Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 224 — Pengkhianat Saling Berkumpul


__ADS_3

Keesokan harinya Nagato menghabiskan waktu di pagi hari dengan mendengar teguran Emi. Ketika pendekar muda yang lolos ke babak 16 besar sedang berlatih, Nagato duduk selama seharian mendengar setiap perkataan Emi.


Nagato sendiri menyadari dirinya tidak bisa mengontrol emosinya. Bahkan di saat dia berusaha menahannya, namun saat dirinya mengingat tawa dan cacian orang yang menghina nama baik mendiang ayahnya dan Kakek Hyogoro membuat emosi Nagato semakin membara bukan memadam.


Saat malam hari tiba, Nagato berlatih mengolah pernapasan secara penuh selama semalam. Di atas batu yang ada di belakang penginapan, Nagato duduk bersila dan menenangkan dirinya.


Tak terasa matahari keluar dari singgasananya, mata Nagato terbuka pelan-pelan dan mendapati gadis muda dengan rambut hitam kemerah-mudaan sedang berlatih pedang.


“Hanabi sangat giat berlatih,” gumam Nagato pelan. Kemudian dia juga ingin mengasah kemampuan berpedangnya. Satu teknik yang ingin dia coba adalah teknik pedang milik Klan Akatsuki yang digunakan Akaza.


“Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah.” Mata Nagato terpejam. Dia menarik napas panjang dan menyimpannya di ulu hati, setelah itu dia salurkan ke seluruh bagian tubuhnya.


Pedang hitam pemberian Kakek Hyogoro sedang Nagato genggam. Kemudian Nagato melangkahkan kakinya mengingat setiap gerakan pola langkah kaki dan tangan Akaza. Tebasan pedangnya membentuk gelombang api yang membara di udara.


Hanabi yang sedang berlatih dengan tenang melirik Nagato yang juga sedang berlatih di halaman yang sama dengannya.


“Bukankah itu teknik pedang milik Klan Akatsuki?” Hanabi membatin dalam hatinya. Lalu dia menghampiri Nagato.


“Nagato, jika kamu ingin melatih teknik berpedangmu. Aku dengan senang hati akan melawanmu.” Hanabi menodongkan pedang yang terbuat dari aura tubuhnya. Pedang yang terbentuk dari daun-daun sakura itu membuat Nagato terdiam tanpa ekspresi apapun.


“Hanabi, apa kamu serius?” tanya Nagato memastikan. Mendengar perkataannya, Nagato bisa melihat Hanabi sangat tidak suka diremehkan.


“Apa kamu takut denganku? Aku selalu berpikir jika kamu adalah laki-laki yang memegang prinsip, Nagato!” Hanabi menatap sengit Nagato.


“Baiklah, aku ingin melatih teknik berpedangku. Jadi apa kamu tidak keberatan menjadi teman latihanku?” tanya Nagato kembali untuk memastikan. Namun dia melihat raut wajah Hanabi yang semakin serius.


“Aku tidak keberatan,” jawab Hanabi sambil mundur tiga langkah ke belakang.


Nagato menghela napas panjang tidak percaya. Menurut dirinya, Hanabi memiliki sisi unik tersendiri di matanya.


Tak lama Nagato dan Hanabi mulai bertukar serangan. Suara benturan pedang di pagi hari mewarnai Penginapan Matahari Timur bersama dengan kicauan burung.


Nagato melihat permainan pedang Hanabi yang anggun, gerakannya gemulai. Namun satu hal yang membuat Nagato tidak bisa fokus adalah wajah Hanabi yang menatapnya sangat sengit.


Baru pertama kali dia melihat seorang perempuan yang sebaya dengannya terlihat sangat membencinya.


Tak terasa Hanabi dan Nagato telah bertarung selama tiga jam. Suara benturan pedang Hanabi dan Nagato membangunkan pendekar dari Klan Misuzawa dan Klan Fuyumi.


Nagato menghindari tebasan pedang Hanabi dan memegang tangan gadis muda tersebut. “Cukup, Hanabi!” Mata Nagato menatap mata Hanabi yang juga sedang menatap dirinya.


“Hmm.” Hanabi hanya menggumam pelan dan menghancurkan pedang sakura yang dia buat dari aura tubuhnya.


