Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 73 - Kota Orang Buangan


__ADS_3

Mereka bertiga memasuki Kota Reruntuhan Kuno yang terlihat ada gapura berwarna hitam di pintu depan kota tersebut sedangkan gerbang kota terlihat sudah hancur berantakan.


Nagato dan Litha melirik kiri kanan mereka karena banyak orang yang menatap tajam mereka berdua.


"Oi, bukankah itu Bos Hyogoro?"


"Bos, apa yang membuat kembali kesini?"


"Sepertinya Bos sudah memiliki dua anak baru lagi!"


Puluhan lelaki yang terlihat sangar dan garang menyapa Kakek Hyogoro dan mereka semua terlihat begitu menghormatinya bahkan mereka terlihat senang ketika melihat Kakek Hyogoro memasuki Kota Reruntuhan Kuno.


Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya mendengar mantan bawahannya menyapa ditinya dengan berdecak kesal dia memukul puluhan preman yang menghampirinya.


"Jangan panggil namaku dengan sebutan itu lagi! Kalian membuatku malu didepan kedua muridku!" Kakek Hyogoro tersenyum sinis dirinya terlihat berbeda dan tidak seperti biasanya.


Nagato dan Litha yang melihat hal tersebut terkejut karena tidak menyangka Kakek Hoyogoro adalah seorang mantan pemimpin preman di Kota Reruntuhan Kuno.


Kini perhatian puluhan preman tertuju pada Nagato dan Litha yang membawa pedang dipinggang mereka.


"Bocah berwajah seperti anak raja ini menjadi murid Bos? Hahahaha ... kau tidak cocok berada dikota ini!" salah satu preman sengaja menyindir Nagato karena bagi mereka seorang berwajah tampan dan memiliki kharisma yang sama seperti bangsawan dan keluarga kerajaan adalah hal yang membuat mereka muak karena kebanyakan orang yang seperti itu memiliki sifat seperti iblis yang memiliki wajah manusia.

__ADS_1


Nagato tidak peduli perkataan mereka dan hanya terus melangkahkan kakinya mengikuti Kakek Hyogoro didepannya.


"Gadis kecil sini ikut paman." salah satu preman memegang tangan Litha.


Nagato melirik preman tersebut kemudian menatapnya dengan dingin.


"Lepaskan." suara Nagato terdengar seperti panas api yang membakar tubuh mereka.


"Y-Ya, sial anak kecil tidak bisa diajak bercanda!" preman yang ditegur Nagato melepaskan tangan Litha dan tersenyum tipis melihat Nagato.


"Hahaha ... murid Bos memang garang, jangan ganggu dia bodoh!" seorang preman datang menegur temannya yang sengaja memegang tangan Litha untuk melihat reaksi Nagato.


Kakek Hyogoro tersenyum melihat Nagato yang tidak kenal takut dengan orang yang baru ditemuinya bahkan raut wajahnya yang terlihat serius itu seperti ingin mengajak orang berkelahi.


Litha tersenyum melihat Nagato yang melindunginya dalam hati gadis kecil itu dirinya merasa senang dan bahagia.


"Terimakasih Nagato." ucap Litha sambil memalingkan wajahnya kesamping.


"Daripada memikirkan hal tadi, bukankah kota ini terlihat sangat menakutkan karena banyak bangunan kosong tidak berpenghuni." Nagato sedang mengamati setiap bangunan yang dilewatinya.


Litha berdecak kesal dalam hatinya karena Nagato terlihat tidak peduli dengan apa yang dirasakannya.

__ADS_1


"Jika dipikir kota ini terlihat menyeramkan." sahut Litha yang juga sedang melihat bangunan yang dirinya pandang.


Kini mereka tahu alasan mengapa kota ini diberi nama Kota Reruntuhan Kuno dan kota yang terlupakan tempat bagi para preman dan orang buangan.


Tidak lama mereka sampai disebuah bangunan yang terlihat seperti lorong yang panjang.


"Kita sudah sampai." Kakek Hyogoro menatap lorong bangunan.


"Dilihat dari segi manapun tempat ini terlihat begitu mencurigakan." sahut Nagato yang sedang menatap lorong bangunan tersebut.


"Tempat ini pasti adalah tempat dimana orang jahat berada." Litha mendekat pada Nagato dan menatap lorong bangunan tersebut.


Kakek Hyogoro hanya tersenyum melihat reaksi Nagato dan Litha.


"Ayo kita masuk." Kakek Hyogoro berjalan memasuki lorong bangunan tersebut diikuti Nagato dan Litha dari belakang.


"Jadi ada tempat persembunyian di kota yang telah terlupakan ini." batin Nagato yang melihat kiri kanannya basah karena lorong bangunan tersebut terlihat seperti sebuah pipa besar yang mengarah kedalam tanah.


"Kalian cukup ikuti kakek saja akan ada hal yang menarik didepan sana." Kakek Hyogoro tersenyum kemudian melangkahkan kakinya memasuki lorong bangunan semakin dalam lagi.


Nagato dan Litha hanya mengikuti perkataan Kakek Hyogoro dan tidak mengeluh lagi.

__ADS_1


__ADS_2