Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 229 — Menuju 8 Besar


__ADS_3

“Misuzawa Hanabi...” Yuri bergumam pelan sambil berdiri dari bangku penonton dan berjalan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


Sesampainya di tengah lapangan, Yuri memandang Hanabi yang tidak tersenyum atau menyapanya. Sifat Hanabi baginya sangat mirip dengan Iris, hanya saja Hanabi begitu penyendiri dan pendiam di matanya.


Gyuki menjelaskan peraturan pertandingan pada Yuri dan Hanabi yang akan bertanding. Setelah keduanya mengangguk memahami penjelasan Gyuki, dengan cepat Hanabi dan Yuri menjaga jarak yang telah ditentukan.


“Baiklah, pertandingan ketujuh babak 16 besar Turnamen Harimau Kai antara Kitakaze Yuri dari Klan Kitakaze melawan Misuzawa Hanabi dari Klan Misuzawa dimulai!” Gyuki memulai aba-aba pertandingan dan melompat ke belakang sambil mengamati pergerakan Hanabi yang memulai serangan pembuka.


Gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu berlari dengan cepat ke arah Yuri sambil membuka telapak tangannya ketika jarak antara dirinya dan Yuri semakin dekat, “Pedang Sakura...”


Hanabi memainkan pedangnya karena selama tiga hari sebelumnya, dia selalu memperhatikan permainan pedang Nagato yang menurutnya jauh lebih mahir darinya.


Tebasan demi tebasan terus dilayangkan Hanabi pada Yuri. Suara benturan pedang menggema di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Baik Hanabi maupun Yuri sangat menikmati pertukaran serangan di antara mereka berdua.


Ketika melihat ada celah untuk menggunakan teknik pedangnya, Hanabi memperlambat tempo kedepannya sebelum memutarkan tubuhnya, “Tiupan Bunga Sakura...”


Yuri melebar matanya karena sulit memahami permainan pedang Hanabi yang terlihat ada dua gaya pedang di dalam permainannya. Tubuh Yuri terpental ke belakang ketika perutnya terkena pusaran bunga sakura yang berputar.


“Hembusan Angin Tak Kasat Mata...”


Yuri menghembuskan angin dari mulutnya ketika tubuhnya melayang di udara, lalu gadis itu berputar di udara dan membuat pedangnya sebagai pijakannya untuk berdiri tegak di tanah.


Penonton memberikan tepuk tangan meriah pada pertarungan yang tersaji di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Sementara itu Hanabi menhindari hembusan angin yang tajam dan membuat tanah berlubang.


Hanabi masih mengamati Yuri yang sedang mengibaskan pedangnya dengan seksama, selang beberapa detik kemudian, Hanabi mencoba serangan dari jarak jauh.


“Sakura...”


Tepat ketika bibir mungilnya merekah dan menyebut nama jurusnya dengan lirih, ribuan daun sakura berterbangan di udara dan memutari tubuh Hanabi.


Yuri yang melihat itu meningkatkan kewaspadaannya karena merasa Hanabi berniat melakukan sesuatu yang menurutnya akan membuat kerepotan.


“Hembusan Angin Dalam Sayatan...”


Yuri menebaskan pedangnya dari kejauhan dan mencoba melakukan gertakkan kepada Hanabi yang terlihat mengintimidasinya.


Tebasan angin Yuri membentur daun-daun sakura yang berterbangan, walau menghempaskan dedaunan tersebut tapi tidak dengan menghancurkannya.


Hanabi mengendalikan daun-daun sakura yang berterbangan untuk menyerang Yuri. Dari pukulan ataupun pedang, daun-daun sakura yang berterbangan di udara dapat Hanabi manipulasi menjadi benda ataupun fisik yang pernah dia lihat.


Yuri bersusah payah menangkis setiap serangan pedang yang terbentuk dari daun-daun sakura. Yuri melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalam karena serangan Hanabi jauh lebih merepotkan dari yang dia kira.


