
Di dalam Istana Labirin. Litha dan Masayu mencari jalan keluar. Mereka berdua terus memasuki ruangan demi ruangan, setelah semakin dekat dengan suara seruling. Tiba - tiba mereka berdua kembali ke tempat semula.
"Tunggu, kau orang yang memakai topeng!" ucap Masayu pada Litha.
Litha yang sedang berlari bersama Masayu berhenti. Litha menoleh ke belakang dan melihat Masayu.
"Ada apa?" tanya Litha dari balik topengnya dan menatap Masayu.
Masayu berjalan mendekati Litha. Dia menatap Litha dengan tatapan curiga.
"Kau... mmm... sepertinya aku harus bertarung denganmu." ujar Masayu memandangi topeng rubah putih yang Litha pakai dari dekat.
"Kita tidak perlu bertarung denganku. Aku rasa, kita berdua hanya perlu mencari orang yang meniup seruling." balas Litha.
Masayu kemudian mendengarkan penjelasan Litha. Setelah itu mereka berdua kembali mencari Fu.
Sementara itu di salah satu ruangan yang ada di Istana Labirin. Namida dan Gyu sedang bertarung.
Gyu memanipulasi auranya untuk membuat rantai miliknya menjadi lebih kuat. Dia juga mampu menyambung rantai miliknya yang sudah putus.
"Kedatangan anak dari Pandu dan Hyogoro, di luar dugaan kami. Tetapi aku juga tidak menyangka, orang yang kulawan adalah pemimpin dari Perguruan Gunung Menangis." batin Gyu mengamati gerakan Namida.
Namida dan Gyu saling mengamati satu sama lain, sebelum saling menyerang. Keduanya saling mengeluarkan aura intimidasi, untuk mengintimidasi lawannya.
Namida mengeluarkan tenaga dalamnya. Dia menciptakan air hujan padat dari tenaga dalamnya. Perlahan Namida juga mengeluarkan aura intimidasinya yang lebih besar pada Gyu.
Aura berwarna biru muda milik Namida berbenturan dengan aura warna berwarna hitam milik Gyu.
Gyu memutarkan rantainya dan berusaha mengikat Namida dengan rantainya. Tetapi perlawanan dari Namida di luar perkiraan Gyu.
Namida memotong rantai yang mendekat padanya, dia juga perlahan mulai semakin dekat dengan Gyu.
Namida memainkan pedangnya dan mencoba menyerang Gyu. Tetapi pertahanan rantai Gyu benar - benar kokoh.
Gyu bahkan memanipulasi rantainya menjadi seperti seekor ular yang melindungi dirinya dari serangan Namida.
__ADS_1
Namida menjaga jarak dari Gyu, perlahan Namida mulai memanipulasi air hujan yang dia ciptakan dengan tenaga dalamnya. Namida mengubah air hujan menjadi air jarum tipis padat.
"Catatan kuno yang kami jaga tidak boleh mereka ambil. Apapun yang terjadi, aku harus melindunginya." batin Namida menatap Gyu. Namida menyerang Gyu dengan air hujan berbentuk jarum padat.
Gyu memusatkan auranya pada bola matanya. Dia bisa melihat dengan jelas serangan jarum Namida. Gyu terus menghindari serangan dari Namida. Kemudian dia mencoba menyerang balik Namida.
"Rantai Kesakitan."
Gyu melempar rantainya dengan cepat dan mengendalikannya dengan aura. Rantai milik Gyu bergerak cepat ke arah Namida dan mulai melilit tubuh perempuan tersebut.
Rantai milik Gyu sama seperti seekor ular yang melilit mangsanya, perlahan rantai milik Gyu semakian kencang melilit tubuh Namida.
Namida mengerang kesakitan. Namida mencoba menggerakan tubuhnya, tetapi rantai milik Gyu semakin kencang melilit tubuhnya.
Namida mengolah pernapasan dan mengeluarkan tenaga dalamnya dalam jumlah yang besar. Dengan sekuat tenaga Namida mencoba melepaskan diri dari lilitan rantai Gyu.
Namida bisa menggerakan tubuhnya. Perlahan dia mulai mencoba untuk menggerakan tangannya yang memegang pedang. Namida menyalurkan auranya pada bilah pedangnya.
"Tangisan 500 Kata."
