
Saat berita Hiryuu mengetahui rahasia tentang Eden tersebar. Dengan cepat dunia dipenuhi kekacauan. Sebelum Hiryuu membubarkan Organisasi Shin Jidai, dia pergi menemui anaknya yang tinggal bersama seorang Pahlawan Bintang Lima.
Sosok pria yang dijuluki Pahlawan Besi merawat anak Hiryuu sedari kecil. Seorang gadis berumur lima belas tahun yang mewarisi kekuatan dari Hiryuu yakni kekuatan Roh Sang Putih.
“Aku akan pergi mengambil sesuatu yang menjadi harta suci Pulau Kitsune. Arwah Suci itu tidak boleh jatuh ke sembarang orang...” Hiryuu tersenyum menatap gadis berumur lima belas tahun yang sama sekali tidak peduli padanya.
“Kirara, aku ingin kau menggunakan kekuatan ini. Aku yakin Arwah Suci itu akan memilihmu. Karena di dalam darahmu mengalir darahku...” Hiryuu meremas rambut anaknya.
“Hiryuu, kau selalu saja seenaknya. Kau sama sekali tidak bertanggung jawab. Istrimu telah meninggal dan kini kau berniat meninggalkan Kirara sendirian!” Seorang pria berambut putih dengan kumis putih yang tumbuh tipis-tipis itu menatap dingin Hiryuu.
“Tetsuya, kau harus menjaganya. Walau kita selalu berbeda pendapat dan bermusuhan di luar sana. Aku ingin kau menjaga dan mengawasi anakku ini baik-baik. Bagaimanapun dia adalah keponakanmu...” Hiryuu tersenyum dan mengambil gentong sake sebelum menuangkannya pada gelas.
“Ayah, apa kau benar-benar akan mati?” Anak dari Hiryuu yang bernama Kirara nampak bersedih dan murung.
Hiryuu meminum sake dan memejamkan matanya. Lalu dia tersenyum tipis menatap anaknya. “Aku tidak akan mati. Jiwaku ini akan terus hidup. Seseorang akan mati saat mereka dilupakan. Selama orang-orang terdekatku masih mengingatku maka jiwaku akan terus hidup sampai kapanpun itu.”
Kirara membuang wajahnya. “Matilah! Dasar ayah tidak berguna!” Gadis itu membanting gelas dan masuk ke dalam kamarnya.
Tetsuya memperlihatkan lencana pada Hiryuu. “Anakmu telah mencapai Pahlawan Bintang Satu. Tetapi menyembunyikan identitasnya tidak mudah. Jika bukan karena Kekaisaran Bahamut yang memiliki hutang besar padaku, maka aku tidak akan bisa menjadi seorang Pahlawan karena darahku ini.”
Tetsuya mengerti jika Kirara masih mengalami trauma di masa lalu. Darah yang mengalir di dalam pembuluh darah gadis itu adalah seorang kriminal yang paling dicari. Selain itu nama marga Kitsune yang menjadi namanya membuat Kirara selalu merasa putus asa menjalani kehidupan.
“Walau kau dijuluki Pahlawan Besi ataupun aku yang dijuluki Raja Penjahat. Kita berdua sama sekali tidak mempunyai kekuatan yang cukup. Namaku tidak diterima oleh semua orang di dunia, sama seperti Kagutsuchi Mugen...” Hiryuu menghela napas panjang dan meminum sakenya sembari menatap ke luar jendela.
Tetsuya mengingat saat pertempuran besar melawan kelompok Kagutsuchi Mugen. “Kenapa kau pesimis seperti itu. Pertarungan saat itu juga kita berhasil memenangkannya walau kita tidak membunuh mereka...”
“Saat itu Bisma merasa ambisi Mugen yang berniat menjadi Raja Dunia mengancam mimpinya. Dia berpihak pada kita berempat. Namun nyatanya Mugen benar-benar tidak ditemukan mayatnya.” Hiryuu menatap Tetsuya yang sama-sama sedang mengenang masa lalu.
“Kazan dan Bisma sekarang menjadi Lima Penguasa. Sementara Yoru, Tarot dan King. Ketiganya tidak ada kabar. Setidaknya sebelum aku mati, aku ingin meminum sake bersama mereka...” Hiryuu menambahkan sambil tertawa.
“Mungkin kau dan Bisma akan mati karena meminum sake yang beracun. Penyakit jantungmu itu—” Tetsuya tidak melanjutkan perkataannya.