Mata Nagato terarah pada Iris dan Litha yang sedang menatap dirinya. Kemudian dia beranjak pergi ke kolam air panas untuk berendam.


Banyak yang tidak percaya melihat Hanabi dan Nagato bertarung, terutama pendekar perempuan dari Klan Misuzawa dan Klan Fuyumi yang melihatnya secara langsung.


***

__ADS_1


Di waktu yang sama sebelum babak 16 besar Turnamen Harimau Kai dilaksanakan, sesuatu yang mengejutkan terjadi di ruangan Istana Hizen.


“Yang Mulia Yamata Hizen. Apa benar anda telah membunuh Guren?” tanya Satra memastikan.


Terlihat Kaisar Hizen sedang duduk di kursi dan menatap ke arah tembok. “Aku pikir perempuan berbakat memiliki kekuatan yang sama seperti istriku. Kekuatan untuk mengontrol Kutukan Kuno Iblis Hati. Aku membunuhnya karena aku sudah puas dengannya,” ucap Kaisar Hizen sambil berjalan mendekati Satra.


“Kemarin aku mendengar ada penyusup dari Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kinai? Apa itu benar?” Lalu Kaisar Hizen duduk di depan Satra dan menatapnya tajam.


”Ya, itu benar sekali, Yang Mulia Yamata Hizen. Dan Keluarga Akaramizarawa juga sudah menemukan puluhan prajurit militer Kekaisaran Rakuza,” jawab Satra sambil tersenyum kecut. Wajahnya sedikit memucat.


“Kita berdua berhasil membungkam semua orang yang mengetahui kejadian itu. Aku tidak ingin kau berkhianat padaku, Satra!” tegas Kaisar Hizen.


“Demi mendapatkan tahta Kaisar Kai, aku rela menuduh adikku. Bahkan aku menerima tawaran kerjasama dari orang bernama Brusca dan beberapa orang dari luar Benua Ezzo.” Kaisar Hizen menambahkan.


“Yang Mulia Yamata Hizen, soal Gore. Sebenarnya orang yang bernama Gore adalah orang yang membentuk Sekte Pemuja Iblis.” Satra dengan hati-hati memberitahu Kaisar Hizen.


“Selama beberapa tahun terakhir, aku bekerjasama dengan Gore untuk melakukan uji coba manusia buas. Kupikir aku bisa membuat kejutan untuk anda, jadi aku tidak memberitahu tentang ini.” Satra menambahkan.


Kaisar Hizen mengernyitkan dahinya. “Gore? Kenapa kau tidak pernah bilang padaku, Satra?!” Terlihat jelas jika Kaisar Hizen sangat geram dengan Satra sekarang.


“Yang Mulia Yamata Hizen, aku berniat menguasai Kekaisaran Kai bersama Gore. Satu alasanku, karena aku tertarik dengan istri anda! Hanya itu alasanku rela mengkhianatimu, Yang Mulia Yamata Hizen!” Satra tersenyum sinis menatap Kaisar Hizen.


“Hubungan kita adalah saling memanfaatkan. Aku memang mendukung anda untuk berkuasa, tetapi aku juga mendukung Yang Mulia Orochi untuk kembali menguasai Benua Ezzo karena beliau juga keturunan Yamata. Yang lebih penting lagi, Yang Mulia Orochi memiliki kekuatan Arwah Suci : Yamata No Orochi!” Kaisar Hizen memucat wajahnya karena merasakan hawa nafsu membunuh yang begitu besar. Hawa nafsu membunuh itu datang dari luar pintu ruangan.


“Satra, kau terlalu banyak berbicara,” ucap pria dengan rambut panjang yang bernama Gore.


Gore duduk di samping Kaisar Hizen dan tertawa. ”Mereka telah mati mengenaskan,” jawab Gore sambil menatap Kaisar Hizen.


“Bagaimana, Kaisar Hizen? Apa kau tertarik bekerjasama denganku dan juga Satra?” Gore bertanya pada Kaisar Hizen yang memucat wajahnya.


“Satra adalah orang yang aneh. Dia tertarik dengan seorang perempuan yang telah menjadi istri orang dan orang itu adalah istri anda. Bahkan demi mendapatkan kepuasan dari istri anda, dia rela mengkhianati anda, Kaisar Hizen,” ucap Gore sambil tertawa.


