Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 296 — Novelitha Von Azbec


__ADS_3

“Bagaimana, Lingling?” Ophys bertanya pada Yin Lingling yang sedang mengobati Litha. Gadis manis itu terbaring lemas di kamar pribadi Ophys.


Yin Lingling sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyembuhkan Litha, tetapi mental Litha telah hancur. Gadis manis telah diambang batas, jika Litha mempunyai kemamuan untuk hidup lebih besar dari rasa keputusasaannya, maka Litha dapat tersadar dari tidur panjangnya.


Tetapi setelah dua minggu sejak pertempuran di Ibukota Daifuzen, Litha masih belum sadarkan diri. Yin Lingling selalu mencoba menyembuhkan Litha secara bergantian dengan Melody.


“Ophys-Sama, aku rasa dia benar-benar telah kehilangan semangat hidupnya. Aku sendiri merasa kasihan jika dia kehilangan ingatannya setelah sadarkan diri...” Yin Lingling menjawab dengan nada yang sedih.


Ophys menghela napas panjang dan menyuruh Yin Lingling keluar dari kamar pribadinya. “Lingling, jangan masuk ke kamar ini! Ingat, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar ini!”


Selepas Ophys memberikan perintah pada dirinya, Yin Lingling segera meninggalkan ruangan pribadi milik Ophys.


Saat ini Ophys melepaskan seluruh pakaiannya hingga tubuhnya tanpa sehelai benangpun, sama seperti Litha yang sedang terbaring lemas di atas kasur miliknya. Ophys memeluk tubuh Litha dan mulai memanipulasi mana disekitarnya.


Ophys sebisa mungkin ingin masuk ke dalam alam bawah sadar milik Litha untuk menyemangati gadis manis tersebut.


Cahaya berwarna kuning keemasan membungkus tubuh Ophys dan Litha yang hanya ditutupi selimut putih yang berbulu itu. Ophys membenamkan wajah Litha ke dalam dadanya.


‘Cukup sulit. Anak ini memiliki tubuh Jelmaan Dewi Pengobatan. Dia akan lebih aman bersamaku, jika kekuatan penyembuhan di setiap bagian tubuhnya tersebar atau ada yang mengetahuinya. Maka anak ini hanya akan menderita sepanjang hidupnya. Setidaknya kau harus memberikan tubuhmu ini pada orang yang kau cintai.’ Ophys merasakan kehangatan ketika melihat Litha meneteskan air mata.


Sebisa mungkin, Ophys memaksa masuk ke dalam alam bawah sadar Litha. Cahaya berwarna kuning keemasan terus Ophys lewati. Kedua bola mata dari perempuan berparas cantik itu memejam dan berkonsentrasi secara penuh untuk memasuki alam bawah sadar milik Litha.


‘Apa dia mengenal calon suamiku di masa depan. Aku samar-samar mendengar teriakannya yang imut ini memanggil nama Nagato...’


Ophys berkonsentrasi lebih fokus dari sebelumnya. Kedua telinganya bergetar ketika mendengar jeritan Litha. Tak lama Ophys bisa melihat sebuah pintu yang terbuka dan membuat tubuhnya masuk ke dalamnya.


‘Jadi ini alam bawah sadar keputusasaan dan mimpi buruk gadis ini...’ Ophys menyalurkan aura tubuhnya pada tubuh Litha setelah dirinya berada di alam bawah sadar gadis manis tersebut.


Ophys saat ini berada di sebuah kota yang terbakar. Dimana di dalam kota yang dia pijak, manusia dibakar hidup-hidup. Pelaku pembantaian massal di Kota Roshima adalah Tujuh Dosa Besar Mematikan.

__ADS_1


Ophys bisa melihat jika dalang dari penyerangan ini adalah kerjasama antara Gore dan Black Madia. Kemudian orang-orang dari Tujuh Dosa Besar Mematikan seperti Wang Zhi, Reptile dan Brusca juga terlibat di dalam malam berdarah yang membuat Kota Roshima menjadi lautan api.


