Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 40 - Menuju Kota Mikawa


__ADS_3

Kubuka mataku secara perlahan, kemudian melangkahkan kakiku untuk membasuh wajahku yang masih kantuk, perlahan aku menyusuri ruangan yang masih terlihat sepi dan saat kubuka jendela dikamarku, hanya kutemukan embun pagi yang menempel dengan sendirinya, mataku tertuju pada embun pagi yang menggantung di daun - daun yang sedang kupandang, kuperhatikan dengan seksama embun yang sedang kupandang terlihat seperti berusaha menggenggam erat ujung daun namun terjatuh karena tiupan sang angin, jatuh ke bumi yang kering, dan menguap lenyap tak bersisa ketika sang surya yang sedang bersembunyi mulai menampakkan kehadirannya untuk membawa pagi yang cerah ini.


"Selamat pagi yang masih terasa dingin ini." gumam Nagato yang sedang melihat embun pagi yang menguap pelan - pelan.


Tangan kanan Nagato memegang tongkat untuk menahan kaki kirinya yang masih susah untuk kembali berjalan.


Nagato tidak sadar ketika dirinya berbicara sendiri, ada beberapa orang yang mendengarnya karena pintu kamar Nagato tidak tertutup.


Kuina tersenyum, sedangkan Serlin ingin tertawa namun gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya dan tertawa kecil.


Iris dan Litha pura - pura tidak mendengar apa yang barusan mereka dengar.


"Susah juga harus berjalan dengan satu kaki dan memakai tongkat ini." gumam Nagato pelan sambil membalikkan badannya.


Kuina dan yang lain terlihat seperti menyembunyikan sesuatu ketika melihat Nagato membalikkan badannya.


"Kalian kenapa?" Nagato melihat Kuina dan yang lainnya yang sedang berdiri dipintu kamar Nagato.


"Eh ... T-T-Tidak ... tidak ada apa - apa Nagato, aku tidak mendengar apapun!." Serlin menutup mulutnya dengan tangannya.


"Tidak ... apa yang kukatakan." batin Serlin sambil menatap Kuina dan yang lainnya.


"Penyihir bodoh!" Kuina merangkul leher Serlin.


"Oh iya, Nagato kita sarapan dulu sebelum melanjutkan perjalanan." Litha mengajak Nagato untuk sarapan pagi.


"Syukurlah ada Litha." gumam Serlin pelan sambil menatap Kuina.


Kuina mencubit hidung Serlin pelan.


"Serlin apa kau tidak pernah berpikir terlebih dahulu ketika ingin mengucapkan sesuatu? Hah?" Kuina terlihat menakutkan.


"Eh ... sejak kapan kau menjadi menakutkan Kuina." Serlin menjaga jarak dari temannya.


"Apa yang kau katakan?" Kuina menatap tajam Serlin.


Serlin menelan ludah melihat Kuina kemudian gadis itu memeluk tubuh Kuina.


"S-S-Serlin hentikan ... " Kuina mencoba melepaskan pelukan Serlin.


"Kuina imut." Serlin menempelkan pipinya pada pipi Kuina sehingga kedua pipi gadis itu saling bersentuhan.


Azai menelan ludah melihat kedua teman perempuannya itu.


"Ingat umur, dihadapan kalian ada Iris dan Litha." Azai mencoba mengingatkan pada Kuina dan Serlin namun Kuina justru memukul perut Azai karena pemuda itu melihat mereka berdua.


"K-Kenapa aku yang dipukul?" Azai memegang perutnya.


"Aku tidak bisa memukul Serlin, jadi aku melampiaskannya padamu." Kuina beranjak pergi.


"Hah? Apa - apaan itu!" Azai mengumpat dalam hati.


Nagato terlihat tidak peduli melihat apa yang terjadi dihadapannya, dirinya mengajak Litha dan Iris untuk bergegas ke ruang makan penginapan.


"Anggap saja kalian berdua tidak melihat apapun barusan? Jadi tidak usah dipikirkan." ucap Nagato dengan tenang.


Azai, Kuina dan Serlin yang mendengar menjadi malu.

__ADS_1


"Ya." Litha berusaha menuntun Nagato.


Iris hanya mengangguk pelan, gadis kecil itu justru mengingat Nagato yang sedang berbicara sendiri dikamar yang ia lihat barusan.


Setelah sampai di ruang makan terlihat tempat itu sudah dipenuhi orang.


Shugo menghampiri Nagato kemudian memberikan bubur ayam pada Nagato dan yang lainnya.


