Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 167 - Pergerakan Organisasi Disaster


__ADS_3

Pertandingan babak penyisihan Turnamen Harimau Kai terus berlalu, sambil menunggu giliran untuk bertanding, Nagato mengamati pertandingan Takao dengan pemuda dari Kuil Matahari Baru. Pertandingan itu berjalan cukup menarik, tidak butuh waktu lama bagi Takao untuk memenangkan pertandingan tersebut.


Sehabis pertandingan antara Takao melawan pemuda dari Kuil Matahari Baru. Turnamen Harimau Kai kembali menyajikan pertandingan yang menarik lainnya. Kitakaze Kenji dari Klan Kitakaze akan bertarung melawan Muromachi Ryouta dari Klan Muromachi.


Nagato mendengar penjelasan dari Emi tentang babak penyisihan yang akan berjalan lama. Kemungkinan Nagato dan yang lainnya akan bertarung dua kali lagi untuk menembus babak 32 besar. Banyak pelajaran yang dia ambil dari pertandingan di Turnamen Harimau Kai. Kedua matanya yang tajam itu sangat mirip dengan mata mendiang ibunya. Mata yang dapat melihat segalanya dengan jeli, konon mata milik Sarah adalah salah satu dari tujuh kekuatan surgawi sama seperti api abadi dari Klan Kagutsuchi.


Kekuatan Pandu menurun padanya, sementara kekuatan Sarah juga menurun padanya. Nagato yang merupakan seorang pendekar pedang tidak menyadari jika kedua matanya memiliki penglihatan berbeda dari manusia lainnya.


Nagato melihat jelas teknik yang digunakan pendekar muda yang sedang bertanding. Apa yang dia lihat seperti disalurkan pada otaknya, semua itu membuat Nagato mengingat dengan jelas gerakan yang dilakukan seseorang dari awal sampai akhir. Semua teknik yang dilihat Nagato akan dia salin menjadi tekniknya sendiri.


Di masa lalu, Sarah selalu menyalin jurus sihir dari penyihir lain hanya dengan melihatnya saja. Sedangkan di masa sekarang, Nagato menggunakan kekuatan matanya untuk menyalin teknik pendekar pedang menjadi sebuah teknik mematikan yang akan menjadi senjata utamanya.


Nagato menatap Kenji dengan tenang, permainan pedang Kenji membuat Ryouta tersudutkan. Sebuah angin selalu berhembus dengan kencangnya setiap Kenji mengayunkan pedangnya.


Sembari duduk di bangku penonton tempat pendekar dari Klan Fuyumi duduk. Nagato menatap tajam permainan pedang Kenji yang membuatnya sedikit tertarik untuk mencobanya dalam permainan pedangnya.


Suara isakan tangis dari Hisui terdengar, Nagato adalah pemuda yang masih dalam proses pertumbuhan, karakternya belum terbentuk sepenuhnya. Selalu bicara soal dendam, tetapi dia terkadang lupa akan dendamnya ketika bersama Iris, Litha dan yang lainnya. Tawa, cinta, kebahagiaan dan persahabatan itulah yang mengisi lubang hitam yang menganga di relung hatinya.


Sosok Sarah selalu mengajarkan Nagato akan indahnya cinta. Melihat gadis bermata sayu yang menangis karena perkataannya, tentu hati Nagato merasa bersalah. Melihat air mata menetes dari mata sayu Hisui membuat Nagato tidak bisa membiarkannya, tetapi tangan Nagato terlalu kotor untuk menyentuh tubuh bersih, wajah polos Hisui.


Hisui bagi Nagato adalah sosok perempuan yang hidup terlalu sempurna. Tumbuh merasakan kehangatan keluarga, hidup dalam kedamaian, di kelilingi harta yang berlimpah dan mempunyai sebuah keluarga yang masih utuh. Bagi Nagato sampai kapanpun, Hisui tidak akan mengerti perasaannya sama sekali.