Ophys bisa melihat dua orang lagi selain Wang Zhi, Reptile dan Brusca. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pembantaian itu juga dilakukan oleh beberapa penyihir dan anggota Organisasi Disaster. Hanya saja mereka menggunakan jubah yang sama dengan Tujuh Dosa Besar Mematikan, tetapi di mata Ophys, dia dapat mengetahui semuanya.


Ophys terus menyusuri jalanan Kota Roshima. Walau semua yang ada disekitarnya adalah ilusi tetapi pemandangan yang tersaji dihadapannya benar-benar nyata. Pantas saja Litha merasakan keputusasaan, luka dalam hati Litha semakin melebar karena tidak mampu berbuat banyak ketika melihat kekuatan mutlak yang dimiliki Ignist.


“Aku bisa merasakan perasaannya...” Ophys memejamkan matanya. Dia bisa merasakan dan melihat Litha yang tersenyum pada seseorang, menyemangati seseorang yang berharga dalam hidupnya dan seseorang yang merupakan satu-satunya keluarganya yang tersisa.


Litha mengetahui orang tersebut adalah kakak sepupunya. Ada perasaan senang dan ada perasaan sedih. Semua bercampur aduk menjadi satu. Litha berharap Nagato akan melihatnya sebagai seorang perempuan yang pantas dicintai, tetapi semenjak pertemuan keduanya setiap tindakan Nagato yang mengelus kepalanya, tidak membiarkan dirinya terluka oleh orang lain, setelah Litha hubungkan semua itu, dia berpikir jika Nagato hanyalah menganggap dirinya sebagai seorang adik dan saudari yang harus dilindungi.


Ophys merasa tersentuh ketika merasakan perasaan Litha. Ketika kehangatan akan perasaan Litha menyelubungi seluruh tubuhnya, seketika rasa keputusasaan langsung menggerogoti setiap sel di dalam tubuhnya.


Ophys langsung bergerak cepat mencari keberadaan Litha. Perempuan berparas cantik itu memasuki rumah yang cukup besar, dia memasuki setiap lorong yang ada di rumah tersebut, hingga akhirnya dia menemukan Litha yang menangis sendirian.


Ophys datang dan langsung memeluk tubuh Litha. Tangisan Litha perlahan mereda. Wajah manis dengan kedua bola mata yang berlinang menatap Ophys lurus.


Ophys memegang tangan Litha, dan seketika dia berada di sebuah hutan belantara dengan suasana yang begitu nyaman. Ophys tersenyum karena berhasil membuat Litha lepas dari keputusasaan. Hanya saja saat ini dirinya berada di sebuah hutan yang berbentuk seperti labirin.


Terlihat Litha dan Nagato begitu menyayangi Kakek Hyogoro dan menganggap pria yang sedang meminum arak itu sebagai kakek mereka sendiri.


Ophys bersandar di pohon dan mendengarkan perkataan Litha dan Nagato. Tanpa sadar air mata perempuan berparas cantik itu menetes karena merasakan kesedihan yang teramat di dalam di lubuk hati Litha.


“Jadi gadis manis ini adalah adik sepupu calon suamiku. Aku tidak menyangka akan seperti ini. Mereka telah hidup menderita. Setidaknya, aku akan meringankan amarahmu dengan membunuh orang-orang yang melukaimu—” Ophys tidak dapat melanjutkan perkataannya. Sekarang dia berada di alam bawah sadar milik Litha.


Ophys bisa merasakan kebaikan hati Litha. Terlihat Litha tidak ingin Ophys ikut campur dalam masalah pribadinya yang ingin membalas dendam.


Ophys hanya berdiri dan memandang wajah Nagato dan Litha yang tersenyum. Tak lama wujud Kakek Hyogoro menghilang perlahan-lahan seperti cahaya yang kian memudar.