"Tiga bulan?" batin Nagato yang menatap makanan pedas di meja makan.


Setelah sarapan pagi, Shirayuki menghampiri Nagato untuk berpamitan karena Shirayuki bersama pendekar dari Klan Fuyumi juga akan kembali ke kediaman Klan Fuyumi.


Sedangkan rombongan dari Klan Misuzawa sudah kembali ke kediaman mereka satu minggu yang lalu.


Perjalanan dari Kota Yasai menuju kediaman Klan Fuyumi memakan waktu sekitar tiga hari menggunakan kereta kuda sedangkan perjalanan dari Kota Yasai menuju Kota Mikawa hanya sekitar satu hari menggunakan kereta kuda.


Iris dan Nagato saling memandang satu sama lain, kemudian mereka berdua tersenyum tipis.


"Kita akan bertemu kembali suatu saat nanti!" Nagato memandang gadis kecil itu dengan tatapan yang penuh makna.


"Ya, saat itu tiba giliran aku yang akan melindungimu karena aku akan bertambah kuat dari diriku yang sekarang ini!" Iris tersenyum sinis pada Nagato.


"Jangan mengkhayal? Saat itu aku akan lebih kuat darimu!" Nagato mengeledek Iris.


Litha mengerutkan dahinya karena Nagato dan Iris terlihat semakin akrab setelah kejadian melawan manusia buas X 2.


Iris menoleh kebelakang melihat Litha kemudian tersenyum ke arahnya.


"Litha, tolong jaga Nagato ya, dia ini terlalu ceroboh dan suka bertindak gegabah!" Iris menyentil kening Nagato.


"Ya." Litha mengangguk pelan sambil mengusap matanya.


"Hah?" Nagato menatap Iris dihadapnnya.


Setelah itu Iris berpamitan kepada yang lain ketika kereta kuda yang membawa rombongan pendekar Klan Fuyumi telah tiba di depan penginapan.


Iris tersenyum manis pada Nagato sebelum meninggalkan penginapan.


"Sampai bertemu lagi, Naga." gumam Iris lirih.


Nagato memandang kereta kuda yang ditumpangi Iris kian menjauh dari pandangan matanya.


Tak lama kereta kuda milik Shugo sudah berada di hadapan Nagato.


"Ayo kita juga berangkat!" Kakek Hyogoro mengajak Nagato dan yang lain masuk ke dalam kereta kuda.


Nagato duduk disamping Litha, pemuda itu menghela nafas panjang karena terlihat menyusahkan ketika dirinya melihat tangan dan kakinya yang diperban.


"Merepotkan." batin Nagato sambil menghela nafas panjang.


Setelah semuanya naik kereta kuda yang dikendarai Kakek Hyogoro, kereta kuda itu berjalan pelan meninggalkan penginapan Kitakaze.


Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya, karena dirinya kemarin mendengar kabar bahwa dua jendral kekaisaran berniat mengunjungi Kota Yasai.


"Seibu Tsumasaki dan Seifu Budou, kah?" gumam Kakek Hyogoro yang sedang mengendarai kereta kuda.


Azai yang duduk disampingnya menoleh melihat Kakek Hyogoro.

__ADS_1


"Siapa itu, kek?" Azai penasaran dengan dua nama yang disebutkan oleh Kakek Hyogoro.


"Hmmm, jendral kekaisaran." jawab Kakek Hyogoro yang terlihat seperti tidak suka dengan kedua nama itu.


"Dengar Azai keluarga bangsawan yang lain tidak memiliki sifat yang baik seperti Tuan Shugo dan Nyonya Haru." Kakek Hyogoro ingin menasihati Azai.


"Aku tidak menyukai keluarga bangsawan kekaisaran yang lain, kau akan mengerti sendiri ketika bertemu dengan Hawk." Kakek Hyogoro mengingat masa lalunya.


"Kau bisa bertanya pada Hawk, jika anak itu benar - benar akan mengunjungiku." Kakek Hyogoro menambahkan.


"Aku sepertinya juga harus menjadi prajurit kekaisaran?" gumam Azai pelan sambil memandang langit.


"Hahaha, itu juga sesuatu yang bagus, aku akan mendukungmu!" Kakek Hyogoro menepuk punggung Azai.


Sementara itu dibelakang Kuina, Serlin dan Haru sedang mengbrol bertiga.


Chiaki dan Chaika sedang mengobrol bersama Litha.


"Litha, aku akan belajar bela diri ketika telah sampai di rumah." Chiaki terlihat begitu bersemangat.


