Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 150 - Meninggalkan Pulau Samui


__ADS_3

Lelah tetap menari langkah - langkah yang lemah dan tertatih, mencoba untuk terlelap tidur namun penyesalan tetap datang menghantui. Nagato hanya tidur selama dua jam menjelang pagi, sedangkan waktu yang tersisa dia gunakan untuk termenung berbaring di atas lantai menikmati suasana yang basi.


Nagato bergegas untuk mandi dan menikmati sensasi sentuhan air dingin yang masuk ke dalam setiap pori - porinya. Kedinginan air yang dia rasakan membuatnya menggertakkan gigi, sebelum membasuh badannya menggunakan handuk putih yang disediakan di kamar mandinya, Nagato menguatkan hatinya untuk terus melangkah maju dan menjalani hidup yang baru.


Nagato memakai sebuah kimono berwarna putih dan menggunakan kain putih yang mengikat pinggang sebelah kirinya seperti pendekar dari Klan Fuyumi. Tangannya menyisir rambutnya setelah selesai berpakaian, kemudian Nagato memakai tas pinggang dan membawa topeng rubah putih yang diberikan Kakek Hyogoro, sedangkan pedang peninggalan ayahnya yang masih belum bisa terlepas dari sarung pedangnya dia tinggal di Asrama Salju Rembulan.


Perlahan kakinya keluar dari kamarnya menuju ruangan tengah Asrama Salju Rembulan tempat dimana mereka berlima akan berkumpul, di sana terlihat empat gadis cantik yang telah memakai warna pakaian sama seperti Nagato. Sebuah yukata berwarna putih dan kain putih yang mengikat pinggang sebelah kiri mereka berempat.


Nagato menatap Iris yang memakai jepit rambut kupu - kupu bersayap biru dirambutnya, kemudian dia melihat Litha memakai jepit rambut sama seperti Hika Dan Tika yaitu jepit rambut bunga mawar berwarna biru.


"Nagato, sini biar bibi yang membenarkan pakaianmu." perkataan Shirayuki membuat wajah Nagato merah padam karena malu, sementara Iris, Litha, Hika dan Tika tertawa melihat Nagato yang tersipu malu.


Shirayuki membenarkan pakaian Nagato seperti membenarkan pakaian anaknya sendiri, tidak lupa dia juga memberikan kecupan hangat pada kening Nagato agar diberikan keselamatan di perjalanan.


"Hmm ... Nagato imut kalau malu - malu begini." Shirayuki sengaja menggoda Nagato sambil tangannya mencubit pipi Nagato dengan lembut. Nagato hanya diam dan menahan rasa malunya karena diperlakukan seperti anak kecil oleh Shirayuki. Setelah membenarkan pakaian Nagato kemudian Shirayuki juga membenarkan yukata yang dikenakan Litha.


Shirayuki juga mengecup kening Litha sama seperti yang dia lakukan kepada Iris dan Nagato. Wajah Litha juga merah padam karena diperlakukan seperti anak kecil oleh Shirayuki. Tidak berapa lama pintu Asrama Salju Rembulan terbuka, terlihat di sana ada Emi datang dengan Ichiba dan Oichi.


"Sepertinya kalian telah siap." Emi menatap Nagato kemudian dia menatap Iris, Litha, Hika dan Tika. Melihat Nagato yang terlihat tampan rupawan membuat Emi sedikit penasaran dengan identitas dari pemuda tersebut, sempat dia bertanya pada Shirayuki tetapi anak pertamanya dan anak kandungnya itu tidak mau menjawab pertanyaannya.


Iris mencium tangan neneknya diikuti Hika, Tika dan Litha dari belakang. Melihat itu tentu Nagato juga mengikuti keempat gadis tersebut, walau dia sedikit terpaksa melakukannya.


Sebelum meninggalkan Pulau Samui. Emi memberitahu sekali lagi pada lima pendekar muda perwakilan dari Klan Fuyumi yang akan mengikuti Turnamen Harimau Kai. Emi menyuruh mereka berlima jangan meremehkan siapapun lawan yang akan mereka hadapi nanti, dia juga menjelaskan pada Nagato dan yang lainnya tentang tiga pendekar muda tak bermahkota dan sepuluh pendekar muda jenius.

__ADS_1


Dari kedua nama itu tidak ada dari mereka yang berumur sama dengan Nagato, Iris, Litha, Hika dan Tika. Pendekar muda yang mendapat julukan pendekar muda tak bermahkota semuanya berumur tujuh belas tahun, sedangkan sepuluh pendekar muda dari kedua klan yaitu kubu barat dan kubu timur yang sering mendapatkan julukan sepuluh pendekar muda jenius, semua anggotanya memiliki umur yang berkisar dari empat belas tahun sampai lima belas tahun.


Sebenarnya Iris bisa dibilang termasuk dalam sepuluh pendekar muda jenius, tetapi umurnya yang masih muda dan baru pertama kali mengikuti Turnamen Harimau Kai membuatnya menjadi tidak dikenal. Nama Iris sedikit terkenal karena dia merupakan anak dari Shirayuki yang sangat disegani, walau prestasinya cukup luar biasa selama tujuh tahun terakhir. Tapi Iris harus membuktikannya di Turnamen Harimau Kai agar semua orang percaya dan mengakui dirinya.


