Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 170 - Penyesalan Kaisar Genki


__ADS_3

Langit yang cerah dan terang mulai semakin hangat. Menjelang sore hari, jumlah penonton Turnamen Harimau Kai masih sangat banyak. Beberapa nama sudah dipastikan memiliki kesempatan besar masuk ke babak 32 besar.


"Tuan Putri Hisui benar-benar tidak pernah berhenti membuat kita takjub..."


"Besok aku akan menantikan pertandingannya."


"Lawan Tuan Putri Hisui dari Air Terjun Kebenaran..."


"Cukup menarik."


Penonton mulai membicarakan pertandingan yang akan di helat di lapangan Arena Lingkaran Harimau.


Penonton kembali heboh setelah Hisui mulai bertarung dengan gadis dari Air Terjun Kebenaran. Gadis yang menjadi perwakilan pendekar muda dari Air Terjun Kebenaran mampu membuat Hisui terdesak.


Cukup sulit bagi lawan tanding Hisui mengingat identitas gadis bermata sayu itu merupakan putri dari Kaisar Hizen. Dengan ikutnya Hiragi dan Hisui di Turnamen Harimau Kai saja sudah menjadi perdebatan, pertama umur Hisui yang masih 11 tahun namun bisa mengikuti Turnamen Harimau Kai.


Campur tangan Satra bisa mengubah semua sesuka hatinya, baik itu peraturan yang telah dipatuhi sejak dulu. Bisa dibilang peserta Turnamen Harimau Kai yang memiliki usia paling muda adalah Hisui.


Walau klan-klan yang tersebar di seluruh daratan Kekaisaran Kai tidak memiliki kewajiban untuk mematuhi sosok Kaisar Kai. Tetapi sebuah perjanjian yang tertulis di Lembah Dewa Matahari yang merupakan bekas kediaman dari Klan Kagutsuchi tertera jelas. Batu berwarna merah yang bertuliskan tentang dekrit sumpah seluruh klan yang bersumpah setia mengabdi pada Kaisar Kai yang sesungguhnya.


Peperangan antar klan di masa lalu tidak ada hubungannya dengan Kaisar Kai. Banyak klan dan masyarakat yang tidak menyukai kepemimpinan Kaisar Hizen. Sosok pria yang memiliki tatapan tajam namun ketajamannya itu dia tidak gunakan, Kaisar Hizen lebih suka mendengarkan dibanding melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Di bangku penonton keluarga dari Kaisar Hizen terlihat sangat jelas mantan Kaisar Kai sedang menatap pemuda yang memakai topeng rubah putih. Mantan Kaisar Kai yang bernama Kaisar Genki itu penasaran dengan identitas Nagato.


Kaisar Genki berdiri, kemudian dia berjalan pelan untuk menghampiri Nagato. Saat dia menerima kabar Pandu hidup di Hutan Suci hanya Kaisar Genki, Hizen, Zen dan Satra yang mengetahui hal tersebut.


Dengan wajah yang gembira dan mata yang berkaca-kaca, Kaisar Genki duduk di samping Nagato. Terlihat puluhan pendekar menjaga Kaisar Genki juga di sana.


Beberapa penonton teralihkan perhatiannya, mereka melihat Nagato yang sedang duduk dengan Kaisar Genki.


Emi memejamkan matanya dan membiarkan Nagato berbicara dengan Kaisar Genki. Banyak yang terkejut melihat hal tersebut, seperti Iris, Hika, Tika, Oichi dan Ichiba juga sangat terkejut. Sedangkan Litha dan Shirayuki hanya melirik Nagato sedikit saja.


"Siapa dia?" Nagato membatin menatap wajah pria paruh baya yang rambutnya sudah memutih.


"Permisi Nak..." Kaisar Genki menyapa Nagato sambil menatapnya.


Nagato hanya diam dan menghiraukan kehadiran Kaisar Genki. Sekarang perasaan dirinya sangat risih karena ditatap ribuan pasang mata yang melihat ke arahnya.