Dalam hati Nagato. Sosok perempuan yang telah menutup lubang hatinya adalah Iris dan Litha. Entah mengapa, Nagato tidak ingin melihat kedua gadis itu dekat dengan pemuda yang lain selain dirinya. Ia masih terlalu dini untuk memahami makna cinta. Satu yang dia tahu, dia ingin melihat di antara kedua gadis itu, siapa yang akan tetap mencintainya sampai akhir.


Iris adalah gadis yang dijodohkan dengannya, Nagato merasa sangat bahagia setelah mendengar langsung perkataan yang keluar dari mulut Iris bahwa gadis cantik itu mencintai dirinya. Sementara itu sosok Litha mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya. Mimpi dan kebahagiaan diajarkan oleh gadis yang selalu tersenyum kepadanya itu. Senyum malu-malu, berbicara tentang sebuah impian, selalu Litha bicarakan dengan Nagato.


Andai kebenciannya tidak terlalu besar, Nagato ingin bisa tersenyum lepas. Hanya saja mengingat orang yang telah menghancurkan kehidupannya masih hidup dengan bebasnya, dia tidak bisa membiarkan semua itu berlalu begitu saja. Rasa sakit, kepedihan yang tak berujung, dendam dan sebuah kemarahan yang selama ini dia pendam dalam-dalam. Semua itu membuat noda hitam di hati Nagato semakin membesar, menganga dan kelak akan membuatnya menjadi pendendam yang sesungguhnya.


Dalam pandangan matanya yang masih terarah pada pertandingan di lapangan Arena Lingkaran Harimau, pikiran Nagato masih mengingat kehidupan Asha yang terlalu menyakitkan baginya, entah mengapa Nagato tidak ingin percaya Asha telah tiada. Seorang pemimpi tinggi, meninggal sebelum mengejar impiannya dan mengetahui arti dari sebuah kebebasan. Mengingat itu, hati Nagato terasa teriris.


Tujuan hidup Asha sangat jelas, dia ingin menjadi pahlawan. Sedangkan Nagato hanya ingin membalaskan dendamnya saja. Menurut Nagato orang yang lebih pantas mati adalah dirinya sendiri. Tangisan, perkataan dan teriakan Asha masih Nagato ingat dengan jelas. Ingin rasanya dia melupakan segalanya dan melanjutkan hidup tanpa beban, tetapi masa lalu yang tak termaafkan terus menghantuinya.


Perlahan mata Nagato memejam. Suara gemuruh penonton, benturan pedang antara Kenji dengan pedang milik Ryouta terdengar jelas di telinganya. Suara isakan tangis gadis bermata sayu yang menyukainya juga terdengar, perlahan mata Nagato membuka kembali memandang Kenji yang sedang memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran angin di bawah sana.


Permainan pedang Kenji lebih unggul dari Ryouta. Melihat sorot mata Kenji yang terlihat berwarna, Nagato bisa mengetahui jika dia tidak bisa melihat apa yang sedang dilihat oleh Kenji. Dunia yang dia pandang saat ini, setengah terlihat terang, tetapi setengah yang lainnya terlihat gelap.


Nagato mengamati pergerakan langkah kaki Kenji yang selalu melangkahkan kakinya menggunakan langkah tipuan.


Berkali-kali Kenji terus membuat Ryouta terdesak. Tidak berapa lama keduanya melepaskan aura tubuhnya untuk saling mengintimidasi satu sama lain.


Benturan aura terlihat jelas di udara ketika kita memusatkan aura pada mata. Aura hijau muda milik Kenji mampu meredam aura berwarna kuning milik Ryouta.


Debu-debu berterbangan ketika Kenji menebaskan pedangnya pada Ryouta. Keduanya bertarung sengit, tidak ada yang ingin merasakan kekalahan. Demi menangkis tebasan pedang Kenji yang membuatnya terdesak, Ryouta melapisi bilah pedangnya dengan aura tubuhnya yang berwarna kuning beserta tenaga dalamnya.