“Tarian Elang Laut!”


Seketika ayunan pedang Yuri semakin cepat, tebasan pedangnya layaknya angin yang menghempaskan daun-daun sakura yang menyerangnya. Namun Yuri sadar serangannya belum mampu melumpuhkan daun-daun sakura yang Hanabi kendalikan.


“Tarian Hijau!”


Kali ini ayunan pedang Yuri semakin meningkat tajam dan aura tubuhnya yang berwarna hijau muda melapisi bilah pedangnya juga berbahaya.


Hanabi tersenyum tipis sesaat kemudian mengolah pernapasan sambil berlari ke arah Yuri untuk membalas serangan gadis yang berasal dari Klan Kitakaze tersebut.


“Tapak Sembilan Pohon Sakura Berguguran!”


Hanabi mengendalikan daun-daun sakura menjadi bentuk tapak tangan yang menyerang Yuri secara langsung. Penonton berdecak kagum dibuatnya.


Yuri menebaskan pedangnya dengan sangat cepat sambil memutarkan tubuhnya berkali-kali menciptakan pusaran angin.


Hanabi menyadari serangannya masih dapat ditahan Hanabi dengan baik, lalu gadis itu kembali melayangkan serangan beruntun kepada Yuri.


“Kehalusan Sakura Bersemi!”


Hanabi memukul Yuri dari kejauhan, terlihat daun-daun sakura yang membentuk kepalan tangan berbenturan dengan tebasan pedang Yuri.


“Tiupan Sang Angin Dalam Kesendirian...”


Melihat serangan beruntun dari Hanabi sangat membuatnya kewalahan, Yuri mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalam yang lebih besar dan memotong bunga-bunga sakura yang membentuk kepalan tangan.


Hanabi masih tetap tenang bahkan gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu menerima tebasan pedang Yuri dengan pedang sakura di tangan kanannya.


Hanabi dan Yuri bertukar serangan cukup sengit, dari pertukaran serangan itu terlihat Hanabi lebih mendominasi serangan daripada Yuri.


“Lautan Sakura Musim Semi...”

__ADS_1


Tebasan pedang Hanabi yang sangat cepat itu membuat Yuri gagal menangkisnya. Tubuh Yuri terlihat terkena tebasan diperutnya namun tidak ada luka sedikitpun di perut gadis yang berasal dari Klan Kitakaze itu.


Gaya permainan pedang Hanabi berubah, matanya terpejam sedangkan tangannya menyarungkan pedangnya pelan-pelan, “Kupu-Kupu Sakura Berterbangan...”


Yuri terkejut merasakan nyeri diperutnya dan perlahan tubuhnya ambruk ke tanah tak berdaya, “Daun... daun... ini tak kasat mata...”


Penonton berdecak kagum melihat permainan pedang Hanabi bahkan Gyuki memberikan tepuk tangan pada Hanabi.


Yuri masih tidak menyangka akan kalah melawan Hanabi namun entah mengapa dirinya merasa senang dengan hasil pertandingan ini.


Kekalahannya dari Hanabi membuat Yuri merasa masih kurang berlatih dan masih banyak kekurangannya dalam menguasai ilmu pedang Klan Kitakaze.


“Pemenangnya Misuzawa Hanabi dari Klan Misuzawa!” Gyuki mengangkat tangannya dan mengakhiri pertandingan.


“Adik dari Matsuri memang mengerikan... apa dia salah satu orang yang mempunyai kekuatan seperti Tuan Pandu...” Gyuki membatin sembari menatap Hanabi dan Yuri yang sudah berjalan berdua ke bangku penonton.


Kemudian Gyuki langsung beralih ke pertandingan selanjutnya dan memanggil dua nama peserta yang akan bertanding di pertandingan terakhir babak 16 besar Turnamen Harimau Kai.


“Selanjutnya Tuan Muda Hiragi dan Akatasuki Akaza...” Gyuki menatap ke arah bangku penonton, “Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!”