Nagato dan Litha menangis ketika melihat Kakek Hyogoro tidak ada di dekat mereka. Keduanya saling memberi semangat dan memberi dukungan, hingga pada akhirnya Ophys melebar matanya.

__ADS_1


Mata Ophys menatap Litha yang menangis histeris memeluk tubuh Nagato. Gadis manis tidak rela kehilangan ingatan tentang Nagato. Perlahan-lahan tubuh Nagato juga menghilang dari hadapan Litha.


Hutan yanh dipijak Ophys sekarang adalah Hutan Cakrawyuha. Ketika Litha menangis histeris sendirian, dunia di sekitar Ophys kembali berubah. Kali ini Ophys berada di lautan awan, dimana disitu hanya ada sangkar yang besar dan didalamnya terdapat Litha yang sedang menangis di atas kasur.


‘Jadi ini tempat ingatannya tersegel...’ Ophys mengamati sekelilingnya. Kepalanya menunduk ke bawah dan melihat lautan yang luas. Sementara itu kakinya melayang di udara bersama dengan sangkar yang mengurung Litha.


“Kamu...” Litha menyeka air matanya menatap Ophys yang memegang sangkar yang mengurungnya dan membawanya ke lautan awan. “Kamu siapa?” Litha menatap telinga Ophys dan mendekati perempuan berparas cantik itu.


“Aku Ophys...” Sembari menjawab lirih, Ophys menaruh sangkar yang mengurung Litha di atas pohon yang menjulang dari lautan hingga menembus awan. “Aku seorang Half-Elf...”


Mata Litha berbinar-binar. “Sungguhan! Benar-benar nyata!” Raut wajah yang bahagia terlihat di wajah Litha.


Ophys tertawa lirih. “Namamu...” Perempuan berparas cantik itu tersenyum selembut-lembutnya kepada Litha.


“Aku?” Litha menunjuk dirinya sendiri.


“Disini hanya ada kita berdua. Lalu siapa lagi jika bukan dirimu...” Ophys tertawa cekikikan. Dia tidak menyangka akan bersikap alam dihadapan Litha.


“Aku Novelitha Von Azbec...” Litha menjawab sembari mengulurkan tangannya mencoba bersalaman dengan Ophys, tetapi tubuhnya terpental ketika tangannya hendak menyelinap keluar dari sangkar. Seketika Litha kembali menangis.


Ophys dengan cekatan melambaikan tangannya pada Litha. “Von... Novelitha Von Azbec. Nama yang bagus, kau memiliki darah keturunan Elf. Aku ada disini untuk membuat ingatanmu kembali. Mungkin butuh waktu lama, tetapi aku sebisa mungkin akan membantumu.”


Litha menangis sesenggukan. “Benarkah? Aku tidak ingin melupakan tentang Nagato, tidak maksudku Kakak Soren!” Litha menatap Iris dengan air matanya yang berlinang.


Ophys tersenyum melihat Litha kembali ceria, walau kesedihannya terpancar jelas diwajahnya.


“Setiap hari aku akan menemanimu disini. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian.” Ophys tersenyum manis kepada Litha yang membuat wajah gadis manis itu merah padam melihat kecantikan Ophys.


Ophys menjelaskan pada Litha jika butuh waktu sekitar lima sampai enam tahun untuk membuka segel ingatan yang mengekang Litha.

__ADS_1


Mengingat Litha dengan rela mengorbankan ingatannya, tentu saja tidak mudah untuk menghembuskannya. Ophys menjelaskan sihir yang digunakan Litha adalah sihir kegelapan.


Mata Litha menatap Ophys penuh harap. Gadis manis itu merasakan kehangatan ketika melihat senyuman Ophys. Entah mengapa Ophys terlihat seperti seorang yang pernah dia lihat di lukisan milik mendiang ibunya.


__ADS_2