian Tingkat Satu.


“Bagus, bagus. Ini baru masa muda! Penuh gairah!” Bravo berteriak, sambil melepaskan aura tubuhnya membuat ledakan aura.


“Tinju Awan Hitam Satu!”


Bravo melepaskan sepuluh pukulan yang cepat dan bertenaga pada Nagato. Suara bilah pedang nyaring terdengar ketika Nagato memainkannya pedangnya menahan tebasan pedang Bravo.


Nagato kembali bergerak dan menebaskan pedangnya ke arah leher Bravo tanpa keraguan. Bravo tidak dapat bereaksi, namun gerakan Nagato ditahan oleh Yami.


“Cukup sudah! Kau ikut dengan kami!” Yami menggenggam pedang Nagato dengan sangat erat. Lalu melepaskan aura mengintimidasi pada Nagato.


Tindakan Yami membuat Nagato tidak dapat mengontrol kebenciannya. Dengan satu putaran yang pasti, Nagato memainkan pedangnya dan menyerang Yami tanpa henti.


“Masih dapat bereaksi setelah kutahan?” Yami menaikan alisnya dan menahan tebasan pedang Nagato dengan pedangnya.


“Sial! Apa-apaan ini?!” Nagato membatin penuh emosional melihat tebasan pedangnya dapat ditahan oleh Yami.


Serangan dari belakang yang dilancarkan oleh Bravo tidak diantisipasi oleh Nagato. Punggung Nagato terkena pukulan Bravo dan tubuhnya tertusuk pedang Yami dari depan.


“Masa muda tidak boleh membiarkan celah terbuka! Seperti ini baru gairah muda!” Bravo menjilat darah Nagato. Sedangkan Yami menusuk pedangnya lebih ke dalam dari sebelumnya.


Nagato tersenyum lebar ketika merasakan dadanya tertusuk pedang Yami. Rasa sakit mulai menyebar, Nagato langsung mundur ke belakang dengan cepat karena tidak ingin mati konyol di tangan orang yang tidak dia kenal.


“Tidak ada rasa takut sedikitpun. Sedikit lagi aku membunuhmu, dan kau benar-benar akan mati..” Yami mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya kembali.


Tepat setelah Yami menyarungkan pedangnya. Nagato bergerak dengan sangat cepat, tebasan pedangnya mengincar perut Yami.


“Bocah ini?!” Semua anggota Organisasi Laba-Laba Malam berdiri. Yami menarik pedangnya kembali dan mulai serius. Benturan pedang membuat hembusan angin yang kencang.

__ADS_1


Api membara disekitar pedang Nagato. Tebasan demi tebasan dengan cepat mengarah pada Yami. Tebasannya bervariasi dan membuat anggota Organisasi Laba-Laba Malam yang lain mengamati terlebih dahulu.


“Tinju Awan Gelap!”


Bravo hendak menyerang Nagato dari belakang lagi. Namun kali ini Nagato dapat mengantisipasinya dengan memutar tubuhnya dan menebas dada Bravo sangat dalam. Mulut Bravo memuntahkan darah segar dalam jumlah yang sangat banyak.


“Gairah muda? Pria berisik! Jangan menggangguku membunuh orang ini!” Nagato menatap Bravo yang mati terkapar di tanah. Dalam sekejap Nagato telah membuat Yami dan yang lainnya mengeluarkan nafsu membunuh yang teramat besar.


“Bunuh anak ini!”


“Tunggu dulu—” Belum selesai Yami berkata. Dua orang terpental menabrak Saw dan White. Kedua orang itu tak lain adalah Shin dan Take yang terkena serangan dari anggota Phyton.


“Rasakan ini! Dan matilah dengan tenang di akhirat!” Lewis hendak menusuk Shin dengan tangannya, namun pusaran angin yang dilepaskan Hayabusa membuat anggota Phyton dan anggota Organisasi Laba-Laba Malam menjaga jarak.


“Merepotkan. Bagaimana bisa kalian lengah seperti itu!” Hayabusa berdiri di samping Nagato dan mengamati keadaan yang baru saja terjadi.


“Fuyumi Nagato? Kau selalu saja bertemu denganku. Pergilah, aku akan menahan mereka disini.” Hayabusa melepaskan aura tubuhnya ke arah Yami beserta anggota Organisasi Laba-Laba Malam dan anggota Phyton yang menghadangnya.


“Phyton? Menarik, tidak kusangka aku akan melihat kalian...” Yami menatap Lewis beserta anggota Phyton yang sedang berdiri sambil menatap Hayabusa.


“Organisasi Laba-Laba Malam,” sahut Lewis.


“Itu dia. Laba-laba malam...” Scale tertawa dan tersenyum lebar.


