Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 195 - Kakugo Dan Nagato


__ADS_3

Kakugo tetap tersenyum walau Nagato menatapnya dengan sinis, tidak berapa lama mulutnya terbuka dan dia berbicara.


"Aku kehilangan emosiku. Aku hanya bisa tertawa dan ingin melihat darah, darah dan darah!" Nagato menaikan alisnya ketika Kakugo berbicara padanya. Ini pertama kalinya mereka berdua saling berbicara.


Tidak berapa lama Kakugo berdiri dengan terhuyung sembari pandangan matanya tetap tertuju pada Nagato. Tangannya kembali mengayunkan pedangnya, tebasannya yang dalam mampu membuat Nagato mundur ke belakang beberapa langkah.


"Pernapasan Sirih." Nagato menarik napas dalam-dalam dan menyalurkannya pada kedua tangannya, setelah itu dia kembali melepaskan aura tubuhnya. Terlihat jika Kakguo tidak berniat untuk menyerah ataupun menginginkan sebuah kekalahan dalam pertandingan pembuka ini.


Tangan Nagato memegang sarung pedangnya, semua orang mulai melebar matanya menatap Nagato. Tidak berapa lama tangan Nagato mengibaskan pedangnya dengan cepat, semua orang kebingungan ketika melihat Nagato menghilang.


"Ruang Hampa."


Nagato bergerak dengan cepat mengincar Kakugo yang tidak dapat bergerak sedetik, pemuda itu berkeringat dingin ketika seluruh tubuhnya ditekan aura tubuh milik Nagato. Bukan Nagato yang menghentikan waktu tetapi Nagato memusatkan seluruh aura intimidasinya untuk membuat lawannya tidak bergerak.


Nagato sudah kembali menyarungkan pedangnya, kemudian tangannya hendak memukul tengkuk leher Kakugo tetapi masih ada perlawanan dari lawannya tersebut.


"Cih," Nagato mendecakkan lidahnya sambil bergerak dengan cepat menghindari tebasan pedang Kakugo.


Mereka berdua kembali terlibat dalam pertarungan jarak dekat, bertukar serangan dan saling menjatuhkan. Kakugo terlihat belum menyerah, matanya belum sepenuhnya padam, sedangkan Nagato sendiri terus melancarkan pukulan tangannya yang dilapisi api pada Kakugo.


Ledakan dari pedang Kakugo mulai membuat Nagato menjaga jarak darinya. Kakugo tersenyum lebar dan kembali menebasakan pedangnya dari jauh. Sebuah ledakan beruntun terlihat di udara bersamaan dengan suara yang cukup bising itu.


Nagato menghindari serangan beruntun Kakugo tanpa kesulitan, kegesitan Nagato cukup membuat Kakugo kewalahan.


"Aku menjadi terbiasa bertarung tanpa menggunakan pedang, tetapi ini cukup sulit karena serangan tangan kosongku tidak bervariasi seperti Hanabi." Nagato membatin dan mengamati Kakugo yang sedang mengatur napasnya yang terengah-rengah.


Napas Nagato masih stabil, dia sudah terbiasa melatih pernapasan semalaman penuh dan meningkatkan stamina dengan berlatih. Nagato kembali melepaskan serangan pukulan tangannya yang dilapisi api kepada Kakugo. Namun serangan itu hanyalah sebuah pengalihan.


Sebuah api berkobar berbentuk kepalan tangan melesat dengan cepat ke arah Kakugo.


Nagato menarik pedangnya, pandangan matanya menatap Kakugo yang sedang menangkis serangannya. Tidak berapa lama Nagato mengolah pernapasan sembari memainkan pedangnya.


Kakugo berkeringat dingin namun tetap tersenyum lebar ketika menahan tebasan Nagato. Tebasan lawannya itu sangat dalam dan membuat jubah merah yang dia kenakan mulai robek.

__ADS_1


Sementara itu Nagato mencari momentum yang tepat untuk melancarkan serangan beruntun. Mata Nagato yang tajam dan dingin membuat penonton perempuan berteriak histeris.


Permainan pedang Nagato membuat semua orang berdecak kagum, ayunan pedanganya mengayun dengan alami, gerakannya terlihat sangat cepat namun terasa lembut bagi Kakugo.


Bahkan Kakugo merasa Nagato tidak berniat melukai dirinya dengan fatal. Dia sendiri bisa mengetahui sifat dingin Nagato yang mampu membuatnya ketakutan.


Kakugo tidak bisa mengimbangi permainan pedang Nagato. Gerakan Nagato terkadang terlihat sangat kasar dan cepat, namun disaat yang bersamaan, serangan Nagato terasa sangat lembut. Benturan pedang menggema ketika Kakugo mengira gerakan Nagato yang lembut membuat tebasan pedangnya menjadi lemah, tetapi setelah menahan tebasan pedang Nagato, dengan penuh keterkejutan, Kakugo menggenggam pedang besarnya dengan erat sedangkan tubuhnya terpental ke belakang.


Nagato sendiri sedang mengatur napasnya mengingat emosinya terkadang tidak stabil, kini dia berusaha memahami perasaan lawannya. Menurutnya, sosok Kakugo mengetahui kegelapan yang ada di Kekaisaran Kai. Jika Nagato berhasil membuat Kakugo berbicara, maka dia akan mengetahui orang yang telah membuat mental Kakugo hancur.


