
Gadis bermata sayu menatap matahari yang perlahan menampakkan wujudnya setelah bersembunyi di dalam singgasananya selama semalam. Langkah kaki yang gembira dan riang, suasana hatinya yang memainkan melodi penuh cinta terus melangkah.
Sesampainya di depan Penginapan Matahari Timur, di sana terlihat Iris dan Litha telah memakai pakaian yang terkesan anggun, sedangkan Hika dan Tika sedang duduk di teras penginapan. Hisui melirik kesana kemari mencari keberadaan Nagato.
"Dimana kakak tampan berada?" Hisui membatin dalam hatinya. Kemudian dia menyapa Litha yang sedang menghias rambut halus Iris dengan jepit rambut kupu-kupu berwarna merah muda.
"Selamat pagi Kakak Iris, Kakak Litha..." Hisui terlihat anggun dan cantik dengan wajahnya yang terlihat imut membuat Litha dan Iris terkesima cukup lama.
"Hisui?" Iris dan Litha justru sedikit gemas melihat Hisui. Tidak berapa lama Nagato datang dengan wajah yang kebingungan.
"Uangku yang lainnya di Kakek Hyogoro. Pasti dia mengambilnya untuk membeli minuman keras." Nagato mengeluarkan uangnya yang tersisa 20 keping emas.
"Kakak tampan!" Litha yang sedang mengelus kepala Hisui terkejut karena gadis bermata sayu itu langsung berlari ke arah Nagato.
"Kenapa dia seperti kucing yang melihat majikannya." Nagato membatin lirih ketika melihat mata sayu Hisui yang berbinar. Tangannya menahan Hisui dengan menyentuh kening gadis bermata sayu itu.
"Tuan Muda Nagato mau pergi kemana? Pagi-pagi udah dikelilingi lima gadis yang cantik-cantik ini." Hana menyapa Nagato. Di belakang Hana terlihat Hanabi yang memakai pakaian biasa dan tidak mempedulikan Nagato dan yang lainnya.
"Nenek Selendang Bunga Merah Muda?" Hanabi yang diam langsung sedikit melirik Nagato yang memanggil ibunya dengan nama julukan yang terdengar aneh di telinganya.
"Tuan Muda? Sebenarnya dia siapa?" Hanabi membatin memperhatikan Nagato dengan seksama, melihat itu Tika langsung berbisik di telinga Iris.
"Iris coba kamu perhatikan, Hanabi sangat mirip denganmu, aku penasaran apa dia akan menjadi sepertimu setelah berkenalan dengan Nagato," bisik Tika lirih di telinga Iris.
"Terserah, itu bukan urusanku," balas Iris tidak peduli. Mata Tika menatap tajam cincin yang melingkar di jari manis Iris. Cincin yang sama dengan Nagato itu membuat Tika tersenyum tipis, "Jadi kalian berdua telah bertunangan. Kupikir itu bohongan, ya sudahlah, aku mundur." Tika tertawa kecil ketika melihat wajah Iris yang sedikit memerah.
Hana menghela napas panjang menatap Nagato. Kemudian dia melirik Hanabi sesaat sebelum menawarkan Nagato untuk mengajak anak perempuannya itu bermain bersamanya.
"Panggil aku Nenek Hana. Sepertinya Tuan Muda Nagato sedikit pelupa." Hana tersenyum lembut pada Nagato.
"Tuan Muda? Kakak tampan kamu itu sebenarnya siapa?" Hisui membatin lirih dalam hatinya, dia masih menatap tajam Nagato dengan matanya yang sayu.
"Oh iya, Nenek Hana..." Nagato sebenarnya ingat nama Hana hanya saja dia lebih suka memanggil Hana dengan sebutan Nenek Selendang Bunga Merah Muda. Kemudian mata Nagato menatap Hisui yang berdiri disampingnya.
"Aku Nagato. Nenek Hana memanggilku Tuan Muda itu sedikit berlebihan, jadi kamu tidak perlu penasaran dan menatapku seperti itu," ujar Nagato pada Hisui. Jari telunjuknya menyentuh hidung Hisui dan memencetnya dengan lembut.
"Nggh ... Dasar kakak tampan!" Hisui memukul perut Nagato tetapi pemuda itu tetap tidak bergeming dan terus memencet hidung Hisui.
"Nenek Hana, aku pergi dulu, ini sudah jam tujuh. Aku akan pergi bersama teman-temanku ini." Nagato melepas tangannya yang memencet hiudng Hisui dan berjalan menghampiri Iris. "Saatnya sarapan pagi dengan makanan pedas yang terkenal itu..." Nagato membatin penuh harapan.
"Tunggu, Tuan Muda Nagato..." Nagato berhenti dan melirik Hana. Sementara itu Iris, Litha, Hika, Tika dan Hisui menatap Hanabi yang terlihat sendirian.
"Bisa ajak anakku ini. Dia tidak pernah bergaul dengan yang lain selain dengan kakak dan adiknya." Hana memegang pundak Hanabi dan berkata, "Hanabi ikut jalan-jalan bersama Tuan Muda Nagato. Sekali-kali kamu menikmati suasana Ibukota Daifuzen." Hana berharap Hanabi menerimanya.