“Akan kupastikan Shirayuki menjadi milik Yang Mulia Yamata Hizen. Sebagai gantinya, biarkan Yuki menjadi milikku.” Nada bicara Satra terdengar seperti mengancam.


Kaisar Hizen tertawa mendengar perkataan Gore dan Satra. Dia menyadari Satra datang bersama dua orang yang lain, namun dia tidak sadar jika orang tersebut adalah Gore dan Brusca. Namun saat ini Kaisar Hizen juga sudah mulai bosan dengan istrinya yang telah memberinya dua orang anak itu. Sehingga detik itu juga Kaisar Hizen menunjukkan sifatnya yang sebenarnya.


“Tidak kusangka kau sangat tertarik pada istriku. Aku akan menceraikan Yuki karena aku juga sudah mulai bosan dengannya, tetapi aku ingin rencana penculikan Fuyumi Iris berjalan lancar agar Shirayuki tunduk padaku dan mau menjadi istriku!” Perkataan Kaisar Hizen membuat Gore dan Satra tertawa.


Brusca yang sedari tadi diam hanya tersenyum tipis. “Inilah yang terjadi saat penjahat bertemu dengan penjahat!”


“Hizen. Kau masih mengingatku, bukan?” Brusca duduk di samping Satra dan menatap Kaisar Hizen.


“Tentu aku mengingatnya. Kau adalah orang yang datang menawarkan bantuan padaku saat malam berdarah itu,” jawab Kaisar Hizen sambil mengamati wajah Brusca yang tetap muda.


“Cepat atau lambat kota ini akan hancur. Sama seperti pembantaian Klan Kagutsuchi, dua orang utusan Kekaisaran Bahamut sedang dalam perjalanan kemari. Mereka berdua datang bersama pemimpin kami. Pemimpin dari Tujuh Dosa Besar Mematikan.” Tepat setelah Brusca membocorkan rahasianya. Wajah Gore berkeringat dingin.


“Aku tidak pernah melihat wajah pemimpin. Tetapi aku rasa dia adalah bagian dari pasukan yang dibentuk Aliansi Bangsa-Bangsa.” Brusca menambahkan.

__ADS_1


“Sekarang kau berada di pihak siapa, Brusca?” tanya Kaisar Hizen. Wajahnya semakin pucat begitu juga dengan Gore dan Satra.


“Aku adalah penjahat. Aku memberitahu kalian karena aku suka dengan pertumpahan darah. Untuk orang yang lahir di Benua Hitam, tentu aku sudah terbiasa dengan yang namanya pembunuhan. Aku sekarang di pihak netral.” Kedua tangan Brusa terangkat dan dia tertawa lirih.


“Kalian berdua tidak tahu tentang kejamnya dunia luar. Sungguh ironis, tetapi keturunan Kagutsuchi berakhir di tangan kalian berdua dengan bantuan orang asing. Semua itu karena ambisi dan kebusukan kalian, Kaisar Hizen, Satra. Di luar Benua Ezzo, nama Kagutsuchi pernah mendatangkan malapetaka. Kekaisaran Bahamut maupun Aliansi Bangsa-Bangsa sangat takut dengan keturunan iblis itu,” ucap Gore yang sedari tadi diam mendengarkan perkataan Brusca.


“Aku ada sedikit peringatan untuk kalian. Aku tertarik pada pemuda bernama Fuyumi Nagato. Jadi dengarkan perkataanku, aku tidak ingin kalian mengganggu rencanaku untuk membuat Fuyumi Nagato menjadi mesin pembunuhku.” Brusca memotong perkataan Gore dan menatap tajam Kaisar Hizen, Gore dan Satra.


Brusca berniat menyuruh anggota Sekte Pemuja Iblis untuk membunuh orang terdekat Nagato seperti Litha, Hika, Tika, namun tidak dengan Iris.


Saat manusia kehilangan orang yang berharga maka mentalnya akan hancur. Brusca ingin memanfaatkan kebencian Nagato dan mewujudkan impiannya untuk menjadi salah satu dari Lima Penguasa.


