Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 271 — Ilusi Hutan Cakrawyuha VI


__ADS_3

“Pajangan, katamu? Apa ada yang salah dengan matamu itu?!” Gunter menatap geram Nagato yang ada dibawahnya.


Nagato bergerak secara perlahan dan mulai mengincar kedua kaki Gunter. Perbedaan besar tubuh mereka membuat Nagato bergerak dengan lincah, tetapi Gunter juga tidak kalah lincahnya.


“Kau pikir aku menjadi lambat karena badanku membesar? Kau terlalu meremehkanku!” Gunter mengayunkan pedangnya dengan begitu cepat, sedangkan tiga tangan lainnya melesatkan pukulan pada Nagato.


Tanah berlubang dan retakan di tanah membuat Nagato mundur ke belakang secara perlahan. Serangan beruntun dari Gunter membuatnya tidak dapat bergerak bebas. Semakin lama dirinya seperti digiring ke jalan buntu.


Nagato menoleh ke belakangnya dan melihat pepohonan, lalu matanya kembali menatap Gunter. Kakinya menghentak sebelum bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang Gunter. Dalam putarannya di udara, Nagato memegang pedangnya dengan terbalik sebelum melepaskan ombak api yang membara di udara.


“Bagus. Serangan yang bagus.” Gunter menahan dan melancarkan serangan tanpa henti.


Nagato mempercepat tempo serangannya. Benturan tebasan pedang yang dilapisi api membuat Nagato semakin menikmati ketegangan yang menghampiri dirinya. Sebuah perasaan yang tidak dia ketahui apakah dia akan mati atau lawannya yang mati. Situasi yang sekarang dialaminya sekarang, membuat Nagato tersenyum tipis saat bertukar serangan dengan Gunter.


“Kenapa kau tersenyum?!” Gunter mengerutkan dahinya dan menatap tajam Nagato. Tebasan pedangnya dia percepat. Tenaga dalam dan aura yang dialirkan pada bilah pedangnya membuat Pedang Api memancarkan energi pedang yang mengerikan.


Nagato melepaskan aura tubuhnya dan memanipulasinya menjadi api. Walau merasakan hawa membunuh yang berbahaya dari Gunter, namun Nagato terus bergerak tanpa henti dan mulai mendapatkan pola serangannya sendiri.


Sebuah linsatan api menebas dada Gunter tetapi masih kurang dalam, Nagato mendecakkan lidahnya dan kembali melancarkan serangan beruntun dari teknik pedangnya.


Nagato mengolah pernapasan dan mempercepat langkah kakinya untuk menyerang Gunter dari berbagai arah. Walau telah melancarkan serangan dari berbagai arah, tebasan pedangnya yang dalam dan bertenaga masih dapat ditangkis oleh Gunter.


Menerima serangan beruntun dari Nagato tentu saja Gunter membalasnya dan mulai melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar. Serangan dari Gunter seperti Hewan Buas yang mengamuk. Kerusakan di tanah sangat parah. Pukulan tangannya yang bercahaya membuat udara disekitar Gunter terasa panas.


‘Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah!’ Nagato menangkis tebasan pedang Gunter dan menghindari pukulan ketiga tangannya disaat yang bersamaan.


Dalam konsentrasi penuh yang dilakukannya, Nagato mulai tenang dan menyatu dengan pertarungan. Sekarang dia lebih memilih menyerang daripada menghindari. Tebasan pedangnya mulai berubah-ubah arah ayunannya.

__ADS_1


“Linsatan Jingga!”


Nagato melepaskan tebasan pedangnya yang cepat, melihat Gunter dapat menghindarinya membuat Nagato melancarkan serangan selanjutnya. Tebasan demi tebasan yang dilancarkan olehnya mulai bertukar serangan dengan Gunter.


Benturan pusaran api membuat Gunter mundur ke belakang, tetapi Nagato bergerak dengan kecepatan tinggi ke depan sembari mengayunkan pedangnya dengan cepat. Kobaran api dia lewati dan mendaratkan tebasan pedang yang membentuk aliran api yanh mengalir di udara. Dada Gunter tertebas, Nagato menusuknya lebih dalam dan membuat Gunter menggertakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


“Sialan! Kau menusukku!” Gunter melepaskan hawa membunuh yang besar dan sebuah aura yang dia manipulasi menjadi api.


Nagato mencabut pedangnya dan melompat ke belakang sebelum kembali bergerak menyerang Gunter dengan permainan pedangnya, “Kulitmu keras, tetapi aku masih bisa menembusnya!”


Nagato mempercepat tempo permainan pedangnya dan mulai kembali bertukar serangan dengan Gunter. Tak butuh waktu lama bagi Gunter menyembuhkan lukanya, hanya saja Nagato dapat melihat rasa sakit yang dialami Gunter adalah nyata. Jeritan serta kemarahan yang bercampur dengan rasa sakit tergambar jelas di wajah Gunter.


