Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 43 - Kota Mikawa


__ADS_3

"Kakek Hyogoro, jika berkenan kalian bisa menginap dirumahku?" teriak Shugo yang sedang duduk dibelakang.


Kakek Hyogoro tidak menjawab pertanyaan Shugo karena dirinya sedang fokus mengendarai kereta kuda sehingga Kakek Hyogoro tidak mendengarnya.


Azai yang sedang duduk disamping kusir kuda tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat Kakek Hyogoro.


"Kakek, ketika sampai di kota, apa kita akan menginap di rumah Tuan Shugo atau langsung melanjutkan perjalanan menuju kediaman kakek?" tanya Azai yang sedang duduk disamping Kakek Hyogoro.


"Kita menginap lebih dahulu karena kita harus memperhatikan kondisi Kuina maupun Nagato." jawab Kakek Hyogoro singkat.


"Baiklah, itu akan jadi sebuah kehormatan bagiku." sahut Shugo ketika mendengar perkataan Kakek Hyogoro.


"Kita sudah dekat." gumam Shugo sambil memejamkan matanya.


"Litha, kita sudah sampai!" Chiaki berdiri dari tempat duduknya.


"Berisik!" batin Nagato sambil mencoba melihat Kota Mikawa.


Ketika kereta rombongan Shugo mendekati gerbang kota, puluhan pendekar dari Klan Kitakaze langsung menyambutnya.


Berbeda dengan yang terjadi di Kota Yasai, para penjaga gerbang kota dan pendekar dari Klan Kitalaze yang menjaga gerbang kota Mikawa langsung mempersilahkan mereka memasuki kota bahkan sampai menyambut kedatangan Shugo dan Keluarganya.


"Kakek, mereka melambaikan tangan ke arah kita?" Azai sebenarnya malu melihat banyak orang yang menyambut kedatangan rombongan kereta kuda mereka.


"Mereka menyambut Tuan Shugo, bagaimanapun orang yang bersama kita adalah seorang bangsawan besar!" jawab Kakek Hyogoro dan terlihat tidak peduli dengan orang yang menyambut mereka.


Kemudian mereka perlahan memasuki Kota Mikawa, bangunan di kota ini terlihat megah dengan beberapa bangunan yang menjulang tinggi, terlihat kota ini memiliki banyak penginapan dan beberapa dari penduduknya bahkan memiliki rumah bertingkat.


Kota Mikawa termasuk kota besar di Provinsi Utara maupun Kekaisaran Kai, kota ini terlihat hidup karena memiliki banyak penduduk bahkan kota ini menyediakan banyak penginapan asrama untuk para calon pendekar yang ingin mendaftar menjadi pendekar Klan Kitakaze.


Kereta kuda terus berjalan menuju kediaman Shugo, mereka terus memasuki tengah kota, dan disana terlihat taman kota yang cukup luas bahkan ada air mancurnya.

__ADS_1


Tak jauh dari taman kota, kediaman Bangsawan Kita terlihat dengan rumah yang besar bahkan terlihat seperti villa yang mewah dan megah.


Ketika mereka hendak memasuki kediaman Bangsawan Kita, kereta kuda rombongan Shugo harus melewati gerbang yang mengelilingi wilayah kediamannya bahkan ada penjaga dan beberapa pendekar yang menjaganya.


Rombongan kereta kuda Reto dan Miake, berbeda arah dengan yang dituju mereka, karena kediaman Klan Kitakaze berada dipinggiran Kota Mikawa, karena wilayah pinggiran kota sangat cocok untuk latihan para murid pendekar dari Klan Kitakaze.


Setelah sampai didepan rumah yang megah, Nagato dan yang lainnya keluar dari kereta kuda satu per satu, Chiaki dan Chaika tersenyum penuh kebahagiaan karena kedua gadis kecil itu berhasil sampai dirumah mereka dengan selamat.


Nagato yang melihat rumah mewah milik Shugo hanya terdiam sambil berpikir sejenak, setelah itu dia menghampiri Kakek Hyogoro yang turun dari kereta kuda.


