
Ophys bersama Litha berjalan bersama menuju tempat ilusi yang diciptakan dengan sihir ilusi milik Ophys. Sebuah menara yang berada di lautan awan itu mengambang, sementara bunga-bunga tumbuh dengan subur disekitarnya walau hanya sekedar ilusi, tak lebih hanyalah sebuah kepalsuan tetapi semuanya terasa begitu nyata.
“Litha, kita beri menari ini nama apa?” Ophys bertanya pada Litha yang terlihat terkejut dan murung di saat yang bersamaan.
“Kakak Ophys...” Litha menggenggam tangan Ophys dengan erat dan memegang dadanya, “Aku merasa Kakak Soren sedang menangis. Aku takut dia mencoba bunuh diri, Kakak Ophys!”
Litha setengah berteriak sambil menatap Ophys yang lebih tinggi darinya. Terlihat gadis manis itu merasa gelisah mengkhawatirkan kondisi Nagato.
“Litha, kakakmu itu pasti masih hidup dan dia akan bangkit kembali. Percayalah, jika dia dapat melewati semua cobaan yang membuatnya tertekan...” Ophys mencubit hidung Litha dengan lembut, “Mungkin akan sulit, tetapi kakakmu itu pasti akan menepati janjinya. Dia akan pergi mencari tempat yang kalian impikan dan janjikan itu.”
Litha menganggukkan kepalanya dan memegang tangan Ophys yang mencubit hidungnya dengan penuh kelembutan, “Terimakasih Kakak Ophys, aku harap Kakak Soren tidak menyerah. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancur perasaannya saat dia mengetahui aku telah mati...”
Suara Litha terdengar imut dan menggemaskan karena hidungnya dicubit oleh Ophys. Bahkan Ophys sendiri sampai tertawa mendengarnya. Kemudian keduanya berjalan menuju depan menara.
‘Litha, pasti kau sangat menderita...’ Ophys berjalan sambil melirik Litha yang berjalan disampingnya.
“Kakak Ophys, aku ingin memberi nama menara ini, Menara Penantian...” Litha tersenyum manis sambil melompat ke depan Ophys. “Aku akan menanti kedatangan Kakak Soren dan Iris. Suatu saat nanti, aku yakin mereka akan datang menemuiku...”
Ophys turut bahagia mendengar perkataan Litha yang menyentuh dan wajah ceria itu tergambar kesenduan yang tak terlukiskan. Kemudian dia melangkahkan kakinya memasuki Menara Penantian bersama Litha.
“Litha, aku akan melatih fisikmu terlebih dahulu. Aku sendiri terkejut ketika menyembuhkan Shirayuki dan teman-temannya. Kalian terlalu memaksakan kehendak aura tubuh kalian. Beruntung, tidak, aku tidak menganggapnya sebagai keberuntungan karena bantuanmu kepada mereka justru membuat ingatanmu tersegel bahkan hampir menghilang sepenuhnya...”
Ophys menjelaskan kepada Litha jika butuh waktu bagi pendekar yang bertarung mati-matian bahkan mengorbankan aura tubuh dan tenaga dalam mereka. Butuh waktu lama untuk memulihkan aura yang hampir lumpuh sepenuhnya.
Bahkan banyak pendekar pedang muda dari Kekaisaran Kai yang hampir kehilangan kesempatan menjadi seorang pendekar pedang karena aura mereka hampir lumpuh, walau sudah puluhan pendekar muda yang lumpuh auranya. Iris sendiri membutuhkan waktu empat sampai lima tahun untuk memulihkan aura tubuhnya, begitu juga dengan yang lainnya.
Ophys tidak memberitahu kepada Litha jika Hanabi telah kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang pendekar, karena luka dalam dan racun yang tidak bisa disembuhkan. Hanabi masih hidup berkat pertolongan Ophys yang menggunakan sihir terlarang.
Hanabi sudah tidak dapat disebut menjadi seorang jenius walau berhasil memasuki babak semi final Turnamen Harimau Kai. Ophys hanya berharap Hanabi dapat merasakan jatuh cinta sebelum umurnya yang tidak akan bertahan lebih lama.
“Syukurlah, setidaknya mereka masih hidup...” Litha terlihat lega, kemudian kedua bola matanya yang indah menatap Ophys, “Kakak Ophys kenapa terlihat memikirkan sesuatu?”
Ophys menatap Litha dan tersenyum tipis, “Aku hanya sedang memikirkan kehidupan yang penuh dengan suka dan duka ini.” Jawaban Ophys sama sekali tidak memuaskan Litha sehingga gadis manis itu cemberut.
“Jangan cemberut, aku hanya memikirkan calon suamiku. Dia orangnya seperti apa, Litha?” Ophys mengalihkan pembicaraan sambil melepaskan kekuatan sihirnya.
__ADS_1
Litha terlihat begitu antusias menceritakan tentang Nagato kepada Ophys. Mulai dari pertemuan dirinya bersama Nagato di Kota Roshima, makanan pedas kesukaan Nagato, jalan pikiran Nagato yang dipenuhi dendam dan segala hal tentang Nagato, dia beritahu secara mendetail kepada Ophys, sang penyelamat hidupnya.
