Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 93 - Kera Tinju


__ADS_3

Dua hari setelah mengalahkan Raja Hewan Buas Kalajengking Merah. Nagato berniat untuk menakhlukan Hutan Cakrawyuha dengan bantuan Litha dan dia hanya meminta Kakek Hyogoro untuk mengamati mereka berdua.


Tetapi usulan Nagato ditolak oleh Kakek Hyogoro, karena Kakek Hyogoro ada sedikit urusan untuk pergi ke Provinsi Barat. Sehingga niat Nagato untuk menakhlukan Hutan Cakrawyuha ditunda.


Kakek Hyogoro akan pergi selama 14 hari, dalam perjalanannya kali ini dia tidak mengajak Nagato dan Litha untuk ikut bersamanya.


"Ini topeng rubah, untuk kalian berdua..." tutur Kakek Hyogoro memberikan topeng rubah yang ia buat untuk kedua muridnya itu, kemudian Kakek Hyogoro memberitahu Nagato dan Litha bahwa topeng itu akan menjauhkan mereka dari marabahaya. Walau sebenarnya Kakek Hyogoro hanya ingin menyembunyikan identitas kedua muridnya tersebut.


Keesokan harinya, Kakek Hyogoro pergi meninggalkan Hutan Cakrawyuha. Kakek Hyogoro mengatakan pada mereka berdua untuk berhati - hati, karena takut ada seorang penyusup yang akan datang kembali.


Nagato menghela nafas panjang setelah melihat sosok Kakek Hyogoro tidak terlihat lagi.


"Membosankan..." gumam Nagato sambil berjalan memandangi topeng rubah berwarna putih miliknya.


Ketika sore hari tiba, Nagato sedang push up sedangkan Litha duduk diatas punggung Nagato sambil menghitung jumlah push up yang dilakukan pemuda itu.


"Dua ratus sembilan puluh delapan..."


"Dua ratua sembilan puluh sembilan..."


"Tiga ratus..." ucap Litha menghitung jumlah push up Nagato.


Litha tersenyum melihat keringat yang mengucur dari badan Nagato.


"Aku mau masak dulu." ucap Litha berdiri dan meninggalkan Nagato.


Nagato kemudian melatih tendangan dan pukulan, dia berlatih keras untuk menjadi lebih kuat dark hari kemarin.


Tanpa terasa Nagato sudah melatih fisik selama lima jam lebih, dia duduk sambil meluruskan kakinya dan merileksasikan dirinya sejenak menikmati pemandangan sore hari.


Selesai latihan Nagato mandi disungai yang dekat dengan rumah, tempat biasa Kakek Hyogoro memancing ikan.


Matahari perlahan terbenam, dan malam telah tiba. Nagato dan Litha yang hanya berdua melewati malam yang panjang untuk berlatih membuka aura bersama.


Hari demi hari telah berlalu, satu minggu setelah kepergian Kakek Hyogoro. Mereka berdua pergi kelapisan hutan kedua puluh sembilan di sana terdapat hutan tropis.

__ADS_1


"Apa itu?" Nagato mengerutkan dahinya menatap sosok Hewan Buas yang terlihat seperti manusia.


"Nagato, itu adalah kera." ujar Litha menunjuk Hewan Buas Kera Tinju yang bergelantungan di kejauhan sana.


Nagato melirik Litha, dalam hatinya dia merasa kagum padanya. Karena Litha bisa melihat sosok Kera Tinju dari kejauhan.


Puluhan Kera Tinju berlari menghampiri Nagato dan Litha. Kedua tangan Kera Tinju mengepal dan sesekali mereka memukul tangannya kearah udara mengancam Nagato dan Litha.


Tanpa menunggu lebih lama Kera Tinju mengayunkan tangannya memukul ke arah Nagato dan Litha.


Pukulan Kera Tinju begitu cepat dan sulit untuk dihindari, bahkan melihat cara Kera Tinju memukul, Nagato merasa jika Kera Tinju dihadapannya juga belajar bela diri dari seseorang.