Mereka melihat karena tatapan penasaran, itu membuat Nagato tidak suka. Perlahan Nagato menghela napas panjang dan memusatkan perhatiannya untuk melihat pertandingan di bawah sana. Pertandingan dari gadis bermata sayu yang telah dia lukai perasaannya.


"Cih." Nagato mendengus kesal melihat Kaisar Genki terus menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Shirayuki yang mendengarnya hampir tertawa namun dia masih bisa menahannya. Kemudian Shirayuki memainkan kipasnya, perempuan beranak satu itu terlihat anggun. Perlahan beberapa pasang mata mulai mencuri-curi pandang melihat Shirayuki.


"Apa yang akan kau lakukan Nagato?" Shirayuki membatin melihat Nagato yang melihat Kaisar Genki.


Tidak berapa lama Kaisar Genki memegang pundak Nagato dan mencengkeramnya dengan sangat erat.


"Apa kamu anakku? Pasti kamu anakku?" Kaisar Genki berbicara tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya.


Nagato mengerutkan alisnya, sedikit kesal perasaan hatinya mendengar perkataan Kaisar Genki.


"Berhenti. Aku bukan anakmu." Nagato menepis cengkeraman tangan Kaisar Genki. Dengan sinisnya Nagato tidak mempedulikan Kaisar Genki.


Sikap Nagato yang tidak sopan menjadi perhatian, terlihat Nagato tidak terlalu peduli dengan status orang yang duduk di sampingnya.


"Katakan pada ayahmu ini. Kamu pasti Pandu, kan?" Langsung mata Nagato melebar. Detak jantungan sempat berhenti sedetik karena terkejut. Perkataan Kaisar Genki membuat Nagato mengepalkan tangannya dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan ayahmu ini Pandu. Pasti kamu hidup berat ya. Ayah tidak menyadari beban yang kamu rasakan-" Nagato dengan kasarnya berdiri dan memandang Kaisar Genki yang masih duduk dengan tatapan dingin.


"Sial. Aku sangat membenci keramaian ini! Emosiku tidak stabil. Saat ini aku sangat kesal!" Nagato membatin menatap dingin Kaisar Genki yang menatapnya terlihat seperti meminta belas kasihan, meminta pengampunan, meminta untuk dimaafkan.


"Maaf aku bukan orang yang kau sebut." Nagato berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak ingin membawa Emi dan Shirayuki dalam masalah kembali. Nagato paling menyadari betapa tersiksanya melihat langsung kedamaian yang dilindungi mendiang ayahnya.


"Aku hanya punya satu orang ayah di dunia ini." Nagato masih menatap Kaisar Genki yang terlihat sedih.


"Dan ingat! Aku hanya mempunyai dua orang kakek. Tidak ada yang lain!" Nagato menambahkan.


"Sepertinya hidupmu penuh penyesalan. Sungguh menyedihkan," gumam Nagato pelan. Suaranya hanya terdengar oleh Kaisar Genki.


Mendengar perkataan Nagato yang sangat tidak peduli padanya, Kaisar Genki meneteskan air mata. Tepat setelah Kaisar Genki terlihat frustasi dan menangis. Puluhan pendekar langsung menodongkan senjata mereka ke arah Nagato.


Bangku penonton yang dekat dengan Klan Fuyumi hanya menatap Nagato tidak ada yang lain. Mereka semua penasaran dengan hubungan antara Nagato dan Kaisar Genki yang sebenarnya.


Shirayuki hendak berdiri namun pundaknya ditahan Emi. Semua pendekar melirik Nagato yang sedang dihadang pengawal dari Kaisar Genki.


Nagato menatap tajam pedang yang di arahkan pada dadanya. Sambil memejamkan mata, Nagato melangkahkan kakinya mendekati pedang tajam yang mengenai kulitnya. Kemudian Nagato terus melangkah, ujung pedang menembus kulitnya sedikit.


"Berhenti!" Salah satu pendekar yang mengawal Kaisar Genki menyuruh Nagato berhenti. Dia merasa nyeri melihat Nagato yang sama sekali tidak takut dengan ancamannya.


