Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 107 - Topeng Rubah Putih II


__ADS_3

Nagato merasa nyaman memakai topeng rubah putihnya, dia terus berlari sambil sesekali melihat pemandangan kebun teh yang ada dihadapannya. Di Provinsi Selatan terdapat sebuah Klan yang bisa di bilang cukup besar karena klan tersebut, termasuk dalam sepuluh klan terbesar di Kekaisaran Kai yaitu Klan Akatsuki dan Klan Kurozawa.


Misi yang diberikan kepada Kakek Hyogoro adalah untuk mengawal Bangsawan Minami. Karena kepala keluarga Bangsawan Minami akan melakukan kunjungan ke Kota Kumori yang termasuk dalam kota terbesar di Provinsi Selatan dan Kekaisaran Kai.


Beberapa hari yang lalu, mereka bertiga terus melakukan perjalanan tanpa hambatan. Dan, ketika mereka menatap Kota Kumori dari Bukit Hiji yang berada dekat dengan Kota Kumori. Nagato bisa melihat dari atas jika Kota Kumori cukup besar bahkan bangunannya benar - benar terlihat megah dari kejauhan.


Kakek Hyogoro menjelaskan pekerjaan yang diberikan padanya kepada Nagato dan Litha. Mereka berdua memahami garis besarnya dari misi kali ini.


"Jadi kita harus mengawalnya saja, bukan?" tanya Nagato memandang Kota Kumori dari atas Bukit Hiji.


"Ya, tetapi ada hal yang mengganggu kakek dari tadi..." jawab Kakek Hyogoro mengelus dagunya dan memejamkan matanya.


"Pekerjaan ini imbalannya cukup besar, hanya saja mungkin kita akan berhadapan dengan pembunuh yang disewa wali kota itu..." tambah Kakek Hyogoro mengingatkan pada Nagato dan Litha agar jangan bertindak gegabah ketika berhadapan dengan pembunuh.


"Apa kita perlu masuk ke dalam kota itu dulu, kek?" tanya Litha menunjuk Kota Kumori dengan jari telunjuknya.


"Jangan, kita akan langsung bergegas ke kediaman Bangsawan Minami..." jawab Kakek Hyogoro sambil menatap Kota Kumori tajam.


"Kakek hanya ingin melihat Kota Kumori dari atas sini, terlihat indah, bukan?" Kakek Hyogoro tersenyum lebar memandang Kota Kumori dari kejauhan.


Nagato menghela nafas panjang, "Jadi ini alasannya, kita berlari melewati bukit dan pegunungan..." Nagato memegang dahinya dengan tangannya, "Lebih baik kita segera bergegas kek."


Kakek Hyogoro tersenyum kemudian dia kembali melanjutkan perjalanannya. Kediaman Minami cukup jauh dengan Kota Kumori. Kemungkinan mereka akan sampai keesokan harinya.


Kakek Hyogoro berniat untuk menginap di penginapan desa jika ada desa yang mereka lewati. Tetapi ketika Kakek Hyogoro mencoba mengingatnya, dia merasa tidak ada desa terdekat yang akan mereka capai. Sehingga mau tidak mau, mereka akan kembali bermalam di jalanan atau di dalam hutan.


Di malam yang sunyi ini, Nagato membakar daging ayam ditemani Litha. Sedangkan Kakek Hyogoro sedang berbaring menikmati bintang - bintang yang tak bisa dia dekap di atas sana.

__ADS_1


"Beberapa hari memakai topeng benar - benar sangat menjengkelkan." ucap Nagato membakar daging ayam di atas api unggun.


Litha memandang Nagato yang terlihat begitu menikmati daging ayam .


"Nagato, apa kau tidak ingin bertemu dengan Iris?" tanya Litha penasaran.


Nagato menelan daging ayamnya terlebih dahulu sebelum berbicara. Setelah selesai menyantap daging ayamnya, Nagato menatap Litha.


"Iris? Aku ingin bertemu dengannya, aku penasaran apakah dia sudah lebih kuat dari hari itu..." jawab Nagato sambil memandang langit malam.


Litha diam mendengar jawaban Nagato, kemudian dia mengela napas panjang. Beberapa saat kemudian mereka tidur untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


Keesokan harinya, Nagato kembali melanjutkan perjalanannya. Dengan terus mempercepat langkah kakinya, mereka bertiga sampai di sebuah desa.