Hiryuu meminum sakenya dan memandang pintu kamar Kirara. “Jangan katakan apapun padanya tentang ini. Aku hanya ingin melihat dia bahagia suatu hari nanti. Anak itu sudah lama menderita. Setidaknya sebagai seorang ayah aku ingin mengorbankan nyawaku ini demi anakku.”
Tetsuya menghela napas panjang. “Seorang Pahlawan Bintang Lima sepertiku merawat anak dari Raja Penjahat...”
Hiryuu tertawa keras mendengar keluhan Tetsuya. Tak lama terdengar suara dobrakan dari pintu kamar Kirara.
__ADS_1
“Kirara, apa kau dalam fase jatuh cinta?” Hiryuu justru membuka pintu kamar Kirara. Sebuah bantal dan guling mendarat tepat diwajahnya.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Kirara, semoga kau hidup dengan bahagia. Kau sekarang telah bebas...” Hiryuu tersenyum lembut pada anaknya dan berjalan keluar.
Tetsuya tidak menghentikan langkah kaki Hiryuu. Senyuman terakhir dari Hiryuu tersirat kebahagiaan, namun bagi Tetsuya itu adalah kesedihan. Bagaimanapun Kirara tidak menyadari pengorbanan Hiryuu padanya.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah Tetsuya, Hiryuu menoleh ke arah musuh sekaligus temannya itu.
“Aku titipkan anakku padamu...” Hiryuu tersenyum dan melambaikan tangan pada Tetsuya.
“Bodoh! Seorang Pahlawan tidak akan menangisi kematian seorang penjahat. Apalagi penjahat itu adalah dirimu, kurang ajar!” Tetsuya langsung menutup pintu rumahnya.
Sementara itu Hiryuu tertawa dan pergi ke tempat dimana dia mendaratkan Singa Terbang yang menjadi kendaraannya.
Setelah itu Hiryuu kembali menuju Pulau Kirara, tempat dimana seluruh rekan-rekannya berkumpul. Sesampainya di sebuah pulau yang menjadi tempat bernaung kelompoknya, Hiryuu tersenyum tipis.
Empat puluh empat anggota Organisasi Shin Jidai menyambutnya. Tetapi hanya Dante dan ketiga rekannya yang mengetahui saat ini Hiryuu nampak ingin mengatakan sesuatu yang penting.
“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada kalian semua..." Hiryuu merasa canggung ketika rekan-rekannya menyambut dirinya dengan sebuah pesta makan yang mewah.
“Berita tentang dirimu yang mengetahui rahasia tentang Eden membuat banyak orang mengira di tanah tak terjamah itu terdapat sebuah harta ataupun kekuatan. Mereka semua sama sekali tidak tahu apapun!” Salah satu rekan Hiryuu berbicara dan sedang merangkul Dante.
“Kita terlalu cepat mengetahui segalanya. Benar-benar membuatku tertawa ketika mengingat orang yang lebih menakutkan daripada penguasa!” Dante merangkul rekannya tersebut dan tertawa riang.
“Bos, lihat ini. Mereka mengatakan kau sebagai Raja Penjahat karena berniat menggunakan kekuatan dari rahasia Eden untuk menghancurkan dunia!” Dante memperlihatkan koran pada Hiryuu.
“Ah, itu wajahku. Sepertinya aku terlihat kurang menakutkan...” Hiryuu justru mengeluh setelah melihat wajahnya terpampang di poster buronan.
“Kita benar-benar kedatangan militer yang merepotkan, tetapi semua dapat kita atasi. Sekarang bagaimana perjalanan kita selanjutnya, Bos?” Orang yang sedang merangkul Dante bertanya.
“Lao, tentu saja kita akan pergi ke salah satu dari tiga benua yang tersembunyi itu. Walau kita telah mengetahui tentang Eden, tetapi kita belum menjelajahi seluruh dunia.” Dante merangkul lebih erat pria yang bernama Lao.
Hiryuu menatap semua rekannya. Dia sadar dirinya yang bertanggung jawab karena telah memberikan mimpi pada teman-temannya. Mereka semua mengikutinya dengan sepenuh hati. Masih banyak yang ingin dia lakukan bersama mereka semua, tetapi ini sudah waktunya untuk mengakhiri.