“Korban jiwa pasti akan banyak, tetapi tenang saja, Hizen. Aku akan membunuh Orochi dengan tanganku ini!” Brusca tersenyum tipis menatap Kaisar Hizen yang mempercayai perkataannya.


Kemudian Kaisar Hizen dan Satra menatap satu sama lain sebelum mengangguk, mereka berdua mengetahui ruang bawah tanah yang luasnya mencakup setengah dari Ibu Kota Daifuzen. Tempat itu akan menjadi persembunyian Kaisar Hizen, Satra Sepuluh Tetua Kai, dan beberapa orang terdekat mereka.


Alasan kenapa Kaisar Hizen tidak keberatan menjadikan Ibu Kota Daifuzen menjadi tempat pertempuran adalah keberadaan Kaisar Orochi yang datang menyusup bersama Panglima Nobu.


Brusca dan Gore menjanjikan pada dirinya bahwa mereka berdua akan membunuh Kaisar Orochi. Masalah terbesarnya selama bertahun-tahun ini adalah Kaisar Orochi yang sangat berambisi menyatukan Benua Ezzo di bawah namanya.


Tak lama Brusca dan Gore pergi meninggalkan Istana Hizen. Mereka berdua pergi ke tempat penginapan yang di tempati Reptile.


Setelah ketiga orang tersebut berkumpul, Gore tertawa puas karena berhasil membuat Kaisar Hizen bekerjasama dengan Satra.


“Tujuan kita bertiga tidak berubah. Bagaimanapun lima orang ini harus kita dapatkan,” ucap Reptile sambil menjulurkan lidahnya yang panjang itu.


“Shirayuki, Fuyumi Iris, Hisui, Fuyumi Nagato dan Misuzawa Hanabi,” sahut Gore sambil tersenyum tipis.


“Sangat disayangkan kekuatan kutukan yang dahulu menggemparkan dunia tidak kita manfaatkan. Jika kita berhasil menguasai kebencian Fuyumi Nagato. Bukan tidak mungkin, kita akan menjadi salah satu kelompok terkuat di dunia,” balas Reptile.


“Inilah hubungan para penjahat. Aku sadar Satra berkhianat padaku, tetapi nafsunya untuk mendapatkan istri Kaisar Hizen sangat menggelikan, kini tinggal bagaimana kita melakukan pergerakan dengan pasukan manusia, Proyek Beast bekas ekspresi gila dari tiga negara adidaya itu,” ujar Gore.


“Ya, manusia buas bekas Proyek Beast. Aku tidak menyangka kau merupakan salah satu dari ilmuwan itu, Gore?” sahut Brusca sambil terkekeh.


“Itu adalah cerita panjang. Selama aku dapat menyambung nyawa dengan ilmu yang didapatkan dari Kerajaan Zhang, aku dapat melakukan eksperimen pada manusia dan Hewan Buas di seluruh Benua Ezzo ini,” jawab Gore.


“Proyek Beast. Ini adalah proyek yang besar, berapa nyawa yang melayang karena eksperimen gilamu, Gore?” tanya Reptile sembari berdiri dan menatap ke luar jendela.


“Ribuan, mungkin. Lagipula aku tidak terlalu peduli,” jawab Gore.


“Aku akan menghubungi Wang Zhi. Dia adalah orang yang mengajari kita cara menggunakan Ilmu Jiwa Pembangkitan.” Brusca memotong perkataan Gore dan Reptile.


“Wang Zhi? Sudah lama aku tidak berjumpa dengan pendekar sesat dari Kerajaan Zhang itu,” sahut Gore sambil terkekeh.


“Lebih baik kita tinggalkan penginapan ini. Aku tidak tertarik bertarung melawan pasukan militer Kekaisaran Kai. Mereka lebih merepotkan dari yang kita duga,” ajak Reptile sambil membawa cincin berwarna kuning dan dia taruh di sakunya.


Tak lama mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke luar Ibu Kota Daifuzen. Mereka bertiga pergi untuk bertemu dengan anggota Akuyaku, anggota Sekte Pemuja Iblis dan petinggi dari Spider yang sudah menguasai pedesaan yang dekat dengan Ibu Kota Daifuzen.

__ADS_1


__ADS_2