Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
The Dawn 29 : Lembah Rafinha


__ADS_3

Matahari terbit mengawali perjalanan baru Nagato yang akan melakukan pertempuran akhir melawan Sekte Pemuja Iblis di Lembah Rafinha.


Dua pedang yang tersarung rapi di pinggangnya akan menjadi senjata utama Nagato membalaskan dendam kematian Kakek Hyogoro ataupun Litha.


“Chibi, Panda, Hayabusa, Kashima, Nekoya, Sonjo, Laura, Hiragi. Aku sudah katakan pada kalian, tidak ada alasan untuk mundur. Tetapi aku akan memberi dua pilihan untuk kalian, mundur sekarang dan jangan pernah mengikuti atau ikut bersamaku untuk membalikkan dunia yang busuk ini.” Nagato bermaksud menghentikan teman-temannya yang tetap bersikeras mengikutinya.


“Aku benci perpisahan dan kematian. Lebih baik kalian pergi meninggalkanku daripada harus berakhir dengan kematian.” Ucapan terakhir Nagato membuat Laura geram. Gadis ini memukul perut Nagato untuk pertama kalinya.


“Nagato! Setidaknya percayalah pada kami! Kenapa kau berkata seolah-olah kau yang menanggung hidup kami?! Bukankah kita ini teman? Setidaknya biarkan kami membantumu sedikit, walau hanya sedikit itu sudah cukup...” Laura merapatkan giginya menatap Nagato yang tetap berwajah tenang.


“Benar apa kata Laura, Nagato. Apa kau masih belum mempercayai kami?” Sekarang Kashima yang berbicara sambil menatap lurus Nagato.


“Kita tidak bisa mundur setelah berurusan dengan Sekte Pemuja Iblis. Selain itu, tujuan kita sama. Kita akan membebaskan Benua Ezzo dari cengkeraman para penjajah asing itu!” Hayabusa menenangkan Kashima dan Laura yang menatap tajam Nagato dengan perkataannya.


Nagato menghela napas panjang, “Baiklah, aku mengerti. Aku minta maaf karena aku tidak mempercayai tekad kalian. Aku hanya membenci kematian yang sia-sia.”


Setelah berkata demikian, Nagato berjalan pelan keluar dari tempat persembunyian mereka didalam gua. Kemudian Nagato menatap matahari yang kian meninggi sebelum memberi isyarat pada teman-temannya untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Lembah Rafinha.


“Nagato, biarkan aku yang menuntun jalan kalian menuju Lembah Rafinha. Ingat perkataanku ini. Jangan lengah jika telah membunuh monster sialan itu. Mereka tidak akan mati walau kepala mereka terlepas dari tubuhnya...” Hiragi mengepalkan tangannya erat sebelum berlari menuntun Nagato dan yang lainnya menuju Lembah Rafinha.


Dalam perjalanan, Hiragi memberikan penjelasan tentang anggota Sekte Pemuja Iblis yang berkumpul di Lembah Rafinha. Menurutnya hanya satu anggota yang sekarang sedang menjalankan tugas di luar Benua Ezzo.


“Wrath, orang itu memiliki senjata yang merepotkan. Sekarang dia berada di luar Benua Ezzo. Aku dengar langsung dari Gore. Wrath sekarang menjadi anggota suatu organisasi.” Jelas Hiragi dan itu membuat Nagato mengepalkan tangannya dengan erat.


Mengingat sosok Wrath membuat Nagato marah, karena bagaimanapun dirinya gagal melindungi Iris ataupun Litha. Dan itu hanya menyisakan luka yang melebar didalam hatinya.

__ADS_1


Secara perlahan namun pasti Hiragi membawa Nagato dan yang lain menuju sebuah tempat asing. Disana hanya ada tumpukan batu besar dan keheningan yang memenuhi penjuru daratan.


“Aku akan datang ke markas dan memberikan laporan pada Gore. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku akan memberi isyarat pada kalian dengan semburan api di udara...” Ucap Hiragi sambil menatap Lembah Rafinha dari atas tebing.


“Kashima.” Nagato menatap Kashima yang berdiri disamping Laura. Gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti maksud Nagato untuk melakukan penyelidikan ke dalam markas utama Sekte Pemuja Iblis yang berada di Lembah Rafinha.


“Aku tidak akan bertindak gegabah, Nagato. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku...” Hiragi mengira Nagato khawatir padanya sehingga pemuda itu mengirim Kashima untuk melakukan penyusupan ke dalam markas utama Sekte Pemuja Iblis.


“Nagato tidak mengkhawatirkanmu, bodoh. Dia hanya menyuruhku untuk melakukan penyusupan.” Kashima menghilang dari pandangan Hiragi setelah berkata demikian.


Hiragi segera menyusul Kashima yang lebih dulu masuk ke dalam markas utama Sekte Pemuja Iblis.