Kedua peserta terakhir datang hampir bersamaan di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Gyuki langsung menjelaskan pada Hiragi dan Akaza tentang peraturan pertandingan yang masih sama peraturannya dengan babak 32 besar.


“Apa kalian masih mengingatnya?” Gyuki menatap Akaza dan Hiragi yang menganggukkan kepalanya secara bersamaan, “Kalau begitu, ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku!”


Akaza dan Hiragi melompat ke belakang sambil saling menatap tajam satu sama lain. Tangan Akaza dilapisi api yang membara sedangkan Hiragi memegang pedangnya dan menatap Akaza dengan sengit.


“Pertandingan terakhir babak 16 besar Turnamen Harimau Kai antara Tuan Muda Hiragi melawan Akatsuki Akaza dimulai!” Gyuki memulai aba-aba pertandingan dan melompat ke belakang.


Permainan pedang Hiragi terlihat sangat cepat ketika Gyuki memulai aba-aba pertandingan. Akaza tersenyum lebar melihat Hiragi yang sudah berada di depannya.


“Aliran Awan Api...” Sambil mengolah pernapasan, Akaza langsung mencabut pedangnya dan mulai memainkannya.


Benturan pedang terjadi ketika pedang milik Akaza dan Hiragi bertemu. Keduanya bertukar serangan tepat setelah pedang mereka bersentuhan.


Akaza dan Hiragi berpindah-pindah tempat ketika bertukar serangan. Setelah bertukar serangan sekitar tiga puluh menitan, Hiragi mencoba melakukan serangan kejutan, “Tebasan Api Membara!” Namun tebasannya itu berhasil ditangkis dengan baik oleh Akaza.


“Teknik Pedang Aliran Awan Api : Kilatan Cakar Merah!” Tebasan yang berbentuk tiga cakar harimau melesat cepat ke arah Hiragi.


Berulang kali Hiragi dan Akaza bertukar serangan namun serangan mereka masih berimbang. Kali ini Hiragi dan Akaza bertukar lima jurus pedang yang mereka punya.


Akaza dan Hiragi melepaskan aura tubuhnya hampir bersamaan dengan jumlah yang besar. Setelah itu mereka terus bertukar serangan hingga hari mulai menyapa sore yang memancarkan sinar lembutnya.


“Teknik Pedang Aliran Awan Api : Gigitan Harimau Api Merah Yang Membara!”


Akaza mengayunkan pedangnya lebih cepat dari sebelumnya dan menciptakan harimau berwarna merah yang mencengkeram tubuh Hiragi.


“Tarian Api Kembar!”


Hiragi memutarkan tubuhnya dan mengayunkan pedangnya ke arah Akaza. Kali ini Hiragi sadar posisinya yang terdesak dan dia tidak memungkiri jika dirinya masih lemah.


“Sial!” Umpat Hiragi dalam hatinya sambil terus mengayunkan pedangnya pada Akaza.


Baik Akaza maupun Hiragi bertarung seimbang, kini mereka saling menatap satu sama lain dengan napas yang terengah-rengah.


“Aku harus menang. Demi Hisui, aku harus menang. Kakak akan mendukungmu Hisui agar kau bisa berjalan bersamanya...” Di luar sifatnya yang mirip dengan ayahnya, Hiragi sangat mencintai adik dan ibunya. Jika bukan karena Kaisar Hizen dan Satra yang mengajari Hiragi bela diri sejak kecil, mungkin Hiragi akan memiliki sifat yang sama seperti Hisui.


Namun Hiragi sedari kecil di didik oleh Kaisar Hizen denga keras dan pemikiran-pemikiran yang salah sehingga dia menjadi pribadi yang sering menganggap orang lain hanya sebelah matanya.


“Menggelegar Bara Api Di Angkasa!”


Hiragi melepaskan teknik jurus pedangnya yang terkuat untuk mengalahkan Akaza dalam serangan terakhirnya.


Namun bukan Hiragi yang berpikir seperti itu saja, karena Akaza juga berpikiran yang serupa dengan Hiragi.


