Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 258 — Cincin Api, Tsumasaki.


__ADS_3

Tsumasaki menyemburkan api dari mulutnya untuk menggertak lawannya. Pembunuh bayaran yang dapat menghindari serangannya itu membuat Tsumasaki mendecakkan lidahnya.


“Masih dapat menghindari seranganku. Memang hebat, pembunuh bayaran dari Asosiasi Pedang Darah. Tetapi kau salah memilih lawan...” Tsumasaki menggunakan kekuatan Cincin Api miliknya. Cincin yang melingkar di jari manis Tsumasaki tak lain adalah Senjata Kuno Tipe Pusaka : Cincin Api.


Sebuah dua Harimau Api terbentuk disekitar Tsumasaki. Kedua Harimau Api itu berwarna merah menyala layaknya api yang berbentuk harimau dan bergerak dengan bebas di tanah.


“Serang dia kucing-kucingku yang menggemaskan!” Tepat setelah Tsumasaki menyelesaikan perkataannya. Tubuh dua Harimau Api meledak dan berubah menjadi pilihan Kucing Api yang berlari ke arah pembunuh bayaran.


“Jurus Cincin Api : Kelembutan Yang Mematikan!”


Tsumasaki melihat lawannya terlihat kebingungan. Namum setelah puluhan Kucing Api tersebut dekat dengannya, dalam sekejap puluhan Kucing Api berubah menjadi dua Harimau Api.


Ketika kedua Harimau Api itu meraung. Suara ramuannya terdengar begitu nyata. Dengan lompatan yang tinggi. Kedua Harimau Api menerkam tubuh pembunuh bayaran yang menjadi lawan dari Tsumasaki.


“Lumayan juga. Luka bakar dan gigitan ini sangat nyata. Sebagai pembunuh bayaran, aku sangat mengapresiasi teknik seranganmu, Jendral Api!” Pembunuh bayaran tersebut memotong dua Harimau Api dengan pedangnya.


“Pembunuh bayaran dari Asosiasi Pedang Darah memang menakutkan. Beri tahu aku namamu. Jika aku membunuhmu, tanpa mengetahui namamu. Maka kau akan menjadi hantu gentayangan yang menakutiku sepanjang malam...” Tsumasaki memegang pedangnya dan menatap lawannya itu.


“Hantu gentayangan? Kau seperti anak kecil saja, Tsumasaki!” Pembunuhan bayaran tersebut justru tertawa cekikikan mendengar perkataan Tsumasaki.


“Beri tahu aku namamu?” Kali ini Tsumasaki melepaskan aura tubuhnya beserta menggunakan kekuatan Cincin Api hingga puluhan prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang hendak mengepungnya terbakar hidup-hidup. Dal satu kali tebasan yang membara. Tsumasaki membunuh mereka semua. Serangan itu menjadi peringatan bagi pembunuh bayaran didepannya.


“Namaku Kurojiro.” Setelah memberitahukan namanya kepada Tsumasaki. Pembunuh bayaran yang bernama Kurojiro memainkan pedangnya dan melesat ke depan untuk menyerang Tsumasaki.


Serangan yang cepat dari Kurojiro dapat diantisipasi oleh Tsumasaki dengan baik. Tebasan Kurojiro dilapisi air yang mengalir di udara. Melihat api miliknya dapat dipadamkan. Tsumasaki tidak memanipulasi aura tubuhnya menjadi api dan tidak menggunakan kekuatan Cincin Api.


Kali ini Tsumasaki fokus menggunakan aura tubuhnya untuk membungkus setiap inci tubuhnya. Aura tubuh Tsumasaki sekarang hanyalah aura yang menjadi zirah pertahanannya.

__ADS_1


Sembari bertukar serangan dengan Kurojiro. Kedua mata Tsumasaki mengamati pergerakan Kurojiro dan mencari kelemahannya.


“Sial! Untuk mengalahkannya, aku harus bertarung tanpa memanipulasi aura. Sepertinya ini butuh kerja keras dan semangat yang membuatku kesal!” Tsumasaki terlihat emosi. Tebasan pedangnya hanya dilapisi aura berwarna merah. Sementara tebasan pedang Kurojiro dilapisi air padat yang terus mengeluarkan cipratan air ketika pedang milik mereka berdua berbenturan.


Kurojiro merasa diuntungkan sehingga dia memainkan pedangnya dengan agresif. Tebasan pedangnya berhasil mendapatkan beberapa luka tusukan di sekujur tubuh Tsumasaki.


“Ada apa? Apa kekuatan Jendral Api dari Kekaisaran Kai hanya segini? Lemah sekali!” Kurojiro tertawa mengejek Tsumasaki.


“Seranganmu ini...” Tsumasaki menahan perkataannya sebelum matanya menatap Kurojiro dengan tatapan yang teramat tajam, “Seperti orang yang baru belajar mengayunkan pedang!”


Tsumasaki berteriak dan menyerang Kurojiro secara membabi-buta. Tebasan demi tebasan yang dilesatkan oleh Tsumasaki terus mendarat di sekujur tubuh Kurojiro.