Hayabusa melihat kesempatan untuk bergabung bersama prajurit militer Kekaisaran Kai sehingga dia mengayunkan kedua pedangnya.


Putaran tubuhnya menciptakan pusaran angin puyuh yang besar. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Hayabusa, Shin, Take dan Mujin untuk berlari menuju luar kota. Namun Nagato tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Justru Nagato menahan pusaran angin puyuh itu dengan pedangnya.


“Fuyumi Nagato, lari!” Hayabusa berteriak sebelum berhenti.


“Aku tidak akan lari!” Nagato dengan napas yang terengah-rengah tetap berdiri menatap seluruh anggota Phyton dan anggota Organisasi Laba-Laba Malam yang merasa diremehkan.


“Cih, aku tidak akan lari? Pemikiran keras kepala seperti itu mengingatkanku pada seseorang!” Hayabusa mendecakkan lidahnya dan kembali menghampiri Nagato.

__ADS_1


“Setidaknya aku bisa mati disini membunuh pasukan Orochi ini. Satu anggota Phyton anggap saja lima ratus prajurit keroco dari Rakuza...” Take berjalan mengikuti Hayabusa sambil tersenyum tipis.


“Aku hanya berharap Kurose dan Ohta bisa membuat Klan Kuromachi menuju ke arah yang lebih baik...” Ujar Shin sambil menyentuhkan pedangnya di tanah.


Nagato tidak peduli dengan kehadiran Hayabusa dan yang lainnya. Kali dia kembali melancarkan serangannya pada Yami. Ketiga pihak saling bertarung.


Nagato melepaskan auranya lebih besar hingga membuat semua orang disekitarnya hampir terduduk lemas. Detak jantungnya berpacu dengan cepat. Dalam satu kali tebasan pedangnya yang berhasil melukai Yami. Mulut Nagato memuntahkan darah dalam jumlah banyak.


“Kenapa disaat seperti ini?” Nagato membatin karena rasa sakit mulai menjalar disekitar dadanya. Terutama bagian dada kirinya.


Bersamaan dengan Nagato yang ambruk ke tanah. Pasukan militer Kekaisaran Rakuza dan pasukan militer Kekaisaran Kai bertarung memasuki kota. Terlihat di sana ada Hawk, Tsumasaki dan Budou yang bertarung melawan petinggi Spider.


“Sial! Apa yang bocah ini lakukan?!” Blue, anggota Phyton, berteriak.


“Kenapa mereka juga ada disini?” Yami berdiri dan melihat seluruh petinggi Spider datang dan terlibat pertarungan melawan prajurit militer Kekaisaran Kai.


“Sepertinya di luar terjadi sesuatu. Langkah kaki ini...” White menanggapi perkataan Yami sambil melihat debu pertempuran di gerbang kota.


“Apa pemimpin bodoh itu mengirimkan pasukan dari Kekaisaran Kinai kesini?” Yami menatap White dan bertanya.


“Menurutuku pemimpin bodoh itu mengirim pasukan kesini. Yami, kau tahu sendiri bagaimana penasihat agung gila itu. Aku yakin delapan orang itu juga ada disini...” White menjawab, sementara Yami tidak bertanya lebih jauh lagi.


Situasi semakin runyam ketika Yami mengetahui Organisasi Delapan Jari juga datang ke Kekaisaran Kai. Tiga organisasi yang berada dalam bayang-bayang Kekaisaran Kinai telah berada di Ibukota Daifuzen.


Di sisi lain. Hayabusa membawa tubuh Nagato dan membawanya ke tempat Hana berada.


“Kalau begini kita bisa mati dan rata bersama bangunan-bangunan ini...” Hayabusa justru tertawa lirih karena tidak menyangka Kekaisaran Kinai juga mengirim pasukannya yang jumlahnya lebih banyak dari Kekaisaran Rakuza.


“Yang paling aku takutkan ketika tiga Kekaisaran saling membunuh seperti ini. Orang asing yang berada di Azbec datang dan membunuh semuanya. Kuharap itu tidak terjadi...” Hayabusa menambahkan dan menaruh tubuh Nagato di dekat salah satu tenaga medis yang merupakan seorang perempuan.


“Perban dada anak ini. Dia kehilangan banyak darah.” Hayabusa langsung pergi setelah mengantar Nagato ke tempat Hana.


“Nagato?” Hana yang baru saja bertempur terkejut melihat Nagato terkapar.

__ADS_1


Dengan cepat Hana memeriksa golongan darah Nagato. Pertempuran di luar kota sudah tidak dapat ditahan karena di luar hanya menjadi wilayah pertarungan Yamata No Orochi melawan Ushi Oni.


“Hanabi!” Hana berteriak memanggil Hanabi setelah memeriksa golongan darah Nagato.


__ADS_2