Emi berjalan di samping Shirayuki sambil mencoba menggali informasi tentang Nagato, tetapi perkataannya tidak digubris Shirayuki yang tidak mau membeberkan identitas Nagato pada ibunya. Sedangkan Hika dan Tika berjalan bersama Ichiba dan Oichi.


Ichiba menceritakan tentang Turnamen Harimau Kai pada kedua anak kembarnya, sesekali dia sedikit bercanda pada kedua anak kembarnya agar tidak terlalu tegang dalam perjalanan.


Sementara itu Nagato berjalan di tengah dihimpit Iris dan Litha dari samping kiri dan kanannya, topeng rubah putih yang ada di tangan kirinya akan dia pakai agar wajahnya bisa tersembunyi. Nagato merasa begitu risih ketika melewati jalanan Kota Daruma karena terlalu banyak gadis muda yang selalu menatapnya tajam, manja bahkan ada beberapa yang sengaja mengedipkan matanya.


Nagato sendiri tidak terlalu menyadari ketampanannya, hanya satu hal yang dia ketahui, tatapan gadis - gadis kepadanya membuatnya merasa sangat terganggu.


Sesampainya di pantai Pulau Samui. Emi terus berjalan mendekati pantai, sedangkan perahu yang terlihat megah berbeda dengan arah yang dituju oleh Emi. Ketika Emi mengeluarkan pedangnya dan mengeluarkan tenaga dalamnya, perlahan pedang Emi yang memiliki corak bunga mawar terlihat membeku.


"Senjata Kuno Tipe Pusaka : Pedang Es. Itulah pedang yang dipegang ibu, maksudku Nenek Emi." Shirayuki berdiri di samping Nagato sambil tangannya mengelus rambut Nagato.


Iris dan Litha tertawa pelan melihat Nagato yang tersipu malu setiap Shirayuki mengelus rambut pemuda itu. Wajahnya merah padam kembali, tetapi Nagato mencoba untuk tetap tenang sehingga kesannya dia terlihat dingin dan tidak peduli.


"Seperti milik Kakek Hyo. Apa Bibi Shirayuki juga mempunyai senjata kuno atau air suci?" Nagato menatap Shirayuki yang lebih tinggi darinya, matanya terlihat begitu penasaran. "Aku melihat Bibi Shirayuki dan Iris bisa memanipulasi salju, es bahkan hawa dingin sesuka hati kalian. Jadi aku sempat berpikir jika Bibi Shirayuki meminum air suci..." Nagato tersenyum tipis sebelum kembali melihat Emi.


Shirayuki tersenyum melihat Nagato yang terbuka padanya, bagi dirinya ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Tidak lama dia berjongkok dan berbisik pelan di telinga Nagato.


"Kekutan Bibi Shirayuki dan Iris bukan berasal dari air suci, melainkan karena kami memiliki kekuatan dari dewi salju." bisikan Shirayuki di telinganya, membuat Nagato sedikit merinding karena hembusan napas Shirayuki yang membuatnya kedinginan. "Nagato juga memiliki kekuatan dewa api. Tinggal bagaimana Nagato menggunakan kekuatan itu dan mengubahnya menjadi kekuatan Nagato sendiri." tambah Shirayuki sambil berdiri kembali.

__ADS_1


Nagato hanya mengangguk pelan mendengar bisikan Shirayuki. Tidak berapa lama Nagato yang sedang melihat Emi terkejut, karena Emi membekukan air lautan dan membuat jalan setapak dari es menggunakan pedang es miliknya yang merupakan senjata kuno.


Emi mengalirkan tenaga dalamnya pada pedang es kesayangannya, kemudian dia mengeluarkan aura tubuhnya yang berwarna putih untuk menyeimbangkan kekuatannya. Setelah Emi menancapkan pedang es kesayangannya di air laut yang ada di pinggiran pantai, dalam sekejap air laut membeku dan membentuk sebuah jalan.


Kekuatan dari senjata kuno yang di luar nalar membuat Nagato tersenyum, di dunia yang masih banyak misteri belum terpecahkam membuatnya semakin tertarik untuk mendampingi perjalanan Litha suatu saat nanti.


Emi menyarungkan pedangnya dan menoleh ke belakang.


"Mari kita lanjutkan perjalanan." Emi mengajak Nagato dan yang lainnya segera bergegas menyebrangi jalan setapak es yang berada di lautan menuju Kota Daruma.


Nagato menghampiri Iris dan menunduk pelan untuk berbisik di telinga gadis tersebut.


"Apa kamu juga bisa seperti itu?" bisikan Nagato di telinganya membuat wajah Iris merah padam, kemudian dia berusaha untuk tetap bersikap dingin karena banyak orang yang sedang bersamanya.


"Aku bisa melakukan itu dengan mudah," jawab Iris dengan nada yang dingin dan terlihat tidak peduli. Mendengar jawaban itu, Nagato hanya tersenyum tipis dan menatap wajah Iris selama beberapa detik sebelum dia memalingkan wajahnya.


____


30 komentar : Bonus 1 chapter.


200 Like : Bonus 1 chapter.


1000 vote : Bonus 2 chapter.

__ADS_1


__ADS_2