"Laki-laki ini selalu dikelilingi perempuan, dia mudah marah, dan tidak segan-segan menantang Sepuluh Tetua Kai. Ibu Hana juga sangat menghormatinya, bahkan Ibu Hana sampai memanggilnya dengan sebutan Tuan Muda. Sebenarnya dia itu siapa?" Hanabi membatin dan menatap dingin Nagato.
__ADS_1
Hanabi hanya mengangguk dan berjalan menghampiri Nagato. Gadis berambut hitam kemerah mudaan itu hanya diam dan menatap Nagato dengan seksama.
"Bocah manja, cepat kamu yang menuntun jalan menuju rumah makan yang menyediakan makanan pedas. Aku ingin sarapan pagi." Nagato mengelus rambut Hisui dan nada bicaranya terdengar seperti memerintah.
"Ikuti aku kakak tampan, tapi lebih baik kita pergi ke danau terlebih dahulu ... lagipula ini masih pagi." Hisui memberi usul, kemudian keempat gadis yang sedang melihat Nagato berjalan bersama Hisui dan Hanabi hanya mengangguk setuju.
"Jangan memutuskan seenaknya, aku ingin sarapan-" Litha menepuk pundak Nagato sebelum pemuda itu selesai berbicara.
"Kemarin malam kamu bilang mau mengajak kami jalan-jalan, sarapan pagi bisa belakangan ya, Nagato." Litha menatap Nagato dengan wajahnya yang manis.
"Ya, sudahlah," ucap Nagato sambil menggaruk kepalanya.
Setelah itu mereka berjalan menuju sebuah danau yang dipenuhi dengan pohon sakura di pinggiran danau tersebut. Nama danau itu dikenal dengan sebutan Danau Sakura. Hisui menuntun jalan sambil memperlihatkan keindahan dan kemegahan bangunan yang ada di Ibukota Daifuzen. Selama perjalanan Hanabi berjalan di samping Iris dan Litha sembari sesekali dia memperhatikan wajah datar Nagato yang tidak menunjukkan kekaguman berlebihan.
Sesampainya di Danau Sakura, mereka bertujuh disambut dengan keindahan alam yang sangat memanjakan mata. Air Danau Sakura sangat jernih dan di tepian danau disediakan bangku maupun taman yang indah penuh dengan bunga tulip.
Nagato duduk di bangku dan melihat enam gadis yang ikut bersamanya sedang menikmati keindahan Danau Sakura. Punggung Nagato bersandar di bangku taman, pandangan matanya menatap daun-daun yang berjatuhan dari pohonnya.
"Kenapa dinamakan Danau Sakura?" Nagato membatin penuh pertanyaan. Pandangan matanya menatap pohon wisteria yang tumbuh dengan indahnya dengan bunga-bunga yang berwarna ungu dan indah itu terlihat tumbuh subur dipinggiran danau.
Dalam kesendiriannya, enam gadis yang sedang bercengkrama menghampiri Nagato.
"Nagato jangan diam saja, apa kamu tidak tertarik dengan ini?" Tika bertanya pada Nagato karena raut wajah pemuda itu tidak menunjukkan ekspresi apapun selain wajahnya yang santai itu.
"Tertarik, hanya saja, aku mengajak kalian jalan-jalan karena aku ingin mengucapkan terimakasih, kalian tetap mau menerimaku sebagai teman kalian, walau aku tipe orang yang mudah marah," ucap Nagato pada yang lainnya, kemudian dia berkata dalam hatinya, "Seharusnya aku mengajak Ninjin..."
"Hisui dianggap kakak tampan sebagai teman. Apa Hisui tidak salah dengar?" Hisui membatin tidak percaya. Hatinya merasa senang karena Nagato menganggapnya sebagai seorang teman.
"Nagato kami sudah berkenalan dengan Hanabi. Bukannya tadi Nenek Hana menyuruh kamu yang mengajak Hanabi?" Litha menegur Nagato karena tidak peduli dengan Hanabi.
"Apa benar namamu, Fuyumi Nagato?" Hanabi menatap tajam Nagato. Perkataan Hanabi membuat Litha dan yang lainnya terdiam.
"Dia langsung ke intinya." Litha membatin tidak percaya karena Hanabi menurutnya sangat tertutup orangnya.
"Iya, namaku Nagato," jawab Nagato sambil membalas tatapan Hanabi dengan tatapan dingin.
Hanabi tidak bertanya lebih jauh lagi, dia hanya ingin memastikan identitas Nagato. Tidak berapa lama Hisui kembali mengajak Nagato dan yang lainnya untuk mengunjungi tempat-tempat rekreasi lainnya di Ibukota Daifuzen seperti Sungai Izo, Kastil Lama Furigiri, Bendungan Gingko dan Kuil Kagutsuchi.
Setelah mengunjungi Sungai Izo, Kastil Lama Furigiri, Bendungan Gingko, kini Hisui membawa Nagato dan yang lainnya pergi ke Kuil Kagutsuchi. Langkah Nagato berhenti ketika hendak menaiki tangga, matanya melihat tulisan yang tertera di tugu dan mulutnya membuka, "Kuil Kagutsuchi?"