Ternyata tindakannya itu mampu membuatnya dalam posisi yang menguntungkan. Raut wajah Kenji berubah menjadi sangat serius, tebasan demi tebasan yang dilesatkan Ryouta mampu membuat Kenji mundur beberapa langkah ke belakang.


Untuk membalas serangan Ryouta. Tanpa berpikir panjang, Kenji melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hijau muda ke arah Ryouta dalam jumlah besar. Aura intimidasi yang mampu membuat tubuh Ryouta sulit berjalan itu sedikit membantu Kenji untuk melancarkan serangan balik.


"Jurus Angin : Hembusan Pedang Tak Kasat Mata."


Dengan lihainya, Kenji melangkahkan kakinya sambil melakukan gerakan tipuan. Kenji mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat, tiga tebasan yang dia lesatkan, hanya satu yang mampu ditahan oleh Ryouta.

__ADS_1


Tubuh Ryouta terkena dua tebasan pedang Kenji. Jubah berwarna ungu yang ia kenakan robek, darah segar juga keluar dari sekujur tubuhnya. Tubuhnya kembali merasakan sayatan ketika Kenji terus menyerangnya, dengan susah payah Ryouta berusaha membalas serangan Kenji.


Aura tubuhnya yang berwarna kuning keluar dalam jumlah besar, demi melindungi badannya dari tusukan pedang Kenji yang terus melancarkan serangan padanya, Ryouta memusatkan aura tubuhnya yang berwarna kuning untuk membungkus tubuhnya.


Secara perlahan serangan bertubi-tubi dari Kenji mampu dia imbangi. Sekitar lima menit, keduanya bertukar serangan. Belum terlihat siapa yang akan menjadi pemenangnya.


"Tebasan Cekungan Kuning."


Ryouta memberikan serangan telak pada Kenji. Tubuh Kenji terpental jauh ke belakang, darah segar keluar dari tangannya yang tergores tebasan pedang Ryouta.


Sedetik saja dia lengah mungkin pertandingan pertamanya akan menjadi kekalahannya. Kenji memejamkan matanya mengingat masa kecilnya bersama Yuri. Mungkin Yuri lebih tua dari dirinya, tetapi cinta tidak memandang umur. Untuk mendapatkan hati Yuri. Tidak butuh sedetik untuk Kenji membulatkan tekadnya.


"Bagaimanapun juga, tahun ini ... aku ... aku harus masuk babak 16 besar." Kenji bangkit berdiri dan menatap tajam Ryouta sebelum dia melanjutkan perkataannya, "Aku ingin Yuri menerima perasaanku. Aku ingin Yuri menatapku. Aku ingin Yuri menaruh perhatiannya padaku." Dengan tekad cinta yang membara, Kenji bergerak dengan cepat melesatkan serangan balasan pada Ryouta.


"Kenapa dia tiba-tiba menjadi semangat seperti ini. Sialan." Ryouta kembali terdesak melihat mata Kenji yang terlihat menyala-nyala. Tebasan demi tebasan yang dilesatkan Kenji membuat Ryouta mundur beberapa langkah ke belakang.


Setelah membuat Ryouta terdesak. Kenji juga mundur beberapa langkah ke belakang, namun Kenji bukan hanya mundur tanpa alasan. Ternyata Kenji mundur untuk melepaskan serangan dadakan. Dadanya mengembung, selang tiga detik kemudian, mulut Kenji menghembuskan bola-bola angin yang tak kasat mata ke arah tubuh Ryouta.


"Apa yang dia lakukan?" Ryouta menatap Kenji keheranan. Karena belum mengetahui maksud dari Kenji. Dengan santainya, Ryouta tetap bersikap tenang. Bola-bola angin dari depan langsung mengenai perutnya dengan telak. Ryouta memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Ternyata ini yang dia incar!" Mata Ryouta melebar melihat Kenji sudah bersiap menyerang dirinya kembali. Ryouta mengolah pernapasan sambil mencoba untuk menahan rasa sakit di perutnya. Sebuah tebasan berbentuk sabit dari Kenji berkali-kali melesat ke arah Ryouta.


