Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 164 - Pertama Hijau Dan Alam


__ADS_3

Kaisar Hizen dan Yuki tersenyum lembut pada Hisui sambil melambaikan tangannya, sementara itu Hisui sedari tadi tidak melihat lambaian tangan kedua orang tuanya. Pandangan matanya terus mencari sosok pemuda yang ingin dia temui, pemuda itu adalah Nagato.


"Di mana si tampan yang kasar denganku itu?" Hisui bergumam pelan sambil terus mencari keberadaan Nagato. Tidak berapa lama dia melihat rombongan dari Klan Fuyumi yang sedang menonton, Hisui yang merupakan anak seorang kaisar dengan santainya berlari menghampiri Emi.


"Nenek!" Hisui mengagetkan Emi yang sedang duduk bersama Shirayuki. Semua orang yang dekat dengan pendekar dari Klan Fuyumi hanya melihat Hisui yang sangat akrab dengan Emi.


Tatapan mata Hisui sesekali melirik pemuda yang memakai topeng rubah putih. Auranya yang tenang, dan tatapannya yang tajam membuat Hisui semakin yakin jika pemuda yang memakai topeng rubah putih itu adalah Nagato.


"Hisui, kamu jangan manja, cepat ke tengah lapangan." Emi mengelus rambut halus Hisui dengan lembut, tidak berapa lama dia bertanya, "Kamu ngapain kesini?"


Hisui tersenyum manja pada Emi sambil mencari alasan.


"Hisui ingin menyapa nenek." Hisui tersenyum lembut pada Emi.


"Serius?" Emi tidak yakin jika Hisui ingin menyapa dirinya sampai rela dia berjalan jauh demi menyapanya.


"Hisui serius, nenek," balas Hisui dengan sengit. Tidak berapa lama suara Nagato yang dingin membuat Hisui semakin kegirangan mendengarnya.


"Bocah manja, cepat turun ke bawah. Ini bukan waktunya reuni keluarga." Tepat setelah Nagato berkata demikian, sebuah pukulan keras dari Iris mengenai perutnya.


"Naga! Kau selalu berkata tidak sopan pada orang yang baru kau temui," bisik Iris mengingatkan Nagato agar berlaku sopan kepada Hisui.


"Bukankah saat itu kamu juga memperlakukan saudarimu itu seperti orang asing?" Nagato dapat membuat Iris terdiam. Tidak berapa lama keduanya hanya diam dan mengamati Hisui yang sedang berbicara dengan Emi.


"Rubah putih, lihat aku," ucap Hisui sambil mengedipkan matanya pada Nagato.


Semua orang yang melihat hal itu menatap Nagato sengit. Tetapi Nagato yang tidak peduli hanya tetap bersikap tenang seperti biasanya.


"Iris," ucap Nagato memanggil namanya.


"Ya," jawab Iris sambil melirik Nagato sedikit.


"Siapa rubah putih?" tanya Nagato dengan santainya tanpa menyadari identitasnya yang terlalu mencolok memakai topeng rubah putih.


"Orang bodoh, mungkin," balas Iris cuek. Tidak berapa lama dia menghela napas panjang.


"Bodoh? Rubah putih? Tunggu dulu, apa maksudmu tadi?" Nagato berbisik pelan sambil melirik kiri dan kanannya agar suaranya tidak terdengar.


"Entahlah, lihat Naga. Bocah manjamu itu mau bertanding..." Iris mengalihkan pembicaraan, terlihat jelas jika Iris sedang cemburu dengannya. Gadis cantik yang selalu dingin itu sangat berbeda jika sedang bersama Nagato.


Nagato duduk mendekat pada Iris. Setelah itu dia sengaja menyentuh tangan Iris.


"Rubah putih yang dimaksud olehnya itu aku, apa kamu cemburu karena hal itu?" Nagato bertanya pada Iris dengan suaranya yang terdengar seperti berbisik.


Iris memegang tangan Nagato sebelum dia menepis tangan Nagato dengan lembut.


"Cemburu?" Wajah Iris merah padam, tindakan Nagato seperti membuatnya menari-nari di atas telapak tangan pemuda itu.


"Aku tidak cemburu, hanya saja aku sadar banyak orang menyukaimu Naga..." Iris menambahkan.


"Iris, setelah babak penyisihan selesai, ada hal yang ingin aku katakan padamu," ucap Nagato mengakhiri pembicaraan.


"Deg ... Deg ... Deg ..."


Iris terdiam dan menggigit bibir bawahnya dengan sangat lembut, ucapan Nagato membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Berada di dekat Nagato membuatnya tidak tenang, sehingga Iris memilih menjauh dan duduk di samping Litha. Gadis cantik itu meninggalkan Nagato yang duduk di samping Shirayuki.