Nagato menatap pedang yang ujungnya berdarah. Kemudian dia menghela napas panjang.


"Minggir!" Dengan sinisnya Nagato berbicara seperti memberi perintah pada pendekar yang menodongkan senjata mereka padanya.


"I-Iya..." Puluhan pendekar memberi jalan untuk Nagato pergi. Setelah Nagato menjauh mereka baru sadar jika Nagato adalah pemuda yang telah berbicara kasar pada Kaisar Genki.


"Tunggu! Kau harus ikut dengan kami!" Salah satu pendekar berbadan kekar yang menjadi pengawal Kaisar Genki mendekati Nagato.


"Tetapi-..." Salah satu pendekar yang menjadi pengawal Kaisar Genki merasa harus membawa Nagato. Karena selama 7 tahun belakang ini, Kaisar Genki membicarakan anak Pandu yang masih hidup.


"Ini salahku. Aku hanya berharap kau tidak menaruh dendam terhadap seluruh Kekaisaran Kai. Satu-satunya orang yang harus kau bunuh adalah aku. Hanya aku." Perkataan Kaisar Genki membuat Nagato berhenti melangkah. Jujur sekarang Nagato tidak mengerti perkataan Kaisar Genki sama sekali, kepalanya menoleh melihat wajah Kaisar Genki selama beberapa detik.


"Apa maksud perkataannya itu?" Nagato membatin sambil berjalan mendekati Shirayuki. Kemudian Nagato duduk di samping Shirayuki agar tidak ada kejadian seperti tadi.


"Bagaimana perasaanmu setelah bertemu dengan kakekmu?" Shirayuki menutup mulutnya dengan kipas. Kemudian dia berbisik pada Nagato.


"Dia bukanlah kakekku. Aku berbeda dengan ayahku. Kakekku yang sesungguhnya hanya orang yang bernama Hyogoro dan orang itu." Nagato menjawab perkataan Shirayuki dengan santai.


"Orang itu?" Shirayuki menatap Nagato yang sedang mengepalkan tangannya.


"Hyogoro dan Bisma. Hanya dua itu kakekku. Tidak ada yang lain." Nagato menghela napas panjang. Tatapan orang-orang kepadanya membuat dirinya merasa sangat risih melihat tatapan yang sangat menusuk itu.


Tatapan yang sangat menusuk, sebagian menatap penuh kekaguman, sebagain penuh kebencian, namun bagi Nagato semua itu semakin membuat dirinya merasa sendirian.


"Bisma? Siapa Bisma yang dia maksud?" Shirayuki membatin menatap Nagato yang sudah terlihat tenang.


Hal yang barusan terjadi antara Kaisar Genki dan Nagato sangat menarik perhatian banyak orang. Di antara semua orang itu, seorang pendekar pedang yang menggunakan dua pedang tersenyum tipis.


"Tidak salah lagi..." Hayabusa membatin sambil melihat Nagato yang duduk bersama Shirayuki dari kejauhan.


Perlahan hari sudah mulai sore, terlihat di lapangan Arena Lingkaran Harimau seorang gadis muda bermata sayu memenangkan pertandingan.


Hisui tersenyum bahagia sambil berjalan menghampiri Nagato dan Shirayuki. Gadis bermata sayu itu tidak menyerah mendekati Nagato.


"Apa yang kakak tampan bicarakan dengan kakekku?" Tiba-tiba Hisui duduk di samping Nagato.

__ADS_1


"Berhenti memanggilku seperti itu. Seolah-olah kita berdua telah sangat akrab." Nagato masih tidak peduli dengan Hisui.


"Aku suka kakak tampan yang dingin seperti ini." Tangan Hisui memegang pipinya. Kemudian dia menatap gemas Nagato.


"Bocah manja ini!" Nagato mengerutkan alisnya merasa kesal karena merasa dipermainkan oleh Hisui.


