Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 105 - Nyamuk Tertawa


__ADS_3

Pagi yang cerah, dengan suara dari ribuan kicauan burung terdengar di Hutan Cakrawyuha. Dedaunan bergoyang oleh hembusan angin pagi yang terasa begitu menyejukkan.


"Minami? Bangsawan yang satu ini sedikit mirip dengan Kita... hanya saja dua orang ini, kenapa mereka berdua berlatih bersama Nagato?" gumam Kakek Hyogoro setelah membaca surat yang dari Nenek Beo yang di antar Kin. Kemudian dia menoleh melihat Nagato yang sedang latihan bertarung menggunakan pedang kayu bersama Demet dan Devon.


Sebelum matahari semakin terik, Kakek Hyogoro mengajak yang lain untuk segera bergegas dan bersiap - siap pergi ke Wilayah Me.


Dalam perjalanan keluar Hutan Cakrawyuha, Nagato dan Litha canggung dan tidak menyapa satu sama lain selama sehari.


Sebelum pergi Nagato menyuruh Raja Hewan Buas Gorila Peniru, Kera Hitam dan Kera Putih menjaga Hutan Cakrawyuha. Tetapi tiba - tiba kumpulan Hewan Buas tersebut menghampiri Nagato dan berteriak, suaranya terdengar seperti memberi peringatan akan ada sesuatu yang terjadi. Kakek Hyogoro, Nagato dan Litha terkejut mendengar suara yang begitu keras di seluruh Hutan Cakrawyuha.


"Kenapa di saat yang seperti ini..." gumam Nagato pelan dengan wajah yang pucat pasi.


"Tertawa adalah hal yang baik, tetapi jika kita tertawa tanpa alasan... maka sama saja dengan orang yang tidak waras." ucap Kakek Hyogoro menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Litha hanya diam dan menghela nafas panjang. Melihat reaksi mereka bertiga yang terlihat sangat mencurigakan membuat Demet dan Devon menelan ludah dan berkeringat dingin. Karena suara Hewan Buas dan Binatang Iblis di seluruh Hutan Cakrawyuha terdengar seperti sedang tertawa.


"Selama satu hari tertawa tanpa alasan yang jelas... jangan bercanda!" Nagato langsung berlari dan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju luar Hutan Cakrawyuha. Kemudian Nagato disusul Kakek Hyogoro dan Litha dari belakang, sedangkan Demet dan Devon terlambat bereaksi.


Nagato mengolah pernafasannya sambil terus melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Terobosan yang dibuat Kakek Hyogoro sangat membantu..." gumam Nagato terus melewati terobosan demi terobosan. Bentuk hutan yang melingkar membuat Hutan Cakrawyuha sangat sulit untuk di masuki apalagi jika telah masuk dan tidak mengetahui bagaimana caranya keluar maka akan menjadi sasaran empuk bagi seluruh makhluk buas di Hutan Cakrawyuha ini.


Nagato berhenti karena melihat kumpulan Nyamuk Tertawa dalam jumlah yang begitu banyak di depannya.


"Sial! Mereka telah menyebar dengan cepat..." umpat Nagato menatap Nyamuk Tertawa tajam.


"Hewan Buas yang cukup merepotkan..." gumam Kakek Hyogoro sambil menghela nafas panjang.


"Jangan sampai tergigit oleh Nyamuk Tertawa! Kita harus lebih cepat sampai di luar!" Kakek Hyogoro mengingatkan kepada Demet dan Devon yang masih kebingungan.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Demet karena sangat penasaran kenapa Hewan Buas dan Binatang Iblis bisa tertawa di seluruh Hutan Cakrawyuha.


"Kalian akan tahu sendiri nanti..." jawab Kakek Hyogoro dengan wajah yang pucat pasi.


Mereka terus berlari dengan sekuat tenaga lari dari kejaran Nyamuk Tertawa yang sedang mengejar mereka berlima. Ketika telah terlihat semak - semak berwarna hijau muda, Kakek Hyogoro, Nagato dan Litha berhasil ke luar dan tidak tergigit Nyamuk Tertawa. Tetapi, Demet dan Devon yang mengejar mereka bertiga digigit tangannya oleh Nyamuk Tertawa.