"Apa yang ingin Naga katakan padaku..." Iris membatin mengingat perkataan Nagato.


Iris penasaran dengan setiap tindakan Nagato. Pandangan matanya sedikit melirik Nagato yang sedang menatap tajam Hisui dari balik topeng rubah putihnya.


Ikutnya kedua anak Kaisar Hizen dalam Turnamen Harimau Kai membuat kompetisi ini menjadi menarik, hanya saja orang yang akan menjadi lawan dari Hiragi dan Hisui akan bertarung tidak dengan seluruh tenaganya.


Mujin yang sedang melihat kedua peserta berjalan mendekatinya, mulai ada perasaan gugup dalam benaknya. Turnamen Harimau Kai tahun ini banyak diikuti pendekar muda yang kebanyakan dari mereka adalah gadis-gadis yang baru tumbuh dewasa, tentu hal itu menarik perhatian semua orang.


Hisui menatap tajam Mariko dari Kuil Matahari Baru. Hatinya berharap jika lawannya akan bertarung dengannya tanpa memandang sebuah status. Hisui ingin membuktikan pada Nagato jika dirinya kuat, matanya memandang Nagato yang memakai topeng rubah putih sesaat.


"Tuan putri Hisui dan Mariko. Apakah kalian berdua masih mengingat peraturannya?" Mujin mengelus dagunya sambil menatap Hisui dan Mariko.


Keduanya mengangguk pelan sambil menatap tajam satu sama lain, tidak berapa lama Mujin menjelaskan peraturan pertandingan pada Hisui dan Mariko.


"Tidak boleh membunuh lawanmu. Itu adalah aturan paling utama di babak penyisihan, setelah babak 32 besar, maka peraturan berubah. Ingat tidak boleh melukai lawanmu terlalu serius apalagi sampai membunuhnya." Mujin menatap tajam Hisui dan Mariko. Kedua gadis muda tersebut hanya mengangguk, walau kepalanya mengangguk, tetapi pandangan mata Hisui menatap pemuda yang memakai topeng rubah putih sedang duduk di bangku penonton.


"Lihat aku, kakak tampan," gumam Hisui sebelum dirinya tersenyum manis membius para pendekar muda yang duduk di sebelah pendekar dari Klan Fuyumi. Di sisi lain reaksi Nagato sangat biasa karena dirinya tidak mengerti jika Hisui tersenyum untuknya.


"Baiklah. Kalian berdua ambil jarak." Suara Mujin memecah lamunan Hisui. Kedua gadis muda yang akan bertanding langsung mengambil jarak sambil menatap lawannya dengan tajam.


Semua orang merasa pertandingan ini akan membosankan, mengingat status Hisui sebagai anak kedua dari Kaisar Hizen akan membuat Mariko tidak serius bertarung.

__ADS_1


Mariko menatap tajam Hisui tetapi dirinya khawatir akan melukai Hisui yang merupakan seorang tuan putri. Tidak berapa lama dia membatin, "Aku harus berhati-hati, sepertinya tuan putri Hisui tidak terlalu fokus mengikuti Ternamen Harimau Kai ini, dari tadi dia selalu melirik bangku penonton," batinnya.


"Kak Mariko. Aku tidak akan segan melawanmu," ucap Hisui sambil menatap Mariko yang melihat dirinya. Mariko sendiri umurnya lebih tua dari Hisui tiga tahun, karena umur Mariko empat belas tahun.


"Pertandingan antara tuan putri Hisui melawan Mariko dari Kuil Matahari Baru. Di mulai!" Tepat setelah Mujin memberi aba-aba, tubuh Hisui dikelilingi daun-daun yang berterbangan. Semua orang berdecak kagum melihat kemampuan Hisui. Melihat hal yang baru bagi dirinya, Mariko mengambil jarak dengan Hisui.


"Apa kekuatan milik tuan putri Hisui? Apa dia mampu mengendalikan tumbuhan? Apa hanya dedaunan?" Mariko membatin dan banyak pertanyaan beruntun yang hinggap di kepalanya.


Mujin mengamati dengan tenang mengamati pergerakan Hisui. Sosok gadis muda bermata sayu itu masih belum bergerak dari tempatnya, aura tubuhnya yang berwarna hijau layaknya permata hijau membuat penonton mulai bergembira dan bersorak kembali.


Di bangku penonton, Emi tersenyum lebar melihat kekuatan dewi kesuburan milik Hisui. Sementara itu Nagato, Litha dan Iris melebar matanya, mereka bertiga merasa jika Hisui sama seperti mereka.