"Telah sedetik saja. Aku akan kalah." Ryouta menangkis tebasan jarak jauh Kenji yang berbentuk sabit. Sambil memulihkan tenaganya, Ryouta mengamati pergerakan Kenji.


Namun Kenji tidak membiarkan Ryouta memulihkan tenaganya. Kini keduanya kembali bertarung jarak dekat. Tebasan pedang Kenji mampu menciptakan angin yang membuat Ryouta kesulitan membalas serangan Kenji.


"Terima teknik pedang yang kuciptakan sendiri." Kenji bergumam pelan sambil tersenyum lebar. Bilah pedangnya bercahaya berwarna hijau muda. Gerakannya semakin teratur membuat Ryouta masuk ke dalam genggaman tangan Kenji.


"Sial! Dia akan melakukan sesuatu. Aku terlalu waspada pada teknik pedangnya." Ryouta membatin kesal karena melihat Kenji menguasai jalannya pertandingan.


"Angin Sampaikan Pesanku Padanya." Kenji dengan penuh percaya diri meneriakkan nama teknik pedangnya yang baru. Sebuah jurus yang dia ciptakan sendiri. Sebuah jurus yang dia ciptakan dengan sepenuh hati.


"Apa?" Ryouta melongo mendengar nama jurus pedang Kenji.


Sebuah pusaran angin menyeret tubuh Ryouta ke belakang. Setelah tubuh Ryouta menabrak pohon, pusaran angin dari jurus pedang Kenji meledak. Aura hijau muda membentuk lambang hati terlihat di udara bersamaan dengan tubuh Ryouta yang terkapar karena serangan dari jurus tersebut.


Penonton memberi tepuk tangan pada Kenji. Terlihat jelas Ryouta masih syok tidak menerima kekalahannya, tetapi Mujin mengakhiri pertandingan. Dengan susah payah, Ryouta membuka matanya, tidak sampai dua menit, dia pingsan di atas tanah.


"Umm ... pemenangnya! Kitakaze Kenji dari Klan Kitakaze!" Mujin mengakhiri pertandingan dan memberi isyarat pada tim medis untuk segera mengobati Ryouta.


"Yuri. Apa kau melihatnya?" Kenji tersenyum melihat Yuri yang sedang melihatnya bertarung dari atas tribun.


Tidak berapa lama, gadis manis itu berbicara dengan Chiaki dan Chaika. Pandangan matanya menatap Kenji dengan tatapan biasa saja.


Kenji menggertakkan giginya dan berjalan menuju bangku penonton tempat Klan Kitakaze duduk dengan kepala yang menunduk.


Kemenangan rasa kekalahan. Itu mungkin yang dirasakan oleh Kenji sekarang.


***


Bersamaan dengan diadakannya Turnamen Harimau Kai. Banyak orang dengan tujuan yang berbeda-beda datang ke Kekaisaran Kai untuk menjalankan rencana mereka. Sekte Pemuja Iblis, Aliansi Kekaisaran Rakuza dan sekarang Organisasi Disaster juga mengirim tiga anggotanya ke Kekaisaran Kai untuk menyusup. Dari tiga nama itu, semuanya memiliki rencana masing-masing.

__ADS_1


Kerajaan Sihir Azbec sekarang berada di bawah tangan Black Madia dan Magma. Sementara sosok manusia dengan kekuatan Air Suci terkuat di dunia sedang berada di Negeri Saba, Benua Kuru.


"Kakak. Ayah menyuruh kita mencari kekuatan penyembuhan. Aku dengar anak Hizen dapat menyembuhkan segala penyakit jika kita menyetubuhinya." Sosok pria dengan wajah yang seram duduk di singgasana. Di depannya ada tiga anggota dari Organisasi Disaster yang menjadi bawahnnya dan membantunya untuk menjalankan bisnis mereka di Kerajaan Sihir Azbec.