“Mengetahui semua itu dua belas tahun yang lalu, rasanya seperti sebuah mimpi. Kita bisa mengetahui alasan kenapa Keluarga Prabu dan pesilat dari Negeri Jaya menunggu hari yang telah ditentukan ketika orang itu mengatakan tepat 300 tahun setelah malam abadi tanpa akhir itu. Saat ini sebenarnya aku jadi ingin berkunjung ke Kerajaan Zhang dan Negeri Jaya untuk bertemu dua kawan kita...” Hiryuu meminum sake dan menatap langit di atas sana.
“Ayolah, Bos. Kau tidak seperti biasanya. Kerajaan Zhang dan Negeri Jaya adalah tempat yang terisolasi. Kita tidak pernah menerima bahkan mengetahui kabar disana, jika tidak kita sendiri yang pergi kesana. Apa tujuan perjalanan kita selanjutnya adalah dua tempat itu, Bos?” Lao bertanya sambil menatap Hiryuu serius.
__ADS_1
“Tidak. Tujuanku bukan kesana...” Hiryuu berdiri dan menatap semua rekan-rekannya yang sedang duduk itu. “Aku benci mengatakan ini. Tetapi kalian pasti sudah mengetahui penyakit jantungku ini semakin lama semakin parah...”
Seketika semua orang yang sedang berpesta, penuh suasana di ang yang riang gembira langsung terdiam. Tidak ada suara tawa selain mencoba menerima kenyataan. Mereka harus mendengarkan perkataan sosok pemimpin yang telah mengajak mereka semua pergi melihat dunia luar dan memiliki mimpi untuk bebas. Manusia bebas tanpa dijajah oleh manusia yang lainnya.
“Kita telah melakukan perjalanan yang hebat bersama-sama. Aku sama sekali tidak menyesal ketika mengetahui umurku ini tidak bertahan lebih lama lagi. Seumur hidupku, aku tidak akan pernah melupakan kalian semua. Aku tidak menjadi pemimpin yang baik. Tetapi terimakasih untuk kalian semua. Kalian telah bersedia bertukar cawan denganku dan menjadi temanku!”
Selesai Hiryuu berkata, semua rekan-rekannya kembali berpesta.
“Baiklah, apa kita akan pergi bertempur melawan pasukan militer dari Benua Barat itu, Bos?”
“Tidak, menurutku lebih baik kita pergi ke dua benua tersembunyi yang belum kita singgahi itu!”
“Perkampungan Elf... aku ingin hidup bersama mereka. Impian semua laki-laki adalah menjadi satu-satunya laki-laki di tempat wanita-wanita cantik itu...”
Hiryuu tertawa mendengar pendapat rekan-rekannya. Kemudian dia menatap seluruh rekannya sebelum menarik napas dalam.
“Tidak semua tempat itu. Karena mulai hari ini... Organisasi Shin Jidai dibubarkan!”
Hiryuu tertawa lepas setelah mengucapkan kata yang paling sulit untuk dia ucapkan.
“Hah?!” Semua anggota Organisasi Shin Jidai tersentak kaget. Tetapi semua telah mengetahuinya. Ambisi Hiryuu tidak dapat mereka tuntaskan sekarang, bahkan Hiryuu sendiri tidak dapat menuntaskannya.
“Bos, lakukan sesukamu. Kami akan melanjutkan hidup kami.”
“Saatnya pergi, saatnya pergi...”
“Masa bodoh dengan perkataanmu, Bos. Mari semuanya saatnya minum!”
Semua tidak jujur terhadap perasaannya. Diantaranya ada yang memilih meminum sake di tempat sepi dan menangis. Diantaranya ada yang kembali berpesta dengan suara tawa dan air mata yang berlinang.
Sebagai rekan dari seseorang yang hebat seperti Hiryuu tentu mereka semua tidak boleh menangis. Tetapi ini adalah perpisahan seorang pria. Semuanya melihat Hiryuu yang pergi ke tempat dimana dia mendaratkan Singa Terbang yang menjadi kendaraannya.
Hiryuu mengatakan sesuatu kepada sahabat karibnya. Rekan pertamanya, Dante, sebelum dia pergi meninggalkan Pulau Kirara.
Saat Hiryuu pergi, Lao menghampiri Dante dan bertanya sesuatu padanya. Yang mana itu hanya membuat Lao menangis. Tangisan dari seorang pria.
Legendanya masih berlanjut.
__ADS_1