"Kakek Hyo?" sapa Nagato yang sedang melihat Kakek Hyogoro melemaskan badannya.


"Ada apa, Nagato?" jawab Kakek Hyogoro yang masih terus melemaskan badannya.


"Rumah kakek di hutan itu apa juga seperti ini?" Nagato menunjuk rumah mewah dihadapannya itu.


Kakek Hyogoro tertawa sambil menepuk pundak Nagato pelan.


"Hahaha, Nagato kamu sudah berani mengeledek kakek rupanya?!" Kakek Hyogoro tertawa pelan sambil berjalan mendekati Shugo.


Setelah itu Chiaki dan Chaika mengajak Litha dan Nagato masuk kedalam rumahnya.


"Ayo Litha, Nagato!" teriak Chiaki yang berlari didepan mereka.


"M-M-Maafkan kakakku ya." Chaika memegang tangan Litha karena malu melihat tingkah kakaknya sendiri.


"Hehe ... tidak apa aku sudah terbiasa dengan tingkah Chiaki." Litha tersenyum sambil memikirkan perbedaan yang terpaut jauh antara Chiaki dan Chaika itu.


Chaika ketika malu selalu memegang tangan orang yang bagi dirinya sudah merasa dekat dengannya dan yang hanya dirinya kenal.


Nagato hanya tersenyum tipis, kemudian Haru berjalan disampingnya sambil menyapa Nagato.

__ADS_1


Para pelayan yang bekerja di kediaman Bangsawan Kita menyambut kedatangan mereka kemudian membuka pintu dan mempersilahkan Nagato dan yang lainnya untuk masuk kedalam rumah.


Nagato menjaga sikapnya karena baru pertama kali bagi dirinya berkunjung ke kediaman seorang bangsawan.


Para pelayan perempuan menatap Nagato sambil tersenyum kearahnya.


"Tante Haru?" sapa Nagato pada Haru yang berjalan disampingnya.


"Apa?" balas Haru sambil tersenyum hangat pada pemuda itu.


Haru melihat Nagato yang terlihat sulit untuk berjalan karena kaki kirinya yang masih dalam proses rehabilitasi karena mengalami patah tulang.


Karena merasa mengetahui apa yang ingin dikatakan oleh Nagato, Haru menuntun Nagato berjalan ke kamar yang kosong dirumahnya.


Nagato sedikit malu karena Haru memperlakukannya seperti anak kecil, namun entah mengapa sebagian dirinya juga merasa senang.


Litha juga mengikuti Nagato dari belakang karena gadis kecil itu khawatir dengan keadaan Nagato.


Setelah sampai di sebuah kamar yang luas, Haru menyuruh Nagato agar beristirahat terlebih dahulu sebelum makan malam karena melihat pemuda itu terlihat seperti menahan rasa letih berjalan dengan sebuah tongkat ditangan kanannya, Nagato mengikuti saran dari Haru dan merebahkan tubuhnya dikasur yang empuk setelah itu dirinya mengucapkan terimakasih pada Haru.


"Aku akan mengisi melemaskan tubuhku terlebih dahulu." batin Nagato sambil memejamkan matanya secara perlahan.


"Litha, nanti malam temani aku ke kediaman Klan Kitakaze, aku ingin melihat mereka latihan?" ucap Nagato yang melihat Litha duduk di tempat tidurnya.


"Iya, kamu istirahat dulu." Litha menatap Nagato sambil menyentuh kaki kiri pemuda itu.


Sementara itu di kediaman Klan Kitakaze, Reto sedang dimarahi oleh Tetua Klan Kitakaze karena membiarkan pendekar muda mati begitu saja.


Reto hanya terdiam dan siap bertanggung jawab atas semua yang telah dia lakukan, dan dirinnya sudah menguburkan para pendekar yang gugur di Kota Yasai bahkan Reto siap membantu keluarga korban.


Pertemuan antara Nagato dan keempat jenius dari Klan Kitakaze ada di chapter berikutnya. Terimakasih sudah membaca dan terus mengikuti cerita Kagutsuchi Nagato sampai sejauh ini.

__ADS_1


__ADS_2