"Aku akan menjadi pendekar perempuan yang kuat sehingga aku mampu melindungi ayah, ibu dan adikku!" Chiaki tersenyum hangat setelah mengatakan isi hatinya.


Shugo, Haru dan Chaika yang mendengar terkejut dan merasa bangga dengan Chiaki.


"A-A-Aku juga ingin ... eh." Chaika berteriak ingin mengikuti perkataan kakaknya namun suara gadis kecil itu tertahan.


"Chaika, kita berdua akan berlatih bersama." Chiaki mengepalkan tangannya dan mengarahkannya pada adiknya itu.


"Iya kak." Chaika membalas kepalan tangan kakaknya dengan tangannya.


"Aku juga akan belajar bela diri, aku tidak akan kalah dengan kalian berdua." Litha tersenyum pada kedua gadis kembar itu.


Nagato hanya mendengarkan perkataan mereka sambil tersenyum tipis dan memejamkan matanya pelan.


"Pendekar, kah?" batin Nagato sambil mengingat apa saja yang sudah dirinya lihat dan latih diam - diam ketika ayahnya mengajari Kuina dan yang lainnya.


"Air suci! Jika aku menemukan air suci yang cocok denganku maka aku akan mempunyai kekuatan yang besar." batin Nagato karena dirinya sudah pernah melihat Kazan dan anggotanya yang memiliki kekuatan yang diluar nalar manusia.


Tidak terasa hari sudah mulai gelap Kakek Hyogoro mengajak yang lainnya untuk beristirahat, dibelakang kereta kuda yang dikendarainya terlihat ada beberapa kereta kuda yang mengikuti mereka dari belakang.


Kereta kuda itu berhenti, satu per satu para pendekar keluar dari kereta kuda yang mengikuti kereta kuda yang sedang dinaiki Nagato dan yang lainnya.


Note : Puisi diatas penulis buat waktu masih duduk di bangku sekolah kelas sebelas SMK. Saat itu penulis tinggal disebuah Asrama Putra Ki Hajar Dewantara, seingat penulis kebetulan waktu itu kalau tidak salah hari rabu ketika liburan sekolah semester dua, pada saat itu ruangan asrama terlihat begitu sepi karena semua siswa asrama sudah pulang ketempat tinggal masing - masing sedangkan penulis sendiri menetap sendirian diasrama karena ada sedikit masalah yang membuat penulis sempat kehilangan arah selama beberapa bulan yang penulis tidak bisa ceritakan disini, jadi penulis berpikir lebih baik untuk menyendiri sementara waktu itu. Saat itu penulis suka bikin - bikin puisi sambil menulis catatan kecil di buku diary.


Sedikit kata dari saya " Melampiaskan emosi, semua yang ada dikepala dengan menulis. Menurut saya, bukanlah hal yang buruk. " Karena saya sendiri pernah mengalami dan merasakannya, ketika ada masalah besar yang sampai membuat despresi bawaannya pasti pengin menceritakannya ke orang lain, agar beban pikiran bisa hilang dan sedikit terasa lebih ringan karena tersalurkan. Terlebih jika kita mempunyai mempunyai seorang teman yang mau mendengarkan keluh kesah kita rasanya senang karena didalam hati kita sadar bahwa kita tidak tidak sendiri.


Tetapi terkadang lebih baik diam daripada menceritakan masalahmu kepada orang lain, karena kebanyakan orang itu hanya penasaran bukannya peduli, terkadang mereka datang kepadamu ketika ada masalah setelah gak ada masalah hilang gak tau kemana, terkadang juga ada orang yang penasaran dan pura - pura jadi pendengar yang baik agar kamu menceritakan masalahmu setelah kami menceritakannya mereka tidak lagi peduli denganmu karena mereka datang hanya penasaran.


Bahkan terkadang ada teman yang sudah kita anggap jadi teman baik justru bukannya menyemangati atau memberikan solusi, mereka hanya mencari kelemahanmu bahkan dianggap sebagai sebuah candaan kan gak lucu gitu.


Tetapi pada saat itu saya sadar seseorang yang bukan teman bahkan tidak saling mengenal justru peduli terhadap kita dan akhirnya dalam lubuk hati saya sadar dan berkata jadi ini yang namanya teman sungguhan dan yang disana itu teman sebatas kata saja.


Selamat Malam untuk para pembaca semoga kalian semua mimpi indah.


Buat yang begadang selamat Menunggu Pagi.


Judul puisi diatas "Embun Menyendiri".

__ADS_1


__ADS_2