"Jadi kau menyuruhku untuk menculik paksa anak si Hizen." Pria berambut merah yang sedang merokok itu menatap Magma dengan wajahnya yang tenang.


"Benar. Kak. Dua rekan bisnis kita, Blood Eater dan Viper Familia tidak bisa memberikan Air Suci yang memiliki kekuatan penyembuhan pada kita." Magma mengepalkan tangannya dan melelahkan singgasananya yang terbuat dari besi.


"Kedua organisasi itu sekarang takut pada pengusa Benua Es itu!" Magma berteriak geram.


"Sudah. Sudah. Keadaan dunia memang semakin kacau, terusan fajar sudah bisa dilalui kapal-kapal dari luar benua ini." Pria berambut merah itu kembali menghisap rokoknya sebelum berkata, "Aku penasaran dengan orang yang akan menggantikan Organisasi Shin Jidai sebagai salah satu Lima Penguasa."


Magma menatap kakak keduanya yang sedang merokok. Tidak seperti dirinya, sosok kakaknya itu berhati lembut sama seperti ibunya yang telah mati dibunuh oleh ayahnya sendiri yang tak lain adalah Kazan.


"Hiryuu, kah? Mungkin ayah akan marah karena tidak ada rekan bersaingnya lagi selain Bisma dan Hiryuu." Magma menanggapi perkataan kakaknya dengan tawanya.


"Kalau begitu, aku pergi, Magma. Sayang sekali aku tidak bisa melihat Festival Sihir..." Pria berambut merah itu mengeluh sambil menghisap rokoknya setelah berbicara.


"Aku benci melihat pertarungan yang sia-sia. Rakuza patut diwaspadai. Tetapi informasi dari Gore dan gadis pengkhianat itu sangat akurat." Magma menatap punggung kakaknya yang berhenti berjalan.


"Magma. Apa kau juga menyuruhku untuk memburu keturunan terakhir dari Kagutsuchi." Pria berambut merah menatap adiknya yang sedang duduk dengan gagahnya di singgasana.


"Ya. Prinsip Disaster adalah menjadi pembunuh yang membunuh seseorang bersama dengan seluruh keluarga, orang terdekatnya. Kita harus selalu membunuh dengan cara seperti itu, agar tidak menimbulkan dendam yang merepotkan." Magma memberi perintah pada kakaknya untuk membunuh Kagutsuchi Nagato.


Magma memegang sebuah tablet tipis. Tablet tersebut adalah alat komunikasi yang ada di dunia ini. Kemudian dia melemparnya kepada kakaknya.


"Kakak. Hubungi aku dengan ini." Magma melempar sebuah tablet untuk saling berkomunikasi.


***


Kembali ke Turnamen Harimau Kai. Iris, Litha, Hika dan Tika sudah melewati pertandingan kedua mereka. Yang tersisa hanyalah Nagato.


"Uhuk ... ummm ... pertandingan selanjutnya antara Fuyumi Nagato melawan Kuromachi Kujo!" Mujin berteriak lantang. Suaranya menggema di seluruh pelosok Arena Lingkaran Harimau.


Penonton bergemuruh mendengar nama Nagato yang akan bertanding. Pertandingan pertama Nagato sudah memikat perhatian mereka semua.


"Kuromachi, kah? Menarik." Nagato bangkit dan langsung bergegas menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.


___


Pena Bulu Merah Fun


Percakapan simple habis lebaran ala Nagato Familia wkwkwk.


Emi : Hei, To. Di Pulai Samui masih ada nastar sama putri salju. Main ya ke Asrama Salju Rembulan.


Nagato : Iya, Mi. Nanti aku ngambil putri saljunya aja sekalian sama anaknya wkwkwkwkwk.


Garing... KRIK ... KRIK ... KRIK.


Efek nulis ulang gini nih. Ati rada mangkel, tapi udah seneng nulis, gimana lagi.

__ADS_1


___


IG : pena_bulu_merah


__ADS_2