Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 115 - Gunung Menangis


__ADS_3

Satu minggu setelah kematian Otani, Kota Kumori kini berubah dalam sekejap. Nagato melepaskan ribuan budak yang dikurung dalam gudang di sudut kota, tetapi selama seminggu ini dirinya terus memikirkan perkataan Hayama.


Dua hari setelahnya, Kota Kumori memiliki wali kota yang baru. Dan dia adalah adalah salah satu dari Keluarga Bangsawan Minami. Kematian Otani, membuat Kekaisaran Kai gempat. Karena Otani memperkejakan prajurit kekaisaran sebagai bawahannya yang membantunya menjual budak.


Setelah mengantarkan Bangsawan Minami kembali ke Kota Chikuwa. Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato berniat untuk kembali. Kakek Hyogoro sudah membulatkan tekadnya untuk membawa Nagato dan Litha ke tempat kediaman Klam Fuyumi.


Dalam perjalanan pulang Nagato hanya diam dan tidak bertanya apapun pada Kakek Hyogoro, sedangkan Litha juga merasa ada yang aneh dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Memang pekerjaan kotor untuk membunuh penjahat dan koruptor adalah hal yang bagus, tetapi setelah melihat kematian Hayama dan Mizuko. Entah mengapa di hati Litha, kedua orang itu terlihat sangat menderita dan seharusnya orang yang pantas dibunuh adalah dalang dari semua ini.


"Makhluk sialan! Perkataanmu membuatku merasa kesal, karena semua terlihat aku hanya bergerak di telapak tanganmu." batin Nagato mengingat perkataan Kutukan Kuno Dewa Kematian.


Setelah melewati perbukitan dan hutan belantara, mereka bertiga memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.


Nagato ingin menyendiri dan berlatih pernapasan, malam yang tenang membuatnya menjadi lebih rileks. Untuk menangkan perasaannya, Nagato mencoba mengontrol auranya, agar dia bisa seperti Mizuko yang dapat memanipulasi aura tubuhnya dan elemen bawaan menjadi senjata yang mematikan.


Nagato semalaman melatih pernapasan dan mengontrol auranya, dia sampai lupa waktu dan tidak sadar jika pagi hari telah tiba.


"Cukup sulit mengontrolnya, tapi aku sedikit lagi bisa menguasainya..." batin Nagato yang sedang mengontrol aliran auranya.


Sinar matahari membuyarkan konsentrasinya, bahkan perutnya terasa lapar. Kakek Hyogoro tersenyum tipis melihat Nagato, kemudian dia melemparkan daging yang dia bakar pada Nagato.


"Lagi - lagi lupa waktu..." gumam Nagato menatap sinar matahari pagi.


Setelah sarapan pagi, Nagato pergi ke sungai untuk mandi. Karena dia paling tidak suka jika tubuhnya merasa gerah.


Nagato membasuh seluruh tubuhnya dan beberapa kali dia menyelam untuk menikmati kesegaran air sungai. Perlahan dia keluar dari sungai dan mengeringkan tubuhnya sambil bersandar di pohon.

__ADS_1


"Apa yang Ayahku lakukan? Dan kenapa orang itu mengenal Ayahku?" gumam Nagato mengingat perkataan terakhir Hayama.


Setelah selesai mandi, Nagato kembali melanjutkan perjalanan hanya saja Kakek Hyogoro mengambil jalan pulang yang berbeda. Bahkan Nagato dan Litha takjub dengan pemandangan di atas bukit maupun gunung - gunung.


Setelah tiba di sebuah bukit, mereka bertiga melihat sebuah permukiman di atas Gunung. Hanya saja Gunung tersebut terlihat seperti mengeluarkan air dari tanahnya bahkan pohon - pohon yang tumbuh di sana juga basah.


Kakek Hyogoro menjelaskan pada Nagato dan Litha, jika apa yang sedang mereka berdua lihat adalah Gunung Menangis. Di sana terdapat sebuah permukiman, seperti sebuah kota kecil.


Kakek Hyogoro mengajak Nagato dan Litha untuk pergi ke Gunung Menangis.


Mereka bertiga berlari dan setelah sampai di depan pintu masuk Gunung Menangis. Di sana terlihat puluhan penjaga perempuan.


"Siapa kalian?!" tanya penjaga perempuan yang terlihat seperti seorang pendekar pedang dan menatap tajam ketiga orang yang sedang memakai topeng rubah putih.


"Di sini adalah wilayah Gunung Menangis, sebuah tempat tertutup. Dan kami pendekar pedang dari Pergurung Gunung Menangis, mempunyai hak untuk menjaga tempat ini..." seorang pria menatap tajam Kakek Hyogoro yang sedang memakai topeng rubah putih.


Kakek Hyogoro tersenyum dari balik topeng rubah putihnya sebelum membuka topengnya.


"Antarkan aku pada Namida, dan katakan padanya. Jika Hyogoro datang untuk berkunjung." ucap Kakek Hyogoro sambil melepaskan topeng rubah putihnya.


"Hyogoro, katamu?!" sahut pria yang menjadi penjaga dan dia menodongkan pedangnya pada Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro bisa mengerti kenapa namanya ditakuti, karena dirinya adalah seorang buronan.