Ophys memiringkan kepalanya, “Jadi dia akan menjadi pria tampan rupawan hanya saja tidak peka dan sangat menyukai makanan pedas. Unik juga, kakakmu itu...”
Litha tersenyum manis dan melihat sekeliling ruangan yang ada di Menara Penantian. Terlihat kolam dan air terjun buatan dari sihir ilusi yang diciptakan Ophys.
“Mari Litha, aku akan memulihkan auramu dan fondasi manamu. Kau ini benar-benar ceroboh yang baik hati. Kau memiliki kharisma yang dapat membuat orang-orang yang berada didekatmu terinspirasi. Sementara kakakmu itu, aku rasa dia memiliki kharisma tersendiri...” Ophys melepas pakaiannya, walau di dunia nyata dirinya sudah telanjang bulat tanpa busana, tetapi di alam bawah sadar Litha, dia mengenakan pakaian serba hitam.
Litha melihat punggung Ophys yang putih dan mulus, “Kharisma tersendiri?” Litha merasa penasaran dengan perkataan Ophys yang terhenti.
“Lepas pakaianmu. Kita berendam di kolam ini.” Ophys memberi tanda dan langsung diikuti oleh Litha.
Setelah keduanya benar-benar telah tanpa busana. Ophys menyuruh Litha duduk bersila, kolam jernih itu memang tidaklah dalam, sehingga hanya menutup bagian dada Litha. Karena Ophys sengaja membuatnya seperti itu untuk membuat Litha terbiasa melakukan konsentrasi secara penuh di bawah guyuran air terjun buatan.
Litha menatap bentuk tubuh Ophys cukup singkat kemudian dia segera memejamkan matanya dan duduk bersila di bawah guyuran air terjun. Sementara itu Ophys sedang mandi membasuh setiap bagian tubuhnya sambil menjelaskan proses latihan kepada Litha.
“Litha, pejamkan matamu dan lakukan konsentrasi secara penuh.” Ophys memeluk tubuh Litha dari belakang tanpa rasa malu. Ketika Ophys menggunakan sihirnya, seketika sebuah aura berwarna merah muda dan biru muda berkumpul disekitar keduanya sebelum aura tersebut masuk ke dalam tubuh Litha.
Wajah Litha merah padam karena merasakan sesuatu yang kenyal menempel di punggungnya. ‘Kakak Ophys sangat cantik. Seharusnya dia mendapatkan julukan kecantikan nomor satu di luar Benua Ezzo, dan bukan Ratu Iblis.’
Ophys yang sedang konsentrasi justru mendapati wajah Litha yang merah padam. “Kenapa? Sudah kubilang lakukan konsentrasi secara penuh, jika kau bermain-main maka kau akan kesakitan ketika proses penyembuhan aura berlangsung.” Ophys menegur dengan tegas.
Ophys berbisik lirih di telinga Litha. Perempuan berparas cantik itu sengaja menggoda Litha untuk memastikan Litha serius dan bersungguh-sungguh dalam melakukan meditasi secara penuh.
“Ilmu sihirku sangat sulit dipelajari. Aku berulang kali hampir dibunuh ibuku karena selalu menghindar ketika dia menyuruhku berlatih...” Ophys tersenyum karena merasakan Litha telah melakukan konsentrasi secara penuh walau dia sudah berbisik lirih di telinga gadis manis tersebut.
Ophys menjelaskan jika sihir yang akan dipelajari oleh Litha adalah sihir murni dari Ras Elf. Selain sulit dipelajari, sihir yang akan dipelajari Litha juga harus mewajibkan orang yang akan berlatih sihir tersebut harus menguasai pengendalian aura dan mana.
Pengendalian aura yang dimaksud adalah peningkatan aura yang dapat membuat pengguna aura itu sendiri dapat bertarung dengan bebas melawan pengguna Air Suci yang telah mengalami pembangkitan bahkan jika Litha dapat menguasai dan mempelajari aura yang akan diajarkan oleh Ophys, bukan tidak mungkin Litha dapat menembus kulit Ignist yang begitu keras itu.
Litha membulatkan tekadnya, karena akan banyak orang-orang seperti Ignist yang akan menghadang perjalanan Nagato di masa depan, sehingga Litha ingin berlatih dan mempelajari semua ilmu sihir yang diturunkan oleh Ophys padanya agar ketika ingatannya kembali, dia dapat melawan orang-orang seperti Ignist dan bawahannya.
Melihat suasana hati Litha yang kian membaik, Ophys segera menyalurkan aura tubuhnya untuk memasuki pori-pori gadis manis yang sedang bermeditasi itu.
Litha merasa kagum dengan penjelasan dan ajaran Ophys tentang ilmu sihir. Penjelasan Ophys mudah dimengerti dan membuat Litha menyadari begitu banyak macam sihir. Semuanya sangat bervariasi.