"Kakak tampan. Jika aku masuk 8 besar-..." Hisui menelan ludahnya sendiri. Tiba-tiba dirinya sangat gugup berbicara dengan Nagato.


"Apa? Bicara yang keras..." Nagato menoleh melihat Hisui.


"Jika aku masuk 8 besar ... aku ... aku ..." Nagato menatap Hisui yang memerah wajahnya.


"Aku?" Nagato tersenyum tipis melihat gadis bermata sayu yang kembali mendekatinya. Nagato pikir Hisui tidak akan pernah berbicara ataupun mendekatinya kembali, tetapi lihat sekarang Hisui masih tetap sama.


Hisui masih sama dengan beberapa saat yang lalu. Gadis bermata sayu itu terlihat sudah bertekad untuk membuat Nagato jatuh cinta padanya.


"Aku ingin kakak tampan menjadi milikku selama sehari." Hisui mengatakannya dengan pelan, wajahnya menunduk malu. Kemudian mata sayunya melirik Nagato. "Boleh?"


"Hanya itu?" Nagato tidak yakin Hisui bisa masuk babak 8 besar.


Hisui mengangguk pelan. Melihat itu, Nagato memberi jawaban yang memuaskan Hisui.


"Baiklah. Aku akan menemanimu seharian. Itu pun jika kamu berhasil masuk babak 8 besar." Nagato tersenyum tipis melihat wajah gembira Hisui.


"Benarkah?" Hisui seakan tidak percaya dengan yang dia dengar barusan.


"Iya," jawab Nagato singkat.


"Aku sayang kakak tampan." Hisui memeluk tubuh Nagato. Kemudian dia berlari dengan gembira menuju tempat Kaisar Hizen dan Yuki.


"Nagato! Kamu jangan permainkan hati anak Bibi Shirayuki!" Nagato merinding ketika Shirayuki berbisik jelas di telinganya.


"Tenang Bibi Shirayuki ... bocah manja itu tidak akan masuk babak 8 besar." Nagato tersenyum tipis.


"Hmm ... sepertinya kalian berdua semakin dekat." Suara dingin Iris yang duduk di samping Nagato membuat Shirayuki tersenyum.


"Apa kamu cemburu?" Nagato menatap Iris.


"Tidak. Aku hanya merasa tidak bisa akrab dengan Hisui. Itu saja." Iris memalingkan wajahnya.


Suara Mujin yang menyelesaikan pertandingan babak penyisihan pertama membuat semua orang perlahan mulai meninggalkan Arena Lingkaran Harimau.


"Terimakasih hadirin sekalian. Babak penyisihan Turnamen Harimau Kai hari ini cukup sampai disini." Mujin mengakhiri pertandingan babak penyisihan di hari pertama. Jumlah peserta semakin sedikit. Dengan optimis, Mujin yakin esok hari sudah terlihat 32 peserta yang akan bertanding di babak 32 besar.


Nagato melirik Iris lama. Setelah melihat gadis itu berdiri, Nagato juga ikut berdiri dan berjalan mendekati Iris.


"Malam ini, temui aku di depan penginapan. Ingat, kamu harus datang sendiri." Nagato berbisik di telinga Iris dan langsung pergi meninggalkan gadis itu.


Iris berusaha untuk tetap tenang, dia tidak ingin ada orang yang melihatnya malu. Iris berjalan dengan pelan menunggu Shirayuki.


"Apa yang Iris bicarakan dengan Nagato?" Shirayuki berjalan di samping anaknya.


"Naga mengajak Iris ketemuan malam ini Bu." Dengan malu-malu Iris menatap ibunya.


"Iris. Maaf ibu tidak bisa memberitahu padamu tentang Nagato. Tapi ibu ingin kamu jangan pernah biarkan Nagato merasa sendirian, saat Nagato berubah dan menghilang maka kamu akan sulit untuk menggapainya kembali." Shirayuki menatap wajah anaknya yang penasaran dengan perkataannya.


"Iris mengerti Bu. Lagipula Iris sangat mencintai Naga." Iris berusaha mencerna perkataan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2