Nagato dan Litha menahan pukulan Kera Tinju dengan pedang mereka berdua. Benturan pedang hitam Nagato dan pukulan tangan Kera Tinju terjadi. Pertarungan itu berlangsung selama beberapa menit sebelum Nagato terlempar ketika salah satu Kera Tinju memukulnya dengan keras.


"Dia menggunakan tenaga dalam, yang benar saja." gumam Nagato melihat dampak dari pukulan Kera Tinju membuat terlempar cukup jauh kebelakang.


Di sisi lain, Litha juga terlempar karena pukulan Kera Tinju.


"Heeh... kera juga bisa menggunakan tenaga dalam." ucap Litha melihat salah satu Kera Tinju yang menyerangnya.


Pukulan demi pukulan dilesatkan Kera Tinju kearah Nagato, tetapi dia berhasil menghindari setiap pukulan tersebut.


"Sirih." hati Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya.


Nagato melangkahkan kakinya dengan cepat sambil mengayunkan pedangnya yang dilapisi api padat, dengan satu tebasan dia berhasil memotong beberapa tangan dari puluhan ekor Kera Tinju yang menyerangnya.


Kera Tinju terlihat kesakitan bahkan beberapa dari mereka berteriak meringis kesakitan. Nagato memejamkan matanya dan menebaskan pedangnya membunuh Kera Tinju dalam sekejap.


"Merepotkan, aku jadi tidak tega." gumam Nagato sambil mengibaskan pedangnya kemudian dia melirik Litha yang sedang bertarung dengan puluhan Kera Tinju.


"Litha, apa kau bantuan?" tawar Nagato dengan nada sedikit mengeledek.


"Nagato, aku tidak akan memasak makanan kesukaanmu," balas Litha.


Nagato mengerutkan dahinya, mendengar perkataan Litha.

__ADS_1


"Litha, jangan marah aku hanya bercanda." canda Nagato sambil menghampiri Litha yang sedang terdesak.


"Sirih." hati Litha menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya.


Litha mengayunkan pedangnya dengan langkah yang indah dipenuhi gerakan seni, dia membunuh Kera Tinju yang berada dalam jangkauan serangannya.


"Buat apa aku marah, hmph." Litha mendekati Nagato dan menyarungkan pedangnya setelah mengalahkan puluhan Kera Tinju yang menjadi lawannya itu.


Nagato tersenyum dan hendak mengelus rambut halus Litha, tetapi ditelapak tangannya ada sedikit luka goresan cakar Kera Tinju.


Litha menatap tajam Nagato dan memasang wajah marah, karena pemuda itu menyembunyikan tangannya yang berdarah.


"Tanganmu..." tegas Litha menatap Nagato tajam.


Nagato tetap menyembunyikan tangannya dan pura - pura tidak terluka.


"Nagato." ucap Litha sambil tangannya memegang tangan Nagato paksa.


Nagato membiarkan tangan kirinya dipegang Litha.


"Jangan bertindak sok keren dan menyembunyikan lukamu. Kau harus tahu, aku selalu mengawasimu." ungkap Litha menatap tajam Nagato yang terdiam mendengar perkataannya.


Nagato memerah wajahnya melihat wajah Litha yang begitu dekat dengannya, kemudian perhatiannya tertuju pada bekas luka dilehernya yang sudah menghilang, tetapi masih terlihat ada sedikit bekasnya.


"Maaf..." gumam Nagato lirih sambil menyntuh leher putih Litha.


Bibir Litha bergetar sehingga dia tidak bisa berbicara kemudian dia memegang hidung Nagato dan menekannya.


Nagato tersenyum jahil dan mencubit lembut pipi lesung Litha.


Setelah beberapa menit mereka berdua tertawa, Nagato menatap Litha dan menyentuh jepit rambut berbentuk bunga mawar itu.


"Ayo kembali Nagato." ajak Litha dengan nada sedikit manja dan menarik tangan Nagato.


Nagato hendak membelai rambut Litha tetapi dia mengurungkan niatnya, kemudian dia kembali bersama Litha ke tengah Hutan Cakrawyuha.

__ADS_1


__ADS_2