__ADS_1
‘Aku akan berlatih dengan giat...’ Litha masih dalam keadaan konsentrasi penuh yang mendalam, tetapi hatinya tetap gelisah memikirkan Nagato. ‘Kakak Soren memanglah tampan, tapi dia hanyalah pemuda yang rapuh. Demi mendukungnya, aku akan berlatih dengan giat, walau Kakak Soren akan memilih jalan pembalasan dendam, aku akan mendukungnya selama dia bertahan hidup. Aku sendiri tidak dapat membayangkan betapa hancur perasaannya saat ini...’
‘Kakak Soren, apapun yang terjadi, kau harus tetap hidup! Jangan pernah sesekali mencoba bunuh diri, jika kau melakukan itu dan memilih mati, aku akan mengutukmu!’
Aura berwarna merah muda dan biru muda yang masuk ke dalam tubuh Litha dengan meluap-luap, hingga Litha menyadari sekujur tubuhnya dipenuhi rasa nyeri dan sakit yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
“Ini akan sakit, bertahanlah dan serap aura milikku ini!” Ophys terlihat khawatir ketika mendengar jeritan Litha. Wajah yang dipenuhi rasa kekhawatiran dan kecemasan ini tidak pernah Ophys perlihatkan pada semua rekan-rekannya sekalipun. Di depan rekan-rekannya, Ophys selalu bersikap tegas dan membuatnya menjadi sosok yang ditakuti oleh kebanyakan orang.
“Argh!” Litha berteriak keras, meringis kesakitan ketika tubuhnya yang putih itu menjadi merah karena menahan ledakan aura yang mengelilingi dan berputar di pusarnya.
Teriakan Litha nyaring terdengar di telinga Ophys. Bahkan Litha berulang kali menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, tetapi rasa sakitnya terlalu besar hingga tidak mampu dia tahan.
Air mata membasahi wajah Litha ketika merasakan perutnya diremas oleh tangan yang besar. Litha merasakan penyiksaan nyata walau dia berada di alam bawah sadar keputusasaan miliknya dan sihir ilusi milik Ophys.
“Kakak Ophys... Sakit...” Litha merengek kesakitan. Gadis manis itu tidak menyangka pemulihan auranya terasa begitu menyakitkan.
“Bertahanlah, Litha. Tubuh, kekuatan penyembuhanmu tersegel bersama ingatanmu. Atur napasmu dengan tenang. Disini ada aku, tenang saja, proses ini tidak akan lama...” Ophys merasa kasihan pada Litha, tetapi ini demi kebaikan Litha agar dapat menggunakan aura beserta mananya kembali.
Litha tersentak ketika merasakan aura berputar disekitar perutnya, tak lama ulu hatinya terasa sesak hingga Litha mengerang kesakitan. Ophys memfokuskan konsentrasi pada setiap bagian tubuh Litha.
‘Tubuh Jelmaan Dewi Pengobatan. Konon ada orang yang memiliki penyakit parah bahkan tidak panjang umur, tetapi setelah menikah dan bersetubuh dengan orang yang memiliki kekuatan ini, maka penyakit itu akan sembuh...’ Ophys menyentuh punggung Litha dan memusatkan perhatiannya untuk merasakan arus aura yang berada di dalam tubuh Litha.
Demi mencegah kerusakan luka dalam pada tubuh Litha, Ophys mulai mengaliri auranya pada sekujur tubuh Litha agar menjaga kesadaran gadis manis tersebut.
“Argh!” Litha semakin meronta ketika matanya membulat sepenuhnya. Sementara kedua bola matanya berwarna emas. Ophys segera memeluk tubuh Litha dan menjentikkan jarinya hingga kolam air tempat mereka bermeditasi berubah menjadi sebuah ranjang yang empuk.
“Sebentar lagi, bertahanlah...” Ophys memeluk tubuh Litha dari belakang, seketika sayap berwarna merah darah muncul dipunggung Ophys. Kedua sayap itu merentang sebelum menutupi tubuh keduanya.
Litha meringis kesakitan dan memeluk tubuh Ophys dengan sangat erat, “Rasa sakit ini tidak sebanding dengan penderitaan kakakku yang mengira bahwa diriku telah mati...” Litha menangis dan membenamkan wajahnya ke dalam dada Ophys.
“Twiling Virgin.” Ophys tersenyum manis. Bibir mungilnya merekah dan mengucapkan mantra sihir penyembuh khusus untuk dirinya dan Litha.
Ophys hampir memuntahkan darah, tetapi dia menahannya. Tanpa Litha sadari, Ophys sudah mengorbankan sebagian nyawanya demi membuat Litha cepat pulih. Ophys berharap ingatan Litha pulih lebih cepat karena dia sendiri ingin memiliki umur yang sama dengan manusia.
Untuk seseorang yang telah hidup selama ratusan tahun, Ophys sudah mengorbankan sebagian umurnya dengan sihir terlarang pada Sura, Tosa, Hanabi dan yang terakhir adalah Litha.
__ADS_1
“Kamu sudah berjuang dengan keras, Litha...” Ophys mengecup kening Litha penuh dengan kasih sayang.
“Terimakasih Kakak Ophys...”