Desa yang cukup sunyi, bahkan ketika mereka bertiga melewati desa tersebut. Banyak orang yang mengintip dari jendela.


"Kakek Hyo, ada yang tidak beres di sini." ucap Nagato sambil memperhatikan sekitarnya.


"Sudah kuduga, aku merasakan ada yang tidak beres di desa ini..." batin Kakek Hyogoro, kemudian dia menghela napas panjang dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, karena dia merasa malam berurusan dengan penjahat kacangan.


"Nagato, Litha, musuh kalian adalah prajurit kekaisaran yang bekerja di bawah Wali Kota Kota Kumori." ucap Kakek Hyogoro mengingatkan kepada kedua muridnya tersebut.


"Jangan sampai topeng kalian terlepas, karena jika terlepas kita akan menjadi buronan..." tambah Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro kembali melangkahkan kakinya dengan cepat, tetapi ada suara pintu bar yang di tendang cukup keras. Dari dalam bar muncul beberapa pria bersenjata lengkap.


"Sepertinya aku harus menghabisi bawahan pejabat korup ini..." gumam Nagato sambil menarik pedangnya.

__ADS_1


Kakek Hyogoro melirik Nagato yang sudah siap melakukan perlawanan, dia sadar jika Nagato telah memiliki mental yang mulai matang. Hanya saja dia tidak ingin kedua murid kesayangannya itu merasakan sensasi membunuh yang seperti dirinya rasakan.


Kakek Hyogoro muda pertama kali membunuh manusia ketika berumur tujuh tahun, dia tidak sengaja membunuh bangsawan yang memukul rakyat biasa. Kakek Hyogoro memukul kepala bangsawan tersebut dengan balok kayu, sejak saat itu kehidupannya menjadi tak menentu. Tetapi Kakek Hyogoro tidak menyesali perbuatannya, ketika dia membunuh manusia yang berhati iblis, tipe manusia yang suka memakan uang rakyat, menindas yang lebih lemah. Kakek Hyogoro merasa bahwa tindakannya adalah sebuah kebenaran, daripada membuat ribuan orang sengsara lebih baik dia menghabisi satu biang masalahnya.


"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Kakek Hyogoro menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya.


Puluhan pria bersenjata lengkap tersenyum sinis menatap Kakek Hyogoro, setelah itu mata mereka mengarah ke Nagato dan Litha.


"Kakek ini sedang apa dia? Apa dia berniat melawan kita?" tanya salah satu pria tersebut.


"Anggap saja dia mayat hidup, gadis kecil cantik ini bisa kita rawat... ketika besar baru kita nikmati." sahut salah pria di sampingnya.


"Betul juga, sepertinya kita harus mengambil gadis kec-" belum selesai berbicara, pria tersebut langsung berkeringat dingin dan wajahnya pucat pasi. Nagato sudah menghilang dari pandangan Kakek Hyogoro dan Litha.


"Kau sentuh dia sedikit saja, maka kau akan berurusan denganku!" ancam Nagato menusuk perut pria yang hendak mendekati Litha dengan pedangnya.


Kakek Hyogoro dan Litha tercengang melihat Nagato, mereka berdua tidak menyangka Nagato akan tumbuh secepat ini.


"Argh! Bo-bocah tengik..." teriak pria yang di tusuk Nagato.


"Bergerak sedikit saja, kau akan kubunuh!" kata Nagato yang membuat pria tersebut langsung terdiam.


"Pergi dan sampaikan ini pada pemimpin korup itu, jika Dewa Kematian akan datang memenggal kepalanya beberapa hari lagi..." ancam Nagato sambil mengeluarkan seluruh aura intimidasinya pada seluruh pria bersenjata lengkap tersebut.


Nagato melepas pedangnya, dengan tatapan dingin dia menatap puluhan pria bersenjata lengkap di hadapannya.


"Enyahlah, bahkan aku tidak memiliki selera untuk membunuh kalian." kata Nagato sambil terus mengeluarkan aura intimidasinya.

__ADS_1


"Walaupun aku tidak pernah membunuh manusia, tetapi aku telah menemukan beberapa orang yang pantas kubunuh." batin Nagato sambil tersenyum tipis.


Puluhan pria bersenjata lengkap langsung lari keluar dari desa. Mereka tidak menoleh kebelakang, jika mereka menoleh sama saja akan membuat Nagato murka.


__ADS_2