Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 165 - Aku ingin Melawanmu, Nagato!


__ADS_3

Nagato melirik Hisui yang sangat menarik perhatian semua orang duduk mendekatinya, semua tatapan tajam dari pendekar muda laki-laki membuat Nagato terganggu.


"Bocah manja!" Nagato menatap tajam Hisui dari balik topeng rubah putihnya.


"A-Apa kakak-" Hisui mengigit lidahnya sendiri, kegugupannya menguasai dirinya. Wajahnya merah padam, matanya yang sayu menatap Nagato penuh makna.


"Aku tidak ingin menarik perhatian, semua orang menatapku penuh kebencian. Dan kau adalah penyebabnya." Nagato meyentuh kening Hisui dan mendorong pelan.


Hisui merapatkan giginya, pemuda yang sedang menyuruhnya pergi selalu bersikap alami padanya. Tentu Hisui sangat menyukai hal itu, bagi Hisui sosok Nagato adalah pemuda yang membuatnya tertantang untuk mendekatinya.


"Tidak sopan! Aku adalah tuan putri Hisui! Kamu adalah orang pertama yang tidak sopan terhadapku!" Hisui memukul Nagato walau pukulannya sama sekali tidak terasa bagi Nagato.


"Aku tidak peduli, lagipula kau lebih muda dariku, bocah manja," ucap Nagato tersenyum sinis sebelum melanjutkan perkataannya, "Di mataku kau hanya seorang bocah manja yang ingin mencari perhatian dariku, benar tidak perkataanku?" Hisui terdiam dan memalingkan wajahnya ke samping.


Hisui bergidik melihat Iris dan Litha yang menatap dirinya sangat tajam, reflek Hisui memeluk Nagato karena ketakutannya melihat tatapan dingin Iris.


"Kakak tampan! Kakak sepupuku sangat menakutkan!" Hisui memegang tangan Nagato dan bersandar di dada pemuda tersebut.


"Kakak sepupu? Maksudmu Iris?" Nagato tetap cuek dan mendorong tubuh Hisui pelan, hanya saja cengkeraman tangan Hisui yang memeluk tangannya sangat erat.


"Bocah manja ini!" Nagato membatin dan berdecak kesal melihat sikap Hisui.


Iris yang melihat Nagato sedang bersama Hisui langsung memalingkan wajahnya tidak peduli, sedangkan Litha tertawa pelan karena dirinya menganggap Nagato dan Hisui seperti kakak beradik.


Shirayuki tersenyum tipis melihat Nagato yang tidak bersikap sopan pada Hisui. Sebaliknya Hisui malah semakin senang ketika Nagato memperlakukan dirinya dengan tidak sopan.


"Sampai kapan kau seperti itu?" Nagato dengan malas menatap Hisui yang masih memeluk tangannya.


"Sampai babak penyisihan selesai," jawab Hisui dengan entengnya sambil mengedipkan matanya.


"Kau!" Nagato semakin kesal melihat tingkah Hisui.


"Kakak tampan ... antara aku, Kak Iris dan kakak manis yang bernama Litha..." Suara Hisui tertahan, dia mengumpulkan keberaniannya untuk menanyakan perasaan Nagato. "Di antara kami bertiga, siapa yang kakak tampan pilih?" Nagato tidak lagi menatap Hisui.


"Boleh aku bertanya padamu?" Hisui mengangguk pelan ketika Nagato bertanya padanya.


"Apa kamu menyukaiku hanya karena bagian luar diriku saja?" Hisui terdiam dan melepaskan pelukannya pada tangan Nagato.


"Hisui menyukai kakak tampan yang memperlakukan Hisui layaknya anak biasa. Bagi Hisui, kakak tampan adalah pemuda yang terlihat kuat, tetapi terkadang Hisui melihat kakak tampan terlihat sangat rapuh." Hisui menatap Nagato penuh makna. Perkataannya terdengar oleh Iris, Litha dan Shirayuki. Sementara itu Emi tertawa geli melihat tingkah cucunya sendiri itu.