"Hebat juga," gumam Shirayuki pelan sambil menatap tajam Hisui yang terlihat sama seperti anaknya.


"Heh ... bocah manja ini mampu menarik perhatianku, boleh juga..." Nagato bergumam pelan sambil tersenyum tipis dari balik topeng rubah putih yang ia kenakan.


"Na ... ga ... to, kamu jangan menduakan perasaan anakku," bisik Shirayuki di telinga Nagato.


Iris dan Litha yang melihat Shirayuki dan Nagato sedang berbincang menjadi penasaran, tetapi mereka berdua tidak berpindah dari tempat duduknya.


"Bibi Shirayuki, aku belum membalas perasaan Iris. Aku ingin melihat sendiri perasaannya padaku itu sebuah kenyataan atau ilusi," ujar Nagato menatap Shirayuki yang sedang duduk di sampingnya.


Shirayuki terdiam mencoba mendengarkan perkataan Nagato. Pemuda yang sangat berbeda dengan pemuda lainnya itu, membuat Shirayuki ingin sedikit menolong Nagato yang memiliki rasa sakit yang disembunyikannya.


Selang beberapa detik kemudian Nagato kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku akan mencari pendamping hidupku yang menerima aku apa adanya, aku adalah seorang pendendam, aku tidak akan membiarkan wanitaku ikut tenggelam dalam kebencian bersamaku," ucap Nagato dengan tenang dan jelas.


"Turnamen Harimau Kai adalah pembukitan untuk mengukur sampai sejauh mana perkembanganku." Nagato terdiam sesaat tangannya mengepal, meremas, seakan-akan dirinya yang terlihat tenang itu sedang sangat marah.


"Apa aku sudah bertambah kuat? Yang ku inginkan adalah jawaban dari pertanyaan itu!" Kata-kata terakhir Nagato membuat Shirayuki merasakan firasat buruk. Perasaan yang sama dengan masa lalunya, saat Pandu dituduh dan pergi dari Kekaisaran Kai.


Dua gadis muda yang paling dekat dengan Nagato menyadari jika Nagato sedang sangat buruk suasana hatinya. Iris dan Litha sangat hafal bagaimana gerak-gerik Nagato ketika detak jantung pemuda itu memainkan melodi penuh amarah dan kebencian.


"Iris jika kamu mencintai Naga sepenuh hati, kamu harus bisa membuat Naga merasakan kebahagiaan hidup. Pemuda yang kamu cintai ini mempunyai dua kepribadian ... Naga yang kamu kenal hanyalah sebagian kecilnya saja." Shirayuki membatin sambil menatap Nagato sangat lama, tidak berapa lama dia melirik Iris yang sedang melirik Nagato.


Kembali ke tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Hisui yang sedang mengeluarkan aura tubuhnya berwarna hijau membuat Mariko menjaga jarak darinya.


Hisui lagi-lagi membuat semua orang berdecak kagum ketika dirinya menggerakkan daun-daun hijau yang mengelilingi tubuhnya ke arah Mariko.


"Lihat aku, kakak tampan." Hisui selalu melirik Nagato dan tidak terlalu fokus pada pertandingan.


"Tuan putri Hisui sangat berbahaya, aku harus lebih serius." Mariko membatin dan berlari dengan cepat menghindari serangan daun-daun yang dilesatkan Hisui. Setelah menghindari semuanya, Mariko dengan cepat menyerang balik serangan Hisui.


"Teknik Pukulan Pertama Kuil Matahari Baru : Sinar-Sinar Dalam Kegelapan."


Pukulan tangan Mariko mampu membuat Hisui terlempar ke belakang, semua penonton melongo melihatnya. Tetapi reaksi Kaisar Hizen dan Yuki sangat santai. Keduanya tidak menunjukkan ekspresi yang lain kecuali tersenyum.


"Eh? Ma-Maaf tuan putri Hisui ... a-aku." Mariko menggigit lidahnya sendiri karena gugup melihat pukulannya mengenai Hisui bahkan membuat gadis bermata sayu tersebut terlempar ke belakang beberapa langkah.


"Anu ... umm ... tuan putri Hisui?" Mariko kebingungan dan khawatir dengan keadaan Hisui. Tidak berapa lama gadis bermata sayu yang tersungkur di tanah itu mulai bangkit berdiri. Pandangan mata Hisui justru menatap Nagato.


"Kakak tampan bereaksi ... asyik, kakak tampan itu memperhatikanku." Hisui membatin sambil tersenyum lembut ke arah Nagato yang berada di atas tribun. Semua pendekar muda salah tingkat melihat senyuman Hisui. Mereka sendiri tidak mengetahui jika Hisui melemparkan senyuman lembutnya hanya untuk Nagato.