“Kenapa dia jadi liar begini?” Kurojiro membatin keras dalam hatinya. Matanya mengamati arah ayunan tebasan pedang Tsumasaki yang brutal, “Kenapa kau seperti Hewan Buas!”


Kali ini Kurojiro berteriak dan membalas serangan Tsumasaki dua kali lipat dari yang diberikan oleh Tsumasaki itu. Keduanya menggila di tengah pertarungan mereka.


“Ada apa? Kemarahanmu hanya segini, kah? Lemah sekali!” Mendengar perkataan Tsumasaki yang cukup keras itu. Budou menghentikan serangannya dan menegur sahabatnya tersebut.


“Tsumasaki! Gaya bertarungmu benar-benar berantakan. Aku akan menghabisi lawanku dan membantu para senior yang bertarung melawan Orochi!” Mendengar perkataan Budou yang membuat telinganya panas. Tsumasaki menangkis tebasan pedang Kurojiro dan melakukan gerakan memutar.


“Apa?!” Kurojiro terkejut dan melepaskan aura tubuhnya lebih besar lagi. Sebuah pelindung air berhasil menyelamatkan tangan kirinya yang hampir dipotong oleh Tsumasaki.


“Sepertinya kau cukup kuat menghindari seranganku. Melihatmu, aku jadi mengingat kutu loncat...” Tsumasaki dengan wajahnya yang tenang membuat memprovokasi kemarahan Kurojiro.


“Kutu loncat?” Kurojiro berpikir jika Tsumasaki yang menghindari serangannya dan melakukan gerakan memutar yang terkesan melompat. Namun ejekan Tsumasaki berhasil memancing kemarahan Kurojiro.


“Aku akan mencabik-cabik setiap daging yang masih menyatu itu! Terutama mulutmu!” Kurojiro memakan pil yang berwarna merah darah dan membuat tubuhnya berotot, bahkan kedua bola matanya terlihat jelas memunculkan urat.

__ADS_1


“Cacing merah? Tidak, apa itu, urat merah?” Tsumasaki menggumam ketika melihat perubahan Kurojiro. Terutama urat-urat berwarna merah yang membuat kedua bola Kurojiro menjadi terkesan berwarna merah.


“Tebasan Pedang Pembelah Air!”


Kurojiro melesat ke arah Tsumasaki sambil mengayunkan pedangnya. Sebuah tebasan yang membentuk lintasan tebasan lurus itu membuat Tsumasaki menggunakan pedangnya untuk menahan.


“Sial! Kuat sekali!” Tsumasaki membatin dalam hatinya dan menahan tebasan pedang Kurojiro. Dorongan dari Kurojiro tidak mampu ditahan dengan baik oleh Tsumasaki.


“Sialan!” Dalam hati Tsumasaki mengumpat. Tubuhnya terpental ke belakang dan tersungkur ke tanah. Serangan selanjutnya dari Kurojiro membuat Tsumasaki dengan cepat berdiri dan memainkan pedangnya untuk menahan serangan beruntun tersebut.


“Sepertinya kekuatan dari pil itu memiliki efek. Aku harus memaksanya menggunakan teknik pedangnya yang memakai aura dan tenaga dalam yang besar.” Tsumasaki membatin dan melepaskan aura tubuhnya lebih besar lagi.


Tsumasaki dan Kurojiro bertukar serangan. Lebih dari sepuluh jurus yang dilancarkan oleh Kurojiro dapat ditahan oleh Tsumasaki dengan bersusah payah.


“Merepotkan. Kau membuatku terdesak...” Tsumasaki mengatur napasnya yang terengah-rengah. Kemudian dia melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan memanipulasinya menjadi api.


“Kau terlihat kelelahan...” Tsumasaki mengamati kedua kaki Kurojiro yang bergetar dan terlihat seperti kesemutan.


“Menyalurkan aura...” Tsumasaki menggunakan kekuatan Cincin Api dan memadatkan api di bilah pedangnya, “Sekarang kau bisa merasakan satu jurusku, Kurojiro, pembunuh bayaran dari Asosiasi Pedang Darah...”


Wajah Kurojiro pucat pasi karena efek dari pil yang dia telan mulai terasa. Bahkan aura tubuhnya terkuras habis. Benar-benar telah habis sampai dirinya mengeluarkan darah segar dari mulutnya ketika memaksa untuk melepaskan aura tubuhnya.


“Sialan!” Kurojiro berteriak.


“Teknik Pedang Cincin Api : Harimau Meraung!”


Tebasan pedang Tsumasaki mengakhiri Kurojiro dalam sekali tebasan pedangnya. Tangan Tsumasaki mengibaskan pedangnya. Kemudian dia menatap ratusan prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang melihat langsung pertarungannya.

__ADS_1


Dengan senyuman yang menyeringai, Tsumasaki melepaskan aura tubuhnya, “Selanjutnya kalian!”


__ADS_2