"Hisui ingin membantu kakak tampan dan ingin merasakan perasaan kakak tampan..." Hisui dengan malu menundukkan kepalanya. Tangannya memainkan rambutnya sambil giginya mengigit bibir bawahnya menahan rasa malu.


"Kak Iris menatapku dari belakang..." Hisui membatin karena merasa Iris menatapnya dengan sangat dingin dari belakang.


"Hisui?" Nagato bersandar dan tertawa pelan sebelum perkataannya membuat Hisui tidak bisa berkata apa-apa.


"Iya..." Hisui menjawab perkataan Nagato dengan malu-malu.


"Tadi kau bilang ingin membantuku dan merasakan perasaanku yang sesungguhnya, bukan?" Suara Nagato terdengar begitu dingin. Nadanya meninggi, seluruh pendekar Klan Fuyumi melirik Nagato yang terlihat sangat serius berbincang dengan Hisui.


"I-Iya..." Bibir Hisui bergetar ketika merasakan aura mencekam dari Nagato.


"Kalau begitu, aku ingin kamu membunuh semua keluargamu dan seluruh pendekar yang ada di kubu barat. Setelah itu kau akan mengerti perasaanku yang sesungguhnya!" Hisui terdiam dan merinding tubuhnya, ingin rasanya dia menampar Nagato tetapi tubuhnya tidak dapat bergerak.


"Perasaanmu padaku hanyalah sebuah ilusi. Kamu tidak akan pernah tahu perasaanku sama sekali! Apa kau tahu kenapa?" Nagato terlihat begitu dingin, Hisui kaku tubuhnya karena tidak menyangka sosok pemuda yang pertama kali dia cintai sangat mengerikan baginya. Hisui hanya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan pelan untuk menjawab perkataan Nagato.


"Karena kamu tidak pernah merasakan kehilangan." Nagato mengakhiri pembicaraan dan berdiri. Tidak berapa lama dia pergi menuju sebuah ruangan kamar mandi yang ada di Arena Lingkaran Harimau untuk menenangkan dirinya.


"Lebih baik kau menjauh dariku. Perempuan sebaik dirimu tidak pantas jatuh cinta pada orang pendendam sepertiku." Nagato membatin dan melirik Hisui yang meneteskan air matanya. Gadis bermata sayu itu dipeluk Shirayuki.


"Sini. Sudah, jangan menangis," ucap Shirayuki menenangkan Hisui yang menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Iris dan Litha bergetar mendengar perkataan Nagato. Kedua gadis muda itu merasa perkataan Nagato sangat tepat.


Litha sadar jika dirinya jatuh cinta pada Nagato karena pemuda itu sama sepertinya, memiliki nasib dan rasa sakit yang sama. Nagato dan Litha sama-sama telah kehilangan segalanya, berbeda dengan Nagato yang menyembunyikan perasaan dendamnya, justru Litha ingin tetap melanjutkan hidup dengan harapan akan tercipta sebuah kedamaian di Benua Ezzo agar tidak ada orang yang merasakan rasa sakit yang sama dengan dirinya.


Ketika melakukan misi bersama Kakek Hyogoro ke suatu tempat, Nagato selalu melindungi Litha karena pemuda itu tidak ingin tangan Litha yang bersih kotor karena membunuh orang. Nagato rela mengotori tangannya demi melindungi kebaikan hati gadis cantik tersebut.


Iris ingin mengetahui masa lalu Nagato. Dia ingin bertanya pada Litha tetapi dirinya selalu tidak menemukan waktu yang tepat untuk bertanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai Naga berkata seperti itu..." Iris membatin merenungi perkataan Nagato.


Sementara itu Emi merasakan firasat buruk dari perkataan Nagato.