“Entah kenapa, seluruh inderaku meningkat. Kekuatan ini tidak buruk juga. Rupanya makhluk itu ternyata berguna...” Naagto tersenyum tipis dan terus melancarkan serangan kepada Gunter.


Perubahan Nagato membuat Gunter melepaskan serangannya dengan brutal. Pukulan tangannya dia arahkan pada sembarang arah, sedangkan tebasan pedangnya hanya mengincar Nagato.


Gerakannya begitu lincah, dalam satu kali tebasan pedangnya yang dilapisi api yang membara, Nagato melepaskan tebasan pedang dari dekat. Sebuah harimau api bergerak dengan kecepatan tinggi di udara dan menyerang Gunter.


“Kau terlalu meremehkan kekuatan dari Senjata Kuno! Pedang Api ini dapat melawanmu dengan mudah!” Gunter membalas serangan Nagato dengan menggunakan tebasan pedang yang sama dengan Nagato.


Kedua harimau api berbenturan di udara. Efek dari benturan kedua tebasan itu membuat percikan api yang besar dan ledakan yang disertai asap. Keduanya menggunakan kesempatan itu menyerang secara diam-diam.


Nagato memejamkan matanya dan merasakan hawa keberadaan Gunter. Di tengah-tengah asap yang mengepul, Nagato dan Gunter bertukar serangan. Setelah asap mulai menghilang secara perlahan, Nagato menarik napas dalam-dalam dan mengibaskan pedangnya memotong salah satu tangan Gunter.


Wajah Gunter tampak murka karena Nagato memotong tangan kirinya. Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat Gunter semakin menggila menyerang Nagato.


Serangan dari Gunter membuat Nagato terjebak dalam situasi yang mengharuskannya bertaha. Tetapi itu tidak berlangsung lama, setelah Gunter melancarkan dua puluh serangan, Nagato mulai melepaskan aura tubuhnya dan membalas serangan.

__ADS_1


Keduanya kembali bertukar serangan, tidak sampai lima menit, Nagato kembali mendaratkan tebasan pedangnya di dada Gunter. Permainan pedangnya mulai agresif dan cepat.


Nagato memadatkan api di bilah pedangnya dan mulai melancarkan serangan beruntun sebelum membunuh Gunter dengan tebasan pedangnya yang membentuk lingkaran putaran api.


“Putaran Matahari!” Tebasan pedangnya membuat Gunter mengerang sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.


Nagato menarik napas dalam-dalam dan kembali melepaskan tebasan pedangnya karena Gunter belum mati sepenuhnya.


“Aku akan mencari mereka...” Nagato berniat pergi, namun dirinya terkejut ketika melihat langit-langit mulai terlihat seperti kertas yang disobek. Setelahnya dia berada di Ibukota Daifuzen yang dilanda kekacauan.


Nagato menatap sekelilingnya. Tubuh manusia penuh dengan darah bergelimpangan di tanah.


“Dimana mereka bertiga?” Nagato membatin dan mencari keberadaan Hanabi, Iris dan Litha.


Nagato bisa melihat jelas ada penyerangan selain di Ibukota Daifuzen. Langit malam di Kekaisaran Kai tampak berwarna merah menyala walau malam hari.


Dan entah kenapa Nagato melihat Yamata No Orochi yang sedang bertarung sengit dengan Ushi Oni mulai berhenti. Awan di langit terbelah menjadi dua, aura yang begitu besar membuat tubuh Nagato bergidik. Perasaan ini membuatnya mengingat sosok Kazan yang merenggut kehidupan hangatnya.


“Perang? Sepertinya aku datang di waktu yang tepat! Setelah Negeri Jaya, mungkin aku akan menaklukkan Benua Ezzo ini!”


Petir menyambar dan terlihat jelas bentuk kepala Naga yang sedang terbang di balik awan dan melihat pertempuran yang terjadi di Ibukota Daifuzen.


Malapetaka datang ketika wujud Naga Merah terlihat jelas di langit Ibukota Daifuzen. Mulutnya yang menghembuskan api itu menandakan bencana yang akan menghancurkan segalanya.


“Iblis Sapi? Ular berkepala delapan? Menarik! Dunia adalah tempat yang luas! Benua Ezzo memiliki orang yang mempunyai kekuatan Arwah Suci!” Naga Merah tersebut berkata dengan suara yang membuat udara menjadi panas.


“Tetapi, Iblis Sapi ini...” Naga Merah tersebut terlihat seperti berenang di langit, sedangkan kepalanya menunduk menatap Ibukota Daifuzen dari atas langit, “Aku pernah melihatnya!”

__ADS_1


__ADS_2