Iris dan Hanabi mendengar ucapan Nagato. Mereka berdua penasaran dengan ekspresi wajah Nagato yang terlihat seperti berbeda, matanya melebar dan wajahnya dipenuhi keringat.
Pagi hari yang cerah di Ibukota Daifuzen, sinar lembut matahari menemani perjalanan Nagato dan yang lainnya.
"Naga kamu kenapa?" Iris bertanya penuh keheranan pada Nagato.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, aku hanya terkejut saja, ternyata ada Kuil Kagutsuchi disini." Nagato berjalan melewati Iris dan Hanabi. Suara Nagato yang cukup pelan terdengar di telinga mereka, "Cih, kenapa bocah manja ini membawaku ke tempat seperti ini."
Di bukit teratas terlihat Kuil Kagutsuchi yang sangat bersih halamannya, seorang kakek tua renta terlihat sedang menyapu halaman depan Kuil Kagutsuchi dengan sapu lidinya.
Hisui menayapa kakek tua renta yang bernama Azuma. Terlihat gadis bermata sayu itu sangat akrab dengan Azuma. Bahkan Nagato dan yang lainnya disambut oleh Azuma dengan baik.
"Kalian teman dari Tuan Putri Hisui? Tunggu sebentar aku akan mengambilkan teh hangat." Hisui menyuruh Nagato dan yang lainnya duduk di karpet yang ada di bawah pohon sakura.
"Silahkan dinikmati, tidak kusangka Tuan Putri Hisui mempunyai teman sebanyak ini." Azuma menaruh tujuh gelas yang berisi teh hangat dan kue kering.
"Tuan Putri Hisui selalu bercerita jika dia tidak mempunyai seorang teman selain ibunya sendiri." Azuma secara terang-terangan menceritakan perkataan Hisui ketika gadis bermata sayu itu bercerit padanya ke enam teman Hisui itu.
Hisui menatap Azuma dan menggerutu, "Kakek Azuma jangan katakan itu pada mereka!"
Azuma tertawa dan menggaruk kepalanya. "Oh, iya, saya lupa, maaf Tuan Putri Hisui." Azuma ikut duduk bersama Hisui dan yang lainnya.
"Kalian tinggal dimana?" Azuma bertanya pada Nagato dan yang lainnya.
"Fuyumi." Tika menjawab singkat, sedangkan Nagato memperhatikan Azuma dengan seksama.
"Fuyumi? Oh, iya, bulan ini sedang diadakan Turnamen Harimau Kai..." Azuma menatap karpet dan berkata, "Apa kalian tahu asal usul dari nama harimau yang digunakan pada kompetisi tahunan ini?"
Hisui tersenyum ketika melihat wajah Nagato dan yang lainnya terlihat tidak mengetahuinya, tidak berapa lama gadis bermata sayu itu berkata, "Karena leluhur Kagutsuchi yang datang ke Benua Ezzo, tiga ribu tahun lalu pernah mengalahkan naga dengan teknik pedang harimaunya." Perkataan Hisui membuat Nagato, Iris, Litha, Hika, Tika dan Hanabi cukup terkejut dan membuat mereka penasaran.
"Tuan Putri Hisui hanya mengingat tentang itu," ujar Azuma sambil mengelus jenggotnya.
"Kakek Azuma yang memberitahuku tentang itu. Apa Hisui salah?" Gadis bermata sayu itu terlihat kesal kemudian dia memakan kue kering.
"Selamat makan," gumam Hisui lirih dan langsung melahap kue kering dengan cepat.
"Tuan Muda sepertinya memiliki kharisma yang luar biasa karena dikelilingi Nona-nona muda yang jelita ini. Siapa nama anda?" Raut wajah Azuma mendadak menjadi serius, walau rambutnya memutih dan sudah berjenggot, namun bagi Nagato sosok Azuma adalah seorang pria paruh baya.
"Kakek Azuma sepertinya kau mengetahui cukup banyak tentang Keluarga Kagutsuchi. Sebelum bertanya tentang namaku, lebih baik kau katakan padaku siapa nama aslimu, Paman Penyamar?" Selain Nagato yang tetap terlihat tenang, Iris dan yang lainnya terkejut, sedangkan Hisui yang sedang meminum teh hangat langsung tersedak.
Azuma tersenyum melihat mata Nagato yang sangat jeli, namun dia tidak berharap bertemu dengan Nagato dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini.
"Namaku adalah..."
___
**22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)
122 Like : Bonus 1 chapter.(1/5)
Alhamdullilah kemarin tembus 122 like, karena 22 itu nomor kesukaan author. Mudah-mudahan hari ini tembus lagi, makasih yang udah kasih like buat Kagutsuchi Nagato.
__ADS_1
#Author mau nanya, kira" bonchap nya malming ini atau malming depan. Target di atas bisa dilihat, bonchap dari like baru 1 ya. Kalau gak ada yang komentar, author anggap Minggu depan aja ya.
Terimakasih telah meluangkan waktu membaca Novel Kagutsuchi Nagato**.