"Sialan... tanganku digigit..." umpat Demet sambil menggaruk tangan kirinya.


"Aku juga... tetapi mereka tidak mengejar kita sampai ke sini." sahut Devon menggaruk lehernya yang digigit Nyamuk Tertawa.


"Kenapa tidak terjadi apa - apa pada-" belum selesai Demet berbicara dia langsung tertawa terbahak - bahak.


"Kenapa, hahaha... aku... hahaha." Demet tertawa cekikan dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


"Aku juga, hahaha... kenapa aku ingin... hahaha." Devon memegang perutnya dan terus tertawa kegirangan.


"Kalian akan tertawa seperti ini selama seharian penuh." ucap Kakek Hyogoro pada Demet dan Devon.


"Heeh... menarik ada hiburan melihat dua orang pembunuh bayaran, tertawa tanpa alasan yang jelas..." ledek Nagato menatap Demet dan Devon tajam.


"Nagato, kau juga pernah digigit Nyamuk Tertawa. Jadi jangan meledek dua paman ini..." tegur Litha menatap Nagato disampingnya.


Nagato langsung terdiam meningat kenangan pahitnya yang sangat memalukan, bahkan ingin sekali dia melupakan hal tersebut.


"Litha juga pernah..." balas Nagato dengan wajah datarnya dia tersenyum meledek Litha.


"Hmph!" Litha mengembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya kesamping.


Nagato tidak bisa berbicara apapun lagi. Ketika melihat Litha cemberut dirinya langsung merasa lemas.

__ADS_1


"Mari kita lanjutkan perjalanan, kalian berdua nikmati saja cobaan itu. Jarang - jarang kalian bisa tertawa seharian penuh..." ledek Kakek Hyogoro sambil tertawa menoleh Demet dan Devon di belakangnya yang sedang tertawa terbahak - bahak.


"Kakek Hyo, malah lebih parah menghinanya..." batin Nagato melirik Kakek Hyogoro yang sedang tertawa meledek Demet dan Devon.


Mereka terus berlari melewati hutan dan bukit - bukit kecil, hari pertama dan kedua perjalanan mereka lancar tanpa hambatan. Di hari ketiga mereka telah sampai di Wilayah Me bagian Kota Reruntuhan Kuno.


"Aku sarankan kalian berdua tinggal di sini..." ucap Kakek Hyogoro pada Demet dan Devon.


"Baiklah... apakah ada pekerjaan yang cocok untukku disini?" tanya Demet pada Kakek Hyogoro.


"Mungkin perampok, pencopet kalau tidak kalian berdua sangat cocok menjadi gelandangan di kota ini..." jawab Kakek Hyogoro sambil mengelus dagunya dan menatap langit.


Demet mengerutkan dahinya, "Jangan bercanda denganku, Tua Bangka!" Demet tidak menyangka Kakek Hyogoro akan berkata seperti ini, "Perkataanmu sama saja menyuruhku untuk menjadi seorang ******** kembali."


Nagato dan Litha diam hanya melihat mereka bertiga sambil menghela nafas panjang.


"Paman, pakai uang itu untuk membuka warung makan atau bar, pasti akan laku..." ucap Nagato dengan tenang menatap Demet dan Devon.


"Kota ini terlalu menyedihkan, kalau tidak menjadi pahlawan kes-" belum selesai Nagato berbicara, Litha memukul punggung Nagato.


"Nagato! Kamu tidak boleh meledek Kakek!" tegur Litha menatap Nagato tajam.


Kakek Hyogoro tertawa melihat Nagato yang terdiam ketika ditegur Litha.


"Seperti biasa ucapanmu pedas, Nagato." Kakek Hyogoro menepuk pundak Nagato dan tertawa kecil.


"Kalian berdua ikut aku, nanti akan aku perkenalkan pada Tua Bangka..." ajak Kakek Hyogoro pada Demet dan Devon sambil melangkahkan kakinya memasuki Kota Reruntuhan Kuno.


"Tua Bangka? Lalu dia ini siapa?" Demet bertanya - tanya setelah mendengar perkataan Kakek Hyogoro.

__ADS_1


__ADS_2