"Terimakasih telah bertarung melawanku tanpa menahan diri," ucap Hisui dengan percaya diri pada Mariko.


"Tuan putri Hisui ... anu ... maafkan aku ... pipi tuan putri Hisui ada daun yang menempel." Mariko menatap Hisui sedikit dan tidak berapa lama dia menunduk menatap tanah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


"Eh? Aduh, aku jadi malu." Hisui menggerutu dan wajahnya merah padam karena dia berharap jika Nagato tidak melihat dirinya yang memalukan.


"Baiklah! Aku akan membalas seranganmu!" Hisui berteriak keras sambil menggerakkan daun-daun yang mengelilingi tubuhnya kembali.


Mariko berhati-hati kali ini, perasaannya gundah dan sedikit bersalah pada Hisui. Tetapi perasaan gundahnya justru menjadi kekalahannya.


Hisui dan Mariko bertukar serangan selama beberapa menit. Keduanya bertarung dengan seimbang, tidak berapa lama Hisui dan Mariko jadi saling beradu pukulan dan tendangan.


Nampaknya Hisui juga ahli bela diri tangan kosong, begitu juga dengan sebaliknya, Mariko juga ahli dalam bela diri tangan kosong. Mariko sendiri tidak menggunakan senjata. Serangannya pada Hisui sangat membuat gadis bermata sayu itu kewalahan.


Hisui dengan susah payah mengimbangi pukulan Mariko. Tetapi selang beberapa menit kemudian, Hisui yang sedari tadi diam mulai menunjukkan ekspresi wajah serius, selang beberapa menit kemudian dia mulai tersenyum.


"Jurus Pengikat Keindahan Alam."


Hisui lompat ke belakang dan melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hijau layaknya permata hijau. Mariko kebingungan melihat kakinya terikat, tiba-tiba akar pohon muncul dari tanah dan mengikat seluruh tubuhnya.


Semua penonton berdecak kagum melihat jurus yang digunakan Hisui. Akar pohon yang mengikat tubuh Mariko membuat tubuhnya tidak dapat digerakkan.


Hisui tersenyum tipis sambil berjalan cepat mendekati Mariko. Dalam satu kali pukulan tangannya dia sengaja mengintimidasi Mariko.

__ADS_1


"Menyerah atau aku akan memukulmu hehehe..." Hisui tersenyum lebar mencoba mengintimidasi Mariko.


Mujin yang mendengar perkataan Hisui justru tersenyum tipis, menurut dirinya Hisui terlihat sangat lucu dan menggemaskan sama seperti Hika.


"Aku menyerah. Aku menyerah!" Mariko meronta ketika akar pohon yang merupakan teknik dari Hisui mulai merambat di sekitar bagian perutnya ke atas.


Hisui dengan cepat memanipulasi akar-akar pohon tersebut untuk kembali ke dalam tanah. Semua orang kembali dibuat berdecak kagum dengan kehebatan Hisui.


Dengan napas yang terengah-rengah, Mariko mencoba untuk berdiri. Tetapi sensasi geli yang menjalar setiap tubuhnya membuat Mariko merinding sendiri.


"Aku tidak ingin merasakan itu lagi..." Mariko bergumam pelan sambil mencoba berdiri kembali.


Selang beberapa menit kemudian Mujin mengumumkan Hisui sebagai pemenangnya.


"Pemenang pertandingan kali ini adalah tuan putri Hisui!" Suara sorakan penonton untuk Hisui menggema. Mereka semua tidak menyangka sosok gadis cantik bermata sayu itu sangat ahli dalam bela diri.


"Tuan putri Hisui! Anda sangat hebat!"


"Tuan putri Hisui, tetap semangat!"


Suara-suara sorakan penonton mulai menggema di Arena Lingkaran Harimau. Tidak berapa lama Mujin mengumumkan pertandingan selanjutnya.


"Pertandingan selanjutnya akan di mulai!" Mujin menatap pendekar dari Klan Kitakaze sesaat, tidak berapa lama matanya menatap pendekar dari Klan Muromachi.


"Ninjin dari Klan Kitakaze dan Muromachi Koji! Dua nama yang kusebut, silahkan maju!" Penonton kembali bersorak karena pertandingan antara dua klan yang termasuk dalam sepuluh klan terbesar akan bertanding.