"Tenang, aku kesini bukan untuk membunuh atau berbuat sesuatu yang tidak - tidak. Aku hanya ingin menginap." ucap Kakek Hyogoro berusaha menjelaskan pada penjaga Gunung Menangis.

__ADS_1


Nagato dan Litha terlihat kebingungan, mereka berdua tidak menyangka ada orang yang mengenal nama Kakek Hyogoro.


"Aku melakukan pekerjaan membunuh karena bagaimanapun aku membutuhkan uang, tetapi orang yang kubunuh hanyalah penjahat dan para koruptor. Dan aku mana mungkin dikirim oleh seseorang untuk membunuh orang penting di tempat ini." ucap Kakek Hyogoro sambil tertawa pelan.


Kakek Hyogoro tidak mengetahui jika ada masalah di dalam Gunung Menangis. Setelah mereka bertiga diizinkan untuk masuk. Tatapan penduduk Gunung Menangis terlihat seperti tidak akrab, karena melihat tiga orang asing yang datang dengan memakai topeng rubah putih.


Kakek Hyogoro mengajak Nagato dan Litha untuk menepi di salah satu kedai makan yang mereka lewati. Langit yang mendung mulai terlihat di Gunung Menangis.


Gunung Menangis adalah sebuah tempat sakral bagi penduduk asli yang tinggal di sekitar Gunung Menangis. Dan Perguruan Gunung Menangis adalah sebuah perguruan yang telah melahirkan ribuan pendekar berbakat selama ratusan tahun. Hanya saja mereka sangat tertutup, bahkan ada rumor jika di dalam Gunung Menangis ada sebuah catatan kuno maupun sebuah prasasti. Sehingga tempat ini selain menjadi tempat yang sulit ditemukan, tetapi juga menjadi incaran banyak orang khususnya para penjahat dari Organisasi Bawah Tanah.


Setelah memasuki kedai makan, Nagato sedikit kesal karena baginya ini adalah sambutan terburuk yang pertama kali dirinya rasakan. Bahkan membuatnya ingin segera pergi dari sini.


Kakek Hyogoro memesan tiga sup hangat dan minuman hangat. Kedatangan Kakek Hyogoro ke Gunung Menangis, karena Perguruan Gunung Menangis adalah sebuah tempat bernaung perguruan bela diri yang sedikit akrab dengan Klan Kagutsuchi. Sama halnya dengan leluhur Klan Kagutsuchi yang menjaga prasasti dan catatan kuno di Hutan Cakrawyuha. Leluhur Perguruan Gunung Menangis, juga menjaga sebuah prasasti dan catatan kuno.


Gunung Menangis dahulu tidak seperti ini, tetapi sebuah tulisan yang di ukir pada batu besar yang berada di kediaman Pemimpin dari Perguruan Gunung Menangis, di sana terdapat tulisan yang disampaikam untuk generasi mendatang. Dan semua itu telah benar - benar terjadi dan menimpa Gunung Menangis, karena tempat ini selalu mendung bahkan tanah dan pepohonan selalu mengeluarkan air.


Dahulu Gunung Menangis adalah sebuah tempat yang cerah dan hangat. Matahari bersinar dengan terangnya di sekitar Gunung Menangis, tetapi setelah musnahnya Klan Kagutsuchi. Gunung Menangis berubah menjadi tempat yang selalu mendung dan hujan. Bahkan terlihat semenjak saat itu jika langit selalu berduka di atas Gunung Menangis.


Gerimis selalu membasahi tempat ini, dan membuat penduduk asli Gunung Menangis sadar. Jika leluhur mereka dengan leluhur Klan Kagutsuchi memiliki kesamaan, bahkan terdapat sebuah ikatan darah.


Tulisan di sebuah batu besar yang menjadi peringatan para penduduk Gunung Menangis dan pendekar dari Perguruan Gunung Menangis. Bahwa mereka telah membiarkan saudara lama mereka yaitu orang - orang dari Klan Kagutsuchi musnah dan ini adalah sebuah hukuman dari langt yang diberikan pada mereka.


Sementara itu seorang pendekar pedang perempuan yang menjadi Pemimpin dari Perguruan Gunung Menangis sedang membaca tulisan yang di batu dalam kediamannya.


Suatu saat matahari akan lupa caranya untuk bersinar, setelah melewati kehidupan selama ribuan tahun, api panas yang berkobar akan mengecil baranya. Dan, saat itu terjadi maka dunia akan menangis selama puluhan tahun. Bagi siapapun yang terikat dengan darah surgawi di masa lalu, maka sudah pasti mereka akan bersedih. Tetapi kesedihan tidak akan berlangsung selamanya, karena akan ada orang yang mewarisi tekad kami di masa depan, dia akan menerangi dunia dengan cahayanya.

__ADS_1


Perempuan yang bernama Namida menangis, setiap dia membaca ukiran yang menjadi tulisan di batu tersebut. Namida selalu teringat dengan sosok Pemimpin Klan Kagutsuchi yang bernama Kagutsuchi Sura.


"Api tidak akan padam walaupun cahayanya temaram." gumam Namida menatap langit mendung di atas Gunung Menangis.


__ADS_2