"Mengecewakan. Kupikir seorang pemimpin dari Perguruan Menangis adalah orang yang kuat." ucap Gyu pada Namida. Gyu berbicara dengan nada yang mengejek.
Namida menyerang rantai - rantai Gyu yang terus menghadangnya. Berkali - kali rantai milik Gyu hancur karena dipotong Namida. Tetapi setiap kali Namida berhasil memotongnya, maka rantai milik Gyu akan kembali seperti semula.
"Pernapasan Hujan." batin Namida menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya.
Namida berlari dengan cepat menyerang Gyu. Setelah Namida mengolah pernapasan dan mengeluarkan aura tubuhnya yang berwarna biru muda. Kini Namida tidak mengalami kesulitan untuk menyerang Gyu.
"Tangisan 1000 Kata."
Namida memutarkan tubuhnya, dalam putarannya itu, Namida menciptakan pusaran air hujan yang menyerang Gyu. Setelah itu Namida menebaskan pedangnya pada Gyu, dalam tebasan pedangnya yang membentuk air hujan berbentuk sabit. Tebasan Namida berhasil melukai tubuh Gyu.
Gyu meringis kesakitan ketika melihat badannya terluka. Setelah melihat Namida yang berbeda dari sebelumnya. Gyu mengambil inisiatif untuk bertarung jarak dekat melawan Namida.
Dalam pertarungan jarak dekat. Ternyata Gyu mampu membuat Namida terdesak. Karena Gyu membuat rantai - rantainya menyerang Namida.
__ADS_1
Namida menangkis setiap rantai yang menyerang tubuhnya. Namida sendiri tidak menyangka Gyu akan memiliki kekuatan untuk memanipulasi sehebat ini.
Setelah bertukar serangan dan jurus selama beberapa menit. Sekarang Namida dan Gyu menggunakan Tenkai secara bersamaan.
Benturan Tenkai terlihat di udara, aura hitam pekat milik Gyu membentuk seekor ular. Sedangkan aura biru muda milik Namida membentuk seekor rubah.
"Tuan Gore mengajariku menggunakan Tenkai. Jika aku tidak mempelajarinya saat itu. Mungkin serangannya sudah membunuhku saat ini." batin Gyu tersenyum tipis melihat aura miliknya berbenturan dengan aura milik Namida.
Namida menggunakan auranya untuk memperkuat tubuhnya. Terlihat tubuh Namida diselubungi aura berwarna biru muda yang membara. Sedangkan Gyu menggunakan auranya untuk memperkuat rantai - rantainya.
Namida terus menebaskan pedangnya untuk memotong rantai - rantai milik Gyu. Dengan santai Namida mencoba untuk mendekati Gyu.
"Tangisan 1500 Kata."
Tebasan pedang Namida melesat cepat ke arah Gyu. Walau Gyu berhasil menahan tebasan pedang Namida dengan rantainya. Tetapi Gyu tidak menyangka Namida akan menggunakan seluruh tenaga dalamnya pada satu serangan ini.
Namida tidak berhenti sampai disitu. Kali ini dia kembali menebaskan pedangnya ke arah tubuh Gyu.
"Tangisan 2000 Kata."
Namida menebas tubuh Gyu dalam satu kali tebasannya. Dengan cepat Namida terus menebaskan pedangnya pada tubuh Gyu.
Gyu berusaha menangkis tebasan pedang yang dilancarkan Namida dengan rantainya. Tetapi rantai - rantai miliknya tiba - tiba tidak dapat kembali menyatu.
"Basah?" gumam Gyu melihat rantainya telah basah.
Namida tersenyum sinis sebelum mengakhiri serangan terakhirnya untuk membunuh Gyu.
"Aku juga bisa memanipulasi air hujan untuk membasahi rantaimu. Setelah rantaimu menyatu dengan air hujan milikku. Maka aku bisa memanipulasi rantaimu itu." ucap Namida sebelum membunuh Gyu.
Gyu tidak menyangka dia akan seceroboh ini. Setelah beberapa menit terluka, Gyu menghembuskan napas terakhirnya.
Namida menutup mata Gyu. Kemudian dia mencari jalan keluar. Setelah keluar dari ruangan yang barusan dia masuki. Namida melihat Litha dan Masayu berlari kesana - kemari seperti orang yang tersesat.
"Apa yang mereka berdua lakukan?" batin Namida melihat Litha dan Masayu.
__ADS_1