Sementara itu Hisui sama sekali tidak kembali ke tempat duduk Kaisar Hizen dan Yuki. Dengan seribu alasannya, Hisui mendekati Nagato dengan cara meminta Emi untuk memuji dirinya. Berbeda dengan Iris yang sangat dingin pada semuanya kecuali orang-orang terdekatnya saja, Hisui sangat manja kepada orang yang membuatnya tertarik dan bersikap seenaknya saja pada siapa saja.


"Nenek Emi." Hisui memeluk tubuh Emi dari belakang, sedangkan pandangan matanya terarah pada Nagato.


"Hisui? Kamu dasar anak manja. Sini nenek peluk." Emi membalas pelukan Hisui sambil menyuruh Hisui duduk di sampingnya.


"Selamat kamu menang, tapi nenek sarankan kamu jangan meremehkan lawanmu!" Emi menatap tajam Hisui.


"Iya Nek." Hisui merasa bersalah melihat Emi yang tatapannya tajam menatap dirinya.


"Nenek ...Hisui boleh bertanya gak?" Hisui menatap Emi dengan rasa penasaran yang luar biasa.


"Boleh," jawab Emi.


"Rubah putih yang di sana itu kakak tampan yang waktu itu marah ya, Nek?" Hisui sengaja berbisik di telinga Hisui.


Emi tersenyum tipis karena dia melihat kedua cucu perempuannya telah jatuh cinta pada Nagato. Emi tidak langsung menjawabnya, dia ingin melihat tekad gadis bermata sayu tersebut.


"Hisui." Emi menatap Hisui.


"Iya?" Hisui tampak kebingungan melihat Emi yang tidak menjawab pertanyaannya.


"Kamu penasaran dengan dia?" Emi bertanya pada Hisui sambil menunjuk Nagato yang sedang berbincang dengan Shirayuki.


Hisui mengangguk pelan, nampak wajahnya kegirangan karena penasaran dengan pemuda bertopeng rubah putih.


"Coba kamu dekati dia ... buktikan kalau kamu tidak kalah dengan kakak sepupumu Iris." Emi menguji Hisui untuk mendekati Nagato.


"Kalau Hisui hanya mengagumi dia dari kejauhan saja, maka Hisui harus siap merasakan patah hati ketika dia sudah menjadi milik kakak sepupumu." Emi berbisik di telinga Hisui sambil terkekeh pelan. Sudah lama rasanya Emi tidak melihat anak muda yang jatuh cinta.


Reflek Hisui berdiri dan berteriak, "Aku tidak ingin patah hati!" Semua orang langsung menoleh melihat Hisui yang berdiri dan berteriak di samping Emi.


"Masa muda adalah masa yang indah..." Emi bergumam pelan sambil tertawa melihat kedua cucu perempuannya telah jatuh hati pada Nagato.


"Nenek Emi terimakasih, Hisui sayang nenek," ucap Hisui sambil mengecup pipi Emi. Setelah itu Hisui berjalan mendekati bangku Nagato dan duduk di sampingnya.


Melihat Hisui yang duduk di samping Nagato membuat pendekar muda kembali iri dengan Nagato. Khususnya pendekar muda laki-laki yang menatap Nagato penuh rasa iri dan dengki.


Hisui gemetar hebat ketika duduk di samping Nagato. Pandangan matanya tidak berani menatap Nagato yang mengabaikannya dan fokus berbincang dengan Shirayuki.


Sebelum Hisui mengajak Nagato berbicara, suara penonton yang bergemuruh membuatnya tidak jadi menyapa Nagato.


"Ka-Kakak..." Suara Hisui kalah nyaring dengan suara gemuruh penonton. Tentunya Nagato tetap cuek dan tidak peduli dengan Hisui yang duduk di sampingnya.


___


Assalamualaikum dan Selamat malam.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin ya semuanya. Lebaran tahun ini kalian di rumah aja ya? Sama berarti nasib kita hehehe, tetap jaga kesehatan dan stay di rumah aja.


Saya selaku author Kagutsuchi Nagato mohon maaf kalau banyak kesalahan dalam menulis novel ini, siapa tahu dari segi penulisan, alur cerita, nama-nama tokoh maupun ceritanya terlalu terbelit-belit kurang berkenan di hati kalian. Maka dari itu saya selaku author mohon maaf sebesar-besarnya. Di ARC CINTA banyak tokoh-tokoh yang meninggal dan itu sepertinya tidak terlalu berpengaruh ya? Soalnya gak ada yg terlalu SAD hehe. Author lagi rombak kata-kata lagi jadi sekiranya kalau ada kata typo tolong bantu cek ya, kita sama-sama saling melengkapi SLUR.

__ADS_1


Selamat membaca, selesai membaca ya maksudnya hehe(garing wkwkwk). Tetap semangat dan jaga terus kesehatan SLUR.


__ADS_2