"Kenapa jadi seperti ini ... sejak awal aku merasa Nagato bukanlah pemuda biasa, tetapi dia menyembunyikan sesuatu yang besar," batin Emi merapatkan giginya sambil melirik Shirayuki yang sedang menenangkan Hisui.


Pendekar muda yang melihat Nagato pergi sendiri menuju kamar mandi dengan sigap langsung berniat mengeroyoknya. Suasana hati Nagato entah mengapa sangat buruk, melihat orang bahagia dan tertawa membuat Nagato seperti orang yang diasingkan.


"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa suasana hatiku sangat buruk? Bukankah aku telah menantikan kompetisi ini?" Nagato membatin dan banyak pertanyaan dalam kepalanya yang menggumpal membuatnya gelisah.


"Bagaimanapun aku harus menang demi Kakak Hyo. Hadiah dari kompetisi ini akan membantu orang-orang di wilayah Me. Kakek Hyo selalu menyisihkan uangnya untuk orang-orang yang tidak mampu." Lagi-lagi Nagato membatin mengingat perbuatan Kakek Hyogoro tetapi perasaannya sangat hancur kali ini. Dia sendiri belum mengetahuinya, yang Nagato ketahui dirinya ingin segera menyelesaikan Turnamen Harimau Kai agar bertemu dengan Kakek Hyogoro.


Suara langkah kaki puluhan pendekar muda yang mendekat membuat Nagato membasuh wajahnya, setelah itu dia memakai topeng rubah putihnya kembali. Tetapi ketika dirinya hendak keluar ruangan kamar mandi, salah satu pendekar muda mencegat Nagato.


"Hei, buruk rupa, kau sepertinya terlalu sombong karena banyak gadis yang mengelilingimu." Salah satu pendekar muda tersenyum sinis menatap Nagato. Dari jubahnya mereka terlihat berasal dari Klan Kuromachi.


"Lebih baik kita beri pelajaran pada topeng sialan ini!" Pemuda yang merupakan pendekar muda dari Klan Muromachi mengajak yang lainnya untuk mengeroyok Nagato.


Tanpa aba-aba, serangan dari berbagai arah mengincar wajah Nagato. Suasana hati Nagato bertambah buruk, salah satu dari pendekar muda dari Klan Muromachi dicekik lehernya oleh Nagato. Setelah itu dia jadikan tubuh pemuda itu sebagai tameng hidup untuk menerima pukulan teman-temannya.


"Anak ini! Beraninya dia!" Salah satu pendekar muda menjaga jarak dengan Nagato.


"Beraninya kau menyentuh temanku!" Pendekar muda dari Klan Muromachi mendelik matanya, tangannya hendak memukul Nagato.


"Teman? Jangan membuatku tertawa!" Nagato melempar tubuh pemuda yang dia cekik dan menatap tajam semua pemuda yang sedang mengelilingi.


"Bagi yang ingin melarikan diri, aku peringatkan untuk pergi sekarang juga. Kali ini aku tidak akan segan-segan," ucap Nagato dengan sinisnya.


"Apa kau berniat menggertak-" sebuah pukulan mengenai wajah pemuda yang mengejek Nagato. Pendekar muda yang lain menjaga jarak dengan Nagato tetapi dalam sekejap mereka semua terkapar di lantai.


"Jangan ganggu aku, suasana hatiku sedang sangat buruk. Sekali lagi kalian mencari masalah denganku, aku tidak akan segan-segan mencabut nyawa kalian!" Suara Nagato bagaikan dewa kematian yang mengingatkan kematian pada mereka.


Nagato berjalan meninggalkan ruangan kamar mandi, kemudian pandangan matanya terarah pada Ninjin yang sedang berdiri di lapangan Arena Lingkaran Harimau.


"Sial! Aku tidak tahan menahan nafsu membunuhku," batin Nagato ketika merasakan sesuatu dalam dirinya mulai bangkit setelah tertidur dalam jangka waktu yang cukup lama.


Tidak berapa lama suara benturan pedang antara Ninjin dan Koji membuat Nagato sedikit tenang.


