Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 272 — Menuju Akhir Pertempuran


__ADS_3

“Nagato!” Iris dan Litha berlari menghampiri Nagato.


Nagato menoleh ke arah sumber suara dan melihat Iris dan Litha yang datang bersama Shirayuki. Situasi semakin tak terkendali ketika suara gemuruh petir di langit Ibukota Daifuzen semakin menggelegar suaranya.


“Kenapa ada makhluk seperti itu?!” Shirayuki sendiri terkejut melihat kepala Naga Merah yang ada di langit Ibukota Daifuzen, sementara tubuhnya terlihat berenang mengarungi awan.


“Aku merasakan firasat buruk...” Litha berkeringat dingin menatap ke atas dan melihat kepala Naga Merah.


“Bibi Shirayuki apa Naga Merah itu adalah bala bantuan dari Kekaisaran Rakuza? Atau Kekaisaran Kinai?” Nagato bertanya pada Shirayuki. Namun matanya tetap menatap Naga Merah dan tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.


Shirayuki sendiri baru pertama kali melihat makhluk yang ada langit Ibukota Daifuzen. Namun satu hal yang membuat Shirayuki penasaran adalah Takatsugu, Satsuma, Chosu dan Emi serta Ketua Klan yang tersebar di kubu timur dan kubu barat. Mereka semua terlihat sedang mendengarkan perkataan Takatsugu.


‘Apa Naga Merah itu yang membantai Klan Kagutsuchi. Tetapi apa motifnya? Kenapa makhluk itu tak membunuh klan lainnya dan menguasai Benua Ezzo sejak tujuh belas tahun yang lalu. Kenapa Naga Merah itu hanya menghancurkan orang-orang dari Kagutsuchi.’ Shirayuki berpikir keras hingga wajah cantiknya mengkerut.


“Ibu!” Iris memegang tangan Shirayuki dan menggoyangkannya.


“Bibi Shirayuki!” Nagato dan Litha juga memanggil Shirayuki karena ibu dari Iris itu melamun sendiri.


Shirayuki menatap Nagato dan menghela napas panjang, “Nagato, makhluk itu. Naga Merah itu berasal dari luar Benua Ezzo. Aku tidak tahu kenapa alasannya datang kesini. Tetapi perang ini akan memakan banyak korban jiwa.”


“Naga Merah itu tidak mungkin berada di pihak kita...” Nagato menggumam pelan dan menunduk. Ada perasaan yang membuat tubuhnya bergetar karena melihat kepala yang mengerikan dan sedang mengintai dari atas sana.


Di tengah-tengah kegelisahan. Prajurit militer Kekaisaran Rakuza kembali bertempur. Terlihat Panglima Perang Nobu dan Kaisar Orochi kembali menyerang prajurit militer Kekaisaran Kai dan prajurit militer Kekaisaran Kinai.


“Untuk saat ini aku pikir kita harus bersatu! Tetapi bersatu adalah kata yang mustahil!” Shirayuki menggigit bibir bawahnya dan melepaskan hawa dingin ketika prajurit militer Kekaisaran Kinai mengepung mereka.

__ADS_1


“Bibi Shirayuki. Kita harus atasi apa yang ada di depan kita terlebih dahulu, setelah itu barulah kita mencari cara untuk ke tempat Nenek Emi...” Litha memberi saran sambil memandang Emi yang sedang bertarung bersama Takatsugu dan yang lainnya.


Shirayuki tersenyum melihat Litha yang memiliki sedikit kemiripan dengan Nagato. Bisa dibilang Litha adalah seseorang yang dapat berpikir tenang, sementara Nagato adalah orang yang tidak bisa mengontrol emosi dan sering berpikir tidak jernih.


“Saran yang bagus, kalau begitu...” Shirayuki membuka kedua telapak tangannya dan menciptakan dua pedang es yang dia genggam di kedua telapak tangannya, “Kita serang mereka bersama-sama!”


Litha tersenyum dan mengolah pernapasan sebelum bergerak mengikuti kecepatan Shirayuki. Nagato dan Iris juga mengolah pernapasan dan bergerak mengikuti Shirayuki.


“Aku tidak menyangka kita bertiga akan bertempur bersama Ibuku.” Iris memainkan pedangnya dan menempel di punggung Litha sesaat sebelum menyerang lautan musuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai.


“Aku sendiri merasa senang karena Ibumu menganggapku sebagai anaknya. Aku juga bersyukur karena mempunyai teman sepertimu, Iris...” Litha membalas sembari terus mengayunkan pedangnya. Permainan pedangnya begitu lincah dan terus mendaratkan tebasan pedangnya pada tubuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza.