“Teknik Pedang Aliran Awan Api : Api Matahari Membakar Bumi!”


Akaza juga melepaskan serangannya yang memakan aura tubuhnya dan tenaga dalamnya dalam jumlah besar.


Kedua teknik pedang itu berbenturan ketika pedang Hiragi dan pedang Akaza bersentuhan.


“Boleh juga, kau anak kaisar. Aku mengakuimu sebagai rivalku...” Dengan santai Akaza berbicara pada Hiragi layaknya dia berbicara pada Akai dan Kise.


Hiragi hanya tersenyum tipis dan terus mendorong pedangnya. Tak lama kedua teknik pedang yang saling berbenturan itu membuat tubuh Akaza dan Hiragi terpental ke belakang.

__ADS_1


Gyuki melihat kedua peserta tak bisa melanjutkan pertandingannya. Pria itu tidak mengangkat tangannya selama sepuluh menit menunggu salah satu dari kedua peserta berdiri.


Tubuh Hiragi terpental menabrak dinding Arena Lingkaran Harimau, sedangkan tubuh Akaza tersunkur ke tanah dan kepalanya membentur salah satu pohon yang berdiri kokoh di tengah lapangan.


Tak lama tubuh Hiragi terjatuh ke tanah, semua penonton terdiam cukup lama sebelum melihat Hiragi tetap mencoba berdiri dan mengangkat tangan kanannya.


“Aku... menang...” Hiragi mencoba melihat Hisui yang menonton dari atas tribun, “Lihat Hisui, Kakak menang...” Tubuh Hiragi hampir ambruk namun dia masih mencoba tetap berdiri.


Gyuki mengangkat tangannya dan mengumumkan Hiragi sebagai pemenangnya, “Pemenangnya Tuan Muda Hiragi!” Penonton langsung memberikan tepuk tangan meriah pada Hiragi.


”Apa kalian berdua tidak apa-apa?” Gyuki kini sedang merangkul pundak Hiragi sambil melihat Akaza yang meringis kesakitan di tanah, “Sepertinya kalian berdua terluka parah. Tapi kalian hebat, seorang lawan di pertandingan akan menjadi kawan di luar pertandingan. Aku terkesan padamu, Akaza...”


“Kalah tetap kalah...” Akaza tidak bisa berdiri karena kehabisan aura tubuhnya, “Sepertinya kau mempunyai sesuatu yang berharga. Aku bisa melihat cahaya di matamu, kawan...”


Gyuki ingin tertawa mendengar perkataan Akaza kepada Hiragi, namun pria itu menahannya karena bagaimanapun dia adalah orang dewasa yang telah menikah dan mempunyai dua orang anak kembar.


“Ya, kau juga membuatku sadar jika aku masih terlalu lemah...” Hiragi ambruk ke tanah karena Gyuki melepaskan rangkulannya.


Terlihat di tanah Hiragi dan Akaza tertawa lepas sebelum diangkat dengan tandu oleh tenaga medis.


“Hiragi..." Gyuki membatin dalam hatinya sambil menatap Hiragi yang tertawa lepas bersama Akaza, “Aku juga bukan seorang ayah yang baik, tapi aku mempunyai istri yang dapat mengajarkan kedua gadis kecilku yang lucu itu menjadi orang yang baik...”


Gyuki tersenyum penuh makna dan memejamkan matanya, kemudian dia membuka matanya secara perlahan melihat Sachia yang sedang menggunakan Pena Merak.


"Terimakasih kepada penonton yang telah meluangkan waktu untuk menyaksikan babak 16 besar Turnamen Harimau Kai!" Gyuki bersuara lantang dan suaranya itu menggema di seluruh sudut Arena Lingkaran Harimau ketika semua orang yang berada di tribun saling bercerita tentang pertarungan antara Hiragi melawan Akaza.