Kemungkinan sosok orang yang menyiksa Kakugo adalah orang yang Nagato cari, orang yang berhubungan dengan masa lalu mendiang ayahnya. Itulah yang ada dipikiran Nagato sekarang.


"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah."


Nagato bergerak cepat mendekati Kakugo sambil mengayunkan pedangnya tepat ketika Kakugo berada di depannya, benturan kedua pedang menggema. Nagato dan Kakugo bertukar serangan, mereka berdua berpindah tempat ketika selesai bertukar serangan.


Ledakan dari pedang Kakugo cukup membuat kerusakan di tanah namun lain halnya dengan Nagato. Kimono putih yang dikenakan Nagato tetap terlihat bersih, kain putih yang mengikat pinggang kirinya juga masih terlihat bersih tanpa noda sedikitpun.


Serangan mendadak dari Nagato gagal diantisipasi oleh Kakugo. Walau berhasil menahan tebasannya, Kakugo tidak mampu menjaga keseimbangan sehingga tubuhnya kembali terpental jauh ke belakang.


Sebuah lintasan api di udara masih terlihat tepat setelah tubuh Kakugo tersungkur di tanah, Nagato menatap tajam Kakugo yang masih mencoba berdiri.


"Siapa yang membuat terluka sampai seperti ini? Jawab pertanyaanku!" Nagato menggertak Kakugo.


Tidak berapa lama Kakugo memperlihatkan lidah yang bagian bawahnya hanya sedetik, Nagato bisa melihatnya dengan jelas. Dia mengenal simbol yang ada di lidah Kakugo.


"Kau..." Nagato kehabisan kata-kata setelah melihat simbol tengkorak hitam.


Kakugo tersenyum lebar karena Nagato dapat melihatnya bahkan mengetahuinya.


"Kau sepertinya tahu tentang ini. Tidak ada masa depan untukku dan tidak ada kebahagiaan bagi orang yang terkena kutukan simbol ini..." Kakugo berkata dengan lirih.


Nagato mengertakkan giginya mencoba menahan amarahnya, dia mengerti kenapa Kakugo tidak bisa menjawab perkataannya, jika Kakugo menjawab maka dia akan mati tepat setelah menyebutkan beberapa huruf dari nama orang yang menyiksanya.

__ADS_1


Tangan Kakugo menulis angka dua di tanah, kemudian dia menatap Nagato. Pemuda itu memberi isyarat pada Nagato tentang jumlah orang yang menyiksanya.


Tubuh Kakugo ambruk ke tanah, wajahnya yang penuh dengan senyuman lebar itu terlihat lega. Entah kenapa Nagato merasa iba pada Kakugo.


"Dua? Apa ini semacam kode atau..." Nagato membatin lirih dalam hatinya, matanya melebar karena memahami maksud dari isyarat yang diberikan Kakugo. "Dua orang! Dua orang yang mengetahui masa lalu itu. Masa lalu kenapa sebagian orang di Kekaisaran Kai sangat membenci ayahku!" Nagato membatin sembari menatap Kakugo yang telah pingsan di tanah.


"Dia melawanku tidak dalam kondisi yang baik. Ironis sekali, tadi aku berniat membalas perbuatannya kepada Hika, tetapi setelah bertarung seperti ini, baik aku maupun Kakugo bisa berbicara baik-baik." Nagato membatin dan membalikkan badannya menatap Gyuki.


"Pemenang laga pembuka babak 32 besar Turnamen Harimau Kai adalah Fuyumi Nagato! Dan secara otomatis Fuyumi Nagato telah masuk ke babak 16 besar!" Gyuki menghampiri Kakugo.


Mata Gyuki cukup jeli karena memperhatikan Nagato dan Kakugo yang saling memberi isyarat. Tangannya membuka mulut Kakugo dan memeriksa lidah dari pemuda tersebut.


"Fuyumi Nagato! Apa kau mengenal simbol tengkorak hitam ini?" Langkah kaki Nagato berhenti. Dia mendekati Gyuki yang sedang memeriksa lidah Kakugo.


"Aku pernah melihatnya saat aku berumur 5 tahun. Simbol ini adalah simbol kutukan, itu yang dikatakan Kakugo..." Nagato berkata lirih pada Gyuki.


"Ayahku, tidak maksudku Panglima Goro. Dia bersama teman lamanya sedang melakukan penyergapan pada Sekte Pemuja Iblis dalang dari simbol tengkorak hitam ini." Gyuki memberi isyarat pada tenaga medis agar segera memberi perawatan pada Kakugo.


"Fuyumi Nagato jangan bertindak gegabah, kau tidak tahu siapa musuh dan siapa temanmu. Jika kau terlalu lama menatap simbol tengkorak hitam ini maka kau akan terkena kutukan seperti ini juga." Gyuki menepuk pundak Nagato dan berkata, "Aku hanya memberi saran, anggap saja jika kau terlalu lama menatap jurang yang gelap, maka jurang tersebut akan balik menatapmu!"


Gyuki berjalan pelan meninggalkan Nagato yang terdiam. "Menarik, apa dia pemuda yang di maksud Bos Hyogoro."


___


**Note : 12~06~2020 – 18~06~2020


22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)


122 Like : Bonus 1 chapter.(5/5)


Bonchap 5 chapter udah siap malming, kalau mau 5 bonchap lagi, komen aja sampai 22.


LoSHT Gak Rewel**

__ADS_1


__ADS_2