____


Didalam markas utama Sekte Pemuja Iblis berkumpul para petinggi organisasi tersebut. Gore yang membentuk Sekte Pemuja Iblis memimpin pertemuan ini.


“Setelah kembali dari Pulau Majin aku sadar jika cepat atau lambat era akan berubah. Sekarang dunia sedang ramai membicarakan sosok baru yang menjadi Lima Penguasa.” Ucap Gore sambil memperhatikan tangan yang terpotong, dan disana ada sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan yang terpotong.


“Sekarang aku tidak terlalu peduli dengan Lima Penguasa. Yang terpenting bagaimana bisnis kita dengan Organisasi Disaster. Aku yakin mereka lebih menyukai produk kita dibandingkan kelompok asing itu.” Brusca yang sedang memperhatikan sebuah dokumen sedikit geram saat mengetahui beberapa markas Sekte Pemuja Iblis dihancurkan.


“Kelompok merepotkan yang dipimpin bocah! Beraninya mereka mencari masalah denganku!” Brusca merobek kertas dokumen tersebut sebelum menatap tajam Gore, Reptile dan Wang Zhi.


“Dimana Hiragi?! Seharusnya hari ini dia memberi laporan padaku!” Saat Brusca sedang emosi, pintu ruangan diketuk sebanyak tiga kali sebelum akhirnya Hiragi menunjukkan dirinya pada Brusca yang mencarinya.


Hiragi datang dengan santainya dan berjalan memasuki ruangan rapat Sekte Pemuja Iblis.

__ADS_1


“Maaf aku datang terlambat. Aku tidak menyangka kelompok yang memburu Sekte Pemuja Iblis berhasil menghancurkan seluruh markas kita diluar Lembah Rafinha.” Hiragi tersenyum santai saat menjelaskan situasi yang terjadi diluar Lembah Rafinha pada Brusca.


“Apa kau tidak memburu mereka?! Apa gunanya kau berlatih dibawah bimbingan kami jika kau takut pada mereka dan melarikan diri kesini!” Brusca memukul meja, sementara Reptile melepaskan aura pembunuh untuk mencoba menekan pergerakan Hiragi.


“Sebaiknya kau hati-hati dalam mencari alasan. Aku merasa kau bersekongkol dengan kelompok bermarga Kagutsuchi ini. Lagipula dia itu saudaramu bukan, Hiragi?” Reptile menatap Hiragi dengan tatapan menyelidik, sedangkan Hiragi mengangkat kedua tangannya.


“Aku juga sudah mengatakan tujuanku. Aku tidak peduli dengan Kagutsuchi atau apapun itu. Yang menjadi tujuan utamaku adalah membunuh pria itu!” Hiragi melepaskan aura pembunuh dan mengepalkan kedua tangannya.


Reptile terkekeh melihat Hiragi sebelum memberi isyarat pada Wang Zhi untuk bergerak.


Hiragi mendecakkan lidahnya karena Reptile menyadari Kashima yang sedang mengendap-endap dan bersembunyi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Hiragi menarik pedangnya dan melepaskan putaran tebasan untuk memberi isyarat pada Nagato.


Saat debu-debu bangunan hancur memenuhi ruangan, Hiragi segera menyemburkan api dari mulutnya. Kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi bersama Kashima keluar dari markas utama Sekte Pemuja Iblis.


Gore menyeringai melihat Hiragi keluar bersama seorang gadis. Hanya dalam satu kali gerakan tangannya, Gore memencet sebuah tombol hingga seluruh markas utama Sekte Pemuja Iblis mengeluarkan bunyi tanda bahwa markas mereka kedatangan penyusup.


“Kagutsuchi. Akhirnya kau datang sendiri padaku! Hari ini akan kupastikan tubuhmu itu dapat kuperiksa!” Gore berdiri saat markas utama Sekte Pemuja Iblis hancur berkeping-keping diiringi suara teriakan yang menggema.


Teriakan dan raungan saling bersahut-sahutan membuat burung dan hewan-hewan berlarian dan terbang menjauh.


Nagato yang melihat tanda isyarat Hiragi langsung bergerak dengan kecepatan tinggi bersama Hayabusa dan yang lainnya.


“Jangan lengah kita harus saling menjaga!” Selesai Nagato mengucapkan hal tersebut. Didepannya berdiri jejeran Manusia Hewan Buas dan para pengguna Air Suci Buatan.


Nagato menajamkan matanya karena bagaimanapun markas utama Sekte Pemuja Iblis berbeda dari markas-markas sebelumnya.

__ADS_1


“Naniki, biar aku yang mengurus mereka bersama Panda!” Nekoya melompat ke udara, kemudian melakukan tendangan dari ketinggian disusul Panda yang memutarkan tubuhnya dan memberikan serangan tapak pada Manusia Hewan Buas.


__ADS_2