"Aku ingin menyendiri," batin Nagato ketika menyandarkan tubuhnya pada tembok dan melihat pertandingan antara Ninjin melawan Koji.


Di bawah Arena Lingkaran Harimau terjadi pertarungan sengit. Ninjin mengayunkan pedangnya berkali-kali mengincar Koji.


Pertandingan berjalan seimbang, Koji dapat menangkis semua tebasan pedang Ninjin. Selang beberapa detik setelah keduanya bertukar serangan, Ninjin melangkah dengan pelan sambil melakukan gerakan pasang seni.


Ninjin bergerak secara alami dan santai, tangannya memainkan pedangnya sambil menatap tajam Koji yang melakukan hal sama seperti dirinya. Mata Ninjin menyipit ketika melihat udara di sekililing Koji berubah.


Aura berwarna ungu membungkus tubuh Koji. Pergerakan Koji sangat lambat, tetapi Ninjin bisa merasakan Koji sedang mengumpulkan tenaga dalamnya pada kedua kakinya.


"Gunakan langkah angin untuk mengimbangi kecepatannya...," batin Ninjin sambil terus mengamati pergerakan Koji yang sangat hati-hati.


Koji tersenyum tipis sebelum dirinya melesat cepat memberikan serangan beruntun pada Ninjin. Ayunan pedangnya yang cepat membuat Ninjin terdesak, ditambah dengan kedua kakinya yang dapat melangkah dengan cepat membuat Koji berada di atas angin.


Koji lagi-lagi melesat maju ke arah Ninjin dan ayunan pedangnya yang cepat membuat penonton bergemuruh. Berkali-kali Koji melakukan tebasan tipuan, pedangnya berayun dari kiri ke kanan, tetapi terkadang Koji melakukan tebasan tipuannya dengan sangat lembut, sehingga Ninjin menerima luka sayatan di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Posisi Ninjin semakin tidak menguntungkan ketika keduanya bertukar serangan dalam waktu yang cukup lama, tebasan Koji sangat dalam dan akurat. Ninjin mengolah pernapasan dan melepaskan aura tubuhnya untuk memberikan serangan balik kepada Koji.


Ninjin melompat ke belakang mengambil jarak dari Koji. Tindakan Ninjin membuat penonton biasa mencacinya, tetapi ketika aura berwarna coklat keluar dari tubuh Ninjin semuanya terdiam.


Ninjin menyarungkan pedangnya untuk menyimpan tenaganya, tindakan Ninjin tentu membuat Koji sangat marah. Dengan sengaja memancing emosi lawannya, Ninjin ingin melepaskan serangan yang dia pelajari di Klan Kitakaze.


Dada Ninjin mengembung tepat setelah Koji mendekat, mulutnya membuka mengeluarkan puluhan angin padat berbentuk bola-bola kecil.


"Hembusan Angin Tak Kasat Mata."


Mata Koji melebar karena Ninjin melakukan serangan mendakak, lebih parahnya dia baru menyadari Ninjin yang sengaja memancing emosinya.


"Teknik Pelindung Pertama : Perisai Ungu."


Aura tubuh Koji yang berwarna ungu membentuk sebuah perisai, benturan antara aura pelindung Koji dengan angin padat Ninjin membuat lapangan Arena Lingkaran Harimau berdebu. Selang beberapa menit kemudian, tubuh Koji yang terkapar di tanah menarik perhatian.


"Kenapa pendekar dari Klan Muromachi terkapar?"


"Lihat, pendekar dari Klan Kitakaze masih berdiri sama seperti sebelumnya."


Keheranan penonton mulai terjawab karena Koji tidak mampu menahan hembusan angin tak kasat mata milik Ninjin.


"Aku lengah!" Koji mengumpat sendiri sambil mencoba berdiri tegak kembali.


Koji memegang pedangnya sebagai pijakan untuk sementara, sambil mengatur napasnya yang terengah-rengah, Koji melepaskan aura tubuhnya untuk mengintimidasi Ninjin.