“Saat-saat seperti ini tidak buruk juga...” Nagato tersenyum tipis melihat Litha dan Iris yang berjuang untuk tetap hidup, begitu juga dengan pertarungan mereka berempat yang berusaha melewati kepungan musuh.


Nagato melihat pertempuran terbagi menjadi tiga titik. Titik pertama adalah pertempuran antara petinggi Spider dari Kekaisaran Kinai dan Organisasi Delapan Jari, Organisasi Laba-Laba Malam yang sedang bertarung dengan Hawk, Tsumasaki dan Budou. Titik kedua adalah pertempuran antara anggota Phyton melawan Hayabusa dan kelompoknya. Sementara titik ketiga adalah Panglima Perang Nobu dan Kaisar Orochi yang bertarung sengit melawan Takatsugu dan Ketua Klan dari Kekaisaran Kai.


“Jangan halangi jalanku!” Nagato mengolah pernapasan dan menebaskan pedangnya dari kejauhan menciptakan tiga tebasan pedang berbentuk sabit.


Tebasan pedangnya bergerak dengan kecepatan tinggi melayang di udara dan melesat cepat menyerang lawannya. Tidak berhenti sampai disitu, Nagato kembali menebaskan pedangnya setelah menggunakan teknik pedangnya.


“Putaran Matahari!” Nagato menggunakan teknik pedangnya dan menebaskan pedangnya menciptakan putaran api yang membara.


Lingkaran api itu membunuh lima prajurit militer Kekaisaran Rakuza, setelah itu Nagato kembali menebaskan pedangnya dengan cepat. Lebih cepat dari sebelumnya. Kepungan musuh dari berbagai arah membuatnya semakin tenggelam dan hanyut dalam pertempuran. Wajahnya basah olah darah. Kini hidungnya sudah terbiasa dengan bau yang ada disekitarnya.


Iris dan Litha juga menerobos masuk melewati prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang mengepung mereka berdua. Sementara itu Shirayuki terus memainkan pedangnya menyerang prajurit militer Kekaisaran Kinai.

__ADS_1


Serangan dari berbagai arah dapat mereka atasi. Ditambah dengan pendekar dari berbagai klan yang tersebar di Kekaisaran Kai juga bertarung melawan prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai dari segala sisi.


Shirayuki justru tersenyum tipis karena prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai telah dikepung oleh pendekar dari beberapa klan yang tersebar di Kekaisaran Kai.


Tak lama puluhan pendekar perempuan dari Klan Fuyumi datang menghampiri Shirayuki dan membantu menghabisi prajurit militer Kekaisaran Rakuza. Hujan es yang terbentuk dari aura tubuh menghujam tubuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza.


“Gunakan seribu pedang es!” Salah satu pendekar perempuan dari Klan Fuyumi berteriak. Seketika pendekar yang lainnya mulai memanipulasi aura tubuhnya menciptakan puluhan pedang yang terus bertambah hingga ratusan.


Jumlah itu semakin bertambah dan akhirnya seribu pedang es tercipta. Seribu pedang es tersebut bergerak dengan kecepatan tinggi di udara dan melesat cepat menusuk tubuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai.


Nagato melihat pendekar dari pihak Kekaisaran Kai masih memiliki semangat bertempur. Bukan hanya pendekar dari Klan Fuyumi yang mulai melakukan serangan habis-habisan untuk mengakhiri pertempuran. Pendekar dari Klan Akatsuki juga melakukan hal yang sama seperti pendekar perempuan Klan Fuyumi. Seribu bola-bola api membunuh ratusan prajurit militer Kekaisaran Kinai dalam serangan kombinasi dan kerjasama yang mereka lakukan.


Nagato, Iris dan Litha menyerang secara bersamaan dan melewati ratusan prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai yang sedang bertempur. Pertempuran ini melibatkan tiga pihak, sehingga memudahkan mereka bertiga untuk mengatasi lawan-lawannya.


Andai prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai berkerjasama, maka pendekar dari Kekaisaran Kai akan kesulitan untuk mengatasi kedua kekuatan tempur yang bergabung itu.


Litha mengolah pernapasan dan melepaskan tebasan pedangnya yang mengalir seperti air. Layaknya air yang terus mengaliri, tebasan pedangnya mmebentuk aliran air yang melayang di udara.


“Mengalir Seperti Air!”


Litha mengibaskan pedangnya setelah membunuh lima prajurit militer Kekaisaran Rakuza.


“Ombak Api!”


“Tusukan Seribu Akar Es!”

__ADS_1


Nagato dan Iris juga melalukan hal yang sama dengan Litha. Serangan kombinasi mereka berdua dapat membuat prajurit militer Kekaisaran Rakuza berpikir dua kali untuk menghentikan dan membunuh ketiga anak muda yang memegang pedang berlumuran darah itu.


__ADS_2