"Untuk babak 8 besar Turnamen Harimau Kai akan dilaksanakan lusa. Jadi akan waktu jeda selama satu hari untuk persiapan bagi para peserta." Gyuki menjelaskan pada semua orang yang ada di Arena Lingkaran Harimau tentang digelarnya waktu pertandingan babak 8 besar Turnamen Harimau Kai.


Pertandingan babak 8 besar Turnamen Harimau Kai akan digelar satu hari dari sekarang.


"Selamat untuk pendekar muda yang lolos ke babak 8 besar. Bagi yang belum lolos jangan patah semangat. Ambil pelajaran dari kekalahan. Manusia akan berkembang setelah merasakan langsung sebuah kekalahan yang bermakna." Gyuki berkata pada pendekar muda yang duduk di setiap tribun. Kemudian dia menatap Sachie yang sedang menggambar sesuatu di udara, Gyuki menungggu tanda dari Sachie ketika selesai menggambar.


"Baiklah, inilah delapan nama pendekar muda yang akan menjadi generasi penerus para leluhur Kekaisaran Kai. Lihatlah ke atas! Mereka semua adalah pendekar muda yang akan bertanding di babak 8 besar Turnamen Harimau Kai!" Gyuki menatap tangan Sachie yang memberi tanda selesai menulis dan menggambar sesuatu di udara.


"Silahkan dilihat delapan nama di langit sana!" Gyuki menunjuk ke arah langit. Semua penonton mengikuti arahan dari Gyuki. Tidak berapa lama ledakan terjadi dengan asap yang berwarna merah muda, di atas langit Arena Lingkaran Harimau terlihat tulisan 8 nama peserta Turnamen Harimau Kai yang akan bertanding di babak 8 besar.


Nama peserta yang akan bertanding di babak 8 besar Turnamen Harimau Kai adalah :



Mangetsu Tatara


Fuyumi Iris


Himuro Kirigiri


Fuyumi Nagato


Satha


Fuyumi Litha


Misuzawa Hanabi


Hiragi



Secara perlahan suasana di Arena Lingkaran Harimau mulai menyepi. Tidak ada yang sadar tentang malapetaka yang akan segera terjadi di Ibu Kota Daifuzen. Dua kekuatan penghancur mutlak datang dengan cara terbang melewati lautan menuju Benua Ezzo dari Negeri Jaya. Kedua orang tersebut datang ke Benua Ezzo karena mendapatkan perintah langsung dari Kaisar Bahamut.


Salah satu dari empat Panglima Empat Penjuru merubah wujudnya menjadi Naga berwarna merah yang ditunggangi oleh salah satu Komandan pasukannya yang merupakan pengguna Air Suci Tipe Bencana.


Sementara itu salah satu anggota Tujuh Dosa Besar Mematikan yang bernama Don King datang bersama Wang Zhi untuk memastikan Brusca dan Reptile telah membunuh Gore. Namun keduanya memiliki motif yang berbeda. Mereka hanya mencari kekuatan yang bersemayam di dalam tubuh Nagato untuk kembali membawa malapetaka ke dunia seperti puluhan tahun lalu.


Di sisi lain orang-orang suruhan Magma termasuk kakak kandung dari Magma sedang berada di Kota Mikazuchi untuk memastikan keadaan di Kekaisaran Kai.


___


Note kecil dari aku SLUR :


Negeri Jaya... Salah satu negeri yang dijajah oleh Kekaisaran Bahamut karena mencoba menguak kebenaran tentang dunia ini dengan membaca lima prasasti yang memberitahu tentang kebenaran dunia. Salah satu teman Nagato yang bernama Halilintar berasal dari sana, yah Spoiler wkwkwk. Terus ikuti novel yang alurnya berjalan lambat ini, maaf kalau banyak kekurangan karena ini adalah hasil imajinasi aku waktu smk dan tinggal di asrama ngisi kegabutan jadi banyak kekurangannya.


Jempol dan komennya dong biar aku semakin jos up-nya hehe.

__ADS_1


__ADS_2