Melihat hal tersebut tentu Ninjin melakukan hal yang sama dengan Koji. Benturan aura berwarna coklat dan ungu terlihat jelas di udara. Benturan kedua aura terlempar ke belakang secara bersamaan.


Mujin tersenyum tipis melihat kedua pendekar muda yang bertarung sengit. Baik Ninjin maupun Koji sama-sama memulihkan tenaganya, tidak berapa lama mereka berdua kembali menebaskan pedangnya satu sama lain.


"Aku tidak boleh kalah di sini. Ada hal yang kuinginkan." Ninjin merapatkan giginya menahan tebasan pedang Koji.


Ninjin menyalurkan auranya pada bilah pedangnya, begitu juga dengan Koji. Kedua pedang mereka mengeluarkan cahaya, benturan kedua pedang yang berbenturan kembali menggema. Ninjin mundur ke belakang beberapa langkah, tangannya langsung menebaskan pedangnya dari jauh. Sebuah sabit angin dari tebasan pedang Ninjin melesat cepat ke arah Koji.


Demi membalas serangan Ninjin yang melesat cepat ke arahnya, Koji melapisi bilah pedangnya dengan aura, kemudian dia menebaskan pedangnya dari jauh.


Benturan angin dan aura ungu membuat angin berhembus di sekililing mereka berdua. Debu mulai menyebar cepat menutupi lapangan Arena Lingkaran Harimau kembali.


Ninjin tidak membiarkan hal tersebut, dengan cekatan dia menebaskan pedangnya sambil memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran angin. Debu-debu berterbangan ke atas, tepat setelah sampai di atas baru lah debu-debu tersebut menyebar seperti ledakan.


Penonton berdecak kagum melihat hal tersebut, mereka semua menatap Ninjin yang sedang berlari dengan cepat ke arah Koji.


"Hembusan Angin Dalam Sayatan."


Ninjin bergerak cepat untuk mengakhiri pertandingan, setelah dekat dengan Koji dalam satu kali gerakannya yang pasti, Ninjin berhasil melukai Koji tepat di dadanya.


"Argh!" Koji meringis kesakitan ketika merasakan sayatan di dadanya walau sama sekali tidak berdarah. Secara perlahan tubuh Koji ambruk, dia tidak menyangka dirinya akan kehabisan tenaganya terlebih dahulu.


Tepat setelah Koji terjatuh, Mujin mengangkat tangannya dan menunjuk Ninjin sebagai pemenangnya.


"Uhuk ... karena Koji telah jatuh. Pemenangnya adalah Ninjin dari Klan Kitakaze." Mujin menatap Ninjin yang menyarungkannya pedangnya pelan-pelan.


Penonton bersorak gembira melihat teknik yang digunakan Ninjin. Setelah berhasil memenangkan pertandingan, Ninjin melihat Nagato yang bersandar di tembok. Kemudian dia menghampiri pemuda yang memakai topeng rubah putih tersebut.


"Kau telah tumbuh kuat, Ninjin." Suara dingin Nagato membuat Ninjin melihat Nagato yang terlihat aneh di matanya. Perubahan aura Nagato membuat Ninjin sedikit bergidik.


"Sedang apa kau di sini, Nagato?" Ninjin melemparkan pertanyaan pada Nagato.


"Sedang menunggu giliran," jawab Nagato singkat.


"Aku tidak sabar bertanding lagi, karena aku ingin Melawanmu, Nagato!" Ninjin serius menantang Nagato.

__ADS_1


"Sampai bertemu di pertandingan, jangan kalah sebelum kita berdua bertemu." Nagato menepuk pundak Ninjin sebelum berjalan meninggalkannya.


"Aku bisa merasakan rasa haus darah yang luar biasa," gumam Ninjin menatap punggung Nagato yang menjauh dari pandangan matanya.


__ADS_2